Minggu, 01 Februari 2026

Modifikasi Cuaca: Upaya Bertahan Hidup atau Menaklukkan Alam?

Cuaca buruk, hujan deras atau badai salju, mengganggu aktivitas sehari-hari. Apalagi bila berujung fenomena yang lebih parah, seperti banjir bandang yang mengakibatkan hilangnya nyawa dan harta benda. Negara kami, Indonesia, sudah sangat akrab dengan bencana, terutama banjir yang semakin sering terjadi dan semakin parah setiap tahun. Salah satu yang terparah dan belum lama terjadi adalah bencana banjir Sumatra 26 November lalu, di mana ribuan orang tewas dan ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal.

Bencana Sumatra bisa dikatakan ‘hadiah’ akhir tahun yang menimbulkan perasaan berkecamuk di hati setiap warga negara Indonesia. Melalui media sosial dan berbagai kanal berita, seluruh negeri (bahkan luar negeri) menyaksikan kepiluan para korban dan para pejabat setempat yang mengaku tidak sanggup mengatasi dampak salah satu bencana terbesar dalam sejarah bangsa kami.

Ketika Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) mengumumkan prakiraan tentang kemungkinan bencana serupa di wilayah lain, yaitu Pulau Jawa, kepanikan pun menyeruak. Jakarta disebut sebagai salah satu wilayah yang paling terdampak, sehingga Gubernur Jakarta Pramono Anung memutuskan implementasi modifikasi cuaca sebagai solusi demi mencegah datangnya banjir besar yang bisa menenggelamkan ibu kota negara.

Berbagai pihak melayangkan kritik terhadap keputusannya, mengingat metode ini tidak sepenuhnya aman. Sejumlah studi telah mengungkap dampak negatif modifikasi cuaca, terutama yang diakibatkan penggunaan bahan kimia apabila metode ini diimplementasikan dalam jangka panjang. Serbuk perak iodida yang lazim digunakan dalam modifikasi cuaca dapat menjadi bumerang yang pada gilirannya malah mencemari tanah dan air. Sementara dampaknya pada tubuh manusia (terutama kulit) masih dalam perdebatan.


Ilustrasi: panorama dari sebuah kafe yang didirikan di sebelah sebuah situs sejarah di Bromo


‘Mengarahkan’ cuaca dalam sudut pandang spiritual

Modifikasi cuaca bukanlah barang baru dalam budaya kami, khususnya di kalangan penganut Aliran Kepercayaan. Keahlian ‘mengarahkan cuaca’ sudah dikenal sejak lama dan diajarkan secara turun temurun, walaupun hanya satu jenis cuaca saja yang ‘dikendalikan’, yaitu hujan. Ahli di bidang ini disebut pawang hujan, sering digunakan jasanya untuk mencegah turunnya hujan saat penyelenggaraan berbagai acara yang melibatkan banyak orang di ruang terbuka.

Berbeda dengan tujuan modifikasi cuaca, seorang pawang hujan tidak berfokus untuk membatalkan atau menghentikan terjadinya hujan, melainkan hanya menundanya. Konsep ini didasari oleh keyakinan bahwa alam mengandung sesuatu yang hidup di dalamnya, sehingga ia memiliki arah geraknya sendiri. Manusia tidak dapat mencegah, menolak lalu berusaha menghentikannya. Sama seperti manusia tidak dapat menolak takdir. Penolakan yang diwujudkan dalam bentuk upaya menghentikan cuaca (atau lebih tepatnya hujan), walaupun berpeluang berhasil akan menimbulkan berbagai konsekuensi baru yang pada akhirnya menuntut manusia berpikir keras untuk mencari jalan keluarnya.  

Maka dari itu, keahlian ‘mengarahkan’ hujan dilarang digunakan sekehendak hati oleh seseorang yang memiliki kemampuan tersebut. Hujan ‘diarahkan’ agar tidak turun di saat acara pesta pernikahan, misalnya, bertujuan agar para tamu yang hadir tidak direpotkan oleh air yang membasahi busana pesta mereka. Agar mereka tetap dapat merasa senang, menikmati suasana, berinteraksi dengan handai taulan, turut berbahagia bersama kedua mempelai. Sebagaimana tujuan diselenggarakannya sebuah pesta pernikahan.

Tergantung ‘pak sopir’

Memiliki kekuatan, atau keahlian, untuk mengubah hujan dari terjadi menjadi tidak terjadi sebaiknya diikuti dengan rasa tanggung jawab. Sebagai contoh, fenomena Rara, pawang hujan yang mempertontonkan aksinya menghentikan hujan saat berlangsungnya sesi balapan MotoGP di Sirkuit Mandalika pada 2022 lalu dan viral di X. Walaupun aksi Rara menuai pujian dari seluruh dunia, kita tidak pernah tahu apa dampak ikutan dari sebuah unjuk kekuatan yang bisa saja dicerna sebagai ‘menantang Sang Pencipta’ oleh sebagian orang.

