“Ada gula, ada semut.” Sudah menjadi suratan takdir bahwa makhluk hidup akan mendekati suatu entitas yang dirasa menguntungkan bagi kehidupannya. Sebelum mendirikan pemukiman, normalnya, manusia akan terlebih dulu mencari satu zat penting: air. Air yang ‘manis’ dimanfaatkan sedemikian rupa demi agar manusia tidak merasa kekurangan. Ia ibarat idola sepanjang masa bagi siapa saja, tua dan muda, besar dan kecil, di segala dekade dan tren yang senantiasa silih berganti. Dan manusia tetaplah ‘semut’ yang akan pergi begitu saja ketika gula sudah habis, atau rasanya berubah menjadi pahit.
Negara yang dianugerahi keberlimpahan sumber daya alam juga
ibarat gula incaran para semut-semut korporasi multinasional atau sesama negara
berdaulat. Potensinya menjadi daya tarik bagi siapa saja untuk mengenalnya,
walaupun perkenalan tidak selalu berujung hubungan pertemanan atau bahkan
pernikahan. Karena ‘gula’ dalam konteks ini dijalankan sekelompok manusia, ia
punya keleluasaan untuk menentukan sikap agar hanya ‘ semut-semut’ baik hati
yang akan mengelilinginya. Menutup diri atau isolasi mandiri nyaris mustahil
diterapkan, karena ‘semut-semut’ telah dikodratkan untuk selalu bisa menemukan ‘gula’
hingga ke liang tersempit dan gelap sekalipun.
Entitas yang berperan sebagai sang ‘gula’ di setiap kisah
kadang tak dapat menghindar dari rasa kesepian. Ia tahu mengapa banyak orang
tiba-tiba berebut mengirim permintaan pertemanan, ia juga tahu hubungan
pertemanan yang dijalinnya tidak akan abadi. Air sebening kaca pujaan umat
manusia akan menjadi bahan olok-olok ketika warnanya berubah coklat akibat
aktivitas manusia. Si negara super kaya nan dermawan akan ditinggalkan para
semut segera setelah ia tidak lagi bagi-bagi angpao. Segala pujian dan
kata-kata manis akan berubah menjadi caci maki dan ejekan ketika roda nasib
berubah arah bagi ‘gula’ yang telah kehilangan rasa manisnya.
‘Gula’ yang selalu manis
Bagi masyarakat Turkmenistan, ‘gula’
yang dimaksud adalah para orang tua, tetua, sesepuh. Dalam budaya yang telah
mengakar bersama kepercayaan tradisional Turkmen, “emas dan perak tak pernah
menua, tapi ayah dan ibu tak ternilai harganya.” Ada serangkaian aturan tak
tertulis yang musti dipatuhi dan terus dipertahankan hingga saat ini dalam hal
tindak-tanduk masyarakat terhadap para sesepuh. Mereka harus bersikap sopan,
tidak boleh membantah, apalagi berbicara dengan suara keras kepada para orang
tua dan sesepuh.
Para orang tua dan sesepuh
punya kedudukan tinggi dalam hirarki tak tertulis masyarakat Turkmen, terutama
di pedesaan, walaupun tidak sembarang orang berusia lanjut dapat ditunjuk (atau
menawarkan diri secara sukarela) untuk mengisi posisi itu. Mereka adalah tempat
di mana masyarakat Turkmen meminta nasihat dan saran dalam berbagai hal dan
situasi, sehingga tokoh yang dipercaya untuk posisi ini adalah orang-orang kaya
pengalaman hidup dan tahu bagaimana menempatkan diri. Maka tidak heran bila
sesepuh komunitas lebih didengar daripada tokoh-tokoh lain, misalnya para
mullah.
Privilese semacam ini mungkin tak bisa kita temui di negara selain
Turkmenistan, yang bisa dibilang sangat ‘aman’ dari sorotan media sosial dan
para influencer wisata hingga saat ini. Hal ini tak terlepas dari kebijakan pemerintah
Turkmenistan yang sangat selektif dalam memberikan visa untuk warga negara
asing. Meskipun cukup gencar di internet dalam hal mempromosikan pariwisata
Turkmenistan yang kaya dengan situs sejarah dan panorama yang membius jiwa, ada
kesan uang bukanlah segalanya bagi mereka. Ini, tentu saja, tak terlepas dari saran
dan nasihat para sesepuh Turkmen yang dirumuskan melalui proses panjang dalam
mengamati suatu persoalan dari berbagai sudut pandang.
Tak pernah kesepian
Saya akan maklum jika Anda memandang Turkmenistan sebelah
mata, karena negara ini memang tidaklah selevel banyak negara maju dan bernama
besar. Namun, para lansia Turkmenistan tidak mengalami kesepian akut karena
kehadiran mereka selalu dibutuhkan orang lain. Ketika fisik sudah tak lagi
perkasa untuk bekerja mencari nafkah, para lansia tidak terpinggirkan dari
pergaulan masyarakat. Apalagi dianggap beban hidup orang-orang yang lebih muda.
Mereka mendapat kepercayaan dari orang-orang di sekitar
mereka untuk memegang sebuah peranan penting dalam masyarakat, menjadi para
kakek dan nenek yang selalu dirindukan para cucu. Kebijaksanaan yang berakar
dari pemuliaan terhadap para leluhur ini berhasil menciptakan keseimbangan,
yang pada gilirannya juga berhasil memeratakan kebahagiaan di kalangan anggota
komunitas Turkmenistan.
Berkat para generasi muda yang memercayai mereka sebagai penasihat, para sesepuh menemukan tujuan ketika waktu memakan segalanya. Sebuah tujuan yang membuat sisa hidup mereka kembali bermakna. (dswas).
