Selasa, 24 Februari 2026

Agar Resiliensi Tidak Selalu Berat di Ongkos

Bicara tentang induk organisasi olahraga yang bukan saja paling dikenal, tetapi juga paling sibuk dan paling sering mendapat serangan dari kelompok di luar olahraga, itu adalah FIFA. Bukan apa-apa, siapa yang tidak tergiur mendengar besarnya perputaran uang di dunia sepak bola, mulai dari iuran anggota, biaya pelatihan, fee laga persahabatan, dll.. Akan tetapi, tingginya jarga tiket dan jumlah penonton yang membludak, serta sponsorship bernilai jutaan dolar tidak serta merta membuat FIFA untung besar.  

Sejak era 2010-an, hanya di satu periode Piala Dunia FIFA benar-benar untung besar, yaitu Piala Dunia 2018 ketika Rusia memenangi tender tuan rumah penyelenggara. Berkat Piala Dunia 2018, FIFA berhasil mengantongi penghasilan bersih senilai $5,357 triliun, atau sekitar 83% dari total pendapatan FIFA untuk periode 2015 – 2018. Sementara bagi Rusia, Piala Dunia 2018 berkontribusi sebesar $15 triliun untuk PDB periode 2013 – 2018 (atau 1% dari total PDB tahunan). Selain itu, Piala Dunia 2018 juga memecahkan rekor dalam hal jumlah penonton di luar stadion. Sekitar 1,12 triliun orang di seluruh dunia (atau sekitar separuh penduduk Bumi) menyaksikan secara langsung babak final antara Prancis vs Kroasia, yang juga berkontribusi untuk pendapatan dari hak siar sebesar $3 triliun.

Model bisnis yang ditawarkan FIFA sangat cocok untuk Rusia, di mana pengeluaran berskala nasional diatur secara tersentralisasi. Seluruh biaya persiapan Piala Dunia 2018 ditanggung oleh pemerintah Rusia, mulai dari renovasi stadion dan pembangunan stadion baru, sampai infrastruktur lain seperti transportasi dan akomodasi bagi seluruh kru Piala Dunia, termasuk pemain dan pelatih. Para sponsor dari China memang datang guna mengisi kekosongan yang ditinggalkan para sponsor Eropa akibat skandal korupsi FIFA dan masalah politik Rusia. Namun, mereka datang di babak injury time; detik-detik akhir ketika kick off laga pembuka tinggal menghitung hari.

Dari total $11,2 triliun biaya Piala Dunia 2018, sekitar 57% didanai oleh pemerintah Rusia. 14% dibiayai anggaran pemerintah daerah, sedangkan 29% merupakan investasi swasta dari para pengusaha kaya Rusia. Salah satunya adalah Leonid Fedun, pemilik perusahaan minyak Lukoil, yang membiayai pembangunan salah satu venue Piala Dunia 2018, yaitu Spartak Arena di Moskow. Sementara Roman Abramovich, mantan owner Chelsea, berinvestasi dalam pembangunan bangku stadion dan fasilitas latihan bagi pemain. Mendiang owner Wagner Group, Yevgeny Prigozhin, menghandle penyediaan makanan untuk seluruh pejabat FIFA, para tamu undangan, dan para petugas keamanan di 11 kota tuan rumah. Ia juga diisukan mengendalikan sejumlah perusahaan penyedia buzzer untuk menciptakan imej positif tentang Rusia.

Dalam hal komunikasi resmi, Rusia menerapkan kebijakan satu pintu; hanya pejabat yang ditugaskan boleh berkomentar tentang penyelenggaraan Piala Dunia. Penyebabnya tak lain karena berbagai masalah di masa lalu Rusia membuat para awak media internasional saat itu cenderung tidak fokus pada sepak bola, melainkan hal-hal yang terjadi di luar lapangan (Crimea, peracunan Skripal, Suriah, pemilu AS). Hal inilah yang kemudian membuat tuan rumah bersikap defensif terhadap media, yang berbuntut panjang sebagai bentuk balas dendam media. Bahkan sampai detik ini pun, keberhasilan Rusia sebagai tuan rumah Piala Dunia 2018 sangat jarang diekspos. Apalagi ditambah dengan fakta bahwa operasi militer Rusia di Ukraina masih berlangsung dan memasuki tahun keempat ketika saya menulis artikel ini.

Ketangguhan berawal dari rasa syukur

2026 merupakan tahun ke-8 saya bekerja di lingkungan orang-orang Rusia, yang dimulai sejak pertengahan 2017. Selama itu, saya bekerja di meja kerja di rumah saya, sebuah kota kecil di Jawa Timur. Saya hanya satu kali bertatap muka secara langsung dengan mereka, tepatnya sekitar satu bulan setelah Piala Dunia 2018 berakhir. Tahun demi tahun berlalu, selama itu pula kami menghadapi beberapa pasang naik dan pasang surut, wajar dalam hubungan mana saja. Walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa pasang paling surut terjadi sekitar 1-2 tahun terakhir sebagai dampak ikutan gejolak militer di Ukraina.

Orang bilang karakter seseorang baru akan terlihat saat ia sedang ditimpa kesulitan, dan ini memang benar adanya. Para kolega Rusia saya bisa dikatakan sedang mengalami sebuah fase yang memaksa mereka melakukan berulang kali penyesuaian agar dapat bertahan menghadapi cipratan riak-riak yang timbul dari operasi militer. Meskipun terasa pahit lantaran harus meninggalkan kenyamanan yang sudah sekian tahun mereka nikmati, antara lain sebagai hasil dari suksesnya gelaran Piala Dunia 2018.


Ilustrasi: Sumber Nyolo, Karangploso. 

