Minggu, 05 Juli 2026

Cara Mengatasi Niat Jahat

“The road to hell is paved with good intentions (suatu keadaan sulit dapat bermula dari niat yang baik).” Peribahasa ini juga dapat ditafsirkan secara bebas bahwa seseorang yang berniat jahat dapat menyelubungi maksud sejatinya dengan senyuman, kata-kata manis, pujian, bujuk rayu, keramahtamahan di depan layar, belati di belakang layar. Bukan maksud saya menakut-nakuti Anda, tetapi tidak ada salahnya selalu ingat dan waspada.

Di era krisis multidimensi global seperti saat ini, orang-orang berusaha mengobati kepedihan akibat kesulitan ekonomi dengan memanjakan diri dengan keindahan yang bisa langsung mereka nikmati dengan panca indera. Keindahan artifisial yang terjangkau, walaupun tidak selalu mencerminkan kenyataan. Contoh: kita akan lebih tertarik dengan seseorang yang mahir dalam berkata-kata manis, daripada seorang dingin dalam bersikap. Betul tidak?

Saya yakin kita semua pernah merasakan ‘nikmatnya’ tertipu oleh seseorang yang kita anggap bukan orang lain dalam hidup kita; seorang sahabat, rekan seperjuangan, atau teman curhat. Teman saya bilang, tidak ada yang mengalahkan ‘kenikmatan’ ditusuk dari belakang oleh seseorang yang kita percaya. Membalas perbuatan mereka, atau mendoakan mereka lekas masuk neraka, sama sekali tidak membantu meredakan kekecewaan yang kita rasakan. 


Illustrasi: Mulyoagung, Dau, Malang.


Menjaga kebersihan mental

Kolam renang Kendedes, Singosari, Malang, merupakan tempat di mana saya ‘membesarkan’ anak-anak, mulai dari mereka masih kecil sampai saat ini. Suatu hari, saya melihat ada yang unik di kolam renang yang dikelola oleh koperasi milik Angkatan Udara RI ini.

Ada spanduk yang isinya tentang himbauan menjaga kebersihan membentang di pagar area pelinggih (tempat meletakkan sesajen) di sisi barat kompleks kolam renang yang juga diketahui sedikit orang sebagai situs sejarah. Entah masih terpasang atau tidak saat ini, saya belum berkunjung lagi ke kolam renang di mana tiga sampai empat mata air senantiasa mengalir bahkan di musim kemarau.

Bagi para pemeluk Kepercayaan Asli Siberia, menjaga kebersihan mental sama pentingnya dengan menjaga kebersihan pribadi maupun lingkungan sekitar. Menghadapi kerasnya alam Siberia yang dingin menusuk tulang, bertahan hidup artinya bergantung sepenuhnya pada kerjasama komunitas. Apabila salah satu anggota komunitas punya perasaan negatif, seperti rasa iri, dengki, marah, serakah, dan sederet perasaan negatif lainnya, inilah awal rentetan kesialan bagi komunitas itu sendiri.

Karena urusan kebersihan mental merupakan tanggung jawab masing-masing, para penganut Kepercayaan Asli Siberia wajib aware terhadap situasi perasaan mereka sendiri. Bibit-bibit niat jahat adalah pertanda terjadi pelemahan dalam jiwa seseorang. Pada saat niat jahat mulai muncul dalam diri sendiri, mereka wajib menekan kemunculannya dengan ‘mengorbankan’ sedikit harta yang mereka miliki untuk menyediakan sesajen untuk kemudian dimasukkan ke dalam api.

Sesajen dimaksudkan sebagai pralambang perasaan negatif, yang selanjutnya mereka musnahkan di atas bara api sebelum niat jahat itu membesar. Anak-anak para penganut Kepercayaan Asli Siberia diajarkan untuk memupus niat tidak baik kecil secepat mungkin, karena niat jahat yang timbul terus menerus adalah pertanda jiwa seseorang sedang sakit. Penyakit itu bisa menjangkiti seluruh tubuh, begitu pula mental mereka.

Niat jahat itu ‘normal’

Manusia mana pun di muka Bumi ini pasti pernah memiliki niat jahat, termasuk saya sendiri. Walaupun lingkup niat jahat kita hanya kaleng-kaleng, misalnya berniat terlambat masuk sekolah, terlambat masuk kerja, atau pura-pura lupa mengembalikan buku pinjaman yang sangat kita suka isinya.

