Kita cenderung memandang mata air sebagai sesuatu objek yang bisa dieksploitasi guna memenuhi kebutuhan hidup, sehingga sering kali mengabaikan tanda-tanda yang ‘dikirim’ mata air. Misalnya, warna mata air pada umumnya biru karena peruraian cahaya putih di dalam air yang mengandung nanopartikel karbonat. Partikel yang berukuran sangat kecil dan tak terlihat mata telanjang ini bisa pecah atau larut, yang mengakibatkan air tak lagi terlihat biru atau biru toska. Air kebiruan merupakan indikator bahwa mata air tersebut masih ‘perawan’, jarang atau belum pernah dijamah tangan manusia.
Perubahan temperatur dan penyerapan karbondioksida
yang dihasilkan dari aktivitas manusia di sekitar mata air tersebut dapat
menjadi faktor hilangnya warna biru kehijauan mata air, terutama apabila
manusia menceburkan diri di dalam sumber air. Perubahan
pada debit sumber air, apalagi mati atau hilangnya mata air, menandakan
terjadinya perubahan di dataran sekitar sumber air yang berfungsi sebagai
wilayah resapan. Perubahan yang biasa terjadi adalah penebangan hutan, atau peralihan
fungsi wilayah resapan air menjadi pemukiman atau lahan pertanian.
Keltik merupakan suku bangsa Indo Eropa kuno yang
menyakralkan air dan sumber air, di samping pengakuan serupa yang mereka
persembahkan bagi langit dan bumi. Suku yang berjaya di Zaman
Besi (1200 – 500 SM) dikenal sangat terampil dalam membuat senjata dan
benda seni, serta tangguh dalam peperangan. Air merupakan bagian tak
terpisahkan dalam aktivitas mereka, misalnya saat menempa sebilah pedang. Pandai
besi akan mencelupkan pedang yang ditempanya dalam air untuk mendinginkan dan
me-review hasil tempaannya sebelum diserahkan kepada pendekar yang memesannya.
Para pendekar Keltik yang terluka menggunakan air dari
sumber air tertentu untuk membantu penyembuhan. Sebuah tradisi yang masih
dipegang teguh oleh orang-orang Keltik modern hingga kini. Maka tak heran
apabila mata air suci atau sumur sakral merupakan bagian terpenting dari
peninggalan Suku Keltik. Fosse Dione
di Tonnere, Prancis, merupakan salah satu mata air yang ‘ditemukan’ dan
dimanfaatkan pertama kali oleh Suku Keltik, sebelum menjadi sumber air rumah
tangga kota di sekitarnya saat ini.
Sementara Steinsbörnchen di North
Rhine-Westphalia, Jerman, dapat dianggap sebagai salah satu mata air tertua
peninggalan peradaban Keltik. Ada juga Tobar na Croise Naofa (Well of The Holy
Cross) di Dunmore,
Irlandia, yang terawat baik dan masih berfungsi sebagaimana zaman kuno: sebagai
pendukung upaya pengobatan.
Punah akibat ‘terlalu baik hati?’
Sebagian besar orang, termasuk orang Eropa
sendiri, salah kaprah menganggap bahwa Suku
Keltik berasal dari Inggris Raya. Kenyataannya, sejarah mencatat Eropa
Tengah adalah darimana suku pendekar ini berasal. Suku yang pernah mendiami
wilayah yang sekarang disebut Austria, Jerman, Polandia, Serbia, Republik Ceko,
dan Turki, juga mahir dalam pertanian dan peternakan. Sebelum menjadi bangsa
pendekar, leluhur orang-orang Keltik merupakan suku penggembala ternak yang
hidup nomaden.
Selain orang-orang Galia di Prancis Selatan,
orang-orang Keltik merupakan suku yang menolak mengakui Kerajaan Romawi sebagai
penguasa daratan Eropa. Keduanya terus melakukan perlawanan, walaupun kalah
jumlah dan tak ada ikatan yang menyatukan meeka. Sebagai akibat perang
berkepanjangan, jumlah Suku Keltik pun mulai berkurang. Desa-desa Suku Keltik
hanya ditinggali segelintir orang yang tidak pergi berperang, yaitu para manula
dan anak-anak. Kaum perempuan Suku Keltik kabarnya juga ikut pergi berperang
bersama para pria, meninggalkan anak-anak mereka di bawah pengawasan para
pengasuh.