Orang-orang Rusia tinggal di sebuah lokasi terdingin di dunia, di mana suhu ekstrem bisa mencapai -70 derajat celcius di musim dingin. Hal ini turut berkontribusi dalam pembentukan karakter mereka yang tampak dingin dan tak kenal basa-basi, menutupi kehangatan dan ketulusan hati yang sering disalahgunakan oleh para haters dan musuh bebuyutan. Karakter yang sudah diturunkan secara turun temurun oleh para leluhur mereka, para penganut Aliran Kepercayaan Slavia, atau yang disebut Rodnovery.

Rodnovery merupakan kebangkitan modern dari spiritualitas Slavia pra-Kristen. Meskipun tidak memiliki satu kitab suci atau otoritas pusat, banyak komunitas Rodnover meyakini penekanan kuat pada hidup selaras dengan alam, menghormati leluhur, dan menjaga keharmonisan dalam komunitas. Pandangan  ini berkaitan erat dengan gagasan tentang kecukupan.

Kecukupan dalam Rodnovery bukan tentang asketisme yang ketat, melainkan tentang keseimbangan. Alam dipandang sebagai sesuatu yang sakral dan hidup, bukan sekadar sumber daya untuk dieksploitasi manusia. Perayaan musiman, simbolisme pertanian, dan penghormatan kepada roh-roh alam menegaskan bahwa manusia seharusnya mengambil seperlunya dan menghindari pemborosan. Konsumsi berlebihan sering dianggap sebagai gangguan terhadap tatanan alam. Orientasi ekologis ini sering dibahas dalam kajian akademis sebagai bagian dari “ekoetika” Rodnovery dan fokusnya pada tanggung jawab terhadap dunia ini dan lingkungannya.

Komunitas juga membentuk gagasan tentang kecukupan dalam Rodnovery. Nilai-nilai tradisional Slavia seperti kekerabatan, gotong royong, dan kekuatan kolektif sering ditekankan. Kekayaan pribadi tidak dilarang, tetapi menimbun atau mengeksploitasi orang lain demi keuntungan pribadi bertentangan dengan cita-cita kehormatan dan harmoni sosial. Dalam konteks ini, kecukupan mendukung ketahanan: setiap orang berkontribusi, dan sumber daya dimanfaatkan secara kolektif.

Pada tingkat pribadi, Rodnovery mendorong kemandirian spiritual. Alih-alih mencari keselamatan dari kekuatan eksternal, para penganutnya mengembangkan kekuatan batin, disiplin, dan keselarasan dengan tatanan kosmis, yang kadang disebut Prav. Hidup yang baik berarti membentuk karakter, memenuhi tanggung jawab, serta menghormati hukum alam dan leluhur.

Menanti Rusia baru pasca perang

Walaupun Rusia dalam posisi sebagai biang kerok masalah di Ukraina, tetapi dampak di kubu Rusia pun memiliki daya rusak yang cukup besar di berbagai bidang kehidupan, termasuk sepak bola. Absennya Rusia dalam berbagai turnamen sepak bola internasional tentu saja akan sangat berdampak pada kualitas tim nasional, mulai dari tim dewasa putra dan putri, tim remaja, hingga tim anak-anak. Politik dalam olahraga bukan saja merusak sportivitas dan etika olahraga, tetapi juga kebanggaan dan kualitas. Padahal kita hidup di zaman di mana hak asasi manusia diperjuangkan secara serius guna memenuhi rasa keadilan.

Pengalaman menjadi ‘bonus’ perjalanan hidup, membentuk pandangan dan arah baru yang lebih memaknai hidup. Pengalaman selama 8 tahun bekerja bersama orang-orang Rusia menghapus sekian tahun hidup tanpa arah, sekian tahun kekeliruan dalam hidup saya. Apa yang saya lakukan dan arah yang saya ambil hari ini sedikit banyak merupakan hasil dari 8 tahun tersebut, yang membuat saya merasa bahagia karenanya.

Warisan leluhur dalam bentuk kerendahan hati di depan alam dan ketangguhan karakter berperan dalam arah yang diambil suatu bangsa, selama tidak diabaikan dan dipinggirkan dengan stigma ketinggalan zaman. Semoga inilah yang akan diingat oleh Rusia, ketika ‘bisnis’ mereka di Ukraina berakhir suatu hari nanti. (dswas)

Rabu, 11 Februari 2026

Bangkitnya Kepercayaan Asli Polandia: Mencari Jalan ‘Pulang’

Rumah, bagi hampir seluruh budaya dan identitas merupakan personifikasi dari sesuatu yang membuat kita merasa tenang, nyaman, dan bahagia. Artinya, interpretasi ‘rumah’ bukan saja sebuah tempat, tetapi bisa juga suatu hal, benda, bahkan seseorang (dalam sudut pandang romantis). Sedihnya, walaupun mayoritas penduduk Bumi sudah memiliki rumah sebagai tempat tinggal, banyak dari mereka yang merasa terasing, kesepian, dan tidak bahagia.

Pencarian akan kebahagiaan, bagi segelintir warga Polandia, sama artinya dengan pencarian identitas. Antara 5000 sampai 10.000 warga Polandia meyakini bahwa idenitas sejati mereka bukanlah apa yang telah ditentukan untuk mereka sejak lahir, khususnya dalam hal spiritual. Mereka adalah para penganut Kepercayaan Asli Slavia (Rodzimowiercy, atau Rodnovery dalam Bahasa Polandia) yang menganggap kembali ke kepercayaan asli adalah cara untuk ‘pulang’, untuk menyelaraskan kembali hubungan antara spiritualitas dan kehidupan nyata yang porak poranda akibat dorongan nafsu sesaat.