Tidak semua orang cukup kuat menghadapi krisis global jaman now dengan kerja keras dan ketabahan hati. Tidak sedikit orang yang memilih jalan singkat guna mewujudkan keinginan dan ambisi pribadi masing-masing, karena mereka tidak percaya bahwa komunitas mampu membantu meredakan rasa sakit yang mereka rasakan.

Maka dari itu, sebaiknya kita jangan terlalu shock ketika menangkap basah niat buruk seorang teman. Telah terjadi ketidakseimbangan dalam jiwa orang-orang semacam ini, sehingga hanya mereka sendiri yang mampu memperbaiki diri dengan cara mengubah kecenderungan negatif itu sebelum menjadi boomerang.

Satu saran saya: sakit hati akibat perilaku orang-orang seperti ini merupakan tindakan buang-buang waktu, sedangkan kita hanya punya waktu 24 jam dalam 1 hari. (dswas).

Minggu, 28 Juni 2026

Menghindari Kesia-siaan Terbesar Dalam Hidup

“Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit (many a little makes a mickle)” adalah prinsip hidup orang-orang sukses macam Oprah Winfrey dan George Soros. Mereka hidup di masa ketika dunia sedang susah-susahnya dan tempat yang berbahaya untuk tumbuh dan berkembang. Kesuksesan mereka dan orang-orang seperti mereka bukan hanya menginspirasi banyak orang. Namun, juga menumbuhkan rasa iri dalam benak tidak sedikit orang, yang karena berbagai faktor tidak mempunyai privilese untuk bisa sesukses orang-orang kaya sejagat raya.   

Kita boleh saja menghakimi orang-orang semacam ini dengan berbagai sebutan, toh hidup mati seseorang urusan masing-masing. Tidak ada kaitan antara kehidupan orang lain dan kehidupan kita beserta keluarga, sehingga apa yang mereka rasakan terhadap perbuatan kita kepada mereka juga bukan tanggung jawab kita. Ya atau tidak, mana jawaban yang paling berasal dari lubuk hati terdalam?

Saya menilai sikap semacam ini sebagai sebuah kesia-siaan, pemborosan terbesar dalam hidup. Mengapa? Tidak selalu perasaan senang hati yang timbul dari pilihan untuk bersikap seperti ini. Sampah-sampah hati yang bernama rasa sedih, kesal, marah, benci, malu, dan sederet perasaan negatif lainnya lebih sering muncul sebagai hasilnya.

Di sisi lain, sampah adalah masalah terbesar yang harus diatasi manusia saat ini. Alih-alih mengirim bom nuklir, sebuah negara dapat menghancurkan peradaban negara lain dengan mengirim sampah. Bukan saja sampah dalam pengertian sesuatu yang kotor dan berbau, melainkan juga ‘sampah’ dalam bentuk hasil turunan suatu produk. Misalnya, plastik yang merupakan bentuk turunan ke sekian daripada minyak dan gas bumi. 


Ilustrasi: Punden Mojorejo, Dau, Malang. 


‘Kuras’ sampai habis

Masyarakat penganut Kepercayaan Asli Ket, yang tinggal di Siberia, Rusia, menggantungkan kehidupan mereka pada alam dalam segala hal; hutan sebagai penghasil bahan bangunan untuk mendirikan rumah, laut dan danau sebagai penghasil ikan untuk santapan keluarga. Mengambil dari alam bukanlah sesuatu yang dilarang, tetapi penuh perhitungan agar bisa menyambut masa depan dengan kebahagiaan dan bukan kecemasan.

Selain melakukan upacara permohonan izin sebelum berbuat sesuatu di alam, tebang pilih dan selektif dalam berburu, ada satu prinsip krusial yang tidak mereka tinggalkan. Yaitu, memanfaatkan segala sesuatu yang mereka ambil dari alam semaksimal mungkin hingga tak bersisa agar tidak menimbulkan timbunan sampah.

Dalam sudut pandang para penganut Kepercayaan Asli Ket, binatang dan tumbuhan yang mereka santap atau manfaatkan adalah anugerah dari alam. Menyia-nyiakan sisa-sisanya sama artinya dengan tidak menghargai jerih payah mereka sendiri, apalagi bila sampai membuang sisa-sisa jeroan binatang, atau ikan yang sudah membusuk ke sungai atau danau. Bahkan kulit dan tulang beruang atau rusa bisa mereka ubah jadi bahan tenda. pakaian, atau gagang pisau.

