Sebuah ‘sihir’ bernama teknologi menciptakan berbagai perangkat ajaib yang sebelumnya tidak dibutuhkan manusia. Kecerdikan ini tentu saja berhasil mendatangkan keuntungan finansial bagi para kreatornya, menjadi peluang kerja bagi jutaan orang, dan menggerakkan roda perekonomian global. Sebuah motivasi baru pun muncul menyemangati anak-anak muda seluruh pelosok dunia untuk giat belajar tentang seluk beluk teknologi, dengan harapan agar masa depan mereka pun secerah para triliuner di bidang ini.
Dengan semakin membludaknya perangkat teknologi, baik dari
segi kuantitas maupun jenisnya, mereka yang bergerak di bidang industri
teknologi dihadapkan pada satu tantangan besar, yaitu ketersediaan bahan baku.
Logam mineral langka yang merupakan bahan dasar chip, otak perangkat teknologi
yang sekarang kita gunakan, tidak bisa ditambang di sembarang tempat. Langka
seperti namanya.
Salah satu lokasi yang disebut-sebut menyimpan cadangan
logam langka dalam jumlah besar adalah Greenland,
pulau terbesar dunia yang merupakan wilayah yurisdiksi Denmark. Sebelum era
2000-an, Greenland hanya dianggap sebuah pulau bongkahan es dengan suhu ekstrem
karena terletak di ujung utara Bumi. Mengeksploitasi Greenland jelas akan
membutuhkan biaya mahal bila lapisan esnya masih setebal era 80 atau 90-an.
‘Berkat’ pemanasan global, ikhtiar ini bisa jadi tidak akan
menelan terlalu banyak biaya. Es tebal Greenland kini telah menipis, sehingga
tidak akan terlalu rumit untuk menambang logam langka yang telah tersimpan
selama jutaan tahun di bawahnya. Berdasarkan logika pasar, semakin langka suatu
benda maka harganya akan semakin mahal. Masa depan Greenland bisa jadi akan
sangat cerah, bukan tidak mungkin wilayah ini akan kaya
raya dari penambangan logam langka.
Menghargai ‘pengorbanan’
Lalu siapakah penduduk asli Greenland yang akan beruntung
dan segera jadi orang kaya baru ini? Mereka dinamakan Suku Inuit, salah satu kelompok suku
yang berdiam di tempat terdingin di belahan Bumi Utara sejak berabad-abad
silam. Menurut para sejarawan, Suku Inuit Greenland sebenarnya berasal dari
Amerika Utara, tepatnya Alaska, di mana terdapat populasi etnis ini dalam
jumlah yang cukup besar.
Dahulu kala, suhu Bumi Utara masih sangat dingin. Sejumlah
wilayah yang saat ini berupa perairan dahulu merupakan lempengan-lempengan es
yang aman untuk dilewati. Suku Inuit di Alaska mengembara hingga Rusia dan
Greenland dengan membawa segala yang mereka punya, bukan hanya hewan ternak
atau anggota keluarga tetapi juga pengetahuan dan spiritualitas.
Tidak sembarang orang yang bisa bertahan hidup di tengah
suhu ekstrem (yang bisa mencapai puluhan minus di bawah nol derajat Celcius di
musim dingin), Suku Inuit adalah salah satu di antara sekian juta kelompok
etnis di dunia ini yang memilih jalan sulit tersebut. Kondisi alam membentuk
Suku Inuit sebagai kelompok etnis dengan kepribadian individualis. Walau
demikian, Kepercayaan Asli Inuit tidak menganjurkan mereka untuk tidak
terkoneksi dengan alam sekitar.
Alam sekitar merupakan penopang hidup Suku Inuit, dan
Kepercayaan Asli tidak melarang mereka untuk tidak memanfaatkan atau mengambil
apa pun yang terdapat di dalamnya. Hidup di tengah alam bersuhu ekstrem membuat
Suku Inuit menggantungkan sumber makanan dari hasil berburu, ketika Kepercayaan
Asli memandang hewan dan tumbuhan sebagai entitas yang setara dengan manusia,
karena sama-sama memiliki nyawa. Penghormatan terhadap hewan hasil buruan
diberikan sebelum Suku Inuit mengonsumsi dagingnya, atau mengambil kulitnya
untuk dijadikan bahan pakaian. Misalnya, sesaji air putih dipersembahkan untuk
singa laut hasil buruan sebagai tanda ucapan terima kasih atas ‘pengorbanan’
si binatang buruan.
“Manusia bukan pengatur alam”
Berubahnya suhu Bumi tentu saja memengaruhi kehidupan Suku
Inuit sebagai kelompok minoritas yang telah terbiasa dengan pola hidup berburu
sejak beribu-ribu generasi. Kepercayaan Asli yang mengakar kuat menjadi
landasan bagi Suku Inuit untuk memandang perubahan
alam sebagai sesuatu hal yang bisa terjadi sewaktu-waktu, karena mereka
bukanlah pengatur dunia dan tidak bisa menebak apa yang alam inginkan.
Berburu mungkin bukan lagi cara hidup Suku Inuit dalam
beberapa tahun ke depan, mengingat hewan-hewan di Bumi Utara, sebagaimana di
tempat lain, sudah terpapar racun dari pencemaran lingkungan. Akankah mereka
menjadi pekerja tambang logam mineral langka sebagai gantinya?
Dalam sudut pandang Kepercayaan Asli Inuit, kesejahteraan dari pemanfaatan sumber-sumber alam bisa dicapai dengan mempertahankan keseimbangan. Katakanlah tambang mineral langka akan dibuka dalam waktu dekat di Greenland, sesaji dalam jumlah besar perlu dihaturkan sebagai ungkapan terima kasih dan permohonan izin untuk mengambil sesuatu dari alam. Kerendahan hati bukan hanya baik untuk kesehatan mental manusia, tetapi juga kelestarian alam sekitarnya. (dswas)