Demikian pula halnya dengan kemampuan memodifikasi cuaca. Bencana alam seyogyanya dipandang sebagai hasil akhir serangkaian sebab yang saling berkelindan, dan bukan semata-mata akibat satu faktor yang dalam konteks ini adalah hujan deras. Pengimplementasian modifikasi cuaca mungkin masih dapat dianggap wajar apabila terjadi keadaan kahar yang benar-benar menempatkan manusia dalam jalan buntu.

Namun, seberapa buntukah situasi yang membuat pemanfaatan modifikasi cuaca menjadi wajar? Parameter yang jelas dan transparan sudah saatnya ditetapkan sebagai pengendali si pengendali cuaca itu sendiri. (dswas)

Rabu, 28 Januari 2026

Mengakui Masa Lalu Agar Tidak Salah Langkah di Masa Depan

Kaum perempuan wajib mandiri dan bisa mempertahankan diri serta kehormatan mereka ketika para lelaki (pasangan, anggota keluarga, dll.) jauh dari mereka. Ini bukanlah feminisme, melainkan suatu hal yang lazim dan diterapkan secara turun temurun di zaman kuno sebuah bangsa. Oleh karena itu, masyarakat kuno Indonesia mendesain senjata khusus bagi kaum perempuan mereka, berangkat dari pemikiran bahwa kecuali prajurit perempuan, perempuan biasa pun wajib menyamarkan senjata mereka agar tidak menimbulkan kegelisahan masyarakat di sekitar mereka.

Senjata yang dimaksud adalah semacam pisau belati kecil untuk disembunyikan di balik busana mereka, atau sebagai hiasan rambut. Senjata semacam ini dinamakan keris, walaupun dalam bentuk yang lebih mungil dibandingkan keris untuk kaum lelaki. Perempuan memiliki keterbatasan, sehingga filosofi kuno Indonesia telah mengatur agar dua kubu ini tetap dapat hidup saling berdampingan sesuai kapasitas dan kodrat masing-masing.

“Invasi” Kerajaan Majapahit dari Tanah Jawa ke Semenanjung Malaka (sekitar abad 14) membawa serta pengetahuan baru tentang keris ke wilayah baru (Pahang, Tumasik, Thailand Selatan, Kelantan, Kedah). Pengetahuan ini pun mengakar kuat dan menjadi bagian masyarakat Semenanjung Malaka, yang juga merupakan para pendatang dari Sumatra Selatan pada era Kerajaan Sriwijaya (eksis abad 7). Mereka mengadopsi keris untuk menjadi bagian dari budaya leluhur mereka berdasarkan perjalanan sejarah dan pengetahuan tentang senjata tradisional itu di kalangan warga Malaysia. 

 

Ilustrasi: Suatu pagi di Singosari


Mengalah bukan pertanda kelemahan

Faktanya, Semenanjung Malaka bukanlah dataran kosong tak berpenghuni ketika para pendatang dari Sumatra (atau Jawa?) datang mendarat. Hingga saat ini, terdapat sekitar 98 kelompok suku asli Malaysia yang sudah menghuni Semenanjung Malaka sejak sebelum kedatangan para pendatang dari berbagai penjuru. Di antara penduduk asli Malaysia (atau disebut sebagai Orang Asli dalam Bahasa Melayu), terdapat kelompok suku Negrito yang berkarakter pemalu dan dianggap sebagai para penjaga hutan oleh para pendatang (Semang).

Dengan menginterpretasi ulang sumber yang sangat terbatas tentang kelompok suku Asli Malaka ini, bisa disimpulkan Kepercayaan Semang membentuk sikap bahwa manusia tidak hidup sendiri di alam ini. Maka ditetapkanlah beragam aturan untuk ‘meregulasi’ tingkah laku masyarakat Semang saat mereka menjalani kehidupan sehari-hari, maupun saat mencari nafkah sebagai pemburu. Tata cara hidup diberlakukan agar keberadaan mereka tidak membuat pihak lain merasa tidak senang, karena banyak ketidakharmonisan terjadi akibat perasaan semacam itu.

Kepercayaan Semang menyiapkan masyarakat Asli Malaka menghadapi kemungkinan datangnya orang-orang dari tanah seberang ke tanah di mana mereka hidup selama puluhan, bahkan mungkin ratusan, generasi. Ketika para penjelajah Melayu berlabuh di pantai Semenanjung Malaka 1400 M, para suku Asli Malaka yang sudah mengintai dari kejauhan memutuskan untuk mundur ke dalam hutan dan lereng-lereng gunung yang sulit dijangkau. Mereka memberi ruang kepada para penjelajah Melayu untuk mendirikan pemukiman, yang kemudian berkembang menjadi kerajaan.

