Bicara tentang induk organisasi olahraga yang bukan saja paling dikenal, tetapi juga paling sibuk dan paling sering mendapat serangan dari kelompok di luar olahraga, itu adalah FIFA. Bukan apa-apa, siapa yang tidak tergiur mendengar besarnya perputaran uang di dunia sepak bola, mulai dari iuran anggota, biaya pelatihan, fee laga persahabatan, dll.. Akan tetapi, tingginya jarga tiket dan jumlah penonton yang membludak, serta sponsorship bernilai jutaan dolar tidak serta merta membuat FIFA untung besar.
Sejak era 2010-an, hanya di satu periode Piala Dunia FIFA
benar-benar untung besar, yaitu Piala Dunia 2018 ketika Rusia memenangi tender tuan
rumah penyelenggara. Berkat Piala Dunia 2018, FIFA
berhasil mengantongi penghasilan bersih senilai $5,357 triliun, atau sekitar
83% dari total pendapatan FIFA untuk periode 2015 – 2018. Sementara bagi Rusia,
Piala Dunia 2018 berkontribusi sebesar $15 triliun untuk PDB periode 2013 –
2018 (atau 1% dari total PDB tahunan). Selain itu, Piala Dunia 2018 juga
memecahkan rekor dalam hal jumlah penonton di luar stadion. Sekitar 1,12
triliun orang di seluruh dunia (atau sekitar separuh penduduk Bumi) menyaksikan
secara langsung babak final antara Prancis vs Kroasia, yang juga berkontribusi
untuk pendapatan dari hak siar sebesar $3 triliun.
Model bisnis yang ditawarkan FIFA sangat cocok untuk Rusia,
di mana pengeluaran berskala nasional diatur secara tersentralisasi. Seluruh
biaya persiapan Piala Dunia 2018 ditanggung oleh pemerintah Rusia, mulai dari
renovasi stadion dan pembangunan stadion baru, sampai infrastruktur lain
seperti transportasi dan akomodasi bagi seluruh kru Piala Dunia, termasuk
pemain dan pelatih. Para sponsor dari China memang datang guna mengisi
kekosongan yang ditinggalkan para sponsor Eropa akibat skandal korupsi FIFA dan
masalah politik Rusia. Namun, mereka datang di babak injury time; detik-detik akhir ketika kick off laga pembuka tinggal menghitung hari.
Dari total $11,2 triliun biaya Piala Dunia 2018, sekitar 57%
didanai oleh pemerintah Rusia. 14% dibiayai anggaran pemerintah daerah,
sedangkan 29% merupakan investasi swasta dari para pengusaha kaya Rusia. Salah
satunya adalah Leonid Fedun, pemilik perusahaan minyak Lukoil, yang membiayai pembangunan
salah satu venue Piala Dunia 2018, yaitu Spartak Arena di Moskow. Sementara
Roman Abramovich, mantan owner Chelsea, berinvestasi dalam pembangunan bangku
stadion dan fasilitas latihan bagi pemain. Mendiang owner Wagner Group, Yevgeny
Prigozhin, menghandle penyediaan makanan untuk seluruh pejabat FIFA, para tamu
undangan, dan para petugas keamanan di 11 kota tuan rumah. Ia juga diisukan
mengendalikan sejumlah perusahaan penyedia buzzer untuk menciptakan imej
positif tentang Rusia.
Dalam hal komunikasi resmi, Rusia menerapkan kebijakan satu
pintu; hanya pejabat yang ditugaskan boleh berkomentar tentang penyelenggaraan
Piala Dunia. Penyebabnya tak lain karena berbagai masalah di masa lalu Rusia
membuat para awak media internasional saat itu cenderung tidak fokus pada sepak
bola, melainkan hal-hal yang terjadi di luar lapangan (Crimea, peracunan
Skripal, Suriah, pemilu AS). Hal inilah yang kemudian membuat tuan rumah
bersikap defensif terhadap media, yang berbuntut panjang sebagai bentuk balas
dendam media. Bahkan sampai detik ini pun, keberhasilan Rusia sebagai tuan
rumah Piala Dunia 2018 sangat jarang diekspos. Apalagi ditambah dengan fakta
bahwa operasi militer Rusia di Ukraina masih berlangsung dan memasuki tahun
keempat ketika saya menulis artikel ini.
Ketangguhan berawal dari rasa syukur
2026 merupakan tahun ke-8 saya bekerja di lingkungan
orang-orang Rusia, yang dimulai sejak pertengahan 2017. Selama itu, saya
bekerja di meja kerja di rumah saya, sebuah kota kecil di Jawa Timur. Saya
hanya satu kali bertatap muka secara langsung dengan mereka, tepatnya sekitar
satu bulan setelah Piala Dunia 2018 berakhir. Tahun demi tahun berlalu, selama
itu pula kami menghadapi beberapa pasang naik dan pasang surut, wajar dalam
hubungan mana saja. Walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa pasang paling surut
terjadi sekitar 1-2 tahun terakhir sebagai dampak ikutan gejolak militer di
Ukraina.
