Rabu, 21 Januari 2026

Ketika Ketentraman Mahal Harganya

Lolos Kualifikasi Piala Dunia seharusnya menjadi sebuah kebanggaan besar bagi rakyat sebuah bangsa, karena berjam-jam dan berbulan-bulan latihan fisik maupun mental yang menyita perhatian dan biaya besar akhirnya sukses menorehkan sebuah prestasi yang akan dikenang selamanya. Akan tetapi, tidak demikian halnya bagi para suporter sepak bola Iran.

Permasalahan internal Iran membuat para suporter Team Melli (julukan timnas Iran) bersikap dingin ketika Iran dinyatakan lolos Kualifikasi Piala Dunia 2026 oleh FIFA beberapa waktu lalu. Tidak ada pujian, eforia, apalagi arak-arakan di jalan raya menyambut kesuksesan satu-satunya tim Asia yang tampil sangat baik sepanjang babak Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia. Padahal Iran mencetak poin nyaris sempurna (23), dan hanya satu kali kalah dalam 16 laga kualifikasi yang dijalaninya.

Kemelut dalam negeri inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026 memberikan sanksi larangan masuk AS bagi warga negara Iran selama turnamen akbar sepak bola itu berlangsung (kecuali bagi para pemain, tim pelatih, dan ofisial). Larangan ini tentu tidak berlaku bagi para diaspora Iran yang sudah lama bertempat tinggal di Amerika Serikat atau Kanada, sehingga Team Melli masih dapat berlaga dengan disaksikan para pendukung mereka selama Piala Dunia 2026. 


Ilustrasi: sebuah restoran di Kabupaten Malang di mana terdapat mata air kuno

Meraba akar permasalahan

Berabad-abad silam sebelum diguncang prahara yang seakan tiada habisnya sejak 2022, Iran sesungguhnya merupakan salah satu pusat peradaban tertua di dunia. Pertemuan antara Sungai Efrat dan Tigris menciptakan wilayah lembah yang bukan hanya luas, tetapi juga subur dan mampu menghidupi berbagai bangsa kuno yang datang dan pergi silih berganti, mulai dari bangsa Sumeria, Asyiria, Akhadia, Babilonia, Parthia, Sasania, hingga Persia, sejak 10.000 SM hingga 539 SM.

Berbagai bangsa tersebut awalnya adalah suku-suku nomaden yang hidup mengembara sebagai penggembala ternak di sekitar lembah Efrat-Tigris. Suku-suku ini saling berlomba untuk menjadi yang terkuat agar mampu mempersatukan seluruh suku di bawah kepemimpinan sang pemenang.  Mereka menempuh berbagai cara, termasuk dengan saling bersekutu untuk menjatuhkan bangsa lain, misalnya, bangsa Persia versus Asyiria dan Babilonia.

Menariknya, seluruh bangsa yang bertikai di masa Iran Kuno pernah menganut satu kepercayaan yang sama, yaitu Kepercayaan Iran Kuno, yang sangat mirip dengan agama Weda dari India dalam berbagai aspek. Namun karena para pemimpin kepercayaan kuno ini mempraktikkan penggunaan semacam narkoba kuno pada saat memimpin ibadah, ditambah dengan praktik korupsi di kalangan pemuka kepercayaan di jaman itu, timbulah pemberontakan yang dipimpin oleh Zoroaster sejak abad 10 SM. Ia mendirikan agama baru bernama Zoroastrianism, yang menggeser Kepercayaan Iran Kuno seiring dengan berjalannya waktu. Demikianlah asumsi para sejarawan.

Menghentikan pengulangan  

Penolakan para warga Iran untuk mendukung tim nasional mereka merupakan pengulangan peristiwa yang kurang lebih mirip jutaan tahun yang lalu, yaitu ketika kaum muda Zoroastrianism menolak percaya pada para pemuka Kepercayaan Kuno Iran. Akibat hilangnya catatan sejarah dari era tersebut, para peneliti hanya dapat meraba-raba tentang kemunculan satu peristiwa penting yang mendorong rakyat Persia kuno meninggalkan kepercayaan asli mereka. Walau demikian, berulangnya suatu peristiwa pahit dapat dimaknai sebagai pengingat tentang adanya kekeliruan dalam proses yang dipilih untuk dijalani. Ibarat masalah pada satu organ tubuh yang dapat berkembang dan menjalar menjadi tumor, kanker, dan berbagai penyakit kronis lainnya.

Peradaban manusia pasca Mesopotamia terus berjuang menemukan pijakan agar hal-hal baik dan positif senantiasa datang dalam hidup, agar segala kerja keras mendatangkan hasil yang membahagiakan dan penuh cahaya. Inilah tujuan lumrah manusia di zaman apa pun mereka hidup, sebuah tujuan yang menciptakan keterkaitan antara para manusia yang hidup di  masa lampau, saat ini, dan masa depan. Tujuan yang kiranya dapat menghentikan sejarah buruk dari terulang lagi dan lagi. (dswas)

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...