Menghormati ‘pribumi sejati’  

Momen menguatnya sentimen nasionalisme di sejumlah negara sejak beberapa tahun terakhir seharusnya bisa dimanfaatkan sebagai inspirasi untuk lebih mengenal wilayah atau tanah di mana kita tinggal saat ini, berikut sejarahnya. Seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Keterputusan dari pengetahuan tentang awal mula suatu tempat akan membuat manusia menebak langkah dan tindakan paling tepat guna menghadapi timbulnya tantangan yang berkaitan dengan di mana mereka berada.

Dua kelompok etnis yang berbeda dalam pemaparan di atas memilih cara berlawanan dalam mengatasi potensi bahaya. Satu etnis menciptakan keris sebagai senjata, sementara etnis lain memilih langkah mundur sebagai strategi bertahan hidup. Dua pendekatan tersebut terbukti ampuh, karena baik masyarakat Jawa maupun masyarakat Semang tetap eksis di Semenanjung Malaka era modern dengan berbagai dinamika yang mewarnai kehidupan mereka. (dwsas)

Senin, 26 Januari 2026

Tetap Selamat dan Cuan Dari Eksploitasi Alam, Bagaimana Caranya?

Sebuah ‘sihir’ bernama teknologi menciptakan berbagai perangkat ajaib yang sebelumnya tidak dibutuhkan manusia. Kecerdikan ini tentu saja berhasil mendatangkan keuntungan finansial bagi para kreatornya, menjadi peluang kerja bagi jutaan orang, dan menggerakkan roda perekonomian global. Sebuah motivasi baru pun muncul menyemangati anak-anak muda seluruh pelosok dunia untuk giat belajar tentang seluk beluk teknologi, dengan harapan agar masa depan mereka pun secerah para triliuner di bidang ini.

Dengan semakin membludaknya perangkat teknologi, baik dari segi kuantitas maupun jenisnya, mereka yang bergerak di bidang industri teknologi dihadapkan pada satu tantangan besar, yaitu ketersediaan bahan baku. Logam mineral langka yang merupakan bahan dasar chip, otak perangkat teknologi yang sekarang kita gunakan, tidak bisa ditambang di sembarang tempat. Langka seperti namanya.

Salah satu lokasi yang disebut-sebut menyimpan cadangan logam langka dalam jumlah besar adalah Greenland, pulau terbesar dunia yang merupakan wilayah yurisdiksi Denmark. Sebelum era 2000-an, Greenland hanya dianggap sebuah pulau bongkahan es dengan suhu ekstrem karena terletak di ujung utara Bumi. Mengeksploitasi Greenland jelas akan membutuhkan biaya mahal bila lapisan esnya masih setebal era 80 atau 90-an.

‘Berkat’ pemanasan global, ikhtiar ini bisa jadi tidak akan menelan terlalu banyak biaya. Es tebal Greenland kini telah menipis, sehingga tidak akan terlalu rumit untuk menambang logam langka yang telah tersimpan selama jutaan tahun di bawahnya. Berdasarkan logika pasar, semakin langka suatu benda maka harganya akan semakin mahal. Masa depan Greenland bisa jadi akan sangat cerah, bukan tidak mungkin wilayah ini akan kaya raya dari penambangan logam langka.  


Ilustrasi: Danau buatan yang dibentuk dari Sungai Lahor, Malang Selatan

Menghargai ‘pengorbanan’  

Lalu siapakah penduduk asli Greenland yang akan beruntung dan segera jadi orang kaya baru ini? Mereka dinamakan Suku Inuit, salah satu kelompok suku yang berdiam di tempat terdingin di belahan Bumi Utara sejak berabad-abad silam. Menurut para sejarawan, Suku Inuit Greenland sebenarnya berasal dari Amerika Utara, tepatnya Alaska, di mana terdapat populasi etnis ini dalam jumlah yang cukup besar.

Dahulu kala, suhu Bumi Utara masih sangat dingin. Sejumlah wilayah yang saat ini berupa perairan dahulu merupakan lempengan-lempengan es yang aman untuk dilewati. Suku Inuit di Alaska mengembara hingga Rusia dan Greenland dengan membawa segala yang mereka punya, bukan hanya hewan ternak atau anggota keluarga tetapi juga pengetahuan dan spiritualitas.

Tidak sembarang orang yang bisa bertahan hidup di tengah suhu ekstrem (yang bisa mencapai puluhan minus di bawah nol derajat Celcius di musim dingin), Suku Inuit adalah salah satu di antara sekian juta kelompok etnis di dunia ini yang memilih jalan sulit tersebut. Kondisi alam membentuk Suku Inuit sebagai kelompok etnis dengan kepribadian individualis. Walau demikian, Kepercayaan Asli Inuit tidak menganjurkan mereka untuk tidak terkoneksi dengan alam sekitar.