Walaupun hanya segelintir dan menjadi kaum minoritas, tetapi pemerintah Polandia telah mengakui keberadaan mereka dan memberikan payung hukum bagi mereka dalam undang-undang. Posisi Rodzimowiercy pun semakin menguat belakangan ini dengan terpilihnya satu-satunya anggota parlemen dengan latar belakang Kepercayaan Asli Slavia, Marcin Józefaciuk, melalui pemilu legislatif 2023. Józefaciuk dikenal sebagai pelari marathon, presenter televisi, dan pendidik yang secara terbuka mengakui bahwa dirinya adalah penganut Rodzimowiercy.


Mata air Częstochowa di Polandia. Sumber: wyborcza.pl


Bukan David vs Goliath

Sebagaimana banyak tempat lain di dunia ini di mana para penganut Aliran Kepercayaan pernah tumbuh dan berkembang di masa lalu, Polandia juga kaya akan mata air dan sumur suci yang jumlah totalnya bisa mencapai ribuan. Para penganut Rodzimowiercy merupakan orang-orang pertama yang ‘menemukan’ berbagai sumber air ini, dan tak berbeda dengan tetangga mereka orang-orang Keltik, mereka memuliakan sumber air dengan meletakkan sesaji.

Berkat sebuah pengetahuan kuno yang dimiliki keduanya, dua kelompok suku ini sama-sama memanfaatkan mata air untuk membantu penyembuhan dari segala jenis penyakit dengan berbagai cara yang disesuaikan kebutuhan. Berendam dalam kolam yang airnya berasal dari sumber air menimbulkan perasaan tenang, dan suasana hati yang baik akan menstimulasi kinerja sel-sel serta organ-organ tubuh yang tersendat, sehingga tubuh pun akan menjadi lebih sehat (Ini pendapat pribadi saya yang rutin berenang di sebuah sumber air selama satu minggu sekali sejak 2013. Dan ngomong-ngomong, kami pernah punya tamu dari Polandia yang mencicipi kesegaran air di situ sekitar tahun 2010).  

Pergeseran dari tradisi Aliran Kepercayaan ke agama resmi menyertakan banyak dinamika, sebuah hal wajar dalam hidup bermasyarakat, termasuk di Polandia. Sebagai contoh, mata air Częstochowa yang terletak tak jauh dari ibu kota Warsawa, diyakini masyarakat setempat berkaitan erat dengan Rodzimowiercy yang kemudian dikelola oleh Gereja Katolik Polandia secara turun temurun. Agar dapat mengakses berbagai sumber air lain yang juga dikelola oleh Gereja Katolik Polandia (Katolik merupakan agama mayoritas Polandia, negara kelahiran salah satu pemimpin tertinggi umat Katolik, Paus Yohanes Paulus II), para penganut Rodzimowiercy bersedia menjadi pemeluk Katolik . Oleh sebagian kecil kalangan di Polandia, mereka dianggap memiliki dua agama sekaligus dan menjalankan ajaran-ajarannya di saat yang sama.

Hasil akhir yang bicara

Di luar segala dinamika yang menyertai situasi para penganut Rodzimowiercy Polandia saat ini, hasil akhirlah yang bicara. Hubungan antar tetangga tidak selalu harmonis, demikian pula hubungan antara kelompok Rodzimowiercy dengan ‘tetangga’ mereka. Walau demikian, penting untuk diperhatikan bahwa kelestarian dan keberlanjutan ribuan mata air di Polandia nyaris tak terpengaruh berbagai gesekan kecil yang terjadi antar keduanya. Kelestarian hutan dan ruang terbuka hijau senantiasa menjadi perhatian dan kepedulian bersama dua komunitas yang sama-sama membutuhkan ‘rumah’ bagi kelangsungan hidup.  

Hasilnya, nyaris seluruh mata air di Polandia tetap mengalirkan air, sehingga dengan sendirinya tetap dikunjungi masyarakat yang mencari kesembuhan dari penyakit yang mereka derita. (dswas) 

Kamis, 05 Februari 2026

Kisah Suku Keltik: Hilang Tapi Ditemukan

Kita cenderung memandang mata air sebagai sesuatu objek yang bisa dieksploitasi guna memenuhi kebutuhan hidup, sehingga sering kali mengabaikan tanda-tanda yang ‘dikirim’ mata air. Misalnya, warna mata air pada umumnya biru karena peruraian cahaya putih di dalam air yang mengandung nanopartikel karbonat. Partikel yang berukuran sangat kecil dan tak terlihat mata telanjang ini bisa pecah atau larut, yang mengakibatkan air tak lagi terlihat biru atau biru toska. Air kebiruan merupakan indikator bahwa mata air tersebut masih ‘perawan’, jarang atau belum pernah dijamah tangan manusia.

Perubahan temperatur dan penyerapan karbondioksida yang dihasilkan dari aktivitas manusia di sekitar mata air tersebut dapat menjadi faktor hilangnya warna biru kehijauan mata air, terutama apabila manusia menceburkan diri di dalam sumber air. Perubahan pada debit sumber air, apalagi mati atau hilangnya mata air, menandakan terjadinya perubahan di dataran sekitar sumber air yang berfungsi sebagai wilayah resapan. Perubahan yang biasa terjadi adalah penebangan hutan, atau peralihan fungsi wilayah resapan air menjadi pemukiman atau lahan pertanian.