Orang bilang karakter seseorang baru akan terlihat saat ia
sedang ditimpa kesulitan, dan ini memang benar adanya. Para kolega Rusia saya
bisa dikatakan sedang mengalami sebuah fase yang memaksa mereka melakukan
berulang kali penyesuaian agar dapat bertahan menghadapi cipratan riak-riak yang
timbul dari operasi militer. Meskipun terasa pahit lantaran harus meninggalkan
kenyamanan yang sudah sekian tahun mereka nikmati, antara lain sebagai hasil
dari suksesnya gelaran Piala Dunia 2018.
Orang-orang Rusia tinggal di sebuah lokasi terdingin di dunia, di mana suhu ekstrem bisa mencapai -70 derajat celcius di musim dingin. Hal ini turut berkontribusi dalam pembentukan karakter mereka yang tampak dingin dan tak kenal basa-basi, menutupi kehangatan dan ketulusan hati yang sering disalahgunakan oleh para haters dan musuh bebuyutan. Karakter yang sudah diturunkan secara turun temurun oleh para leluhur mereka, para penganut Aliran Kepercayaan Slavia, atau yang disebut Rodnovery.
Rodnovery merupakan kebangkitan
modern dari spiritualitas Slavia pra-Kristen. Meskipun tidak memiliki satu
kitab suci atau otoritas pusat, banyak komunitas Rodnover meyakini penekanan
kuat pada hidup selaras dengan alam, menghormati leluhur, dan menjaga
keharmonisan dalam komunitas. Pandangan ini berkaitan erat dengan gagasan tentang
kecukupan.
Kecukupan dalam Rodnovery bukan tentang asketisme yang
ketat, melainkan tentang keseimbangan. Alam dipandang sebagai sesuatu yang
sakral dan hidup, bukan sekadar sumber daya untuk dieksploitasi manusia.
Perayaan musiman, simbolisme pertanian, dan penghormatan kepada roh-roh alam
menegaskan bahwa manusia seharusnya mengambil seperlunya dan menghindari
pemborosan. Konsumsi berlebihan sering dianggap sebagai gangguan terhadap tatanan
alam. Orientasi ekologis ini sering dibahas dalam kajian akademis sebagai
bagian dari “ekoetika” Rodnovery dan fokusnya pada tanggung jawab terhadap
dunia ini dan lingkungannya.
Komunitas juga membentuk gagasan tentang kecukupan dalam Rodnovery. Nilai-nilai tradisional Slavia seperti kekerabatan, gotong royong, dan kekuatan kolektif sering ditekankan. Kekayaan pribadi tidak dilarang, tetapi menimbun atau mengeksploitasi orang lain demi keuntungan pribadi bertentangan dengan cita-cita kehormatan dan harmoni sosial. Dalam konteks ini, kecukupan mendukung ketahanan: setiap orang berkontribusi, dan sumber daya dimanfaatkan secara kolektif.
Pada tingkat pribadi, Rodnovery mendorong kemandirian spiritual. Alih-alih mencari keselamatan dari kekuatan eksternal, para penganutnya mengembangkan kekuatan batin, disiplin, dan keselarasan dengan tatanan kosmis, yang kadang disebut Prav. Hidup yang baik berarti membentuk karakter, memenuhi tanggung jawab, serta menghormati hukum alam dan leluhur.
Menanti Rusia baru pasca perang
Walaupun Rusia dalam posisi sebagai biang kerok masalah di Ukraina, tetapi dampak di kubu Rusia pun memiliki daya rusak yang cukup besar di berbagai bidang kehidupan, termasuk sepak bola. Absennya Rusia dalam berbagai turnamen sepak bola internasional tentu saja akan sangat berdampak pada kualitas tim nasional, mulai dari tim dewasa putra dan putri, tim remaja, hingga tim anak-anak. Politik dalam olahraga bukan saja merusak sportivitas dan etika olahraga, tetapi juga kebanggaan dan kualitas. Padahal kita hidup di zaman di mana hak asasi manusia diperjuangkan secara serius guna memenuhi rasa keadilan.Pengalaman menjadi ‘bonus’ perjalanan hidup, membentuk pandangan dan arah baru yang lebih memaknai hidup. Pengalaman selama 8 tahun bekerja bersama orang-orang Rusia menghapus sekian tahun hidup tanpa arah, sekian tahun kekeliruan dalam hidup saya. Apa yang saya lakukan dan arah yang saya ambil hari ini sedikit banyak merupakan hasil dari 8 tahun tersebut, yang membuat saya merasa bahagia karenanya.
Warisan leluhur dalam bentuk kerendahan hati di depan alam dan ketangguhan karakter berperan dalam arah yang diambil suatu bangsa, selama tidak diabaikan dan dipinggirkan dengan stigma ketinggalan zaman. Semoga inilah yang akan diingat oleh Rusia, ketika ‘bisnis’ mereka di Ukraina berakhir suatu hari nanti. (dswas)




