Sabtu, 12 September 2026

Buang Sampah Sembarangan = Mental Tidak Sehat, Mengapa?

Saya tidak akan meminta maaf bila judul di atas terdengar terlalu kasar bagi Anda, karena inilah kenyataan.

Entah karena minimnya tempat pembuangan sampah, atau tidak mampu membayar iuran kebersihan, sungai, mata air, dan tanah lapang dijadikan tempat sampah terbuka bagi segolongan orang. Kabar buruknya, jumlah golongan ini lumayan banyak.

Seandainya saja benda-benda yang kita gunakan setiap hari juga terbuat dari bahan-bahan yang mudah terurai, sampah mungkin tidak akan menjadi masalah besar. Longsoran sampah yang mengakibatkan korban jiwa di sebuah tempat pembuangan sampah akhir di Indonesia beberapa waktu lalu terdengar surreal.  

Di sisi lain, sejumlah orang mencoba mengatasi masalah bertumpuknya sampah dengan cara dibakar. Sebuah keputusan yang ujung-ujungnya berpotensi mengundang bahaya kebakaran dan gangguan pernapasan.

Saya yakin sebagian besar dari kita sudah tahu dan mendapat bekal informasi tentang masalah sampah. Namun, desakan dari dalam hati untuk secepat mungkin menyingkirkan hal tidak menyenangkan bernama sampah rupanya terlalu kuat.

Sejumlah situasi yang disebutkan di atas menunjukkan kecenderungan kita mencari jalan termudah, walaupun cara itu tidak disarankan dan sering dikampanyekan sebagai tindakan merugikan. Lalu ke mana hilangnya semua pengetahuan itu ketika dihadapkan pada situasi memiliki sampah yang harus enyah agar kenyamanan kita tidak terganggu? 


Ilustrasi: Panorama Gunung Arjuna, Dau, Malang. 


Jiwa yang hilang

Dari sini saya rasa Anda sudah sedikit memahami mengapa saya menyebut perilaku buang sampah sembarangan, atau memusnahkan sampah dengan cara mudah tapi berbahaya, merupakan gejala ringan ada yang tidak beres dalam diri kita.

Bersikukuh melakukan tindakan yang bertentangan dengan pengetahuan kita menunjukkan adanya perang jangka panjang dalam diri kita. Pertentangan dari dalam yang tidak dapat kita selesaikan, tetapi mewujud dalam tingkah laku sehari-hari.

Dunia medis menyebut kondisi tersebut sebagai depresi, skizofrenia, stress, anxiety, bipolar, dsb. Suatu kondisi kesehatan yang juga tidak asing bagi para pemeluk Kepercayaan Asli Siberia.

Dalam sudut pandang mereka, suatu peristiwa memilukan dan traumatis telah merampas kebahagiaan si penderita untuk selamanya. Si penderita menyadari apa yang ia rasakan, tetapi goncangan terlalu kuat sehingga jiwanya tidak mau kembali.

Pemicu depresi itu sendiri biasanya bermula dari pelanggaran terhadap norma dan aturan tidak tertulis dalam masyarakat, atau eksploitasi alam berlebihan. Melihat sungai yang kotor atau hutan yang terbakar, misalnya, menimbulkan rasa gundah gulana yang pada gilirannya mengikis segala ketenangan dan kedamaian.

Mempersiapkan sesajen untuk dihaturkan kepada para leluhur dianggap sebagai salah satu cara untuk mengatasi perasaan negatif ini. Si penderita akan melatih dirinya untuk kembali bersemangat melalui aktivitas menata suguhan dengan penuh kasih sayang, serta ketulusan.

 

Memutus ‘lingkaran setan’

Apabila sungai kotor menimbulkan rasa tidak nyaman dalam diri kita, lalu mengapa, atau apa yang mendasari keputusan kita untuk membuang sampah ke sungai pertama kalinya dalam hidup kita? Ketika rasa kita menjadi negatif akibat perbuatan seseorang yang diperlihatkan di muka umum, mengapa kita justru ikut melakukannya?

Ini sedikit contoh pertanyaan-pertanyaan yang wajib muncul dalam benak kita, sebelum kerusakan meluas berikut dampaknya.

Sebagai mantan penderita gangguan kesehatan mental, saya yakinkan Anda bahwa obat terbaik berasal dari tekad kita sendiri untuk bangkit. Jalan berliku dan salah jalan memang harus dan akan kita hadapi sebagai konsekuensi berbagai langkah keliru yang kita ambil di fase sebelumnya. (dswas). 

Cara Move On di Tengah Kebuntuan Stagflasi

DPR Inggris (UK House of Commons) terpana tak percaya ketika politisi Partai Konservatif dan mantan Chancellor of the Exchequer (Menteri Keu...