Sumur suci Tobar na Croise Naofa, Irlandia. Sumber: Garrafrauns

Keltik merupakan suku bangsa Indo Eropa kuno yang menyakralkan air dan sumber air, di samping pengakuan serupa yang mereka persembahkan bagi langit dan bumi. Suku yang berjaya di Zaman Besi (1200 – 500 SM) dikenal sangat terampil dalam membuat senjata dan benda seni, serta tangguh dalam peperangan. Air merupakan bagian tak terpisahkan dalam aktivitas mereka, misalnya saat menempa sebilah pedang. Pandai besi akan mencelupkan pedang yang ditempanya dalam air untuk mendinginkan dan me-review hasil tempaannya sebelum diserahkan kepada pendekar yang memesannya.

Para pendekar Keltik yang terluka menggunakan air dari sumber air tertentu untuk membantu penyembuhan. Sebuah tradisi yang masih dipegang teguh oleh orang-orang Keltik modern hingga kini. Maka tak heran apabila mata air suci atau sumur sakral merupakan bagian terpenting dari peninggalan Suku Keltik. Fosse Dione di Tonnere, Prancis, merupakan salah satu mata air yang ‘ditemukan’ dan dimanfaatkan pertama kali oleh Suku Keltik, sebelum menjadi sumber air rumah tangga kota di sekitarnya saat ini. 


Mata air Fosse Dione, Prancis. Sumber: Daily Mail

Sementara Steinsbörnchen di North Rhine-Westphalia, Jerman, dapat dianggap sebagai salah satu mata air tertua peninggalan peradaban Keltik. Ada juga Tobar na Croise Naofa (Well of The Holy Cross) di Dunmore, Irlandia, yang terawat baik dan masih berfungsi sebagaimana zaman kuno: sebagai pendukung upaya pengobatan. 


Mata air Steinsbörnchen, Jerman. Sumber: The Megalithic Portal

Punah akibat ‘terlalu baik hati?’   

Sebagian besar orang, termasuk orang Eropa sendiri, salah kaprah menganggap bahwa Suku Keltik berasal dari Inggris Raya. Kenyataannya, sejarah mencatat Eropa Tengah adalah darimana suku pendekar ini berasal. Suku yang pernah mendiami wilayah yang sekarang disebut Austria, Jerman, Polandia, Serbia, Republik Ceko, dan Turki, juga mahir dalam pertanian dan peternakan. Sebelum menjadi bangsa pendekar, leluhur orang-orang Keltik merupakan suku penggembala ternak yang hidup nomaden.

Selain orang-orang Galia di Prancis Selatan, orang-orang Keltik merupakan suku yang menolak mengakui Kerajaan Romawi sebagai penguasa daratan Eropa. Keduanya terus melakukan perlawanan, walaupun kalah jumlah dan tak ada ikatan yang menyatukan meeka. Sebagai akibat perang berkepanjangan, jumlah Suku Keltik pun mulai berkurang. Desa-desa Suku Keltik hanya ditinggali segelintir orang yang tidak pergi berperang, yaitu para manula dan anak-anak. Kaum perempuan Suku Keltik kabarnya juga ikut pergi berperang bersama para pria, meninggalkan anak-anak mereka di bawah pengawasan para pengasuh.

Di tengah situasi tersebut, datanglah orang-orang Suku Jermanik dari Eropa Utara yang bermigrasi ke Eropa Tengah guna mencari tempat tinggal baru yang lebih hangat. Mereka datang secara berombongan dan bertahap, bukan hanya membawa harta benda tetapi juga bahasa dan budaya mereka sendiri. Mengapa Suku Keltik tidak merasa risih dengan kehadiran para imigran dari Utara ini? Ada kemungkinan mereka sudah kelelahan berperang, atau mereka sedang mencari sekutu guna sama-sama memerangi Kerajaan Romawi.

Malang tak dapat ditolak. Keputusan inilah yang di belakang hari menjadi titik awal berakhirnya era Suku Keltik di Eropa Tengah. Perbedaan bahasa dan budaya dapat membuat manusia merasa tidak nyaman (bahkan hingga saat ini), sehingga sebagian Suku Keltik pun memutuskan untuk mencari tempat lain yang lebih sepi dari para pendatang. Mereka menyingkir ke wilayah yang sekarang disebut Prancis, sedangkan lainnya berlayar menuju kepulauan yang sekarang disebut Britania Raya dan Irlandia.

Akan tetapi, ada juga Suku Keltik yang memilih tidak bermigrasi ke Barat, dan memilih bertahan di kampung halaman mereka. Mereka mencoba beradaptasi terhadap situasi baru agar survive, yaitu dengan berasimilasi dengan Suku Jermanik. Antara lain, dengan mempelajari bahasa dan budaya para pendatang, serta membangun hubungan kekeluargaan melalui pernikahan. Rupanya, karakter Suku Jermanik yang lebih ‘kuat’. Di sisi lain, Suku Keltik kalah jumlah. Lambat laun, bahasa dan budaya Suku Keltik yang dahulu mendominasi Eropa Tengah pun ditinggalkan, sampai akhirnya punah sama sekali.

Berusaha bangkit

Kabar baiknya, Suku Keltik yang bermigrasi ke Kepulauan Inggris (dan Prancis) tampaknya berhasil membangun kehidupan baru, memelihara bahasa dan budaya kuno yang telah ditinggalkan rekan-rekan sesuku mereka di Jerman.

Bagaimana mungkin? Bukankah Suku Keltik di Kepulauan Inggris, sama seperti di Eropa Tengah, pada akhirnya menemui ‘ajal’ mereka, musnah ditelan peradaban modern?

Struktur kuno kesukuan masyarakat Keltik yang tanpa satu pemimpin tertinggi seperti raja memang sudah ditinggalkan. Karena, sekali lagi, beradaptasi adalah kunci bertahan hidup, walaupun itu tidak berarti kita harus meninggalkan sama sekali cara-cara, atau nilai-nilai, yang berperan besar dalam upaya menjaga keberlanjutan eksistensi sekelompok manusia dan keseimbangan dengan alam sekitar.

