Minggu, 18 Januari 2026

Membentuk Persaingan Yang Tidak Bawa Bencana

Meski bukan Piala Dunia paling berdarah, Piala Dunia 1982 tetap dikenang oleh jutaan insan sepak bola yang menyaksikannya hingga saat ini. Satu tragedi yang terjadi pada saat itu begitu fatal, ironis, dan tragis, sehingga terus diabadikan dalam kisah seputar sepak bola agar generasi selanjutnya selalu mengingatnya.

Malam Sevilla (Night of Seville, Nacht von Sevilla (Jerman), Nuit de Seville (Prancis)) adalah nama yang diberikan media untuk pertandingan semifinal Piala Dunia 1982 antara Jerman (Barat) versus Prancis, di Stadion Ramon Sanchez Pizjuan, Seville, Spanyol. Laga berjalan panas. Bukan saja karena suhu Seville saat itu, yaitu 32 derajat celcius di pukul 21.00 waktu setempat, melainkan juga suhu rivalitas antara Jerman – Prancis yang dikenal dalam sejarah sebagai dua musuh di dua perang besar sekaligus, yaitu Perang Dunia I dan II.

Puncaknya adalah ketika kiper Jerman Harald Schumacher ‘menerjang’ bek Prancis Patrick Battiston dengan maksud menghalau serangan Battiston di kotak penalti. Serangan balik Schumacher begitu keras hingga membuat Battiston jatuh pingsan dengan dua gigi patah, patah tulang rusuk di tiga tempat, dan cedera tulang belakang. Namun, wasit Charles Cover asal Belanda yang memimpin jalannya pertandingan tidak memberikan hukuman apa pun atas insiden berdarah tersebut.

Para pengamat sepak bola mengenang peristiwa itu secara restrospektif sebagai cerminan dendam yang belum terselesaikan antara dua kubu. Uniknya, Prancis dan Jerman tidak menolak untuk ‘berperang’ dalam laga sepak bola melawan satu sama lain pasca berlangsungnya Perang Dunia I dan II. Keduanya pertama kali bertemu pada 1931 saat Jerman masih bernama Republik Weimar, mantan kerajaan yang baru saja ditaklukkan Prancis.  

Persaingan sehat ala leluhur

Persaingan atas dasar apapun merupakan karakter alami seluruh makhluk hidup penghuni jagat raya. Survival of the fittest telah dikenal nenek moyang manusia sejak berpuluh dan beribu generasi terdahulu yang pernah hidup dan membangun kejayaan mereka di muka Bumi. Para leluhur menyadari bahwa persaingan tidak dapat ditiadakan, karena masing-masing pihak menelaah kebenaran walaupun menurut perspektif mereka sendiri. 


Candi Waringin Branjang, lokasi Pertapaan Gunung Kelud

Berangkat dari visi tentang masa depan, mereka menginisiasi banyak hal yang bertujuan untuk menjaga keselamatan alam sekitar beserta para penghuninya di tengah persaingan yang kian memanas seiring waktu.  

Salah satu cara yang dilakukan leluhur kami adalah ‘mengorbankan’ mahakarya mereka demi terciptanya kerukunan antara para keturunan penguasa dan orang-orang yang mendukung mereka. Raja Airlangga, contohnya, mengorbankan Kerajaan Kahuripan yang beliau bangun dari nol sebagai penerus Kerajaan Mataram Hindu demi kesejahteraan para keturunannya. Beliau membagi dua Kerajaan Kahuripan menjadi Kadiri dan Jenggala, yang secara otomatis mengakhiri eksistensi Kahuripan pada 1042 Masehi (menurut catatan sejarah).

Akan tetapi, sekelompok brahmana keturunan Suku Keling yang bermukim di lereng Gunung Kelud mengajukan keberatan ketika dimintai kesediaan untuk bergabung dengan salah satu dari dua kerajaan tersebut. Mereka mengajukan permohonan untuk tetap menjadi wilayah netral, sebagai pertapaan yang boleh dikunjungi siapa pun untuk menuntut ilmu dan mencari saran para ahli. Permohonan itu pun dikabulkan. Bangunan Pertapaan Lereng Gunung Kelud tetap berdiri, hingga saat ini terawat dengan baik dan digunakan sesuai fungsinya berkat pemahaman yang baik oleh keturunan para brahmana Suku Keling tentang netralitas.

“Netral tidak keren”  

Perjalanan waktu menunjukkan berat dan berlikunya jalan yang harus ditempuh oleh para pihak penganut netralitas. PBB dan ICC semakin ke sini semakin tidak netral. Bahkan wasit dalam pertandingan Malam Sevilla di atas pun tidak menunjukkan netralitas sebagaimana seharusnya. Para pengamat menilai, hal ini karena wasit Cover merupakan warga Belanda. Sedangkan di era tersebut, Belanda dan Jerman memiliki hubungan yang lebih baik dibandingkan hubungan antara Jerman dan Prancis dalam berbagai konteks.

Dalam konteks politik, memilih posisi netral kian sulit dilakukan karena pihak-pihak yang saling berlawanan terus berusaha menarik simpati dan membentuk opini audiens untuk memihak mereka. Mempertahankan netralitas demi memelihara harmoni dan kesejahteraan masyarakat dianggap tidak sejalan dengan kepentingan golongan. Kaum netral dianggap teroris penyebar paham-paham radikal karena menghalangi jalan golongan tertentu untuk mencapai tujuan mereka.

Agar persaingan dapat terus berjalan secara sehat dan senantiasa menghasilkan, keberadaan golongan netral seharusnya tetap dipertahankan sebagai katarsis yang menampung suara-suara dari dua belah pihak. Tentu saja, visi seperti ini hanya akan sejalan dengan mereka yang menyadari bahwa persaingan bukanlah sesuatu yang menakutkan dalam hidup ini. Melainkan suatu kenyataan hidup yang membentuk mental dan mengembangkan skill bertahan hidup dari generasi ke generasi. (dswas). 

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...