Rabu, 24 Desember 2025

Mematikan “Api” Yang Tak Kunjung Padam

Nasionalisasi aset dan atau perusahaan asing yang beroperasi di suatu negara adalah bagian dari tindak-tanduk politik yang sudah berumur puluhan tahun. Sejarah mencatat praktik ini pertama kali dilakukan oleh Uni Soviet di awal kesuksesan Revolusi Bolshevik di bawah kepemimpinan Josef Stalin pada 1917-1918. Suksesi bentuk negara dan pucuk pimpinan melatarbelakangi perubahan Kekaisaran Rusia yang mengandalkan investasi Eropa Barat dan Amerika Serikat menjadi komunisme.

Kekeliruan di masa lalu ini rupanya disadari oleh para suksesor Stalin, termasuk Vladimir Lenin yang menawarkan konsesi pada sejumlah negara yang dirugikan akibat keputusan Stalin untuk kembali berinvestasi di negaranya, khususnya di sektor minyak dan gas. Skema ini diteruskan hingga beberapa dekade kemudian, sampai akhirnya Uni Soviet menyatakan bersedia memberikan kompensasi atas kerugian tersebut pada 1986 dan 2017.

Walaupun nominal kompensasi itu dianggap kalangan Barat tak sebanding dengan kerugian para investor yang kehilangan investasi di era Stalin, tetapi Uni Soviet (dan Rusia sebagai penerusnya) tidak lantas lepas tangan dan menolak bertanggung jawab. Di samping adanya misi untuk mengintegrasikan Rusia dengan pergaulan global, sebagaimana kebijakan Dmitiri Medvedev dan Vladimir Putin (masing-masing mantan dan presiden Rusia saat ini).

Menarik untuk mencermati bagaimana reaksi negara-negara yang pernah dirugikan era Bolshevik (Prancis, Britania Raya, Belgia, Swedia, Jerman, dan Amerika Serikat). Nama-nama ini sudah menerima kompensasi dari Uni Soviet (1986) dan Rusia (2017), mereka juga bersedia kembali berinvestasi di Rusia setelahnya. Ketika Rusia menyatakan perang melawan Ukraina pada 24 Februari 2022, reaksi pertama mereka bukanlah tentang melindungi investasi mereka di Rusia saat bayang-bayang Bolshevik berpotensi mengancam profit mereka.  

“Api” yang diwariskan

Api merupakan elemen suci bagi banyak aliran kepercayaan dari berbagai pelosok dunia, termasuk Kepercayaan Asli Georgia. Api merupakan lambang kemurnian, walaupun tidak mengada sebagai titik nol yang mendahului segalanya, seperti udara. Api dalam bentuk fisik merupakan mediator untuk mengubah benda padat menjadi abu, dikembalikan ke asalnya agar berguna kembali untuk kesuburan tanah. Manfaat ini baru terasa apabila api dapat dikendalikan, layaknya emosi manusia. 


Ilustrasi: koleksi pribadi

Penemuan inilah yang membentuk dasar-dasar Kepercayaan Asli Georgia berikut berbagai peraturannya. Sebagaimana sejumlah kepercayaan asli lainnya, kehendak untuk hidup selaras dengan alam sekitar mengilhami beragam panduan untuk menjauhkan masyarakat dari perbuatan tercela. Menurut perspektif Kepercayaan Asli Georgia, tindakan seseorang tidak hanya menyangkut dirinya sendiri dan “dunianya”.  Benar atau salah, perbuatan seseorang akan memengaruhi peringkat spiritual para generasi di bawahnya, menciptakan lingkaran sebab dan akibat yang harus mereka hadapi dari generasi ke generasi.

Ini bukanlah hukuman. Seorang penghayat Kepercayaan Asli Georgia dapat memutus lingkaran sebab dan akibat ini dengan melakukan perbuatan tertentu sebagai ‘kompensasi’ atas kekeliruan yang dilakukan generasi sebelumnya. Tujuannya tentu agar “api” kesumat dari berbagai pihak yang terdampak bisa dikendalikan, dipadamkan, dan tak lagi diwariskan. Agar siklus hidup manusia akhirnya bisa move on, mengingat tantangan selalu datang silih berganti dan tak mau peduli apakah kita siap atau tidak untuk menghadapinya.

Memberi maaf lebih sulit daripada meminta maaf   

Nasionalisasi aset dan atau perusahaan asing oleh negara seolah-olah mendatangkan keuntungan finansial bagi negara yang melakukannya. Yang sering kita abaikan adalah kerugian finansial di pihak yang mengalaminya cenderung mendorong mereka untuk menutup kerugian tersebut dengan berbagai cara, karena perusahaan bukanlah lembaga amal.

“Api” ini dapat mengambil wujudnya dalam bentuk berbagai sanksi, tarif, larangan, blokade, embargo, kenaikan pajak, dan sederet istilah lain berkonotasi serupa yang intinya bertujuan mendapatkan pembayaran dari subjek peraturan tersebut. Di sisi lain, pelaku nasionalisasi sebagai “terdakwa” dalam situasi tersebut memiliki hak untuk mengubah nasibnya, karena setiap orang berhak menikmati kesejahteraan sebagaimana diakui bersama oleh para pendahulu kita.

Menurut perspektif Kepercayaan Asli Georgia, dampak yang diwariskan secara generasional sebagai buntut suatu kekeliruan bukan hanya memengaruhi para pelaku, tetapi juga para korban. Sampai kapan para pelaku dan para penerusnya terus menjadi pelaku dan sampai kapan para korban beserta para penerusnya terus menjadi korban, keputusan ini ada di tangan masing-masing dari mereka. (dswas) 

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...