Alam sekitar merupakan penopang hidup Suku Inuit, dan Kepercayaan Asli tidak melarang mereka untuk tidak memanfaatkan atau mengambil apa pun yang terdapat di dalamnya. Hidup di tengah alam bersuhu ekstrem membuat Suku Inuit menggantungkan sumber makanan dari hasil berburu, ketika Kepercayaan Asli memandang hewan dan tumbuhan sebagai entitas yang setara dengan manusia, karena sama-sama memiliki nyawa. Penghormatan terhadap hewan hasil buruan diberikan sebelum Suku Inuit mengonsumsi dagingnya, atau mengambil kulitnya untuk dijadikan bahan pakaian. Misalnya, sesaji air putih dipersembahkan untuk singa laut hasil buruan sebagai tanda ucapan terima kasih atas ‘pengorbanan’ si binatang buruan.

“Manusia bukan pengatur alam”

Berubahnya suhu Bumi tentu saja memengaruhi kehidupan Suku Inuit sebagai kelompok minoritas yang telah terbiasa dengan pola hidup berburu sejak beribu-ribu generasi. Kepercayaan Asli yang mengakar kuat menjadi landasan bagi Suku Inuit untuk memandang perubahan alam sebagai sesuatu hal yang bisa terjadi sewaktu-waktu, karena mereka bukanlah pengatur dunia dan tidak bisa menebak apa yang alam inginkan.

Berburu mungkin bukan lagi cara hidup Suku Inuit dalam beberapa tahun ke depan, mengingat hewan-hewan di Bumi Utara, sebagaimana di tempat lain, sudah terpapar racun dari pencemaran lingkungan. Akankah mereka menjadi pekerja tambang logam mineral langka sebagai gantinya?

Dalam sudut pandang Kepercayaan Asli Inuit, kesejahteraan dari pemanfaatan sumber-sumber alam bisa dicapai dengan mempertahankan keseimbangan. Katakanlah tambang mineral langka akan dibuka dalam waktu dekat di Greenland, sesaji dalam jumlah besar perlu dihaturkan sebagai ungkapan terima kasih dan permohonan izin untuk mengambil sesuatu dari alam. Kerendahan hati bukan hanya baik untuk kesehatan mental manusia, tetapi juga kelestarian alam sekitarnya.  (dswas)

Rabu, 21 Januari 2026

Ketika Ketentraman Mahal Harganya

Lolos Kualifikasi Piala Dunia seharusnya menjadi sebuah kebanggaan besar bagi rakyat sebuah bangsa, karena berjam-jam dan berbulan-bulan latihan fisik maupun mental yang menyita perhatian dan biaya besar akhirnya sukses menorehkan sebuah prestasi yang akan dikenang selamanya. Akan tetapi, tidak demikian halnya bagi para suporter sepak bola Iran.

Permasalahan internal Iran membuat para suporter Team Melli (julukan timnas Iran) bersikap dingin ketika Iran dinyatakan lolos Kualifikasi Piala Dunia 2026 oleh FIFA beberapa waktu lalu. Tidak ada pujian, eforia, apalagi arak-arakan di jalan raya menyambut kesuksesan satu-satunya tim Asia yang tampil sangat baik sepanjang babak Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia. Padahal Iran mencetak poin nyaris sempurna (23), dan hanya satu kali kalah dalam 16 laga kualifikasi yang dijalaninya.

Kemelut dalam negeri inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026 memberikan sanksi larangan masuk AS bagi warga negara Iran selama turnamen akbar sepak bola itu berlangsung (kecuali bagi para pemain, tim pelatih, dan ofisial). Larangan ini tentu tidak berlaku bagi para diaspora Iran yang sudah lama bertempat tinggal di Amerika Serikat atau Kanada, sehingga Team Melli masih dapat berlaga dengan disaksikan para pendukung mereka selama Piala Dunia 2026. 


Ilustrasi: sebuah restoran di Kabupaten Malang di mana terdapat mata air kuno

Meraba akar permasalahan

Berabad-abad silam sebelum diguncang prahara yang seakan tiada habisnya sejak 2022, Iran sesungguhnya merupakan salah satu pusat peradaban tertua di dunia. Pertemuan antara Sungai Efrat dan Tigris menciptakan wilayah lembah yang bukan hanya luas, tetapi juga subur dan mampu menghidupi berbagai bangsa kuno yang datang dan pergi silih berganti, mulai dari bangsa Sumeria, Asyiria, Akhadia, Babilonia, Parthia, Sasania, hingga Persia, sejak 10.000 SM hingga 539 SM.

Berbagai bangsa tersebut awalnya adalah suku-suku nomaden yang hidup mengembara sebagai penggembala ternak di sekitar lembah Efrat-Tigris. Suku-suku ini saling berlomba untuk menjadi yang terkuat agar mampu mempersatukan seluruh suku di bawah kepemimpinan sang pemenang.  Mereka menempuh berbagai cara, termasuk dengan saling bersekutu untuk menjatuhkan bangsa lain, misalnya, bangsa Persia versus Asyiria dan Babilonia.