Kosakata dan dialek Keltik abadi dalam sejumah bahasa lokal yang digunakan dalam percakapan sehari-hari masyarakat Enam Bangsa Pewaris Budaya Keltik (Wales, Skotlandia, Irlandia, Brittany (Prancis), Cornwall (Inggris), Isle of Man). Kepercayaan Asli Keltik direkonstruksi ulang dan masih dipraktikkan oleh generasi masa kini Suku Keltik, terutama para keturunan druid (pendeta atau pemimpin spiritual Kepercayaan Asli Keltik).

Irlandia sebagai salah satu pulau di mana Suku Keltik mendarat masih memiliki sekitar 3000 titik mata air dan sumur suci, yang sampai detik ini tetap mengalirkan air dan berada dalam kondisi baik. (dswas) 

Minggu, 01 Februari 2026

Modifikasi Cuaca: Upaya Bertahan Hidup atau Menaklukkan Alam?

Cuaca buruk, hujan deras atau badai salju, mengganggu aktivitas sehari-hari. Apalagi bila berujung fenomena yang lebih parah, seperti banjir bandang yang mengakibatkan hilangnya nyawa dan harta benda. Negara kami, Indonesia, sudah sangat akrab dengan bencana, terutama banjir yang semakin sering terjadi dan semakin parah setiap tahun. Salah satu yang terparah dan belum lama terjadi adalah bencana banjir Sumatra 26 November lalu, di mana ribuan orang tewas dan ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal.

Bencana Sumatra bisa dikatakan ‘hadiah’ akhir tahun yang menimbulkan perasaan berkecamuk di hati setiap warga negara Indonesia. Melalui media sosial dan berbagai kanal berita, seluruh negeri (bahkan luar negeri) menyaksikan kepiluan para korban dan para pejabat setempat yang mengaku tidak sanggup mengatasi dampak salah satu bencana terbesar dalam sejarah bangsa kami.

Ketika Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) mengumumkan prakiraan tentang kemungkinan bencana serupa di wilayah lain, yaitu Pulau Jawa, kepanikan pun menyeruak. Jakarta disebut sebagai salah satu wilayah yang paling terdampak, sehingga Gubernur Jakarta Pramono Anung memutuskan implementasi modifikasi cuaca sebagai solusi demi mencegah datangnya banjir besar yang bisa menenggelamkan ibu kota negara.

Berbagai pihak melayangkan kritik terhadap keputusannya, mengingat metode ini tidak sepenuhnya aman. Sejumlah studi telah mengungkap dampak negatif modifikasi cuaca, terutama yang diakibatkan penggunaan bahan kimia apabila metode ini diimplementasikan dalam jangka panjang. Serbuk perak iodida yang lazim digunakan dalam modifikasi cuaca dapat menjadi bumerang yang pada gilirannya malah mencemari tanah dan air. Sementara dampaknya pada tubuh manusia (terutama kulit) masih dalam perdebatan.


Ilustrasi: panorama dari sebuah kafe yang didirikan di sebelah sebuah situs sejarah di Bromo


‘Mengarahkan’ cuaca dalam sudut pandang spiritual

Modifikasi cuaca bukanlah barang baru dalam budaya kami, khususnya di kalangan penganut Aliran Kepercayaan. Keahlian ‘mengarahkan cuaca’ sudah dikenal sejak lama dan diajarkan secara turun temurun, walaupun hanya satu jenis cuaca saja yang ‘dikendalikan’, yaitu hujan. Ahli di bidang ini disebut pawang hujan, sering digunakan jasanya untuk mencegah turunnya hujan saat penyelenggaraan berbagai acara yang melibatkan banyak orang di ruang terbuka.

Berbeda dengan tujuan modifikasi cuaca, seorang pawang hujan tidak berfokus untuk membatalkan atau menghentikan terjadinya hujan, melainkan hanya menundanya. Konsep ini didasari oleh keyakinan bahwa alam mengandung sesuatu yang hidup di dalamnya, sehingga ia memiliki arah geraknya sendiri. Manusia tidak dapat mencegah, menolak lalu berusaha menghentikannya. Sama seperti manusia tidak dapat menolak takdir. Penolakan yang diwujudkan dalam bentuk upaya menghentikan cuaca (atau lebih tepatnya hujan), walaupun berpeluang berhasil akan menimbulkan berbagai konsekuensi baru yang pada akhirnya menuntut manusia berpikir keras untuk mencari jalan keluarnya.  

Maka dari itu, keahlian ‘mengarahkan’ hujan dilarang digunakan sekehendak hati oleh seseorang yang memiliki kemampuan tersebut. Hujan ‘diarahkan’ agar tidak turun di saat acara pesta pernikahan, misalnya, bertujuan agar para tamu yang hadir tidak direpotkan oleh air yang membasahi busana pesta mereka. Agar mereka tetap dapat merasa senang, menikmati suasana, berinteraksi dengan handai taulan, turut berbahagia bersama kedua mempelai. Sebagaimana tujuan diselenggarakannya sebuah pesta pernikahan.

Tergantung ‘pak sopir’

Memiliki kekuatan, atau keahlian, untuk mengubah hujan dari terjadi menjadi tidak terjadi sebaiknya diikuti dengan rasa tanggung jawab. Sebagai contoh, fenomena Rara, pawang hujan yang mempertontonkan aksinya menghentikan hujan saat berlangsungnya sesi balapan MotoGP di Sirkuit Mandalika pada 2022 lalu dan viral di X. Walaupun aksi Rara menuai pujian dari seluruh dunia, kita tidak pernah tahu apa dampak ikutan dari sebuah unjuk kekuatan yang bisa saja dicerna sebagai ‘menantang Sang Pencipta’ oleh sebagian orang.

