Meski bukan Piala Dunia paling berdarah, Piala Dunia 1982 tetap dikenang oleh jutaan insan sepak bola yang menyaksikannya hingga saat ini. Satu tragedi yang terjadi pada saat itu begitu fatal, ironis, dan tragis, sehingga terus diabadikan dalam kisah seputar sepak bola agar generasi selanjutnya selalu mengingatnya.
Malam Sevilla (Night of Seville, Nacht von Sevilla (Jerman),
Nuit de Seville (Prancis)) adalah nama yang diberikan media untuk pertandingan
semifinal Piala Dunia 1982 antara Jerman (Barat) versus Prancis, di Stadion
Ramon Sanchez Pizjuan, Seville, Spanyol. Laga berjalan panas. Bukan saja karena
suhu Seville saat itu, yaitu 32 derajat celcius di pukul 21.00 waktu setempat,
melainkan juga suhu rivalitas antara Jerman – Prancis yang dikenal dalam
sejarah sebagai dua musuh di dua perang besar sekaligus, yaitu Perang Dunia I
dan II.
Puncaknya adalah ketika kiper Jerman Harald Schumacher ‘menerjang’
bek Prancis Patrick Battiston dengan maksud menghalau serangan Battiston di
kotak penalti. Serangan balik Schumacher begitu keras hingga membuat Battiston
jatuh pingsan dengan dua gigi patah, patah tulang rusuk di tiga tempat, dan
cedera tulang belakang. Namun, wasit Charles Cover asal Belanda yang memimpin
jalannya pertandingan tidak memberikan hukuman apa pun atas insiden berdarah
tersebut.
Para pengamat sepak bola mengenang peristiwa itu secara
restrospektif sebagai cerminan dendam yang belum terselesaikan antara dua kubu.
Uniknya, Prancis dan Jerman tidak menolak untuk ‘berperang’ dalam laga sepak
bola melawan satu sama lain pasca berlangsungnya Perang Dunia I dan II.
Keduanya pertama kali bertemu pada 1931 saat Jerman masih bernama Republik
Weimar, mantan kerajaan yang baru saja ditaklukkan Prancis.
Persaingan sehat ala leluhur
Persaingan atas dasar apapun merupakan karakter alami
seluruh makhluk hidup penghuni jagat raya. Survival
of the fittest telah dikenal nenek moyang manusia sejak berpuluh dan beribu
generasi terdahulu yang pernah hidup dan membangun kejayaan mereka di muka
Bumi. Para leluhur menyadari bahwa persaingan tidak dapat ditiadakan, karena
masing-masing pihak menelaah kebenaran walaupun menurut perspektif mereka
sendiri.
Berangkat dari visi tentang masa depan, mereka menginisiasi
banyak hal yang bertujuan untuk menjaga keselamatan alam sekitar beserta para
penghuninya di tengah persaingan yang kian memanas seiring waktu.
Salah satu cara yang dilakukan leluhur kami adalah ‘mengorbankan’
mahakarya mereka demi terciptanya kerukunan antara para keturunan penguasa dan
orang-orang yang mendukung mereka. Raja Airlangga, contohnya, mengorbankan
Kerajaan Kahuripan yang beliau bangun dari nol sebagai penerus Kerajaan Mataram
Hindu demi kesejahteraan para keturunannya. Beliau membagi dua Kerajaan
Kahuripan menjadi Kadiri dan Jenggala, yang secara otomatis mengakhiri
eksistensi Kahuripan pada 1042 Masehi (menurut catatan sejarah).
Akan tetapi, sekelompok brahmana keturunan Suku Keling yang
bermukim di lereng Gunung Kelud mengajukan keberatan ketika dimintai kesediaan
untuk bergabung dengan salah satu dari dua kerajaan tersebut. Mereka mengajukan
permohonan untuk tetap menjadi wilayah netral, sebagai pertapaan yang boleh
dikunjungi siapa pun untuk menuntut ilmu dan mencari saran para ahli.
Permohonan itu pun dikabulkan. Bangunan Pertapaan Lereng Gunung Kelud tetap
berdiri, hingga saat ini terawat dengan baik dan digunakan sesuai fungsinya berkat
pemahaman yang baik oleh keturunan para brahmana Suku Keling tentang netralitas.
“Netral tidak keren”
Perjalanan waktu menunjukkan berat dan berlikunya jalan yang
harus ditempuh oleh para pihak penganut netralitas. PBB dan ICC semakin ke sini
semakin tidak netral. Bahkan wasit dalam pertandingan Malam Sevilla di atas pun
tidak menunjukkan netralitas sebagaimana seharusnya. Para pengamat menilai, hal
ini karena wasit Cover merupakan warga Belanda. Sedangkan di era tersebut,
Belanda dan Jerman memiliki hubungan yang lebih baik dibandingkan hubungan
antara Jerman dan Prancis dalam berbagai konteks.
Dalam konteks politik, memilih posisi netral kian sulit
dilakukan karena pihak-pihak yang saling berlawanan terus berusaha menarik
simpati dan membentuk opini audiens untuk memihak mereka. Mempertahankan
netralitas demi memelihara harmoni dan kesejahteraan masyarakat dianggap tidak
sejalan dengan kepentingan golongan. Kaum netral dianggap teroris penyebar
paham-paham radikal karena menghalangi jalan golongan tertentu untuk mencapai
tujuan mereka.
Agar persaingan dapat terus berjalan secara sehat dan senantiasa menghasilkan, keberadaan golongan netral seharusnya tetap dipertahankan sebagai katarsis yang menampung suara-suara dari dua belah pihak. Tentu saja, visi seperti ini hanya akan sejalan dengan mereka yang menyadari bahwa persaingan bukanlah sesuatu yang menakutkan dalam hidup ini. Melainkan suatu kenyataan hidup yang membentuk mental dan mengembangkan skill bertahan hidup dari generasi ke generasi. (dswas).