Lolos Kualifikasi Piala Dunia seharusnya menjadi sebuah kebanggaan besar bagi rakyat sebuah bangsa, karena berjam-jam dan berbulan-bulan latihan fisik maupun mental yang menyita perhatian dan biaya besar akhirnya sukses menorehkan sebuah prestasi yang akan dikenang selamanya. Akan tetapi, tidak demikian halnya bagi para suporter sepak bola Iran.
Permasalahan internal Iran membuat para suporter Team Melli
(julukan timnas Iran) bersikap dingin ketika Iran dinyatakan lolos Kualifikasi
Piala Dunia 2026 oleh FIFA beberapa waktu lalu. Tidak ada pujian, eforia,
apalagi arak-arakan di jalan raya menyambut kesuksesan satu-satunya tim Asia
yang tampil sangat baik sepanjang babak Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia.
Padahal Iran mencetak poin nyaris sempurna (23), dan hanya satu kali kalah
dalam 16 laga kualifikasi yang dijalaninya.
Kemelut dalam negeri inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa
Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026 memberikan
sanksi larangan masuk AS bagi warga negara Iran selama turnamen akbar sepak
bola itu berlangsung (kecuali bagi para pemain, tim pelatih, dan ofisial). Larangan
ini tentu tidak berlaku bagi para diaspora Iran yang sudah lama bertempat
tinggal di Amerika Serikat atau Kanada, sehingga Team Melli masih dapat berlaga
dengan disaksikan para pendukung mereka selama Piala Dunia 2026.
Meraba akar permasalahan
Berabad-abad silam sebelum diguncang prahara yang seakan tiada
habisnya sejak 2022, Iran sesungguhnya merupakan salah satu pusat peradaban
tertua di dunia. Pertemuan antara Sungai Efrat dan Tigris menciptakan wilayah lembah
yang bukan hanya luas, tetapi juga subur dan mampu menghidupi berbagai bangsa
kuno yang datang dan pergi silih berganti, mulai dari bangsa Sumeria, Asyiria,
Akhadia, Babilonia, Parthia, Sasania, hingga Persia, sejak 10.000 SM hingga 539 SM.
Berbagai bangsa tersebut awalnya adalah suku-suku nomaden
yang hidup mengembara sebagai penggembala ternak di sekitar lembah
Efrat-Tigris. Suku-suku ini saling berlomba untuk menjadi yang terkuat agar
mampu mempersatukan seluruh suku di bawah kepemimpinan sang pemenang. Mereka menempuh berbagai cara, termasuk dengan
saling bersekutu untuk menjatuhkan bangsa lain, misalnya, bangsa Persia versus
Asyiria dan Babilonia.
Menariknya, seluruh bangsa yang bertikai di masa Iran Kuno
pernah menganut satu kepercayaan yang sama, yaitu Kepercayaan Iran Kuno, yang
sangat mirip dengan agama Weda dari India dalam berbagai aspek. Namun karena
para pemimpin kepercayaan kuno ini mempraktikkan penggunaan semacam narkoba kuno pada saat
memimpin ibadah, ditambah dengan praktik korupsi di kalangan pemuka kepercayaan
di jaman itu, timbulah pemberontakan yang dipimpin oleh Zoroaster sejak abad 10
SM. Ia mendirikan agama baru bernama Zoroastrianism, yang menggeser Kepercayaan
Iran Kuno seiring dengan berjalannya waktu. Demikianlah asumsi para sejarawan.
Menghentikan pengulangan
Penolakan para warga Iran untuk mendukung tim nasional
mereka merupakan pengulangan peristiwa yang kurang lebih mirip jutaan tahun
yang lalu, yaitu ketika kaum muda Zoroastrianism menolak percaya pada para pemuka
Kepercayaan Kuno Iran. Akibat hilangnya catatan sejarah dari era tersebut, para
peneliti hanya dapat meraba-raba tentang kemunculan satu peristiwa penting yang
mendorong rakyat Persia kuno meninggalkan kepercayaan asli mereka. Walau
demikian, berulangnya suatu peristiwa pahit dapat dimaknai sebagai pengingat
tentang adanya kekeliruan dalam proses yang dipilih untuk dijalani. Ibarat
masalah pada satu organ tubuh yang dapat berkembang dan menjalar menjadi tumor,
kanker, dan berbagai penyakit kronis lainnya.
Peradaban manusia pasca Mesopotamia terus berjuang menemukan pijakan agar hal-hal baik dan positif senantiasa datang dalam hidup, agar segala kerja keras mendatangkan hasil yang membahagiakan dan penuh cahaya. Inilah tujuan lumrah manusia di zaman apa pun mereka hidup, sebuah tujuan yang menciptakan keterkaitan antara para manusia yang hidup di masa lampau, saat ini, dan masa depan. Tujuan yang kiranya dapat menghentikan sejarah buruk dari terulang lagi dan lagi. (dswas)