Menariknya, seluruh bangsa yang bertikai di masa Iran Kuno pernah menganut satu kepercayaan yang sama, yaitu Kepercayaan Iran Kuno, yang sangat mirip dengan agama Weda dari India dalam berbagai aspek. Namun karena para pemimpin kepercayaan kuno ini mempraktikkan penggunaan semacam narkoba kuno pada saat memimpin ibadah, ditambah dengan praktik korupsi di kalangan pemuka kepercayaan di jaman itu, timbulah pemberontakan yang dipimpin oleh Zoroaster sejak abad 10 SM. Ia mendirikan agama baru bernama Zoroastrianism, yang menggeser Kepercayaan Iran Kuno seiring dengan berjalannya waktu. Demikianlah asumsi para sejarawan.

Menghentikan pengulangan  

Penolakan para warga Iran untuk mendukung tim nasional mereka merupakan pengulangan peristiwa yang kurang lebih mirip jutaan tahun yang lalu, yaitu ketika kaum muda Zoroastrianism menolak percaya pada para pemuka Kepercayaan Kuno Iran. Akibat hilangnya catatan sejarah dari era tersebut, para peneliti hanya dapat meraba-raba tentang kemunculan satu peristiwa penting yang mendorong rakyat Persia kuno meninggalkan kepercayaan asli mereka. Walau demikian, berulangnya suatu peristiwa pahit dapat dimaknai sebagai pengingat tentang adanya kekeliruan dalam proses yang dipilih untuk dijalani. Ibarat masalah pada satu organ tubuh yang dapat berkembang dan menjalar menjadi tumor, kanker, dan berbagai penyakit kronis lainnya.

Peradaban manusia pasca Mesopotamia terus berjuang menemukan pijakan agar hal-hal baik dan positif senantiasa datang dalam hidup, agar segala kerja keras mendatangkan hasil yang membahagiakan dan penuh cahaya. Inilah tujuan lumrah manusia di zaman apa pun mereka hidup, sebuah tujuan yang menciptakan keterkaitan antara para manusia yang hidup di  masa lampau, saat ini, dan masa depan. Tujuan yang kiranya dapat menghentikan sejarah buruk dari terulang lagi dan lagi. (dswas)

Minggu, 18 Januari 2026

Membentuk Persaingan Yang Tidak Bawa Bencana

Meski bukan Piala Dunia paling berdarah, Piala Dunia 1982 tetap dikenang oleh jutaan insan sepak bola yang menyaksikannya hingga saat ini. Satu tragedi yang terjadi pada saat itu begitu fatal, ironis, dan tragis, sehingga terus diabadikan dalam kisah seputar sepak bola agar generasi selanjutnya selalu mengingatnya.

Malam Sevilla (Night of Seville, Nacht von Sevilla (Jerman), Nuit de Seville (Prancis)) adalah nama yang diberikan media untuk pertandingan semifinal Piala Dunia 1982 antara Jerman (Barat) versus Prancis, di Stadion Ramon Sanchez Pizjuan, Seville, Spanyol. Laga berjalan panas. Bukan saja karena suhu Seville saat itu, yaitu 32 derajat celcius di pukul 21.00 waktu setempat, melainkan juga suhu rivalitas antara Jerman – Prancis yang dikenal dalam sejarah sebagai dua musuh di dua perang besar sekaligus, yaitu Perang Dunia I dan II.

Puncaknya adalah ketika kiper Jerman Harald Schumacher ‘menerjang’ bek Prancis Patrick Battiston dengan maksud menghalau serangan Battiston di kotak penalti. Serangan balik Schumacher begitu keras hingga membuat Battiston jatuh pingsan dengan dua gigi patah, patah tulang rusuk di tiga tempat, dan cedera tulang belakang. Namun, wasit Charles Cover asal Belanda yang memimpin jalannya pertandingan tidak memberikan hukuman apa pun atas insiden berdarah tersebut.

Para pengamat sepak bola mengenang peristiwa itu secara restrospektif sebagai cerminan dendam yang belum terselesaikan antara dua kubu. Uniknya, Prancis dan Jerman tidak menolak untuk ‘berperang’ dalam laga sepak bola melawan satu sama lain pasca berlangsungnya Perang Dunia I dan II. Keduanya pertama kali bertemu pada 1931 saat Jerman masih bernama Republik Weimar, mantan kerajaan yang baru saja ditaklukkan Prancis.  