Jauh sebelum orang-orang di desa saya sibuk mengumpulkan sampah plastik untuk ditukar uang receh di bank sampah, masyarakat penganut Kepercayaan Asli Ket sudah menemukan cara untuk hidup minimal tanpa sampah. Karena bagi mereka ‘nyampah’ adalah perbuatan yang sangat dibenci para leluhur. Ironisnya, kita baru memahami alasan di balik prinsip kepercayaan ini setelah lautan sampah menjadi bukit dan menciptakan longsor yang menelan korban jiwa.

Sampah yang paling mudah didaur ulang

Jadi sudah paham ‘kan mengapa sampah hati adalah sampah yang paling mudah kita daur ulang? Kesulitan ekonomi membuat jutaan orang di dunia ini sangat rentan mengalami perasaan tertekan. Ada 90% kemungkinan kita akan bertemu salah satu dari mereka dalam kehidupan sehari, entah di jalan, di sekolah, tempat kerja, pasar, dll. Walaupun kita tidak bertanggung jawab atas apa yang dirasakan orang lain, karena seluruh manusia itu lahir dan mati dalam keadaan sendiri dan tidak mengajak siapa pun. (dswas). 

Sabtu, 20 Juni 2026

‘Mental Bantuan’ Awal Kehancuran Segalanya

Ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump membubarkan USAID (US Agency for International Development) segera setelah ia dilantik 2025 lalu, mayoritas dunia menyambutnya dengan desah nafas panjang. Betapa tidak,  lembaga itu sudah menyalurkan bantuan untuk 130+ negara di seluruh dunia sebagai dukungan pada berbagai sektor, khususnya pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, pemeliharaan demokrasi, dll. sejak didirikan pada 1961.   

Keputusan Trump membubarkan lembaga ini sebenarnya sangat masuk akal, antara lain karena AS harus menanggung utang yang sangat besar akibat fokus pemerintahan berbagai era sebelumnya terhadap perkembangan di berbagai negara di dunia. Saat didirikan, beberapa negara penerima bantuan sedang mengalami kondisi sulit akibat berbagai hal, misalnya, bencana alam atau konflik politik, sehingga kehidupan rakyat mereka terbengkalai.

Namun, beberapa negara penerima bantuan USAID lainnya sebenarnya ‘baik-baik saja’ saat lembaga tersebut mulai mencairkan dana. Mereka tidak kaya raya, tetapi tidak mengalami bencana kelaparan atau perang besar. Sebut saja negara-negara Asia seperti Indonesia, India, China, Bangladesh, Filipina, dll., seperti yang terlihat di bagan ini. Mirisnya, taraf kehidupan di negara-negara penerima bantuan juga masih ‘gitu-gitu aja’ sejak saat bantuan pertama kali ditransfer oleh USAID hingga saat dihentikan.

Kalau Anda mengklik tautan yang saya berikan di atas, akan terlihat peta dunia berikut nama negara beserta jumlah bantuan yang mereka terima dari Amerika Serikat. Semakin gelap warna biru suatu negara, semakin besar bantuan yang diterima negara itu. Saya belum tahu bagaimana pihak Amerika Serikat mengontrol dan memeriksa sejauh mana efektivitas bantuan yang mereka salurkan bagi negara penerima. Apakah negara penerima sudah bisa memperbaiki kehidupan mereka: sudah lebih maju, sehat, terdidik, dan lebih demokratis setelah mereka menerima bantuan dari Amerika Serikat?

Bila tidak, mengapa tidak diterapkan shock therapy bagi negara-negara penerima bantuan agar mereka mau memperbaiki situasi mereka? Dan yang lebih penting mencemaskan lagi adalah, mengapa sebuah negara besar seperti Amerika Serikat tidak memiliki sistem untuk mengevaluasi sejauh mana uang yang mereka habiskan benar-benar bermanfaat bagi negara yang mereka pilih untuk dibantu? 


Ilustrasi: Pantai Ngliyep, Malang Selatan. 


Wajib memberi, wajib menerima  

Sebelum kita tiba di zaman modern di mana manusia mengandalkan dirinya sendiri untuk menyelesaikan segala permasalahan hidup, di masa lampau (dan di masa sekarang) para penganut Kepercayaan Asli Siberia menganggap memohon bantuan adalah sesuatu yang lumrah. Ketika mereka akan berburu di hutan atau memancing di laut, kondisi alam yang kondusif jelas akan sangat membantu mereka agar memperoleh apa yang dicari, yaitu binatang buruan atau ikan untuk disajikan sebagai lauk makan malam keluarga mereka.

