26 Desember 1991, sekitar 30 juta warga etnis Rusia mendadak menemukan diri mereka menjadi warga negara asing, sepersekian detik setelah bendera Uni Soviet diturunkan untuk selamanya. Sebuah kesepakatan politik telah mencabut privilese mereka sebagai warga “negara ibu kota”, bukan perang atau huru-hara.
30 juta orang Rusia tinggal di Kazakhstan, Ukraina, dan
negara-negara Baltik saat penurunan bendera palu arit Soviet disiarkan di layar
televisi. Mereka tinggal di negara-negara yang kini menyandang predikat sebagai
eks Uni Soviet, suatu wilayah yang sebelumnya harus meminggirkan identitas
lokal masing-masing untuk dipersatukan oleh satu identitas resmi.
Konflik di sejumlah wilayah Eropa Timur hari ini sebagian besar
merupakan buah dari api-api kecil menahun di antara warga diaspora Rusia dengan
warga lokal wilayah eks Uni Soviet. Warga lokal merasakan trauma mendalam
akibat berbagai kebijakan negara yang pernah membiayai mereka dan sudah bubar.
Di sisi lain, warga imigran Rusia menganggap situasi mereka merupakan akibat
kebijakan orang-orang yang seharusnya mengayomi mereka.
Warga Estonia, Latvia, Lithuania, Moldova, Armenia,
Azerbaijan, dan tentu saja, Ukraina, sampai dengan saat ini masih berjuang guna
menemukan kembali identitas mereka yang pernah hilang. Sementara warga diaspora
Rusia yang tinggal di negara-negara itu juga sedang berjuang untuk beradaptasi
dengan upaya pemerintah setempat menanggalkan bayang-bayang Soviet. Di
antaranya, tidak lagi menggunakan Bahasa Rusia sebagai bahasa resmi.
Akhir adalah awal
Orang tua, kakek nenek, buyut, pendahulu, leluhur … Semua
kata ini punya satu makna literal yang secara konteks hampir sama, yaitu mereka
yang telah ada atau lahir sebelum kita, mereka yang secara kebetulan merupakan
pihak yang menjadi penyebab Anda hari ini ada di sini membaca blog saya.
Berhubung mereka adalah manusia biasa seperti kita,
terkadang kita dibuat bingung oleh berbagai tindakan dan atau keputusan yang
mereka ambil. Hal ini terjadi karena kita dan mereka hidup di dua era yang
berlainan, tantangan dan situasi yang melatarbelakangi keduanya juga tidak
sama.
Komunitas Asli Siberia menganggap berakhirnya era Uni Soviet
sebagai momen ‘kembali ke settingan pabrik’, momen untuk membangun ulang. Pengetahuan
peninggalan nenek moyang kembali dipelajari oleh generasi kekinian Siberia,
generasi yang mulai mengenal jagat modernitas setelah pemerintah Soviet
membangun sekolah-sekolah di Siberia di masa kejayaannya.
Tanpa bansos pemerintah Uni Soviet yang biasa mereka dapat
selama 1950an sampai 1980an, masyarakat asli Siberia sempat mengalami kesulitan
ekonomi yang berujung depresi, bahkan peningkatan kasus bunuh diri.
Republik Federasi Rusia yang terbentuk mengikuti pembubaran
Uni Soviet kemudian memberlakukan Undang-undang Republik sejak musim semi 1992,
yang menjadi dasar pendirian beberapa republik independen. Republik Sakha
(Yakutia) termasuk salah satunya. Republik baru inilah yang selanjutnya
menaungi sejumlah suku masyarakat asli Siberia hingga saat ini.
Inilah momen yang menjadi titik restart bagi sebagian besar masyarakat asli Siberia untuk membangun kembali kebijaksanaan lokal dan nilai-nilai peninggalan leluhur yang telah lama mereka tinggalkan.
Sesuatu untuk dipegang
Dengan tetap menjalankan kebiasaan tradisional, seperti
meletakkan sesajen di hutan, sungai, atau tepi laut, masyarakat Kepercayaan Asli Siberia memelihara keterkaitan mereka dengan cikal bakal. Dengan sebuah
titik yang menjadi awal keberadaan mereka.
Dinamika politik dan ekonomi memang menjadi ‘kejutan’ bagi mereka, bagi segala kelompok etnis di mana pun di dunia ini. Oleh karena itu, kita semua membutuhkan sesuatu untuk dipegang agar tidak terjatuh saat guncangan keras melanda. Seandainya jatuh tidak dapat dihindari, paling-paling kita hanya memar sedikit dan tidak terluka parah. (dswas)