Demikian pula halnya dengan kemampuan memodifikasi cuaca. Bencana alam seyogyanya dipandang sebagai hasil akhir serangkaian sebab yang saling berkelindan, dan bukan semata-mata akibat satu faktor yang dalam konteks ini adalah hujan deras. Pengimplementasian modifikasi cuaca mungkin masih dapat dianggap wajar apabila terjadi keadaan kahar yang benar-benar menempatkan manusia dalam jalan buntu.

Namun, seberapa buntukah situasi yang membuat pemanfaatan modifikasi cuaca menjadi wajar? Parameter yang jelas dan transparan sudah saatnya ditetapkan sebagai pengendali si pengendali cuaca itu sendiri. (dswas)

Rabu, 28 Januari 2026

Mengakui Masa Lalu Agar Tidak Salah Langkah di Masa Depan

Kaum perempuan wajib mandiri dan bisa mempertahankan diri serta kehormatan mereka ketika para lelaki (pasangan, anggota keluarga, dll.) jauh dari mereka. Ini bukanlah feminisme, melainkan suatu hal yang lazim dan diterapkan secara turun temurun di zaman kuno sebuah bangsa. Oleh karena itu, masyarakat kuno Indonesia mendesain senjata khusus bagi kaum perempuan mereka, berangkat dari pemikiran bahwa kecuali prajurit perempuan, perempuan biasa pun wajib menyamarkan senjata mereka agar tidak menimbulkan kegelisahan masyarakat di sekitar mereka.

Senjata yang dimaksud adalah semacam pisau belati kecil untuk disembunyikan di balik busana mereka, atau sebagai hiasan rambut. Senjata semacam ini dinamakan keris, walaupun dalam bentuk yang lebih mungil dibandingkan keris untuk kaum lelaki. Perempuan memiliki keterbatasan, sehingga filosofi kuno Indonesia telah mengatur agar dua kubu ini tetap dapat hidup saling berdampingan sesuai kapasitas dan kodrat masing-masing.

“Invasi” Kerajaan Majapahit dari Tanah Jawa ke Semenanjung Malaka (sekitar abad 14) membawa serta pengetahuan baru tentang keris ke wilayah baru (Pahang, Tumasik, Thailand Selatan, Kelantan, Kedah). Pengetahuan ini pun mengakar kuat dan menjadi bagian masyarakat Semenanjung Malaka, yang juga merupakan para pendatang dari Sumatra Selatan pada era Kerajaan Sriwijaya (eksis abad 7). Mereka mengadopsi keris untuk menjadi bagian dari budaya leluhur mereka berdasarkan perjalanan sejarah dan pengetahuan tentang senjata tradisional itu di kalangan warga Malaysia. 

 

Ilustrasi: Suatu pagi di Singosari


Mengalah bukan pertanda kelemahan

Faktanya, Semenanjung Malaka bukanlah dataran kosong tak berpenghuni ketika para pendatang dari Sumatra (atau Jawa?) datang mendarat. Hingga saat ini, terdapat sekitar 98 kelompok suku asli Malaysia yang sudah menghuni Semenanjung Malaka sejak sebelum kedatangan para pendatang dari berbagai penjuru. Di antara penduduk asli Malaysia (atau disebut sebagai Orang Asli dalam Bahasa Melayu), terdapat kelompok suku Negrito yang berkarakter pemalu dan dianggap sebagai para penjaga hutan oleh para pendatang (Semang).

Dengan menginterpretasi ulang sumber yang sangat terbatas tentang kelompok suku Asli Malaka ini, bisa disimpulkan Kepercayaan Semang membentuk sikap bahwa manusia tidak hidup sendiri di alam ini. Maka ditetapkanlah beragam aturan untuk ‘meregulasi’ tingkah laku masyarakat Semang saat mereka menjalani kehidupan sehari-hari, maupun saat mencari nafkah sebagai pemburu. Tata cara hidup diberlakukan agar keberadaan mereka tidak membuat pihak lain merasa tidak senang, karena banyak ketidakharmonisan terjadi akibat perasaan semacam itu.

Kepercayaan Semang menyiapkan masyarakat Asli Malaka menghadapi kemungkinan datangnya orang-orang dari tanah seberang ke tanah di mana mereka hidup selama puluhan, bahkan mungkin ratusan, generasi. Ketika para penjelajah Melayu berlabuh di pantai Semenanjung Malaka 1400 M, para suku Asli Malaka yang sudah mengintai dari kejauhan memutuskan untuk mundur ke dalam hutan dan lereng-lereng gunung yang sulit dijangkau. Mereka memberi ruang kepada para penjelajah Melayu untuk mendirikan pemukiman, yang kemudian berkembang menjadi kerajaan.

Menghormati ‘pribumi sejati’  

Momen menguatnya sentimen nasionalisme di sejumlah negara sejak beberapa tahun terakhir seharusnya bisa dimanfaatkan sebagai inspirasi untuk lebih mengenal wilayah atau tanah di mana kita tinggal saat ini, berikut sejarahnya. Seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Keterputusan dari pengetahuan tentang awal mula suatu tempat akan membuat manusia menebak langkah dan tindakan paling tepat guna menghadapi timbulnya tantangan yang berkaitan dengan di mana mereka berada.