Alam mempunyai sifat yang sukar diprediksi. Maka Tengerisme sebagai salah satu percabangan Kepercayaan Asli Siberia menyusun pedoman yang mempersiapkan para penganutnya untuk selalu siap menghadapi segala fenomena alam. Hidup sederhana dan bersedia menjaga kelestarian alam sekitar adalah beberapa hal kecil yang wajib dijalankan, bukan agar mukjizat datang dan mengubah hidup mereka.

Dalam logika sederhana, hidup sederhana artinya lebih sedikit mengonsumsi dan lebih sedikit menghabiskan. Apabila diterapkan sungguh-sungguh, kelangkaan ikan atau binatang buruan bisa dicegah. Misi berburu dan memancing berhasil, keluarga di rumah bisa makan lezat setiap hari.

Tengerisme mengenal sesajen, sama seperti banyak kepercayaan asli lainnya di seluruh dunia. Namun, bagi mereka sesajen lebih bermakna sebagai pengakuan atas keberadaan alam itu sendiri dan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Sesajen tak punya arti apa-apa bila tidak dibarengi tingkah laku sesuai pedoman yang telah disusun nenek moyang mereka.  

Tanpa pamrih hanya mitos

Bahkan sebuah badan amal pun punya sederet peraturan bagi penerima bantuan. Sungguh naif kalau kita percaya 100% pada sebuah entitas yang menyatakan mereka tulus dan ikhlas bersedia memberikan bantuan tanpa mengharap atau keinginan mendapatkan sesuatu. Seandainya bantuan keuangan yang sangat murah hati tidak disertai batasan dan aturan tentang cara pemanfaatannya, jangan bersorak kegirangan.

Setelah sekian puluh tahun hidup susah, Anda mendadak kaya karena bantuan seseorang, lalu mendadak susah lagi karena bantuan itu mendadak hilang. Bersediakaj Anda kembali ke kehidupan lama, kehidupan sebelum menerima bantuan, dengan rela dan tanpa penyesalan, tanpa kegalauan?  (dswas).

Minggu, 14 Juni 2026

Kaitan Antara Kesabaran dan Kesejahteraan

Permainan sepak bola pada dasarnya adalah upaya 10 orang dalam satu tim (minus penjaga gawang) menggiring bola di tanah lapang sepanjang 105 meter untuk memasukkannya ke gawang lawan, yang dilakukan secara terus menerus meski mereka berulang kali gagal. Kabar baiknya, mereka punya waktu selama 90 menit untuk mencoba, yang bisa diperpanjang selama 30 menit. 

Artinya, seorang pesepakbola sudah semestinya merupakan sosok penyabar, karena pemenang bisa saja tidak dapat ditentukan bahkan setelah 120 menit habis untuk berlarian mengejar bola. Kesabaran juga dibutuhkan para suporter yang harus rela menyisihkan uang demi memberikan dukungan semangat  buat tim kesayangan mereka, di mana pun mereka ‘pentas’.

Sementara suporter yang tidak bisa hadir di stadion harus rela bangun di tengah malam, mengorbankan jam tidur mereka demi menyaksikan laga para bintang kesayangan mereka. Oleh karena itu, saya tidak habis pikir mengapa ada pemain maupun penonton yang terlibat adu fisik gara-gara sepak bola.

Mungkin lantaran pemberitaan media tentang gemerlap kehidupan para selebritis sepak bola dan kekayaan mereka berhasil menyembunyikan fakta bahwa betapa besarnya kesabaran yang perlu dimiliki untuk bisa mengantar tim mereka jadi juara. Ironisnya, pemberitaan semacam inilah yang justru laris karena kita menganggapnya lebih enak ‘dimakan’.

Hal ini tidak lain karena manusia membutuhkan tempat pelarian dari getirnya kenyataan hidup, suatu hal yang sah-sah saja sebab tidak melanggar hukum dan undang-undang. Yang kita langgar adalah hak kita sendiri untuk hidup tenang dan terbebas dari penderitaan batin, alias stress. 


Ilustrasi: Bunga wijayakusuma (fishbone cactus) mekar beberapa detik saja di malam hari,
sebelum menguncup kembali dan layu di pagi hari. 


Adaptasi implementasi kesabaran

Sabar tidaklah semudah mengobral kata tentang sabar itu sendiri. Bagaimana kalau kita belajar tentang sabar kepada masyarakat suku tradisional Siberia? Di tengah suhu sekian puluh minus derajat Celcius yang membekukan segalanya, di sebuah tempat di Bumi di mana salju dan es membentang sejauh mata memandang, di sanalah mereka tinggal berabad-abad lamanya.

