Rumah, bagi hampir seluruh budaya dan identitas merupakan personifikasi dari sesuatu yang membuat kita merasa tenang, nyaman, dan bahagia. Artinya, interpretasi ‘rumah’ bukan saja sebuah tempat, tetapi bisa juga suatu hal, benda, bahkan seseorang (dalam sudut pandang romantis). Sedihnya, walaupun mayoritas penduduk Bumi sudah memiliki rumah sebagai tempat tinggal, banyak dari mereka yang merasa terasing, kesepian, dan tidak bahagia.
Pencarian akan kebahagiaan, bagi segelintir warga Polandia,
sama artinya dengan pencarian identitas. Antara 5000 sampai 10.000 warga
Polandia meyakini bahwa idenitas sejati mereka bukanlah apa yang telah
ditentukan untuk mereka sejak lahir, khususnya dalam hal spiritual. Mereka
adalah para penganut Kepercayaan
Asli Slavia (Rodzimowiercy, atau Rodnovery dalam Bahasa Polandia) yang
menganggap kembali ke kepercayaan asli adalah cara untuk ‘pulang’, untuk
menyelaraskan kembali hubungan antara spiritualitas dan kehidupan nyata yang
porak poranda akibat dorongan nafsu sesaat.
Walaupun hanya segelintir dan menjadi kaum minoritas, tetapi
pemerintah Polandia telah mengakui keberadaan mereka dan memberikan payung
hukum bagi mereka dalam undang-undang. Posisi Rodzimowiercy pun semakin menguat
belakangan ini dengan terpilihnya satu-satunya anggota parlemen dengan latar
belakang Kepercayaan Asli Slavia, Marcin Józefaciuk, melalui
pemilu legislatif 2023. Józefaciuk dikenal sebagai pelari marathon, presenter
televisi, dan pendidik yang secara terbuka mengakui bahwa dirinya adalah
penganut Rodzimowiercy.
Bukan David vs Goliath
Sebagaimana banyak tempat lain di dunia ini di mana para
penganut Aliran Kepercayaan pernah tumbuh dan berkembang di masa lalu, Polandia
juga kaya akan mata air dan sumur suci yang jumlah totalnya bisa mencapai
ribuan. Para penganut Rodzimowiercy merupakan orang-orang pertama yang ‘menemukan’
berbagai sumber air ini, dan tak berbeda dengan tetangga mereka orang-orang
Keltik, mereka memuliakan sumber air dengan meletakkan sesaji.
Berkat sebuah pengetahuan kuno yang dimiliki keduanya, dua
kelompok suku ini sama-sama memanfaatkan mata air untuk membantu penyembuhan
dari segala jenis penyakit dengan berbagai cara yang disesuaikan kebutuhan.
Berendam dalam kolam yang airnya berasal dari sumber air menimbulkan perasaan
tenang, dan suasana hati yang baik akan menstimulasi kinerja sel-sel serta organ-organ
tubuh yang tersendat, sehingga tubuh pun akan menjadi lebih sehat (Ini pendapat
pribadi saya yang rutin berenang di sebuah sumber air selama satu minggu sekali
sejak 2013. Dan ngomong-ngomong, kami pernah punya tamu dari Polandia yang mencicipi
kesegaran air di situ sekitar tahun 2010).
Pergeseran dari tradisi Aliran Kepercayaan ke agama resmi
menyertakan banyak dinamika, sebuah hal wajar dalam hidup bermasyarakat,
termasuk di Polandia. Sebagai contoh, mata air Częstochowa yang terletak tak
jauh dari ibu kota Warsawa, diyakini masyarakat setempat berkaitan erat dengan Rodzimowiercy
yang kemudian dikelola oleh Gereja
Katolik Polandia secara turun temurun. Agar dapat mengakses berbagai sumber
air lain yang juga dikelola oleh Gereja Katolik Polandia (Katolik merupakan
agama mayoritas Polandia, negara kelahiran salah satu pemimpin tertinggi umat
Katolik, Paus Yohanes Paulus II), para penganut Rodzimowiercy bersedia menjadi
pemeluk Katolik . Oleh sebagian kecil kalangan di Polandia, mereka dianggap
memiliki dua
agama sekaligus dan menjalankan ajaran-ajarannya di saat yang sama.
Hasil akhir yang bicara
Di luar segala dinamika yang menyertai situasi para penganut
Rodzimowiercy Polandia saat ini, hasil akhirlah yang bicara. Hubungan antar
tetangga tidak selalu harmonis, demikian pula hubungan antara kelompok Rodzimowiercy
dengan ‘tetangga’ mereka. Walau demikian, penting untuk diperhatikan bahwa
kelestarian dan keberlanjutan ribuan mata air di Polandia nyaris tak
terpengaruh berbagai gesekan kecil yang terjadi antar keduanya. Kelestarian
hutan dan ruang terbuka hijau senantiasa menjadi perhatian dan kepedulian
bersama dua komunitas yang sama-sama membutuhkan ‘rumah’ bagi kelangsungan
hidup.
Hasilnya, nyaris seluruh mata air di Polandia
tetap mengalirkan air, sehingga dengan sendirinya tetap dikunjungi masyarakat
yang mencari kesembuhan dari penyakit yang mereka derita. (dswas)
