Ribuan orang, tua dan muda, berbondong-bondong meninggalkan kampung halaman mereka menuju kota atau negara maju dengan satu tujuan: mencari penghidupan yang lebih baik.
Berbekal pengetahuan dan modal dari keluarga mereka,
orang-orang ini melakukan pertaruhan terbesar dalam hidup mereka. Mengorbankan
hak tanah kelahiran mereka untuk berkembang, demi kehidupan pribadi yang lebih
membebaskan dari segala keterpurukan.
Zaman dahulu, ‘terpuruk’ artinya benar-benar tak mampu
bergerak untuk melakukan apa-apa lantaran sakit atau kondisi fisik khusus.
Namun, belakangan ini orang-orang yang secara fisik segar bugar ikut-ikutan
merasa terpuruk karena banyak hal.
Dalam sudut pandang ilmu psikologi, mereka yang mengalami
situasi seperti itu disebut sedang mengalami stres atau tertekan secara mental.
Mereka diberi obat penenang untuk menghilangkan rasa terpuruk yang akan muncul
kembali setelah efek obat itu hilang dalam hitungan jam.
Orang-orang dengan gangguan kesehatan yang sama dan tak
mampu menebus obat penenang beralih ke ‘obat generik’ yang dilarang oleh
undang-undang, alias narkoba. Dari sini kita bisa memahami mengapa rasa putus
asa sangat beracun, toxic, baik bagi diri sendiri maupun orang-orang di
sekeliling kita.
Putus asa penyakit menular
Masyarakat penganut Kepercayaan Asli Siberia tidak
semata-mata mengandalkan pemikiran positif internal sebagai satu-satunya obat
bagi rasa putus asa. Tindakan dalam bentuk fisik juga dibutuhkan untuk
menstimulasi tumbuhnya energi dalam benak seseorang. Sebuah energi yang
nantinya dapat menggeser rasa terpuruk dan mencegah penularannya.
Menyerah sebelum berusaha, putus asa, dan menyesali situasi
diri sendiri adalah tindakan terlarang bagi komunitas tradisional Siberia.
Sikap-sikap ini tidak membantu dalam survival seseorang di tengah kondisi
geografis Siberia yang ekstrim (suhu sekian minus derajat, bongkahan es di
mana-mana).
Keharmonisan komunitas pun bisa terganggu karena ego
seseorang membuatnya lebih fokus pada dirinya dan ‘dunianya’. Terlebih lagi,
putus asa dianggap penghinaan terhadap Sang Pencipta yang telah memperlengkapi
manusia dengan kebijaksanaan.
Para tetua komunitas atau tetangga orang tersebut akan
berusaha menariknya keluar dari isolasi diri dengan mengajaknya berkumpul.
Mereka akan menyaksikan pertunjukan kecil kesenian tradisional yang menampilkan
nyanyian kisah para leluhur semasa hidup mereka. Kisah-kisah mirip film masa
kini yang terlalu melebih-lebihkan tapi sarat pesan-pesan moral untuk mengatasi
rasa putus asa.
Orang yang sedang putus asa dalam komunitas ini juga
diwajibkan mengunjungi pohon-pohon sakral di tempat-tempat terpencil. Selain
menyajikan sesajen, ia juga mengikatkan secarik kain di pohon itu sembari
mengucapkan niat untuk bangkit kembali. Apakah tindakan ini bermaksud memanggil
kegaiban agar datang dan menolong dirinya?
'Operasi rahasia'
Dalam sudut pandang medis, kurangnya aktivitas fisik
(misalnya, olahraga) bukan hanya berakibat negatif bagi kesehatan fisik tetapi
juga mental. Ketika manusia jaman modern ‘mencintai alam’ dengan menaklukkan
puncak gunung tertinggi sejagat raya, manusia jaman kuno menemukan kejernihan
batin dengan berjalan kaki di tengah alam bebas.
Dahulu kala, di saat pepohonan masih banyak jumlahnya,
kekokohan akar dan batang yang terlihat oleh mata setiap saat mengingatkan
manusia agar selalu tegar di tengah terpaan berbagai kondisi cuaca. Di masa
sekarang, pepohonan harus dilindungi dari kehendak yang mengatasnamakan
pembangunan dengan cara melilitkan kain di sekitarnya.
Tentu saja, masing-masing individu punya cara sendiri untuk membangkitkan semangat dan mengatasi keputusasaan. Alangkah lebih baik apabila kita dapat menghilangkan perasaan semacam ini secepat mungkin melalui operasi rahasia yang tak diketahui siapa pun. (dswas)