Persaingan sehat ala leluhur

Persaingan atas dasar apapun merupakan karakter alami seluruh makhluk hidup penghuni jagat raya. Survival of the fittest telah dikenal nenek moyang manusia sejak berpuluh dan beribu generasi terdahulu yang pernah hidup dan membangun kejayaan mereka di muka Bumi. Para leluhur menyadari bahwa persaingan tidak dapat ditiadakan, karena masing-masing pihak menelaah kebenaran walaupun menurut perspektif mereka sendiri. 


Candi Waringin Branjang, lokasi Pertapaan Gunung Kelud

Berangkat dari visi tentang masa depan, mereka menginisiasi banyak hal yang bertujuan untuk menjaga keselamatan alam sekitar beserta para penghuninya di tengah persaingan yang kian memanas seiring waktu.  

Salah satu cara yang dilakukan leluhur kami adalah ‘mengorbankan’ mahakarya mereka demi terciptanya kerukunan antara para keturunan penguasa dan orang-orang yang mendukung mereka. Raja Airlangga, contohnya, mengorbankan Kerajaan Kahuripan yang beliau bangun dari nol sebagai penerus Kerajaan Mataram Hindu demi kesejahteraan para keturunannya. Beliau membagi dua Kerajaan Kahuripan menjadi Kadiri dan Jenggala, yang secara otomatis mengakhiri eksistensi Kahuripan pada 1042 Masehi (menurut catatan sejarah).

Akan tetapi, sekelompok brahmana keturunan Suku Keling yang bermukim di lereng Gunung Kelud mengajukan keberatan ketika dimintai kesediaan untuk bergabung dengan salah satu dari dua kerajaan tersebut. Mereka mengajukan permohonan untuk tetap menjadi wilayah netral, sebagai pertapaan yang boleh dikunjungi siapa pun untuk menuntut ilmu dan mencari saran para ahli. Permohonan itu pun dikabulkan. Bangunan Pertapaan Lereng Gunung Kelud tetap berdiri, hingga saat ini terawat dengan baik dan digunakan sesuai fungsinya berkat pemahaman yang baik oleh keturunan para brahmana Suku Keling tentang netralitas.

“Netral tidak keren”  

Perjalanan waktu menunjukkan berat dan berlikunya jalan yang harus ditempuh oleh para pihak penganut netralitas. PBB dan ICC semakin ke sini semakin tidak netral. Bahkan wasit dalam pertandingan Malam Sevilla di atas pun tidak menunjukkan netralitas sebagaimana seharusnya. Para pengamat menilai, hal ini karena wasit Cover merupakan warga Belanda. Sedangkan di era tersebut, Belanda dan Jerman memiliki hubungan yang lebih baik dibandingkan hubungan antara Jerman dan Prancis dalam berbagai konteks.

Dalam konteks politik, memilih posisi netral kian sulit dilakukan karena pihak-pihak yang saling berlawanan terus berusaha menarik simpati dan membentuk opini audiens untuk memihak mereka. Mempertahankan netralitas demi memelihara harmoni dan kesejahteraan masyarakat dianggap tidak sejalan dengan kepentingan golongan. Kaum netral dianggap teroris penyebar paham-paham radikal karena menghalangi jalan golongan tertentu untuk mencapai tujuan mereka.

Agar persaingan dapat terus berjalan secara sehat dan senantiasa menghasilkan, keberadaan golongan netral seharusnya tetap dipertahankan sebagai katarsis yang menampung suara-suara dari dua belah pihak. Tentu saja, visi seperti ini hanya akan sejalan dengan mereka yang menyadari bahwa persaingan bukanlah sesuatu yang menakutkan dalam hidup ini. Melainkan suatu kenyataan hidup yang membentuk mental dan mengembangkan skill bertahan hidup dari generasi ke generasi. (dswas). 

Rabu, 07 Januari 2026

Perburuan Sumber Energi Tak Terbatas

Stress bukanlah satu-satunya hal yang memotivasi siapa saja untuk mencicipi narkoba. Bagi sebagian kecil pengguna, mereka menggunakan zat terlarang ini untuk meningkatkan stamina dan kekuatan fisik. Logika di balik cara kerja beberapa jenis narkoba adalah meningkatkan kadar dopamin dalam otak secara singkat dan seketika setelah diinjeksikan, sehingga timbul sekonyong-konyong perasaan gembira. Karena merasa gembira, maka tubuh tidak merasakan lelah saat beraktivitas berat, misalnya, berolah raga.

Saya tidak membicarakan tentang seorang atlet yang terlibat kasus doping, melainkan kisah pribadi dari zaman ‘kegelapan’. Beberapa tahun silam saat masih menjadi pengguna aktif narkoba jenis leksotan, saya mengonsumsinya beberapa saat sebelum berenang di siang hari yang panas. Sensasi terbang dalam air yang jernih dan biru membuat tubuh terasa ringan, tidak lelah meski sudah berenang beberapa jam. Seolah-olah terus mendapat suntikan energi tanpa perlu berhenti sejenak untuk keluar dari air.

