Rabu, 28 Januari 2026

Mengakui Masa Lalu Agar Tidak Salah Langkah di Masa Depan

Kaum perempuan wajib mandiri dan bisa mempertahankan diri serta kehormatan mereka ketika para lelaki (pasangan, anggota keluarga, dll.) jauh dari mereka. Ini bukanlah feminisme, melainkan suatu hal yang lazim dan diterapkan secara turun temurun di zaman kuno sebuah bangsa. Oleh karena itu, masyarakat kuno Indonesia mendesain senjata khusus bagi kaum perempuan mereka, berangkat dari pemikiran bahwa kecuali prajurit perempuan, perempuan biasa pun wajib menyamarkan senjata mereka agar tidak menimbulkan kegelisahan masyarakat di sekitar mereka.

Senjata yang dimaksud adalah semacam pisau belati kecil untuk disembunyikan di balik busana mereka, atau sebagai hiasan rambut. Senjata semacam ini dinamakan keris, walaupun dalam bentuk yang lebih mungil dibandingkan keris untuk kaum lelaki. Perempuan memiliki keterbatasan, sehingga filosofi kuno Indonesia telah mengatur agar dua kubu ini tetap dapat hidup saling berdampingan sesuai kapasitas dan kodrat masing-masing.

“Invasi” Kerajaan Majapahit dari Tanah Jawa ke Semenanjung Malaka (sekitar abad 14) membawa serta pengetahuan baru tentang keris ke wilayah baru (Pahang, Tumasik, Thailand Selatan, Kelantan, Kedah). Pengetahuan ini pun mengakar kuat dan menjadi bagian masyarakat Semenanjung Malaka, yang juga merupakan para pendatang dari Sumatra Selatan pada era Kerajaan Sriwijaya (eksis abad 7). Mereka mengadopsi keris untuk menjadi bagian dari budaya leluhur mereka berdasarkan perjalanan sejarah dan pengetahuan tentang senjata tradisional itu di kalangan warga Malaysia. 

 

Ilustrasi: Suatu pagi di Singosari


Mengalah bukan pertanda kelemahan

Faktanya, Semenanjung Malaka bukanlah dataran kosong tak berpenghuni ketika para pendatang dari Sumatra (atau Jawa?) datang mendarat. Hingga saat ini, terdapat sekitar 98 kelompok suku asli Malaysia yang sudah menghuni Semenanjung Malaka sejak sebelum kedatangan para pendatang dari berbagai penjuru. Di antara penduduk asli Malaysia (atau disebut sebagai Orang Asli dalam Bahasa Melayu), terdapat kelompok suku Negrito yang berkarakter pemalu dan dianggap sebagai para penjaga hutan oleh para pendatang (Semang).

Dengan menginterpretasi ulang sumber yang sangat terbatas tentang kelompok suku Asli Malaka ini, bisa disimpulkan Kepercayaan Semang membentuk sikap bahwa manusia tidak hidup sendiri di alam ini. Maka ditetapkanlah beragam aturan untuk ‘meregulasi’ tingkah laku masyarakat Semang saat mereka menjalani kehidupan sehari-hari, maupun saat mencari nafkah sebagai pemburu. Tata cara hidup diberlakukan agar keberadaan mereka tidak membuat pihak lain merasa tidak senang, karena banyak ketidakharmonisan terjadi akibat perasaan semacam itu.

Kepercayaan Semang menyiapkan masyarakat Asli Malaka menghadapi kemungkinan datangnya orang-orang dari tanah seberang ke tanah di mana mereka hidup selama puluhan, bahkan mungkin ratusan, generasi. Ketika para penjelajah Melayu berlabuh di pantai Semenanjung Malaka 1400 M, para suku Asli Malaka yang sudah mengintai dari kejauhan memutuskan untuk mundur ke dalam hutan dan lereng-lereng gunung yang sulit dijangkau. Mereka memberi ruang kepada para penjelajah Melayu untuk mendirikan pemukiman, yang kemudian berkembang menjadi kerajaan.

Menghormati ‘pribumi sejati’  

Momen menguatnya sentimen nasionalisme di sejumlah negara sejak beberapa tahun terakhir seharusnya bisa dimanfaatkan sebagai inspirasi untuk lebih mengenal wilayah atau tanah di mana kita tinggal saat ini, berikut sejarahnya. Seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Keterputusan dari pengetahuan tentang awal mula suatu tempat akan membuat manusia menebak langkah dan tindakan paling tepat guna menghadapi timbulnya tantangan yang berkaitan dengan di mana mereka berada.

Dua kelompok etnis yang berbeda dalam pemaparan di atas memilih cara berlawanan dalam mengatasi potensi bahaya. Satu etnis menciptakan keris sebagai senjata, sementara etnis lain memilih langkah mundur sebagai strategi bertahan hidup. Dua pendekatan tersebut terbukti ampuh, karena baik masyarakat Jawa maupun masyarakat Semang tetap eksis di Semenanjung Malaka era modern dengan berbagai dinamika yang mewarnai kehidupan mereka. (dwsas)

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...