Dua kelompok etnis yang berbeda dalam pemaparan di atas memilih cara berlawanan dalam mengatasi potensi bahaya. Satu etnis menciptakan keris sebagai senjata, sementara etnis lain memilih langkah mundur sebagai strategi bertahan hidup. Dua pendekatan tersebut terbukti ampuh, karena baik masyarakat Jawa maupun masyarakat Semang tetap eksis di Semenanjung Malaka era modern dengan berbagai dinamika yang mewarnai kehidupan mereka. (dwsas)

Senin, 26 Januari 2026

Tetap Selamat dan Cuan Dari Eksploitasi Alam, Bagaimana Caranya?

Sebuah ‘sihir’ bernama teknologi menciptakan berbagai perangkat ajaib yang sebelumnya tidak dibutuhkan manusia. Kecerdikan ini tentu saja berhasil mendatangkan keuntungan finansial bagi para kreatornya, menjadi peluang kerja bagi jutaan orang, dan menggerakkan roda perekonomian global. Sebuah motivasi baru pun muncul menyemangati anak-anak muda seluruh pelosok dunia untuk giat belajar tentang seluk beluk teknologi, dengan harapan agar masa depan mereka pun secerah para triliuner di bidang ini.

Dengan semakin membludaknya perangkat teknologi, baik dari segi kuantitas maupun jenisnya, mereka yang bergerak di bidang industri teknologi dihadapkan pada satu tantangan besar, yaitu ketersediaan bahan baku. Logam mineral langka yang merupakan bahan dasar chip, otak perangkat teknologi yang sekarang kita gunakan, tidak bisa ditambang di sembarang tempat. Langka seperti namanya.

Salah satu lokasi yang disebut-sebut menyimpan cadangan logam langka dalam jumlah besar adalah Greenland, pulau terbesar dunia yang merupakan wilayah yurisdiksi Denmark. Sebelum era 2000-an, Greenland hanya dianggap sebuah pulau bongkahan es dengan suhu ekstrem karena terletak di ujung utara Bumi. Mengeksploitasi Greenland jelas akan membutuhkan biaya mahal bila lapisan esnya masih setebal era 80 atau 90-an.

‘Berkat’ pemanasan global, ikhtiar ini bisa jadi tidak akan menelan terlalu banyak biaya. Es tebal Greenland kini telah menipis, sehingga tidak akan terlalu rumit untuk menambang logam langka yang telah tersimpan selama jutaan tahun di bawahnya. Berdasarkan logika pasar, semakin langka suatu benda maka harganya akan semakin mahal. Masa depan Greenland bisa jadi akan sangat cerah, bukan tidak mungkin wilayah ini akan kaya raya dari penambangan logam langka.  


Ilustrasi: Danau buatan yang dibentuk dari Sungai Lahor, Malang Selatan

Menghargai ‘pengorbanan’  

Lalu siapakah penduduk asli Greenland yang akan beruntung dan segera jadi orang kaya baru ini? Mereka dinamakan Suku Inuit, salah satu kelompok suku yang berdiam di tempat terdingin di belahan Bumi Utara sejak berabad-abad silam. Menurut para sejarawan, Suku Inuit Greenland sebenarnya berasal dari Amerika Utara, tepatnya Alaska, di mana terdapat populasi etnis ini dalam jumlah yang cukup besar.

Dahulu kala, suhu Bumi Utara masih sangat dingin. Sejumlah wilayah yang saat ini berupa perairan dahulu merupakan lempengan-lempengan es yang aman untuk dilewati. Suku Inuit di Alaska mengembara hingga Rusia dan Greenland dengan membawa segala yang mereka punya, bukan hanya hewan ternak atau anggota keluarga tetapi juga pengetahuan dan spiritualitas.

Tidak sembarang orang yang bisa bertahan hidup di tengah suhu ekstrem (yang bisa mencapai puluhan minus di bawah nol derajat Celcius di musim dingin), Suku Inuit adalah salah satu di antara sekian juta kelompok etnis di dunia ini yang memilih jalan sulit tersebut. Kondisi alam membentuk Suku Inuit sebagai kelompok etnis dengan kepribadian individualis. Walau demikian, Kepercayaan Asli Inuit tidak menganjurkan mereka untuk tidak terkoneksi dengan alam sekitar.

Alam sekitar merupakan penopang hidup Suku Inuit, dan Kepercayaan Asli tidak melarang mereka untuk tidak memanfaatkan atau mengambil apa pun yang terdapat di dalamnya. Hidup di tengah alam bersuhu ekstrem membuat Suku Inuit menggantungkan sumber makanan dari hasil berburu, ketika Kepercayaan Asli memandang hewan dan tumbuhan sebagai entitas yang setara dengan manusia, karena sama-sama memiliki nyawa. Penghormatan terhadap hewan hasil buruan diberikan sebelum Suku Inuit mengonsumsi dagingnya, atau mengambil kulitnya untuk dijadikan bahan pakaian. Misalnya, sesaji air putih dipersembahkan untuk singa laut hasil buruan sebagai tanda ucapan terima kasih atas ‘pengorbanan’ si binatang buruan.

“Manusia bukan pengatur alam”

Berubahnya suhu Bumi tentu saja memengaruhi kehidupan Suku Inuit sebagai kelompok minoritas yang telah terbiasa dengan pola hidup berburu sejak beribu-ribu generasi. Kepercayaan Asli yang mengakar kuat menjadi landasan bagi Suku Inuit untuk memandang perubahan alam sebagai sesuatu hal yang bisa terjadi sewaktu-waktu, karena mereka bukanlah pengatur dunia dan tidak bisa menebak apa yang alam inginkan.

Berburu mungkin bukan lagi cara hidup Suku Inuit dalam beberapa tahun ke depan, mengingat hewan-hewan di Bumi Utara, sebagaimana di tempat lain, sudah terpapar racun dari pencemaran lingkungan. Akankah mereka menjadi pekerja tambang logam mineral langka sebagai gantinya?

