Stress bukanlah satu-satunya hal yang memotivasi siapa saja untuk mencicipi narkoba. Bagi sebagian kecil pengguna, mereka menggunakan zat terlarang ini untuk meningkatkan stamina dan kekuatan fisik. Logika di balik cara kerja beberapa jenis narkoba adalah meningkatkan kadar dopamin dalam otak secara singkat dan seketika setelah diinjeksikan, sehingga timbul sekonyong-konyong perasaan gembira. Karena merasa gembira, maka tubuh tidak merasakan lelah saat beraktivitas berat, misalnya, berolah raga.
Saya tidak membicarakan tentang seorang atlet yang terlibat
kasus doping, melainkan kisah pribadi dari zaman ‘kegelapan’. Beberapa tahun
silam saat masih menjadi pengguna aktif narkoba jenis leksotan, saya
mengonsumsinya beberapa saat sebelum berenang di siang hari yang panas. Sensasi
terbang dalam air yang jernih dan biru membuat tubuh terasa ringan, tidak lelah
meski sudah berenang beberapa jam. Seolah-olah terus mendapat suntikan energi
tanpa perlu berhenti sejenak untuk keluar dari air.
Setelah berenang, tubuh tidak terasa pegal-pegal. Saya masih
merasa cukup bugar untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, juga mengerjakan
tugas-tugas harian sebagai penulis dan penerjemah freelance. Ide-ide baru
seakan mengalir begitu saja, menghemat waktu yang biasanya saya gunakan untuk
membaca, melakukan riset online, dll.
Akan tetapi, leksotan juga biasa dikonsumsi anak-anak punk sebelum mereka pogo di sebuah pentas musik dengan tujuan mencari peluang untuk melampiaskan dendam pada musuh-musuh lama. Saya pun sudah merasakan bagaimana emosi mudah sekali meledak saat berada di bawah pengaruh obat terlarang ini. Sebagai contoh, saya menyeret anak bungsu saya (yang saat itu berumur 8 tahun) keluar dari kamar hanya karena ia tidak mau makan.
Dari tak terbatas menjadi terbatas
Walaupun telah merdeka dari Uni Soviet sejak 1991, di
Moldova istilah ‘kepercayaan asli’ akan mengarah pada Kepercayaan Asli Slavia
(Slavic Native Faith) yang juga eksis di beberapa negara eks Soviet lainnya seperti
Ukraina dan Latvia. Kepercayaan asli yang juga disebut Rodnovery ini menganggap
segala ketidaknyamanan dalam hidup berasal dari keterputusan antara manusia dan
alam, sebuah krisis spiritual dan eksistensial yang disebabkan oleh keputusan
si manusia itu sendiri.
Hubungan yang harmonis antara alam seisinya dan manusia
berarti memberi alam waktu untuk terus memperbarui diri, agar apa yang terdapat
di dalamnya selalu ada dan tak pernah habis walaupun terus digunakan untuk
memenuhi kebutuhan hidup manusia. Sistem tata kelola tradisional dalam sudut
pandang penghayat Rodnovery adalah mengambil dari alam sesuai yang dibutuhkan,
karena alam sekitar diperlakukan bukan sekadar benda mati yang bertanggung
jawab atas kelangsungan hidup manusia. Melainkan bagian dari sebuah kesatuan
jaringan besar, mitra yang tak berbicara tetapi senantiasa menyediakan segala
hal yang kita butuhkan.
Kegagalan menghormati dan memuliakan sang mitra pendiam ini
memicu munculnya keinginan yang berlebihan untuk mengonsumsi dan mengambil
tanpa henti. Sampai tibalah titik balik ketika alam sekitar tak mampu lagi
memberi, lantaran manusia modern yang tak mampu mengendalikan diri dan dorongan
untuk memuaskan keinginan. Akibat habisnya sumber daya alam, kebutuhan hidupnya
menjadi tidak terpenuhi seperti dulu. Keberlimpahan menjadi kekurangan, lalu
timbulah krisis ekonomi.
Sumber energi tak terbatas bukan mitos
Lalu apakah ini berarti sumber energi yang tak terbatas
jumlahnya hanyalah sebuah hoaks? Berkaca dari kisah zaman kegelapan di awal tulisan
ini, energi tak terbatas bisa dan sangat mungkin kita datangkan dengan bantuan
narkoba, berikut segala konsekuensinya. Bukan keputusan bijak, tentu saja.
Stamina manusia ada batasnya, tetapi dengan gaya hidup dan teknik olahraga yang
baik kita bisa sedikit memperpanjang jarak antara kondisi saat ini dan batas
yang tak bisa kita lampaui dalam hal kebugaran.
Kepercayaan Rodnovery memiliki pandangan yang sama dalam hal kebugaran manusia dan alam sekitarnya. Perhatian dan kasih sayang dibutuhkan oleh segala unsur yang hidup dan bergerak di dunia ini, sehingga terciptalah keharmonisan berkat keterkaitan yang dipelihara melalui berbagai tindakan sebagai simbolisasi pemuliaan. Misalnya, ritual dan sesajen. Keharmonisan inilah yang pada akhirnya mendatangkan rasa bahagia dalam beraktivitas sehari-hari, tanpa ketergantungan pada zat eksternal seperti narkoba. (dswas)