Akan tetapi, suhu ekstrem tak membekukan kehalusan perasaan, juga akal budi mereka. Ini dibuktikan dengan adanya Kepercayaan Asli Siberia yang salah satu ajarannya adalah tentang sabar mengamati arah gerak alam sekitar, sebelum memutuskan ke arah mana tangan dan kaki bergerak demi tujuan mencapai kesejahteraan hidup di tengah situasi yang menantang akal sehat.

Berbeda dari masyarakat perkotaan, masyarakat asli Siberia tidak setiap saat pergi berburu beruang atau menangkap ikan di sungai. Kesabaran mereka menanti saat yang tepat untuk segala aktivitas eksploitasi alam merupakan bentuk penerapan ilmu manajemen sumber daya alam dalam kehidupan nyata. Faktanya, segala kerusakan yang terjadi dalam kehidupan manusia modern umumnya berpangkal dari ketidaksabaran.

Kesabaran yang diajarkan Kepercayaan Asli Siberia bukanlah soal penantian yang pasif, bukan pasrah mengikuti arah angin bertiup. Melainkan lebih tentang kerelaan untuk senantiasa menyamankan diri dengan perubahan situasi, sembari tidak kehilangan fokus dalam memelihara keharmonisan dengan sesama maupun alam sekitar.  

Sebagai komunitas nomaden, masyarakat asli Siberia bisa saja bermigrasi ke wilayah lain yang lebih hangat, lebih hijau, dengan temperatur yang lebih bersahabat. Namun, bersenjatakan pengetahuan mendalam tentang alam sekitar, para leluhur mereka memilih bertahan di tengah suhu ekstrem Kutub Utara dari generasi ke generasi, dan berhasil survive hingga saat ini.

Dampak jalan pintas

Adalah wajar jika kita ingin mencapai sesuatu yang lebih dalam hidup. Bukankah tanpa ambisi seseorang, tidak mungkin ada internet di antara kita? Namun, internet diciptakan melalui proses panjang selama bertahun-tahun. Sementara manusia modern lebih mengutamakan cara-cara mudah dan cepat untuk bisa memegang uang dalam genggamannya.

Herannya, semakin mudah kita mendapat uang hari ini, semakin berbelit dampak ikutan yang musti kita hadapi di belakang hari.  Semakin mudah dan cepat kita menjual lahan pertanian milik keluarga, mengapa semakin cepat ludes pula uang yang kita dapat? (contoh)

Jalan pintas memang bisa membawa kesejahteraan, walaupun hanya sebentar. 

Minggu, 07 Juni 2026

Memelihara Rejeki Agar Tak Pernah Habis

Karena tiada yang abadi di dunia ini, segalanya pasti akan habis, berakhir, atau mati. Kita sudah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa ini bukan sekadar retorika, melainkan realita. Sebuah dinasti bisa jatuh bangkrut, negara makmur bisa tenggelam akibat utang, sumber daya alam melimpah bisa licin tandas, dan sumber air juga bisa berhenti mengalir. Kita cenderung menanggapi titik akhir dengan kepanikan, padahal kematian adalah suatu hal alamiah yang bisa menimpa siapa saja.

Bagi mereka yang sudah ditempa pengalaman maupun ilmu institusi pendidikan formal, manajemen adalah kunci untuk mencegah ‘kiamat’ agar tak menjadi kenyataan. Sebagian besar orang cenderung menganggap meskipun berhemat adalah cara memperpanjang persediaan sumber yang kita miliki, baik yang berwujud sumber daya alam maupun sumber keuangan. Tidak sulit dilakukan meski harus ‘berkorban’.

Hingga saat ini, kita belum bisa benar-benar mengimplementasikan langkah-langkah yang bisa memperbanyak debit air suatu mata air, misalnya, atau menemukan sebuah metode untuk menambah cadangan minyak bumi dan gas. Dalam perspektif sebagian besar manusia, alam sekitar hanyalah benda mati untuk dieksploitasi sampai kering kerontang. Belum terbit gagasan dalam benak para cendekiawan sejagat untuk mengganti apa yang sudah mereka ambil, apalagi memelihara suatu sumber daya alam agar terus mengalirkan rejeki untuk manusia.


Ilustrasi: Sumber Waras, Lawang, Malang. 