Setelah berenang, tubuh tidak terasa pegal-pegal. Saya masih merasa cukup bugar untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, juga mengerjakan tugas-tugas harian sebagai penulis dan penerjemah freelance. Ide-ide baru seakan mengalir begitu saja, menghemat waktu yang biasanya saya gunakan untuk membaca, melakukan riset online, dll.

Akan tetapi, leksotan juga biasa dikonsumsi anak-anak punk sebelum mereka pogo di sebuah pentas musik dengan tujuan mencari peluang untuk melampiaskan dendam pada musuh-musuh lama. Saya pun sudah merasakan bagaimana emosi mudah sekali meledak saat berada di bawah pengaruh obat terlarang ini. Sebagai contoh, saya menyeret anak bungsu saya (yang saat itu berumur 8 tahun) keluar dari kamar hanya karena ia tidak mau makan. 


Ilustrasi: koleksi pribadi 

Dari tak terbatas menjadi terbatas  

Walaupun telah merdeka dari Uni Soviet sejak 1991, di Moldova istilah ‘kepercayaan asli’ akan mengarah pada Kepercayaan Asli Slavia (Slavic Native Faith) yang juga eksis di beberapa negara eks Soviet lainnya seperti Ukraina dan Latvia. Kepercayaan asli yang juga disebut Rodnovery ini menganggap segala ketidaknyamanan dalam hidup berasal dari keterputusan antara manusia dan alam, sebuah krisis spiritual dan eksistensial yang disebabkan oleh keputusan si manusia itu sendiri.

Hubungan yang harmonis antara alam seisinya dan manusia berarti memberi alam waktu untuk terus memperbarui diri, agar apa yang terdapat di dalamnya selalu ada dan tak pernah habis walaupun terus digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Sistem tata kelola tradisional dalam sudut pandang penghayat Rodnovery adalah mengambil dari alam sesuai yang dibutuhkan, karena alam sekitar diperlakukan bukan sekadar benda mati yang bertanggung jawab atas kelangsungan hidup manusia. Melainkan bagian dari sebuah kesatuan jaringan besar, mitra yang tak berbicara tetapi senantiasa menyediakan segala hal yang kita butuhkan.

Kegagalan menghormati dan memuliakan sang mitra pendiam ini memicu munculnya keinginan yang berlebihan untuk mengonsumsi dan mengambil tanpa henti. Sampai tibalah titik balik ketika alam sekitar tak mampu lagi memberi, lantaran manusia modern yang tak mampu mengendalikan diri dan dorongan untuk memuaskan keinginan. Akibat habisnya sumber daya alam, kebutuhan hidupnya menjadi tidak terpenuhi seperti dulu. Keberlimpahan menjadi kekurangan, lalu timbulah krisis ekonomi.

Sumber energi tak terbatas bukan mitos  

Lalu apakah ini berarti sumber energi yang tak terbatas jumlahnya hanyalah sebuah hoaks? Berkaca dari kisah zaman kegelapan di awal tulisan ini, energi tak terbatas bisa dan sangat mungkin kita datangkan dengan bantuan narkoba, berikut segala konsekuensinya. Bukan keputusan bijak, tentu saja. Stamina manusia ada batasnya, tetapi dengan gaya hidup dan teknik olahraga yang baik kita bisa sedikit memperpanjang jarak antara kondisi saat ini dan batas yang tak bisa kita lampaui dalam hal kebugaran.

Kepercayaan Rodnovery memiliki pandangan yang sama dalam hal kebugaran manusia dan alam sekitarnya. Perhatian dan kasih sayang dibutuhkan oleh segala unsur yang hidup dan bergerak di dunia ini, sehingga terciptalah keharmonisan berkat keterkaitan yang dipelihara melalui berbagai tindakan sebagai simbolisasi pemuliaan. Misalnya, ritual dan sesajen. Keharmonisan inilah yang pada akhirnya mendatangkan rasa bahagia dalam beraktivitas sehari-hari, tanpa ketergantungan pada zat eksternal seperti narkoba.  (dswas)

Sabtu, 03 Januari 2026

Stress Adalah Seni Hidup, Benarkah?

Masalah penyalahgunaan narkoba sering dianggap sepele dan kerap dimanfaatkan sebagai pengalih perhatian publik dari masalah lain yang lebih genting, yang lebih menentukan “hidup mati” seorang tokoh politik (misalnya). Sebuah data menunjukkan nyaris tidak ada negara yang benar-benar bebas dari penyalahgunaan narkoba sejak beberapa dekade silam. Nama-nama negara besar, maju, dan bahkan negara terbahagia pun masuk dalam daftar tersebut.

