Sabtu, 01 Agustus 2026

Stagnasi: Kewajaran Yang Butuh Pemecahan

Lelah, lesu, loyo tak berkesudahan? Pekerjaan yang tak maju-maju tetapi juga tak mundur-mundur? Hidup terasa hampa dari hari ke hari? Apabila Anda merasakan salah satu atau seluruh gejala ini, ada kemungkinan Anda sedang menghadapi apa yang disebut stagnasi; sebuah kemacetan, situasi berhenti dalam perjalanan hidup, yang tidak jelas apakah perhentian itu hanya sementara ataukah untuk selamanya.

Sebagaimana orang-orang lain, saya pun juga pernah merasakannya. Bukan numb atau freeze, melainkan stuck, mandek karena tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk keluar dari sebuah keadaan yang mencekik jiwa. Ketika sekian juta uang dibuang untuk membeli barang-barang, atau untuk jalan-jalan, tidak sanggup mengusir rasa terjebak dalam sebuah (menurut saya saat itu) perangkap yang tak terlihat. Ketika bekerja keras membanting tulang hanya bermakna sebatas punya uang untuk membayar utang, misalnya.

Dalam kasus saya, delusi semacam ini biasanya timbul sebagai rentetan dari rasa marah, iri, dan dengki pada sesama maupun sanak saudara beberapa hari atau beberapa pekan sebelumnya. Seolah-olah ‘neraka’ telah datang dalam hidup sebelum saya meninggalkan dunia fana. Pada fase-fase di mana kita merasa dunia hanya milik kita, sedangkan orang-orang lain hanya penyewa.


Ilustrasi: Pohon beringin raksasa di Punden Dusun Krajan, Dau, Batu.


Tak ada waktu untuk mukjizat

Stagnasi, meski menyedihkan, bukan “penyakit” baru bagi beragam aliran kepercayaan (alias agama asli) di muka Bumi ini. Pada prinsipnya, situasi sulit bisa terjadi kapan saja, saya sudah berulang kali menulis tentang ini. Jalan keluar selalu ada, tetapi karena berbagai hal tidak semua dari kita bisa melihatnya. Entah karena kondisi khusus, atau terjadi ketidakseimbangan yang merupakan dampak langsung beragam pilihan kita sendiri.

Dalam sudut pandang Kepercayaan Asli Siberia, tidak ada kata terlambat untuk keluar dari stagnasi yang sedang menjerat kehidupan pribadi seseorang maupun kelompok masyarakat. Niat untuk bangkit dan memulai kembali seyogyanya dimanifestasikan, dan menyuguhkan sesajen adalah cara utama yang dilakukan para penganut aliran kepercayaan untuk tujuan ini. Kebiasaan ini, bagi mereka yang menjalankannya, juga berperan dalam pembentukan watak serta resiliensi individu dan kelompok.

Sisi yang tidak nyata dan sukar dibuktikan logika dari sesajen dalam berbagai aliran kepercayaan lebih dipercaya sebagian besar orang. Ini dapat dimengerti. Rata-rata dari kita cenderung menginginkan terjadinya keajaiban yang dapat menghilangkan segala masalah dalam hidup dalam waktu singkat dan tanpa banyak drama.

Para penganut Kepercayaan Asli Siberia tidak punya waktu untuk membahas mukjizat, atau menebak-nebak sesajen jenis apa yang dapat menyenangkan hati kekuatan gaib agar turun dari langit dan bersedia membantu mereka. Sejak ratusan tahun silam, kelompok suku-suku serumpun ini selalu mencari cara agar dapat bertahan hidup di tengah suhu ekstrem. Sebuah situasi yang menuntut bergeraknya logika, bukan angan-angan. Bukan pula sekadar menuruti dorongan hati.

Perjalanan untuk “menyerah”

Sikap menerima apa adanya sangat dilaknat berbagai negara, dianggap sebagai “zona nyaman” yang menghalangi kemajuan. 4, 5, atau bahkan 10 tahun yang lalu, saya akan membenarkan dalil ini. Akan tetapi, secara tak disangka-sangka dunia saat ini kembali pada situasi stagnan akibat banyak golongan di luar sana gamang menurunkan standar hidup mereka. Mereka yang stagnan tetapi berkata, “kami baik-baik saja.”

Selagi mereka belum menyadarinya, situasi tersebut dipastikan akan berlangsung lama, entah kapan akan berakhir. Kabar baiknya, kita tidak harus berada dalam situasi demikian apabila berhasil menemukan cara yang sudah teruji zaman dan waktu. (dswas)

Cara Move On di Tengah Kebuntuan Stagflasi

DPR Inggris (UK House of Commons) terpana tak percaya ketika politisi Partai Konservatif dan mantan Chancellor of the Exchequer (Menteri Keu...