Sabtu, 03 Januari 2026

Stress Adalah Seni Hidup, Benarkah?

Masalah penyalahgunaan narkoba sering dianggap sepele dan kerap dimanfaatkan sebagai pengalih perhatian publik dari masalah lain yang lebih genting, yang lebih menentukan “hidup mati” seorang tokoh politik (misalnya). Sebuah data menunjukkan nyaris tidak ada negara yang benar-benar bebas dari penyalahgunaan narkoba sejak beberapa dekade silam. Nama-nama negara besar, maju, dan bahkan negara terbahagia pun masuk dalam daftar tersebut.

Sejumlah negara mencoba mengatasi masalah klasik ini dengan melegalkan salah satu jenis narkoba teringan, yaitu ganja. Harapannya, keinginan untuk menggunakan narkoba dapat terpenuhi, sehingga para pengguna narkoba dapat mengerem godaan mencoba zat-zat adiktif lain yang lebih berbahaya. Akan tetapi, keputusan ini belum dapat menghilangkan sama sekali dorongan yang dirasakan sebagian kecil orang di luar sana untuk mencari kebahagiaan dalam narkoba dengan mencoba jenis yang lebih berat daripada ganja.

Kita menertawakan mereka yang tersesat akibat zat terlarang ini sebagai kaum rapuh terhadap tekanan dan mudah terombang-ambingkan keadaan. Namun, asal tahu saja, stress sebagai salah satu faktor utama yang menginspirasi seseorang untuk mencoba narkoba dapat mewujud dalam kehidupan sehari-hari kita dalam bentuk lain. Kebiasaan makan berlebihan dan sakit-sakitan adalah beberapa di antaranya.  


Ilustrasi: koleksi pribadi

Bukan tanggung jawab alam sekitar

Walaupun sebagian orang menganggap stress adalah sebuah seni yang mewarnai hidup ini, para anggota dalam sebuah masyarakat memiliki kapasitas yang berbeda dalam memitigasi stress. Oleh karena itu, Kepercayaan Asli Latvia yang disebut Dievturiba memandang stress sebagai dampak ketidakharmonisan yang terjadi akibat keterputusan antara si penderita dan alam sekitar berikut para leluhurnya. Alam sekitar tidak pernah berbohong, apa yang terlihat oleh mata itulah kenyataan. Sedangkan para leluhur adalah sebuah nama bagi suatu entitas yang memfasilitasi eksistensi manusia itu sendiri hingga lahir ke dunia.

Tak sedikit yang menganggap, atau bahkan mencari, solusi permasalahan hidup mereka di dalam berbagai ritual aliran kepercayaan. Mereka yang memiliki kebiasaan ini tidak menyadari bahwa ketidakharmonisan yang terjadi dalam hidup mereka bukanlah disebabkan oleh alam sekitar beserta segala unsur yang terdapat di dalamnya, termasuk para leluhur. Para penghayat kepercayaan dilarang memasuki tempat sakral apabila mereka sedang dilanda kesedihan atau duka cita. Apapun penyebab emosi negatif yang mereka rasakan, mereka harus terlebih dahulu “menyelesaikan” ketidakharmonisan ini sebelum kembali membangun keterhubungan dengan alam sekitar.

Kepercayaan Asli bukanlah obat penghilang rasa sakit, karena itu bukanlah tujuan para leluhur yang menciptakannya. Agar keharmonisan tercipta, manusia sebagai makhluk paling sempurna memiliki kebebasan seluas-luasnya untuk memberdayakan segala potensi alam bagi kesejahteraannya hari ini dan masa depan. Logika ini juga berarti bahwa manusia (seharusnya) sama bebasnya dalam mengembangkan kemampuan untuk mengatasi segala gelombang kehidupan, termasuk gelombang tsunami sekalipun.

Narkoba sukar dibasmi, tetapi …    

Dinamika antara Amerika Serikat dan Venezuela yang terjadi belakangan ini merupakan respons pemerintahan Donald Trump terhadap masalah penyalahgunaan narkoba di AS, yang bertengger di peringkat teratas daftar negara dengan kasus narkoba terbesar di dunia. Berbagai pihak menuding serangan yang dilakukan AS terhadap kapal-kapal penyelundup narkoba, sanksi terhadap kapal tanker minyak dari dan ke Venezuela, dan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro sebagai tindakan berlebihan. Namun, bila Anda pernah menonton video YouTube tentang para pecandu fentanyl yang berkeliaran di jalanan bak zombie, saya yakin Anda dapat memaklumi keputusan berlebihan di atas.

Sebagai seseorang yang pernah berkecimpung di dunia hitam ini, saya dapat mengatakan kepada Anda bahwa narkoba sukar dibasmi. Prinsip para pebisnis di bidang ini adalah mereka menjual karena ada pembeli. Para pedagang narkoba adalah orang-orang visioner yang sangat tahu bahwa sekokoh-kokohnya pondasi religius, spiritual, dan mental suatu bangsa atau kelompok masyarakat, akan selalu ada anak-anak muda tersesat (atau bahkan orang dewasa) yang mencoba menemukan jalan pulang melalui narkoba.

Kepercayaan Asli Latvia menutup pintu bagi mereka bukan karena tidak peduli, melainkan mengedukasi mereka agar mampu “mengemudikan” diri sendiri untuk selanjutnya menyelesaikan negativitas yang mereka alami. Setelah berhasil, mereka disarankan untuk mengekspresikan rasa terima kasih atas “kesuksesan” ini dengan menghaturkan sesajen di tempat-tempat sakral. (dswas)     

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...