Disiplin menghargai alam   

Kebiasaan meminta izin pada alam sekitar sebelum mengambil atau mengeksploitasi apa yang ada di dalamnya tidak mudah dilakukan ketika orang-orang di sekitar kita tidak menjalankannya. Apalagi bagi para penganut Kepercayaan Tradisional Dvoieverie, khususnya mereka yang tinggal di perbatasan Ukraina dan Rusia serta menjadi bagian dari angkatan perang masing-masing kubu.

Demi tugas negara, mereka tinggal di rimba belantara hingga berbulan-bulan. Mereka berteman kesunyian dan mau tidak mau mendapat perlindungan dari pepohonan, makanan, minuman, bahkan obat-obatan dari segala yang ada di hutan. Di tengah tekanan itu mereka menyadari kemurahan hati alam sekitar, meski mereka ‘tidak datang dengan damai’ sebagaimana sekelompok pemburu yang berburu kelinci di hutan.

Tanpa aba-aba, perintah, instruksi, maupun komando, para penganut Dvoieverie di kalangan militer Ukraina dan Rusia mempunyai kebiasaan meninggalkan sesajen di tepi hutan atau mata air, sebelum mereka masuk ke dalam hutan, mengambil air, memancing, berburu, atau mengambil apa pun di sana. Selain sebagai simbolisasi permohonan izin dan ucapan terima kasih pada alam sekitar, sesajen juga merupakan bentuk pengorbanan yang hanya dapat terwujud berkat adanya kedisiplinan diri.  

Karena kedua pihak sama-sama membutuhkan rimba sebagai tempat bersembunyi, mereka tidak mengizinkan siapa pun, kecuali kubu tentara swasta, untuk memasuki area hutan di sekitar perbatasan Ukraina dan Rusia. Konflik berkepanjangan menjadi satu-satunya hal yang membuat kawasan ini terhindar dari tangan para korporasi global haus darah.

Berhemat bukan satu-satunya cara

Ya, berhemat bukan satu-satunya jalan yang musti kita tempuh untuk menjaga kontinuitas segala keberlimpahan alam. Alih-alih cara bertahan hidup, berhemat justru akan menjadi sumber kesedihan dan keterpurukan kita ketika kita menjalankannya dengan penuh keterpaksaan. Apalagi bila kita belum dapat menyingkirkan keinginan untuk ‘menikmati hidup yang senikmat dahulu kala’, karena, yah, masa lalu tidak akan pernah kembali.

Sebelum mampu memelihara alam dan menikmati hasil upaya tersebut, kerendahan hati untuk ‘memanusiakan’ alam wajib muncul terlebih dulu. Bila tidak, itu bukan masalah besar. Yang jadi masalah besar adalah ketika suatu saat mata air berhenti mengalirkan air, cuaca panas akibat habisnya kawasan hijau, atau hal-hal sepele lainnya yang mendadak hilang dan tak bisa lagi kita nikmati. (dswas).

Minggu, 31 Mei 2026

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan sepak bola bisa gagal meraih kemenangan ketika striker menolak memberikan bola kepada rekannya, lantaran terlalu ingin namanya tercatat sebagai pencetak gol. Sebagai akibatnya, peluang demi peluang terlewat sia-sia karena ambisi pribadi menolak berkompromi guna mencapai tujuan bersama.

Gotong royong juga tak kalah merdu bagi siapa pun yang mendengar frasa ini. Membantu sesama bukanlah perkara besar di saat semua ‘baik-baik saja’. Ketika pekerjaan dan gaji kita lancar, atau ketika tidak terjadi inflasi besar-besaran. Ketika kita tidak merasa berat mengeluarkan uang pribadi untuk sesuatu yang dibutuhkan orang banyak. Ketika kita tidak menghela nafas panjang karena ajakan berpartisipasi sebagai donatur suatu kegiatan komunitas.

Akan tetapi, kerelaan untuk berkorban demi komunitas tidak melulu termanifestasi dalam bentuk sumbangan materi; uang, hewan, bahan makanan, atau apa pun yang bisa dilihat dan diraba. Ada pengorbanan yang mewajibkan kita rela menekan ambisi dan kehendak pribadi, walaupun sudut pandang kita menganggap ambisi tersebut baik demi kesejahteraan bersama. Dalam era di mana citra pribadi menjadi senjata untuk meningkatkan nilai diri sendiri di hadapan publik, sebagaimana kisah dari lapangan bola di atas, pengorbanan semacam ini bisa terasa sangat berat. 


Ilustrasi: lapangan sepak bola di Malang.