Dalam sudut pandang Kepercayaan Asli Inuit, kesejahteraan dari pemanfaatan sumber-sumber alam bisa dicapai dengan mempertahankan keseimbangan. Katakanlah tambang mineral langka akan dibuka dalam waktu dekat di Greenland, sesaji dalam jumlah besar perlu dihaturkan sebagai ungkapan terima kasih dan permohonan izin untuk mengambil sesuatu dari alam. Kerendahan hati bukan hanya baik untuk kesehatan mental manusia, tetapi juga kelestarian alam sekitarnya.  (dswas)

Rabu, 21 Januari 2026

Ketika Ketentraman Mahal Harganya

Lolos Kualifikasi Piala Dunia seharusnya menjadi sebuah kebanggaan besar bagi rakyat sebuah bangsa, karena berjam-jam dan berbulan-bulan latihan fisik maupun mental yang menyita perhatian dan biaya besar akhirnya sukses menorehkan sebuah prestasi yang akan dikenang selamanya. Akan tetapi, tidak demikian halnya bagi para suporter sepak bola Iran.

Permasalahan internal Iran membuat para suporter Team Melli (julukan timnas Iran) bersikap dingin ketika Iran dinyatakan lolos Kualifikasi Piala Dunia 2026 oleh FIFA beberapa waktu lalu. Tidak ada pujian, eforia, apalagi arak-arakan di jalan raya menyambut kesuksesan satu-satunya tim Asia yang tampil sangat baik sepanjang babak Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia. Padahal Iran mencetak poin nyaris sempurna (23), dan hanya satu kali kalah dalam 16 laga kualifikasi yang dijalaninya.

Kemelut dalam negeri inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026 memberikan sanksi larangan masuk AS bagi warga negara Iran selama turnamen akbar sepak bola itu berlangsung (kecuali bagi para pemain, tim pelatih, dan ofisial). Larangan ini tentu tidak berlaku bagi para diaspora Iran yang sudah lama bertempat tinggal di Amerika Serikat atau Kanada, sehingga Team Melli masih dapat berlaga dengan disaksikan para pendukung mereka selama Piala Dunia 2026. 


Ilustrasi: sebuah restoran di Kabupaten Malang di mana terdapat mata air kuno

Meraba akar permasalahan

Berabad-abad silam sebelum diguncang prahara yang seakan tiada habisnya sejak 2022, Iran sesungguhnya merupakan salah satu pusat peradaban tertua di dunia. Pertemuan antara Sungai Efrat dan Tigris menciptakan wilayah lembah yang bukan hanya luas, tetapi juga subur dan mampu menghidupi berbagai bangsa kuno yang datang dan pergi silih berganti, mulai dari bangsa Sumeria, Asyiria, Akhadia, Babilonia, Parthia, Sasania, hingga Persia, sejak 10.000 SM hingga 539 SM.

Berbagai bangsa tersebut awalnya adalah suku-suku nomaden yang hidup mengembara sebagai penggembala ternak di sekitar lembah Efrat-Tigris. Suku-suku ini saling berlomba untuk menjadi yang terkuat agar mampu mempersatukan seluruh suku di bawah kepemimpinan sang pemenang.  Mereka menempuh berbagai cara, termasuk dengan saling bersekutu untuk menjatuhkan bangsa lain, misalnya, bangsa Persia versus Asyiria dan Babilonia.

Menariknya, seluruh bangsa yang bertikai di masa Iran Kuno pernah menganut satu kepercayaan yang sama, yaitu Kepercayaan Iran Kuno, yang sangat mirip dengan agama Weda dari India dalam berbagai aspek. Namun karena para pemimpin kepercayaan kuno ini mempraktikkan penggunaan semacam narkoba kuno pada saat memimpin ibadah, ditambah dengan praktik korupsi di kalangan pemuka kepercayaan di jaman itu, timbulah pemberontakan yang dipimpin oleh Zoroaster sejak abad 10 SM. Ia mendirikan agama baru bernama Zoroastrianism, yang menggeser Kepercayaan Iran Kuno seiring dengan berjalannya waktu. Demikianlah asumsi para sejarawan.

Menghentikan pengulangan  

Penolakan para warga Iran untuk mendukung tim nasional mereka merupakan pengulangan peristiwa yang kurang lebih mirip jutaan tahun yang lalu, yaitu ketika kaum muda Zoroastrianism menolak percaya pada para pemuka Kepercayaan Kuno Iran. Akibat hilangnya catatan sejarah dari era tersebut, para peneliti hanya dapat meraba-raba tentang kemunculan satu peristiwa penting yang mendorong rakyat Persia kuno meninggalkan kepercayaan asli mereka. Walau demikian, berulangnya suatu peristiwa pahit dapat dimaknai sebagai pengingat tentang adanya kekeliruan dalam proses yang dipilih untuk dijalani. Ibarat masalah pada satu organ tubuh yang dapat berkembang dan menjalar menjadi tumor, kanker, dan berbagai penyakit kronis lainnya.

Peradaban manusia pasca Mesopotamia terus berjuang menemukan pijakan agar hal-hal baik dan positif senantiasa datang dalam hidup, agar segala kerja keras mendatangkan hasil yang membahagiakan dan penuh cahaya. Inilah tujuan lumrah manusia di zaman apa pun mereka hidup, sebuah tujuan yang menciptakan keterkaitan antara para manusia yang hidup di  masa lampau, saat ini, dan masa depan. Tujuan yang kiranya dapat menghentikan sejarah buruk dari terulang lagi dan lagi. (dswas)

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...