“War is money,” kata para penggemar teori konspirasi. Bagi yang bukan, money is money. Uang bukan lagi sekadar alat tukar, melainkan salah satu penentu bagaimana kehidupan kita akan berjalan setiap hari. Dalam kondisi ekstrim seperti saat ini, uang juga menjadi penentu kebahagiaan. Di mana sebagian kecil orang menyabda diri mereka sendiri bahwa mereka tidak berhak untuk bahagia bila tidak punya uang dalam jumlah tertentu.
Kita tidak dapat menyalahkan atau menghakimi mereka yang
tengah mengalami posisi seperti tersebut di atas, karena tingkat kesulitan
hidup yang tengah dialami seluruh umat manusia di muka Bumi ini tidak sama
antara satu dan lainnya. Walaupun kata “kesulitan” hidup itu sendiri tengah
trending di banyak tempat di berbagai belahan dunia belakangan ini, akibat
berbagai fenomena pasca pandemi virus korona.
Tidak ada sesosok manusia pun yang akan duduk manis dan
tenang-tenang saja menghadapi situasi demikian. Bagi para pemilik usaha,
pemutusan hubungan kerja adalah opsi yang paling masuk akal. Sementara bagi
rumah tangga, penghematan drastis menjadi cara bertahan hidup. Dan berhasil.
Saya bisa bilang begitu karena hingga detik ini kita tak menyaksikan bunuh diri
atau depresi menjadi tren bersamaan dengan kesulitan keuangan global. Bukan
begitu?
Akan tetapi, ‘dinamika positif’ ini datang dengan
konsekuensi. Jika punya anggaran cekak
ibarat berkendara di jalan sempit, perlu kewaspadaan ekstra guna mempertahankan
fokus dan terjaga agar perjalanan berlangsung seamless. Alih-alih meningkatkan
keahlian mengemudi di jalan sempit, sebagian orang memikirkan cara
menyingkirkan pengendara lain agar perjalanan mereka tidak terhalang dan lebih
cepat sampai. Berita baiknya, itu bukanlah satu-satunya cara yang bisa dilakukan
manusia untuk mendatangkan kemudahan di tengah kesulitannya.
Berlatih ‘mendatangkan’ kemudahan
Di saat kesulitan keuangan menjadi problematika mayoritas
manusia, ada sekelompok lain yang menghadapi kesulitan dalam bentuk konflik
antar sesama mereka sendiri. Rakyat Kongo adalah salah satu kelompok masyarakat
yang mengalaminya, antara lain sebagai dampak ikutan menjadi sebuah bangsa
dengan 200 kelompok etnis yang berbicara dalam 250 bahasa dan dialek yang
berbeda.
Bakongo (sebutan bagi masyarakat Kongo) pernah disatukan
oleh satu kepercayaan tradisional yang disebut Bukongo, di mana leluhur dan
unsur-unsur alam dimuliakan agar senantiasa dapat mengayomi di berbagai situasi
dan kondisi. Mereka tidak berharap muncul kekuatan gaib atau keajaiban yang
akan menyelesaikan masalah saat menuangkan air atau minuman anggur ke tanah
sebagai penghormatan kepada para leluhur.
‘Membuang’ air atau anggur memerlukan pengorbanan besar,
mengingat Bakongo adalah masyarakat yang tinggal di tengah alam yang kadang
tidak bersahabat. Dalam logika manusia modern, tindakan ini sia-sia, bahkan
dipandang sebagai pemborosan. Padahal inilah cara Bakongo melatih diri mereka
sendiri untuk menyadari bahwa dalam situasi sesulit apapun tugas-tugas sebagai
suatu entitas masyarakat harus dilaksanakan guna menciptakan keseimbangan
antara manusia dan manusia, serta manusia dan lingkungan sekitarnya.
Hasilnya, Bakongo yang diwakili oleh para elit politik
Republik Demokratik Kongo tidak ragu mengadopsi standar baru Forest
Stewardship Council (FSC) sebagai langkah pemanfaatan wilayah hutan seluas
155 juta hektar (atau 18% dari luas hutan tropis dunia) secara bertanggung
jawab dan berkelanjutan. Artinya, masyarakat sekitar dan pemerintah tidak
dilarang mengeksploitasi luasnya hutan RD Kongo untuk kesejahteraan bersama,
sembari mengingatkan diri mereka sendiri seberapa banyak yang bisa mereka ambil
agar sumber nafkah tersebut tidak punah.
Perspektif bisa ‘mendatangkan’ kemudahan
Kemudahan setelah kesulitan tidak akan pernah terjadi secara
sekonyong-konyong, walaupun kita melakukan semua yang kita anggap bisa
mendatangkannya. Yang biasa terjadi adalah, kita tidak menyadari bahwa
kemudahan itu sudah datang. Entah lantaran sudah tidak sanggup lagi menghadapi
kesulitan, atau mungkin akibat dorongan beragam faktor lain yang bisa
bervariasi antar individu.
Bakongo bisa saja memilih melupakan para leluhur mereka, dan
menjual luasnya hutan mereka kepada para investor. Bukankah itu sebuah
kemudahan yang akan mengeluarkan mereka dari jurang kemiskinan? Sebaliknya, RD
Kongo memilih untuk melestarikan kekayaan alam mereka setelah bencana yang
menelan ratusan korban jiwa datang silih berganti akibat eksploitasi berlebihan.
Langkah tersebut mampu menarik kepercayaan dari dua lembaga
keuangan dunia, yaitu IMF dan World Bank, yang bersedia menaikkan rating kredit
mereka pada Januari 2026 sebagai syarat untuk memperoleh pinjaman dalam jumlah
lebih besar dari sebelumnya. Dana pinjaman tersebut nantinya akan dimanfaatkan
sebagai dana pembangunan infrastruktur dan perbaikan kesejahteraan masyarakat
RD Kongo.
Bagaimana bila dikorupsi?
Mereka yang berhalusinasi bahwa korupsi merupakan sebuah kemudahan yang didatangkan untuk mereka adalah orang-orang yang sudah melupakan keseimbangan, dan sudah lama pula melupakan para leluhur mereka. (dswas)