Seimbang berkat beruang

Meskipun memiliki bentuk fisik yang tampak buas dan menakutkan, keberlanjutan suatu kawasan hutan bisa terancam apabila satwa endemiknya punah, di antaranya beruang. Melalui pola makannya, beruang telah berperan serta menyuburkan ekosistem hutan melalui sisa-sisa bangkai mangsanya. Dengan memangsa beberapa spesies satwa herbivora, beruang mencegah ledakan populasi mereka agar rumput dan tumbuhan yang menjadi sumber pangan meerka tidak lekas habis (sebagaimana yang dialami manusia dewasa ini).

Maka dapat dimengerti mengapa para pemeluk Kepercayaan Asli Karelia menganggap beruang sebagai hewan sakral yang dilarang diburu sembarangan, apalagi dimakan dagingnya. Para leluhur Karelia memandang beruang sederajat dengan manusia, sehingga memakan daging beruang adalah kanibalisme. Pandangan yang wajar, bahkan hingga hari ini. Mengingat maraknya kebiasaan “memakan” sesama hanya akan berujung penyesalan entah kapan dan di mana.

Para penganut Kepercayaan Asli Karelia juga menjalankan beberapa kebiasaan lain yang bertujuan menjaga keseimbangan ekosistem hutan bagi seluruh makhluk hidup, termasuk beruang. Sebagai contoh, sebelum membangun rumah, keluarga dari komunitas ini akan menanam sekelompok bakal pohon sesuai jumlah anggota keluarganya.

Logikanya, ekosistem hutan yang sehat akan menjamin kelangsungan hidup kawanan hewan-hewan herbivora, mangsa sang beruang. Apabila perut beruang kenyang berkat apa yang terdapat di hutan, maka kemungkinan serangan beruang terhadap pemukiman penduduk maupun kawanan hewan ternak mereka bisa diperkecil. Kesadaran ini menjadi norma dalam kehidupan sehari-hari para pemeluk Kepercayaan Asli Karelia, karena para leluhur mereka mengajarkan untuk tidak merendahkan alam sekitar.

Pengorbanan dan masokisme

Berkorban demi komunitas itu tidak segampang teorinya, apalagi di masa krisis ekonomi global seperti sekarang. Memang, menyumbangkan materi maupun bersedia menyingkirkan ego berakibat kerugian materi dan perasaan bagi kita. Bukankah 4-2 selalu = 2? Bukankah uang kita akan berkurang? Bagaimana bila di lain waktu sejumlah orang di luar sana hanya memperalat kedermawanan kita demi kepentingan mereka sendiri?

Berkaca dari kebiasaan para penganut Kepercayaan Asli Karelia, segala sesuatu bisa dimenej agar bisa terus mendatangkan manfaat dalam jangka panjang. Kemampuan manajerial seperti ini tidak diajarkan di sekolah maupun kampus manapun, melainkan akan kita kuasai dengan sendirinya apabila ada niat memelihara keberlanjutan baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam. Apabila sudah ada kesadaran dalam membedakan mana pemahaman yang cenderung masokis, dan mana yang benar-benar berlandaskan cinta sejati. (dswas).



Minggu, 24 Mei 2026

Trik Jitu Atasi Rejeki Seret

Ada satu hal yang paling ditakuti para pengusaha, yaitu ketika cara meraih untung menjadi lebih mahal. Saat perubahan ini terjadi, para produsen barang dan jasa berpikir seribu kali untuk menaikkan harga produk mereka, terutama untuk produk tersier. Mereka sangat paham bahwa ‘konsumen adalah raja’. Artinya, segencar apapun promo yang dilancarkan para produsen, keputusan membeli atau tidak tetap berada di tangan konsumen dan tak seorang pun yang bisa ikut campur menyangkut preferensi pribadi.

Namun, itu dulu. Dewasa ini, ada banyak jalan yang bisa ditempuh para produsen guna menaklukkan para konsumen agar mereka tunduk pada keinginan para produsen, alias mau membelanjakan uang mereka. Mulai dari menurunkan harga semurah mungkin (dengan seringkali mengorbankan kualitas), hingga promosi yang secara blak-blakan melanggar ranah privasi para pelanggan (menelepon, mengirim pesan singkat, dll.). Trik ini memang berhasil membawa hasil dalam bentuk peningkatan penjualan, walaupun dalam jangka pendek.

