“The road to hell is paved with good intentions (suatu keadaan sulit dapat bermula dari niat yang baik).” Peribahasa ini juga dapat ditafsirkan secara bebas bahwa seseorang yang berniat jahat dapat menyelubungi maksud sejatinya dengan senyuman, kata-kata manis, pujian, bujuk rayu, keramahtamahan di depan layar, belati di belakang layar. Bukan maksud saya menakut-nakuti Anda, tetapi tidak ada salahnya selalu ingat dan waspada.
Di era krisis multidimensi global seperti saat ini, orang-orang
berusaha mengobati kepedihan akibat kesulitan ekonomi dengan memanjakan diri
dengan keindahan yang bisa langsung mereka nikmati dengan panca indera.
Keindahan artifisial yang terjangkau, walaupun tidak selalu mencerminkan
kenyataan. Contoh: kita akan lebih tertarik dengan seseorang yang mahir dalam
berkata-kata manis, daripada seorang dingin dalam bersikap. Betul tidak?
Saya yakin kita semua pernah merasakan ‘nikmatnya’ tertipu
oleh seseorang yang kita anggap bukan orang lain dalam hidup kita; seorang
sahabat, rekan seperjuangan, atau teman curhat. Teman saya bilang, tidak ada
yang mengalahkan ‘kenikmatan’ ditusuk dari belakang oleh seseorang yang kita
percaya. Membalas perbuatan mereka, atau mendoakan mereka lekas masuk neraka,
sama sekali tidak membantu meredakan kekecewaan yang kita rasakan.
Menjaga kebersihan mental
Kolam renang Kendedes, Singosari, Malang, merupakan tempat
di mana saya ‘membesarkan’ anak-anak, mulai dari mereka masih kecil sampai saat
ini. Suatu hari, saya melihat ada yang unik di kolam renang yang dikelola oleh
koperasi milik Angkatan Udara RI ini.
Ada spanduk yang isinya tentang himbauan menjaga kebersihan membentang
di pagar area pelinggih (tempat meletakkan sesajen) di sisi barat kompleks
kolam renang yang juga diketahui sedikit orang sebagai situs sejarah. Entah
masih terpasang atau tidak saat ini, saya belum berkunjung lagi ke kolam renang
di mana tiga sampai empat mata air senantiasa mengalir bahkan di musim kemarau.
Bagi para pemeluk Kepercayaan Asli Siberia, menjaga
kebersihan mental sama pentingnya dengan menjaga kebersihan pribadi maupun lingkungan
sekitar. Menghadapi kerasnya alam Siberia yang dingin menusuk tulang, bertahan
hidup artinya bergantung sepenuhnya pada kerjasama komunitas. Apabila salah
satu anggota komunitas punya perasaan negatif, seperti rasa iri, dengki, marah,
serakah, dan sederet perasaan negatif lainnya, inilah awal rentetan kesialan bagi
komunitas itu sendiri.
Karena urusan kebersihan mental merupakan tanggung jawab
masing-masing, para penganut Kepercayaan Asli Siberia wajib aware terhadap situasi
perasaan mereka sendiri. Bibit-bibit niat jahat adalah pertanda terjadi
pelemahan dalam jiwa seseorang. Pada saat niat jahat mulai muncul dalam diri sendiri,
mereka wajib menekan kemunculannya dengan ‘mengorbankan’ sedikit harta yang
mereka miliki untuk menyediakan sesajen untuk kemudian dimasukkan ke dalam api.
Sesajen dimaksudkan sebagai pralambang perasaan negatif, yang selanjutnya mereka musnahkan di atas bara api sebelum niat jahat itu membesar. Anak-anak para penganut Kepercayaan Asli Siberia diajarkan untuk memupus niat tidak baik kecil secepat mungkin, karena niat jahat yang timbul terus menerus adalah pertanda jiwa seseorang sedang sakit. Penyakit itu bisa menjangkiti seluruh tubuh, begitu pula mental mereka.
Niat jahat itu ‘normal’
Manusia mana pun di muka Bumi ini pasti pernah memiliki niat
jahat, termasuk saya sendiri. Walaupun lingkup niat jahat kita hanya
kaleng-kaleng, misalnya berniat terlambat masuk sekolah, terlambat masuk kerja,
atau pura-pura lupa mengembalikan buku pinjaman yang sangat kita suka isinya.
Tidak semua orang cukup kuat menghadapi krisis global jaman
now dengan kerja keras dan ketabahan hati. Tidak sedikit orang yang memilih
jalan singkat guna mewujudkan keinginan dan ambisi pribadi masing-masing,
karena mereka tidak percaya bahwa komunitas mampu membantu meredakan rasa sakit
yang mereka rasakan.
Maka dari itu, sebaiknya kita jangan terlalu shock ketika
menangkap basah niat buruk seorang teman. Telah terjadi ketidakseimbangan dalam
jiwa orang-orang semacam ini, sehingga hanya mereka sendiri yang mampu
memperbaiki diri dengan cara mengubah kecenderungan negatif itu sebelum menjadi
boomerang.
Satu saran saya: sakit hati akibat perilaku orang-orang seperti ini merupakan tindakan buang-buang waktu, sedangkan kita hanya punya waktu 24 jam dalam 1 hari. (dswas).
