Sabtu, 19 September 2026

Trik Jitu Hilangkan Rasa Benci Pada Leluhur

26 Desember 1991, sekitar 30 juta warga etnis Rusia mendadak menemukan diri mereka menjadi warga negara asing, sepersekian detik setelah bendera Uni Soviet diturunkan untuk selamanya. Sebuah kesepakatan politik telah mencabut privilese mereka sebagai warga “negara ibu kota”, bukan perang atau huru-hara.

30 juta orang Rusia tinggal di Kazakhstan, Ukraina, dan negara-negara Baltik saat penurunan bendera palu arit Soviet disiarkan di layar televisi. Mereka tinggal di negara-negara yang kini menyandang predikat sebagai eks Uni Soviet, suatu wilayah yang sebelumnya harus meminggirkan identitas lokal masing-masing untuk dipersatukan oleh satu identitas resmi.

Konflik di sejumlah wilayah Eropa Timur hari ini sebagian besar merupakan buah dari api-api kecil menahun di antara warga diaspora Rusia dengan warga lokal wilayah eks Uni Soviet. Warga lokal merasakan trauma mendalam akibat berbagai kebijakan negara yang pernah membiayai mereka dan sudah bubar. Di sisi lain, warga imigran Rusia menganggap situasi mereka merupakan akibat kebijakan orang-orang yang seharusnya mengayomi mereka.

Warga Estonia, Latvia, Lithuania, Moldova, Armenia, Azerbaijan, dan tentu saja, Ukraina, sampai dengan saat ini masih berjuang guna menemukan kembali identitas mereka yang pernah hilang. Sementara warga diaspora Rusia yang tinggal di negara-negara itu juga sedang berjuang untuk beradaptasi dengan upaya pemerintah setempat menanggalkan bayang-bayang Soviet. Di antaranya, tidak lagi menggunakan Bahasa Rusia sebagai bahasa resmi.


Ilustrasi: Pohon randu di Situs Tejosari, Singosari, Malang. 


Akhir adalah awal  

Orang tua, kakek nenek, buyut, pendahulu, leluhur … Semua kata ini punya satu makna literal yang secara konteks hampir sama, yaitu mereka yang telah ada atau lahir sebelum kita, mereka yang secara kebetulan merupakan pihak yang menjadi penyebab Anda hari ini ada di sini membaca blog saya.

Berhubung mereka adalah manusia biasa seperti kita, terkadang kita dibuat bingung oleh berbagai tindakan dan atau keputusan yang mereka ambil. Hal ini terjadi karena kita dan mereka hidup di dua era yang berlainan, tantangan dan situasi yang melatarbelakangi keduanya juga tidak sama.

Komunitas Asli Siberia menganggap berakhirnya era Uni Soviet sebagai momen ‘kembali ke settingan pabrik’, momen untuk membangun ulang. Pengetahuan peninggalan nenek moyang kembali dipelajari oleh generasi kekinian Siberia, generasi yang mulai mengenal jagat modernitas setelah pemerintah Soviet membangun sekolah-sekolah di Siberia di masa kejayaannya.

Tanpa bansos pemerintah Uni Soviet yang biasa mereka dapat selama 1950an sampai 1980an, masyarakat asli Siberia sempat mengalami kesulitan ekonomi yang berujung depresi, bahkan peningkatan kasus bunuh diri.

Republik Federasi Rusia yang terbentuk mengikuti pembubaran Uni Soviet kemudian memberlakukan Undang-undang Republik sejak musim semi 1992, yang menjadi dasar pendirian beberapa republik independen. Republik Sakha (Yakutia) termasuk salah satunya. Republik baru inilah yang selanjutnya menaungi sejumlah suku masyarakat asli Siberia hingga saat ini.

Inilah momen yang menjadi titik restart bagi sebagian besar masyarakat asli Siberia untuk membangun kembali kebijaksanaan lokal dan nilai-nilai peninggalan leluhur yang telah lama mereka tinggalkan.

Sesuatu untuk dipegang

Dengan tetap menjalankan kebiasaan tradisional, seperti meletakkan sesajen di hutan, sungai, atau tepi laut, masyarakat Kepercayaan Asli Siberia memelihara keterkaitan mereka dengan cikal bakal. Dengan sebuah titik yang menjadi awal keberadaan mereka.

Dinamika politik dan ekonomi memang menjadi ‘kejutan’ bagi mereka, bagi segala kelompok etnis di mana pun di dunia ini. Oleh karena itu, kita semua membutuhkan sesuatu untuk dipegang agar tidak terjatuh saat guncangan keras melanda. Seandainya jatuh tidak dapat dihindari, paling-paling kita hanya memar sedikit dan tidak terluka parah.  (dswas)

Cara Move On di Tengah Kebuntuan Stagflasi

DPR Inggris (UK House of Commons) terpana tak percaya ketika politisi Partai Konservatif dan mantan Chancellor of the Exchequer (Menteri Keu...