Dalam jangka panjang, kekesalan akan muncul di para produsen lama yang sudah lebih dulu menjual produk mereka dengan harga lebih tinggi. Mereka bukan hanya kehilangan pelanggan, tetapi bahkan juga menghadapi ancaman (atau sudah) gulung tikar akibat menolak menurunkan standar demi agar produk mereka dibeli orang. Di kubu seberang, para produsen yang berani pasang harga murah pun tidak serta-merta jadi pemenang, walaupun mereka unggul dalam hal statistik penjualan. Kok bisa?

Penyebabnya, lagi-lagi, kenaikan ongkos produksi. Ibaratnya, semakin mereka berusaha ‘melarikan diri’ dari ‘sang monster’ ini, semakin ia mendekat dan melambaikan cakat-cakarnya. Ini tidak aneh, karena manusia di mana pun merupakan bagian dari komunitas, baik komunitas tingkat RT maupun tingkat PBB. Adalah merupakan suatu kesesatan pikir apabila kita mengira bisa aman dan kaya raya sebagaimana rencana dan keinginan kita, ketika mereka yang ada di sekitar kita tidak merasakannya. 


Illustrasi: Pentungansari, Malang.


Permohonan maaf kepada alam

Dalam sudut pandang peradaban modern, alam sekitar itu hidup, tetapi seperti AI, mereka tidak memiliki perasaan dan juga tidak bisa berpikir. Manusialah yang berkuasa atas mereka, karena hanya manusia yang mampu menilai makna eksistensi mereka berdasarkan mata uang masing-masing.

Cuaca dapat dimanipulasi, tiruan matahari bisa dibuat, daging hewan dan sayur-sayuran bisa dibuat di laboratorium. Bila tujuan jangka panjang kemajuan teknologi ini memang positif, sudah barang tentu taraf hidup kita akan lebih baik. Alam sekitar kita seharusnya tidak rusak, karena teknologi kita sudah sangat maju dalam membuat bahan makanan yang tidak memerlukan eksploitasi alam, dan tidak perlu ditumbuhkan di ladang atau peternakan yang memakan banyak biaya.

Para penganut Kepercayaan Asli Siberia menganggap pepohonan dan binatang buruan tidak sekadar hidup, tetapi juga memiliki roh sebagaimana manusia yang bisa merasakan penderitaan dan kebahagiaan. Menurut ajaran kepercayaan ini, manusia sebaiknya mempertahankan kerendahan hati saat mengeksploitasi alam agar bisa menekan hawa nafsu serakah yang di kemudian hari merugikan diri sendiri.

Kerendahan hati dilambangkan dengan mempersembahkan sesajen kepada hutan sebelum memotong dahan sebatang pohon, atau sebelum memotong daging hewan buruan. Sesajen dipersembahkan sembari mengucapkan permohonan maaf atas tindakan mereka yang telah dengan sengaja menghilangkan nyawa binatang buruan dan pepohonan demi memenuhi kebutuhan hidup. 

Di kemudian hari, anggota komunitas suku pedalaman Siberia cenderung akan berpikir panjang sebelum berburu atau memotong sebatang pohon di hutan, mengingat berbelitnya prosesi yang harus dipatuhi. Sehingga, mereka umumnya tidak berlebihan dalam mengkonsumsi apa pun dengan tujuan memberi waktu pada pepohonan untuk tumbuh dan hewan-hewan buruan cukup umur untuk dimangsa.

Memelihara sekitar agar lancar rejeki

Kita semua berharap agar aktivitas kerohanian yang kita jalankan dapat mendatangkan mukjizat dalam hidup kita, agar turunlah cahaya yang membawa jawaban bagi segala permasalahan. Terutama untuk satu masalah yang sedang menjadi tren belakangan ini, yaitu masalah keuangan. Akan tetapi, tidak disarankan menjalankan ajaran leluhur demi mencapai tujuan ini, karena inti ajaran leluhur adalah serangkaian petunjuk untuk memelihara keharmonisan antara manusia dan sekitarnya.

Kita boleh saja menertawakan ajaran Kepercayaan Asli Siberia, walaupun sudah banyak dari kita yang mengalami bencana banjir dan punahnya spesies hewan tertentu akibat perburuan berlebihan. Namun, kita baru bisa melakukannya apabila apa yang menjadi pondasi hidup kita lebih mampu mendatangkan kesejahteraan bagi umat manusia, dan juga alam sekitar. Ketika perilaku kita sudah tak lagi jadi ancaman bagi sumber kehidupan kita sendiri. (dswas).

Cara Move On di Tengah Kebuntuan Stagflasi

DPR Inggris (UK House of Commons) terpana tak percaya ketika politisi Partai Konservatif dan mantan Chancellor of the Exchequer (Menteri Keu...