Di tengah situasi tersebut, datanglah orang-orang
Suku Jermanik dari Eropa Utara yang bermigrasi ke Eropa Tengah guna mencari
tempat tinggal baru yang lebih hangat. Mereka datang secara berombongan dan
bertahap, bukan hanya membawa harta benda tetapi juga bahasa dan budaya mereka
sendiri. Mengapa Suku Keltik tidak merasa risih dengan kehadiran para imigran
dari Utara ini? Ada kemungkinan mereka sudah kelelahan berperang, atau mereka
sedang mencari sekutu guna sama-sama memerangi Kerajaan Romawi.
Malang tak dapat ditolak. Keputusan inilah yang
di belakang hari menjadi titik awal berakhirnya era Suku Keltik di Eropa
Tengah. Perbedaan bahasa dan budaya dapat membuat manusia merasa tidak nyaman
(bahkan hingga saat ini), sehingga sebagian Suku Keltik pun memutuskan untuk
mencari tempat lain yang lebih sepi dari para pendatang. Mereka menyingkir ke
wilayah yang sekarang disebut Prancis, sedangkan lainnya berlayar menuju kepulauan
yang sekarang disebut Britania Raya dan Irlandia.
Akan tetapi, ada juga Suku Keltik yang memilih
tidak bermigrasi ke Barat, dan memilih bertahan di kampung halaman mereka.
Mereka mencoba beradaptasi terhadap situasi baru agar survive, yaitu dengan
berasimilasi dengan Suku Jermanik. Antara lain, dengan mempelajari bahasa dan
budaya para pendatang, serta membangun hubungan kekeluargaan melalui
pernikahan. Rupanya, karakter Suku Jermanik yang lebih ‘kuat’. Di sisi lain,
Suku Keltik kalah jumlah. Lambat laun, bahasa dan budaya Suku Keltik yang
dahulu mendominasi Eropa Tengah pun ditinggalkan, sampai akhirnya punah sama
sekali.
Berusaha bangkit
Kabar baiknya, Suku Keltik yang bermigrasi ke
Kepulauan Inggris (dan Prancis) tampaknya berhasil membangun kehidupan baru,
memelihara bahasa dan budaya kuno yang telah ditinggalkan rekan-rekan sesuku
mereka di Jerman.
Bagaimana mungkin? Bukankah Suku Keltik di
Kepulauan Inggris, sama seperti di Eropa Tengah, pada akhirnya menemui ‘ajal’
mereka, musnah ditelan peradaban modern?
Struktur kuno kesukuan masyarakat Keltik yang
tanpa satu pemimpin tertinggi seperti raja memang sudah ditinggalkan. Karena,
sekali lagi, beradaptasi adalah kunci bertahan hidup, walaupun itu tidak
berarti kita harus meninggalkan sama
sekali cara-cara, atau nilai-nilai, yang berperan besar dalam upaya menjaga
keberlanjutan eksistensi sekelompok manusia dan keseimbangan dengan alam
sekitar.
Kosakata dan dialek Keltik abadi dalam sejumah
bahasa lokal yang digunakan dalam percakapan sehari-hari masyarakat Enam Bangsa
Pewaris Budaya Keltik (Wales, Skotlandia, Irlandia, Brittany (Prancis),
Cornwall (Inggris), Isle of Man). Kepercayaan Asli Keltik direkonstruksi ulang
dan masih dipraktikkan oleh generasi masa kini Suku Keltik, terutama para
keturunan druid (pendeta atau pemimpin
spiritual Kepercayaan Asli Keltik).
Irlandia sebagai salah satu pulau di mana Suku Keltik mendarat masih memiliki sekitar 3000 titik mata air dan sumur suci, yang sampai detik ini tetap mengalirkan air dan berada dalam kondisi baik. (dswas)


