Lelah, lesu, loyo tak berkesudahan? Pekerjaan yang tak maju-maju tetapi juga tak mundur-mundur? Hidup terasa hampa dari hari ke hari? Apabila Anda merasakan salah satu atau seluruh gejala ini, ada kemungkinan Anda sedang menghadapi apa yang disebut stagnasi; sebuah kemacetan, situasi berhenti dalam perjalanan hidup, yang tidak jelas apakah perhentian itu hanya sementara ataukah untuk selamanya.
Sebagaimana orang-orang lain, saya pun juga pernah merasakannya.
Bukan numb atau freeze, melainkan stuck,
mandek karena tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan untuk keluar dari sebuah
keadaan yang mencekik jiwa. Ketika sekian juta uang dibuang untuk membeli
barang-barang, atau untuk jalan-jalan, tidak sanggup mengusir rasa terjebak
dalam sebuah (menurut saya saat itu) perangkap yang tak terlihat. Ketika
bekerja keras membanting tulang hanya bermakna sebatas punya uang untuk
membayar utang, misalnya.
Dalam kasus saya, delusi semacam ini biasanya timbul sebagai
rentetan dari rasa marah, iri, dan dengki pada sesama maupun sanak saudara
beberapa hari atau beberapa pekan sebelumnya. Seolah-olah ‘neraka’ telah datang
dalam hidup sebelum saya meninggalkan dunia fana. Pada fase-fase di mana kita
merasa dunia hanya milik kita, sedangkan orang-orang lain hanya penyewa.
Tak ada waktu untuk mukjizat
Stagnasi, meski menyedihkan, bukan “penyakit” baru bagi
beragam aliran kepercayaan (alias agama asli) di muka Bumi ini. Pada
prinsipnya, situasi sulit bisa terjadi kapan saja, saya sudah berulang kali
menulis tentang ini. Jalan keluar selalu ada, tetapi karena berbagai hal tidak
semua dari kita bisa melihatnya. Entah karena kondisi khusus, atau terjadi
ketidakseimbangan yang merupakan dampak langsung beragam pilihan kita sendiri.
Dalam sudut pandang Kepercayaan Asli Siberia, tidak ada kata
terlambat untuk keluar dari stagnasi yang sedang menjerat kehidupan pribadi
seseorang maupun kelompok masyarakat. Niat untuk bangkit dan memulai kembali seyogyanya
dimanifestasikan, dan menyuguhkan sesajen adalah cara utama yang dilakukan para
penganut aliran kepercayaan untuk tujuan ini. Kebiasaan ini, bagi mereka yang
menjalankannya, juga berperan dalam pembentukan watak serta resiliensi individu
dan kelompok.
Sisi yang tidak nyata dan sukar dibuktikan logika dari
sesajen dalam berbagai aliran kepercayaan lebih dipercaya sebagian besar orang.
Ini dapat dimengerti. Rata-rata dari kita cenderung menginginkan terjadinya
keajaiban yang dapat menghilangkan segala masalah dalam hidup dalam waktu
singkat dan tanpa banyak drama.
Para penganut Kepercayaan Asli Siberia tidak punya waktu
untuk membahas mukjizat, atau menebak-nebak sesajen jenis apa yang dapat
menyenangkan hati kekuatan gaib agar turun dari langit dan bersedia membantu
mereka. Sejak ratusan tahun silam, kelompok suku-suku serumpun ini selalu
mencari cara agar dapat bertahan hidup di tengah suhu ekstrem. Sebuah situasi
yang menuntut bergeraknya logika, bukan angan-angan. Bukan pula sekadar
menuruti dorongan hati.
Perjalanan untuk “menyerah”
Sikap menerima apa adanya sangat dilaknat berbagai negara,
dianggap sebagai “zona nyaman” yang menghalangi kemajuan. 4, 5, atau bahkan 10
tahun yang lalu, saya akan membenarkan dalil ini. Akan tetapi, secara tak
disangka-sangka dunia saat ini kembali pada situasi stagnan akibat banyak
golongan di luar sana gamang menurunkan standar hidup mereka. Mereka yang
stagnan tetapi berkata, “kami baik-baik saja.”
Selagi mereka belum menyadarinya, situasi tersebut dipastikan akan berlangsung lama, entah kapan akan berakhir. Kabar baiknya, kita tidak harus berada dalam situasi demikian apabila berhasil menemukan cara yang sudah teruji zaman dan waktu. (dswas)