Perhelatan tahunan akbar turnamen esports Dota 2, The International (TI), digelar di Shanghai, China, 20-23 Agustus tahun ini. Di luar dugaan, tim-tim esport China yang berjaya sekitar 10 – 14 tahun lalu tampil sangat buruk bahkan tidak lolos fase penyisihan grup turnamen yang diikuti tim dari berbagai negara.
Sejumlah pengamat esport menilai, tim-tim China diperkuat
para pemain yang sama persis seperti era 2012 – 2016 saat mereka jadi juara.
Usia mereka sudah tidak muda lagi (sekitar 30-an tahun) sehingga semangat juang
mereka menurun drastis.
Uniknya, tim-tim Eropa Timur yang didominasi para pemain
dari Rusia dan Ukraina justru sedang on
fire. Untuk pertama kali dalam sejarah TI, babak final tahun ini
mempertemukan dua tim Eropa Timur, yaitu Team Vision dan Team Yandex yang sama-sama
diperkuat pemain Rusia – Ukraina.
Team Yandex juga diperkuat sejumlah pemain dari beberapa
negara Eropa Timur lain seperti Kazakhstan dan Makedonia Utara.
Kalangan penggiat esport, dan terutama para fans Dota 2,
berdecak kagum atas prestasi tim-tim CIS/EEU yang tidak diunggulkan alias masih dianggap underdog beberapa tahun lalu.
Natus Vincere (Na’Vi) asal Ukraina memang dinobatkan sebagai
pemenang pertama TI pertama yang digelar 2011. Setelah 2013, prestasi tim-tim
Eropa Timur di TI menurun drastis dan tergusur oleh dominasi tim-tim China.
Momen pandemi 2020-2021 ketika seluruh siswa sekolah harus
belajar di rumah dimanfaatkan oleh para veteran esport Rusia dan Ukraina untuk
merekrut dan melatih para darah muda yang saat ini dipuja-puji sebagai generasi
baru jawara Dota 2.
Ambisi bukan satu-satunya penentu kesuksesan
Tak ada yang lebih menyakitkan daripada terlempar jauh dari
posisi juara untuk kemudian menjadi pecundang. Tidak seperti narapidana yang
tahu kapan ia akan menjadi orang bebas, pecundang tidak akan pernah tahu pasti
sampai kapan mereka akan menyandang predikat tersebut, entah dalam jangka
pendek atau sampai berpuluh-puluh tahun.
Rasa malu dan merasa terhina seringkali muncul bukan disebabkan
komentar publik atau media, melainkan suara-suara dalam benak kita sendiri.
Dalam sudut pandang Kepercayaan Asli Siberia, situasi semacam ini terjadi
akibat terbukanya sebuah “celah” dalam diri seseorang setelah ia melanggar
peraturan adat, tidak menjalankan kebiasaan spiritual, atau telah melakukan
kekeliruan terhadap pihak lain.
“Celah” itu membuatnya tidak mampu melihat jalan keluar
ketika sedang tertimpa masalah. Bagaikan Bumi yang mengalami gerhana, mendadak
semua menjadi gelap di tengah hari yang terang benderang.
Kekalahan dalam sebuah situasi yang seharusnya diterima
dengan penuh kerelaan menjadi beban yang harus secepatnya disingkirkan, apapun
caranya. Alih-alih berhasil kembali ke zona nyaman, tak sedikit dari mereka
yang merasa jadi pecundang malah semakin terjerumus dalam kegelapan suasana
hati mereka sendiri.
Berubah butuh keberanian
Generasi pertama Eropa Timur (Na’vi dkk.) dikenal karena
gaya bermain mereka yang bermodalkan keberanian untuk merangsek jauh ke dalam
zona lawan. Akan tetapi, gaya bermain ini menjadi kurang relevan setelah para
rival mereka di TI berhasil menemukan titik lemah mereka.
Ya, tak ubahnya pemain sepak bola para pemain Eropa Timur
(Rusia) generasi terdahulu (2017- 2019) cenderung emosi saat mereka tertekan.
Team Spirit merupakan tim esport Eropa Timur pertama yang
melibatkan psikolog olahraga untuk membantu menenangkan para pemain seusai sesi
permainan intens. Mereka juga merekrut pelatih Airat Gaziev (Silent) yang punya
kepribadian tenang dan bisa membuat anak-anak asuhnya patuh tanpa banyak drama.
Lagi-lagi pandemi 2020, di saat seluruh aktivitas di
berbagai penjuru dunia terhenti, menjadi titik balik yang mengilhami orang-orang
di balik Team Spirit untuk melakukan refleksi. Mereka melihat kembali ke masa
sebelumnya, menemukan sebuah kekeliruan fatal, lalu mengakuinya. Setelah itulah
mendadak gerhana berakhir, Bumi menjadi terang kembali.
Hasilnya, tim ini berhasil muncul sebagai juara TI 2021 dan 2023. (dswas)