Sabtu, 27 Desember 2025

Kemandirian Jangan Sampai “Menyakitkan”

Mandiri, berdiri di atas kaki sendiri, merupakan jargon yang sering digaungkan guna memotivasi masyarakat luas agar melangkah dengan penuh rasa percaya diri membangun hidup mereka sebagai suatu bangsa. Seruan ini belakangan kembali terdengar seiring dengan memanasnya suhu politik internasional. Mandiri yang ideal tentu saja benar-benar memulai segalanya, merangkak dari bawah dengan kemampuan sendiri menuju puncak, sebagaimana dilakukan para leluhur sejagat raya.

Kemerdekaan suatu bangsa terjajah seringkali diiringi kisah-kisah bermotivasi emosi sesaat yang berdampak panjang, bahkan memengaruhi kehidupan banyak generasi berikutnya. Sebagai republik yang baru merdeka pada 1945, Indonesia mengalami berbagai guncangan politik yang berakibat memburuknya hubungan dengan Belanda, ‘mantan’ penjajahnya. Puncaknya adalah keputusan untuk merebut kembali kedaulatan ekonomi dengan cara mengambil alih sekitar 700 perusahaan milik Belanda yang beroperasi di Indonesia, sejumlah aset milik warga negara China, dan warga negara asing lainnya dalam kurun waktu 1958 – 1966.  

Keputusan ekstrim yang bertujuan mencari modal bagi pembangunan republik baru tidak serta merta mendatangkan hasil sesuai yang diinginkan. Para tenaga kerja dan pengusaha Belanda lekas-lekas meninggalkan Indonesia setelah Presiden Sukarno menandatangani peraturan yang melegalkan nasionalisasi multi sektor terbesar dalam sejarah, tanpa adanya transfer ilmu dan keahlian yang dibutuhkan si pemilik baru. Kepercayaan investor global pun menurun, sehingga Indonesia harus mencetak uang baru secara massif guna membiayai berbagai proyek pembangunan infrastruktur dan militer.  

Presiden Suharto sebagai suksesor Sukarno dihadapkan pada segunung utang di awal kepemimpinannya, yaitu utang kompensasi yang wajib dibayarkan pemerintah Indonesia sebagai ganti rugi atas aksi nasionalisasi sepihak di era sebelumnya. Pasca 1965, Indonesia berada di ambang kebangkrutan, sehingga mau tak mau Suharto menerima saran para ekonom Universitas Berkeley, California, untuk melakukan perombakan ekonomi, di antaranya dengan melonggarkan pengetatan jual beli mata uang asing. Apakah dampaknya? 


Ilustrasi: koleksi pribadi 

Mengapa ambisi bisa menghancurkan?  

Sebagaimana berbagai aliran kepercayaan asli di berbagai pelosok Bumi, salah satu aliran kepercayaan asli Indonesia, Kapribaden, menganggap alam sekitar merupakan bagian dari manusia. Gerak hewan dan tumbuhan, air, udara, tanah menerbitkan suatu kesadaran bahwa semua zat bergerak sesuai kodrat masing-masing dari mereka. Akan tetapi, manusia terdiri dari dua keberadaan yang tak kasat mata, yaitu raga dan rasa, di mana gerak yang dilakukan manusia merupakan keinginan raga seringkali tidak sejalan dengan rasa (hati nurani).

Sesuai dengan namanya yang terbentuk dari kata ‘pribadi’, Kapribaden menekankan pembentukan pribadi manusia yang senantiasa selaras antara raga dan rasa dalam perjalanannya mencari penghidupan. Ambisi yang seolah-olah benar dan mulia dapat menyesatkan langkah manusia yang bersangkutan, hingga mengorbankan kebahagiaan hidupnya, keluarganya, bahkan banyak generasi di bawahnya. Walaupun ia sukses, misalnya, tekanan akan terus datang menerpa dirinya hingga kesehatan mentalnya pun terganggu akibat stress.

Oleh karena itu, para penganut Kapribaden sekilas terlihat seperti sekelompok orang yang tak punya cita-cita karena senantiasa hidup sederhana hingga akhir hidup mereka. Sebagai bagian dari suatu kelompok besar masyarakat, mereka tidak sekadar melangkah berdasarkan peraturan dan norma yang berlaku secara umum. Rasa orang-orang lain di sekitar mereka juga menjadi pedoman untuk melangkah, tanpa memandang identitas mereka. Bagaimana para penganut Kapribaden dapat mendeteksinya merupakan topik yang akan dibahas lain waktu.

Agar tidak terjatuh di lubang yang sama  

Para pendahulu kita dapat membuat kesalahan, dan fatal. Merupakan sebuah kesia-siaan bila kita membenci mereka karena kesalahan yang mereka lakukan, karena rasa kesal kita tak akan mampu mengubah apa yang sudah terjadi. Sebaliknya, para penganut Kapribaden menganggap mereka sebagai para kakek dan nenek yang selalu bersedia melakukan apa pun demi kebahagiaan para cucu mereka.

Dua pemimpin Indonesia di atas melakukan apa yang menurut mereka benar guna memenuhi tanggung jawab mereka sebagai pemimpin sebuah bangsa. Rakyat Indonesia tidak perlu khawatir; seluruh utang Indonesia yang terkait dengan pembayaran kompensasi kepada para pemilik perusahaan Belanda yang dinasionalisasi dinyatakan lunas pada 2002. Indonesia sudah menutup buku catatan kelam terkait nasionalisasi perusahaan asing di wilayahnya, kecuali satu hal.

Peraturan tahun 1958 sebagai akar masalah ekonomi akibat nasionalisasi perusahaan asing masih disebut dalam pedoman pendirian sejumlah perusahaan milik negara. Peraturan tersebut seharusnya tidak lagi disebut dan dinyatakan gugur karena Indonesia sudah melunasi kewajiban pembayaran kompensasi kepada para pengusaha Belanda yang dirugikan keputusan nasionalisasi perusahaan asing. (dswas)

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...