Rabu, 17 Desember 2025

Menakar Ungkapan Terima Kasih Yang Aman

Olahraga tak bisa dipisahkan dari politik … dan kesenangan. Di balik gemerlap pesta olahraga dunia, seperti Olimpiade dan Piala Dunia FIFA, kisah-kisah kelam yang sama sekali tak ada hubungannya dengan olahraga menjadi penentu berlangsungnya turnamen. Saya tak membicarakan tentang sanksi olahraga akibat perang, melainkan proses panjang, berliku, dan ‘abu-abu’ terpilihnya suatu negara sebagai tuan rumah event olahraga internasional.

Tom Welch (seorang pengacara) dan David Johnson (ekonom) merupakan dua tokoh pejabat publik di pucuk pimpinan Salt Lake Bid Committee (Panitia Olimpiade Salt Lake), sebuah organisasi yang dibentuk untuk menangani pengajuan diri kota tersebut sebagai tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 2002. Komite ini sudah ‘berjuang’ mengajukan diri sebagai tuan rumah Olimpiade sejak 1986, tetapi berulang kali ditolak karena status sebagai kota besar di negara maju (Amerika Serikat) ternyata bukan jaminan memenangi hak sebagai tuan rumah turnamen besar.

Setelah Salt Lake kembali gagal menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin di tahun 1998, Welch gusar karena hak penyelenggara jatuh ke kota Nagano, Jepang (di mana Jepang adalah negara taklukkan Amerika Serikat di Perang Dunia II). Dibanding Piala Dunia FIFA, menjadi tuan rumah Olimpiade tidak selalu berarti peluang penghasilan dari kunjungan para suporter. Meski demikian, ada prestise dan kebanggaan yang akan dikenang masyarakat hingga bertahun-tahun setelahnya sebagai sebuah kota yang pernah mempersatukan berbagai negara sedunia dalam satu event olahraga.

Melalui koneksinya, Welch dan jaringannya berhasil mendapat bocoran bahwa Komite Olimpiade Nagano telah menghabiskan puluhan juta dolar untuk “acara selamat datang” bagi 62 anggota IOC (Komite Olimpiade Internasional) dari berbagai negara. Komite itu diduga telah menghabiskan sekitar 14 juta dolar untuk mengadakan acara makan malam sushi berkualitas terbaik, mandi air panas, dan para geisha.

Berdasarkan informasi ini, Komite Olimpiade Salt Lake menambah anggaran “pra-Olimpiade” mereka menjadi 16 juta dolar. Dana sebesar itu mereka gunakan untuk memberikan “hadiah’ bagi 20 orang anggota IOC dalam bentuk uang tunai, bingkisan, tiket pesawat dan akomodasi, bahkan biaya kuliah anak-anak mereka.

Salt Lake memang berhasil memenangi hak sebagai tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 2002. Akan tetapi, skandal keuangan ini terungkap beberapa bulan kemudian melalui investigasi yang dilakukan IOC dan Departemen Kehakiman AS. Hasilnya, Welch dan rekan-rekannya dibebaskan dari segala tuduhan, sementara 20 anggota IOC yang terlibat diberhentikan dari jabatan mereka. Tidak ada sanksi hukum yang dijatuhkan karena pemberian hadiah (dan menerimanya) dianggap tidak melanggar peraturan apa pun.

Pelestarian berawal dari memuliakan

Mengungkapkan rasa terima kasih bisa dilakukan dengan banyak cara, dan yang terpenting adalah melalui perbuatan. Mencermati contoh di atas, adalah naif apabila kita tidak merasakan keharusan untuk membalas segala hal yang menyenangkan dengan tindakan setara. Mudah sekali untuk membalas sebuah perbuatan baik apabila si pelaku perbuatan tersebut adalah manusia. Melanggar hukum atau tidak, itu tergantung peraturan di negara masing-masing. 


Ilustrasi: koleksi pribadi 

Persembahan (atau disebut juga sesaji) adalah tindakan yang dilakukan para penghayat Kepercayaan Asli Lithuania (Romuva) sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada alam seisinya atas hal-hal yang mereka ambil dari alam. Ini mencakup udara, air, kayu, hewan, tumbuhan, bahkan sumber daya alam seperti minyak dan gas. Dalam perspektif Romuva, rasa terima kasih perlu dirupakan sebagai cara menanamkan rasa rendah hati, komitmen, dan kesadaran untuk senantiasa menjaga kelestarian alam dan lingkungan.

Berawal dari rasa muak yang ditunjukkan peradaban modern belakangan ini, Romuva tumbuh menjadi organisasi berskala regional yang diakui pemerintah Lithuania. Berkat sudut pandang para penghayatnya yang terbuka, mereka menemukan banyak kemiripan dalam Hindu, terutama dalam hal pemuliaan terhadap leluhur dan alam sekitar. Keduanya juga sama-sama memaknai api sebagai sarana untuk menyempurnakan sesaji yang mereka haturkan sebagai ungkapan rasa terima kasih pada alam sekitar.

Melemparkan makanan (biji-bijian atau mentega) ke dalam api artinya kita “membuang” sesuatu yang sudah kita dapatkan dengan susah payah (bekerja, bertani, memasak, dll.) untuk dikembalikan pada alam. Dalam perspektif modern, ini adalah perbuatan sia-sia karena kita membuang-buang sesuatu yang seharusnya bisa kita nikmati bersama keluarga, apalagi di tengah situasi ekonomi sulit di mana kita harus berhemat agar bisa bertahan hidup.

Di zaman lampau, masyarakat tidak memiliki pikiran semacam ini karena gaya hidup mereka masih sangat sederhana, demikian pula kebutuhan mereka. Mereka tidak khawatir mengorbankan milik mereka demi sesuatu yang “bukan apa-apa”, karena apa yang mereka korbankan sebagai sesaji hari ini akan kembali tumbuh untuk mereka panen sebagai pemenuhan kebutuhan hidup di masa depan. Namun, pola pikir semacam ini dianggap tidak relevan seiring dengan biaya kebutuhan hidup yang kian hari kian mencekik.

Beratnya pengorbanan

Ketika Komite Olimpiade Salt Lake menandatangani persetujuan untuk merogoh 16 juta dolar dari anggaran pemerintah kota demi menyenangkan hati para anggota IOC, ada sesuatu yang ingin mereka dapatkan sehingga mereka rela “bertaruh” sekian puluh juta dolar demi terpilih menjadi tuan rumah Olimpiade. Artinya, “pengorbanan” ini dilakukan hanya dengan setengah hati karena komite tersebut tidak menggunakan uang pribadi masing-masing anggota demi tercapainya suatu status sebagai tuan rumah Olimpiade.

Dalam konteks Romuva, mengungkapkan rasa terima kasih pada alam sekitar bukanlah sesuatu yang sia-sia karena para penghayatnya bisa menyadarkan diri sendiri tentang manfaat tindakan itu sendiri. Sesaji biasanya terdiri dari bahan-bahan yang mudah terdegradasi (bunga, dedaunan, kemenyan, buah-buahan, biji-bijian, dll.) setelah terbakar dalam api. Sisa-sisa pembakaran akan dibuang ke tanah dan bertransformasi menjadi humus seiring waktu, sehingga tanah tetap terjaga kesuburannya walaupun kita terus mengambil darinya. Hasil pengorbanan memerlukan proses dan tidak instan.

Namun, kita merasa berat melakukannya karena “waktu adalah uang” dan menghitung hari pohon tumbuh besar adalah aktivitas yang membuang waktu, dan uang, tentunya …  (dswas)

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...