Saya tidak akan meminta maaf bila judul di atas terdengar terlalu kasar bagi Anda, karena inilah kenyataan.
Entah karena minimnya tempat pembuangan sampah, atau tidak mampu
membayar iuran kebersihan, sungai, mata air, dan tanah lapang dijadikan tempat
sampah terbuka bagi segolongan orang. Kabar buruknya, jumlah golongan ini
lumayan banyak.
Seandainya saja benda-benda yang kita gunakan setiap hari
juga terbuat dari bahan-bahan yang mudah terurai, sampah mungkin tidak akan
menjadi masalah besar. Longsoran sampah yang mengakibatkan korban jiwa di
sebuah tempat pembuangan sampah akhir di Indonesia beberapa waktu lalu terdengar
surreal.
Di sisi lain, sejumlah orang mencoba mengatasi masalah
bertumpuknya sampah dengan cara dibakar. Sebuah keputusan yang ujung-ujungnya
berpotensi mengundang bahaya kebakaran dan gangguan pernapasan.
Saya yakin sebagian besar dari kita sudah tahu dan mendapat
bekal informasi tentang masalah sampah. Namun, desakan dari dalam hati untuk
secepat mungkin menyingkirkan hal tidak menyenangkan bernama sampah rupanya
terlalu kuat.
Sejumlah situasi yang disebutkan di atas menunjukkan kecenderungan
kita mencari jalan termudah, walaupun cara itu tidak disarankan dan sering
dikampanyekan sebagai tindakan merugikan. Lalu ke mana hilangnya semua
pengetahuan itu ketika dihadapkan pada situasi memiliki sampah yang harus enyah
agar kenyamanan kita tidak terganggu?
Jiwa yang hilang
Dari sini saya rasa Anda sudah sedikit memahami mengapa saya
menyebut perilaku buang sampah sembarangan, atau memusnahkan sampah dengan cara
mudah tapi berbahaya, merupakan gejala ringan ada yang tidak beres dalam diri
kita.
Bersikukuh melakukan tindakan yang bertentangan dengan
pengetahuan kita menunjukkan adanya perang jangka panjang dalam diri kita.
Pertentangan dari dalam yang tidak dapat kita selesaikan, tetapi mewujud dalam
tingkah laku sehari-hari.
Dunia medis menyebut kondisi tersebut sebagai depresi, skizofrenia,
stress, anxiety, bipolar, dsb. Suatu kondisi kesehatan yang juga tidak asing bagi
para pemeluk Kepercayaan Asli Siberia.
Dalam sudut pandang mereka, suatu peristiwa memilukan dan
traumatis telah merampas kebahagiaan si penderita untuk selamanya. Si penderita
menyadari apa yang ia rasakan, tetapi goncangan terlalu kuat sehingga jiwanya
tidak mau kembali.
Pemicu depresi itu sendiri biasanya bermula dari pelanggaran
terhadap norma dan aturan tidak tertulis dalam masyarakat, atau eksploitasi
alam berlebihan. Melihat sungai yang kotor atau hutan yang terbakar, misalnya,
menimbulkan rasa gundah gulana yang pada gilirannya mengikis segala ketenangan
dan kedamaian.
Mempersiapkan sesajen untuk dihaturkan kepada para leluhur
dianggap sebagai salah satu cara untuk mengatasi perasaan negatif ini. Si
penderita akan melatih dirinya untuk kembali bersemangat melalui aktivitas
menata suguhan dengan penuh kasih sayang, serta ketulusan.
Memutus ‘lingkaran setan’
Apabila sungai kotor menimbulkan rasa tidak nyaman dalam
diri kita, lalu mengapa, atau apa yang mendasari keputusan kita untuk membuang
sampah ke sungai pertama kalinya dalam hidup kita? Ketika rasa kita menjadi
negatif akibat perbuatan seseorang yang diperlihatkan di muka umum, mengapa
kita justru ikut melakukannya?
Ini sedikit contoh pertanyaan-pertanyaan yang wajib muncul
dalam benak kita, sebelum kerusakan meluas berikut dampaknya.
Sebagai mantan penderita gangguan kesehatan mental, saya yakinkan Anda bahwa obat terbaik berasal dari tekad kita sendiri untuk bangkit. Jalan berliku dan salah jalan memang harus dan akan kita hadapi sebagai konsekuensi berbagai langkah keliru yang kita ambil di fase sebelumnya. (dswas).