Sejumlah negara mencoba mengatasi masalah klasik ini dengan melegalkan salah satu jenis narkoba teringan, yaitu ganja. Harapannya, keinginan untuk menggunakan narkoba dapat terpenuhi, sehingga para pengguna narkoba dapat mengerem godaan mencoba zat-zat adiktif lain yang lebih berbahaya. Akan tetapi, keputusan ini belum dapat menghilangkan sama sekali dorongan yang dirasakan sebagian kecil orang di luar sana untuk mencari kebahagiaan dalam narkoba dengan mencoba jenis yang lebih berat daripada ganja.

Kita menertawakan mereka yang tersesat akibat zat terlarang ini sebagai kaum rapuh terhadap tekanan dan mudah terombang-ambingkan keadaan. Namun, asal tahu saja, stress sebagai salah satu faktor utama yang menginspirasi seseorang untuk mencoba narkoba dapat mewujud dalam kehidupan sehari-hari kita dalam bentuk lain. Kebiasaan makan berlebihan dan sakit-sakitan adalah beberapa di antaranya.  


Ilustrasi: koleksi pribadi

Bukan tanggung jawab alam sekitar

Walaupun sebagian orang menganggap stress adalah sebuah seni yang mewarnai hidup ini, para anggota dalam sebuah masyarakat memiliki kapasitas yang berbeda dalam memitigasi stress. Oleh karena itu, Kepercayaan Asli Latvia yang disebut Dievturiba memandang stress sebagai dampak ketidakharmonisan yang terjadi akibat keterputusan antara si penderita dan alam sekitar berikut para leluhurnya. Alam sekitar tidak pernah berbohong, apa yang terlihat oleh mata itulah kenyataan. Sedangkan para leluhur adalah sebuah nama bagi suatu entitas yang memfasilitasi eksistensi manusia itu sendiri hingga lahir ke dunia.

Tak sedikit yang menganggap, atau bahkan mencari, solusi permasalahan hidup mereka di dalam berbagai ritual aliran kepercayaan. Mereka yang memiliki kebiasaan ini tidak menyadari bahwa ketidakharmonisan yang terjadi dalam hidup mereka bukanlah disebabkan oleh alam sekitar beserta segala unsur yang terdapat di dalamnya, termasuk para leluhur. Para penghayat kepercayaan dilarang memasuki tempat sakral apabila mereka sedang dilanda kesedihan atau duka cita. Apapun penyebab emosi negatif yang mereka rasakan, mereka harus terlebih dahulu “menyelesaikan” ketidakharmonisan ini sebelum kembali membangun keterhubungan dengan alam sekitar.

Kepercayaan Asli bukanlah obat penghilang rasa sakit, karena itu bukanlah tujuan para leluhur yang menciptakannya. Agar keharmonisan tercipta, manusia sebagai makhluk paling sempurna memiliki kebebasan seluas-luasnya untuk memberdayakan segala potensi alam bagi kesejahteraannya hari ini dan masa depan. Logika ini juga berarti bahwa manusia (seharusnya) sama bebasnya dalam mengembangkan kemampuan untuk mengatasi segala gelombang kehidupan, termasuk gelombang tsunami sekalipun.

Narkoba sukar dibasmi, tetapi …    

Dinamika antara Amerika Serikat dan Venezuela yang terjadi belakangan ini merupakan respons pemerintahan Donald Trump terhadap masalah penyalahgunaan narkoba di AS, yang bertengger di peringkat teratas daftar negara dengan kasus narkoba terbesar di dunia. Berbagai pihak menuding serangan yang dilakukan AS terhadap kapal-kapal penyelundup narkoba, sanksi terhadap kapal tanker minyak dari dan ke Venezuela, dan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro sebagai tindakan berlebihan. Namun, bila Anda pernah menonton video YouTube tentang para pecandu fentanyl yang berkeliaran di jalanan bak zombie, saya yakin Anda dapat memaklumi keputusan berlebihan di atas.

Sebagai seseorang yang pernah berkecimpung di dunia hitam ini, saya dapat mengatakan kepada Anda bahwa narkoba sukar dibasmi. Prinsip para pebisnis di bidang ini adalah mereka menjual karena ada pembeli. Para pedagang narkoba adalah orang-orang visioner yang sangat tahu bahwa sekokoh-kokohnya pondasi religius, spiritual, dan mental suatu bangsa atau kelompok masyarakat, akan selalu ada anak-anak muda tersesat (atau bahkan orang dewasa) yang mencoba menemukan jalan pulang melalui narkoba.

Kepercayaan Asli Latvia menutup pintu bagi mereka bukan karena tidak peduli, melainkan mengedukasi mereka agar mampu “mengemudikan” diri sendiri untuk selanjutnya menyelesaikan negativitas yang mereka alami. Setelah berhasil, mereka disarankan untuk mengekspresikan rasa terima kasih atas “kesuksesan” ini dengan menghaturkan sesajen di tempat-tempat sakral. (dswas)     

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...