Kabar gembira. Jumlah orang kaya secara global saat ini mengalami peningkatan, yaitu 3000 miliuner berdasarkan data Maret 2025. Dari jumlah tersebut, Amerika Serikat memimpin dalam hal jumlah milyuner terbanyak, yaitu 902 orang, yang terkonsentrasi di industri teknologi informasi. Sementara itu, China dan India menempati peringkat kedua dan ketiga dengan jumlah masing-masing 512 dan 205 miliuner.
Para ekonom dan ahli keuangan menyambut gembira perkembangan
ini, mengingat pertambahan jumlah orang kaya di beberapa negara merupakan
tanda-tanda awal bahwa ekonomi dunia tengah membaik dibandingkan era pandemi
COVID 2020. Para miliuner ini adalah orang-orang yang telah membanting tulang
di sepanjang hidupnya, menyebar aset-asetnya dalam bentuk saham dan obligasi,
sehingga tibalah saat ketika mereka dapat menikmati segala upaya yang telah
dilakukan bertahun-tahun silam.
Ya, menjadi orang kaya memang luar biasa nikmat: banyak
uang, barang-barang mewah, rumah besar, mobil lux, liburan ke luar negeri, dst.
Seperti apa situasi para miliuner ini sebenarnya sebelum mereka jadi super
kaya, seberapa keras mereka harus bekerja, apa yang mereka korbankan agar
mencapai puncak karir dan akhirnya sukses, kita tidak pernah tahu pasti. Sama
seperti gunung yang tampak indah dari kejauhan, setelah didekati ternyata jauh berbeda.
Selain terjal dan berbatu, “raut muka” gunung dari dekat
tidaklah serata dan secantik apa yang dipamerkan di foto-foto medsos tentang spot
wisata Instagrammable. Percaya atau
tidak, apa yang paling bernilai dari sebuah gunung adalah hutan dan vegetasi
alam di sekitarnya. Selain rasa bangga sudah mencapai sebuah puncak gunung,
nyaris tidak ada hal lain yang bisa membuat kita betah berlama-lama di situ.
Memuliakan alam bukan sesat
Sayangnya, suka atau tidak suka, peradaban perkotaan sering
kali berada dalam situasi di mana pepohonan menjadi pembawa bencana. Kejadian
pohon tumbang yang menelan korban jiwa dan materi bukan hal baru, di negara
mana pun. Bermula dari cuaca buruk, badai atau hujan deras (atau gabungan
keduanya), si pelindung tua di tengah cuaca panas berubah menjadi sumber
bencana karena batangnya yang besar roboh, lalu menghancurkan kendaraan atau
gedung dan rumah-rumah penduduk.
Kepercayaan Rakyat Armenia (Armenian
Folk Beliefs) menganggap pepohonan itu suci,
sama sucinya dengan mata air. Masyarakat pemeluk kepercayaan ini meyakini bahwa
dengan menandai pohon tertentu dengan secarik kain mereka telah memberitahu
sesamanya tentang keberadaan pohon “sakti” tersebut. Ketika semakin banyak
orang yang mengikatkan kain di pohon itu, orang-orang lain dari luar komunitas
mereka akan berpikir dua kali untuk menebangnya.
Dalam sudut pandang teologi monoteistik, kebiasaan ini
dianggap sesat karena menyamakan kebesaran Sang Maha Pencipta dengan benda-benda
duniawi, misalnya pohon (Kepercayaan Rakyat Armenia juga menganggap suci mata
air, seperti dalam Hindu). Pepohonan bisa tumbang dan tak ada dari mereka yang
membela diri mendemonstrasikan kedigdayaan saat para manusia orcs membabat
habis hutan.
Dan ini terbukti di saat Armenia mengalami krisis sosial dan
ekonomi pasca pembubaran Uni Soviet di akhir 1991. Tanpa kepastian tentang
dukungan suplai gas murah yang dahulu mereka dapatkan dari pemerintah Soviet,
orang-orang Armenia di masa itu membakar furnitur mereka untuk menghangatkan
rumah di tengah kejamnya musim dingin. Ketika semua furnitur habis terbakar,
mereka mencari pertolongan ke hutan dan mulai menebangi pohon-pohonnya untuk
dijadikan kayu bakar.
Akibatnya sudah bisa ditebak, karena apa yang ditinggalkan deforestasi di belakang selalu sama di mana pun di dunia ini. Banjir dan tanah longsor hanyalah sepenggal kisah yang tersisa dari hilangnya hutan suci. Korban jiwa dan harta benda adalah dampak berikutnya yang menyisakan duka berkepanjangan.
Penyesalan tidak cukup
Walaupun relatif masih muda sebagai suatu negara, warga
Armenia lekas menyadari kekeliruan yang terjadi di masa lalu. Reforestasi dan
reboisasi kini gencar dilakukan di negara anggota CSTO (NATO versi Eropa Timur
dan Tengah) itu, baik oleh LSM maupun para diaspora yang telah menimba ilmu di
luar negeri. Masyarakat Armenia menyadari “kebenaran” di balik petuah para
leluhur mereka yang memuliakan rimba belantara.
Memulihkan hutan tidak saja dipandang sebagai upaya
penyelamatan lingkungan hidup, tetapi juga melestarikan warisan
budaya Armenia sebagai jiwa bangsa dan jembatan antara masa lalu, masa
kini, dan masa depan. Dalam perspektif masyarakat Armenia, pemulihan hutan
bukan soal mencari peluang cuan dari industri pariwisata. Memulihkan hutan
berarti memulihkan
situs-situs alami nan sakral sebagai upaya membangun kembali spiritualitas
dan keterkaitan dengan alam, inilah yang signifikan bagi mereka.
Walaupun masalah deforestasi dan dampaknya belum dapat dihilangkan sama sekali dari Armenia, kesadaran tentang keberadaan tempat-tempat sakral adalah langkah awal menuju tujuan bermakna. Semua ini tak akan pernah terlaksana apabila masyarakat Armenia terus terjebak dalam penyesalan berlarut-larut tentang kesalahan di masa lalu. (dswas)






