Senin, 22 Desember 2025

Dilarang Menolak Pemberian

Memberi lebih baik daripada menerima. Namun, apakah ini berarti kita musti menolak pemberian? Khususnya sebuah pemberian yang kita dapat sebagai hasil dari apa yang sudah kita lakukan di masa lampau.

Sebagai negara yang diberkahi dengan pemberian alam berupa salah satu cadangan minyak terbesar dunia, Venezuela menjadi negara minyak terkaya di dunia pada periode 1970-an hingga akhir 1990-an. Sebuah sumber menyebut Venezuela pernah mencatat penghasilan kotor sebesar 10 triliun dolar dalam waktu dua tahun (1973-1975) berkat penjualan minyak.

Sebagaimana terjadi di berbagai penjuru dunia, penghasilan besar seringkali tidak diikuti dengan manajemen uang yang bijak. Mudah untuk menuding korupsi sebagai biang kemerosotan ekonomi Venezuela saat ini, ataupun sanksi yang diberlakukan atas minyak Venezuela oleh Amerika Serikat sejak 2019. Namun, ada baiknya merunut timeline riwayat negara Amerika Latin ini untuk mendapat gambaran tentang akar segala masalah yang menimpanya.

Minyak pertama kalinya ditemukan di Venezuela pada 1922, berkat kerja keras para ahli geologi dari Royal Dutch Shell. Seiring dengan investasi berbagai perusahaan minyak dari Eropa dan Amerika Serikat sejak 1930-an, Venezuela menempati peringkat ketiga penghasil minyak terbesar dunia setelah Amerika Serikat dan Uni Soviet.

Melalui Undang-undang Hidrokarbon 1943, otoritas Venezuela mewajibkan perusahaan-perusahaan minyak asing yang beroperasi di wilayah mereka untuk mendistribusikan setengah dari keuntungan penjualan minyak untuk kas negara. Peraturan inilah yang memicu kenaikan pendapatan Venezuela sebagai negara minyak. Pajak tersebut juga dimanfaatkan sebagai modal pendirian perusahaan minyak milik negara.

Resesi global di era 80-an merupakan awal dari senjakala negara minyak termakmur di Amerika Selatan, bermula dari penurunan drastis harga minyak yang berdampak serius pada penghasilan negara. Keputusan Hugo Chavez untuk menasionalisasi sejumlah perusahaan minyak asing yang beroperasi di Venezuela tidak berimbas perbaikan ekonomi, melainkan mendorong negara ini semakin dalam ke jurang.

Lebih dari sekadar identitas

Sentimen identitas adalah salah satu faktor yang memicu penguatan nasionalisme di suatu komunitas, yang selanjutnya dapat berujung dengan nasionalisasi aset-aset perusahaan asing di wilayah tersebut. Identitas tidak dapat ditolak, karena inilah “pemberian” pertama orang tua dan negara kepada anak-anak di hari pertama mereka dilahirkan. Identitas yang jelas memudahkan pengurusan administrasi, tetapi kehidupan nyata kadang berjalan tidak sejelas identitas sebagian besar manusia di muka Bumi ini.  

Walaupun didasari kesadaran tentang eksistensi identitas, berbagai kepercayaan asli (native faith) di beberapa tempat di dunia lebih menekankan tentang keterkaitan antara si penganut dan alam sekitar, interaksi mereka, serta apa yang perlu dilakukan sebagai wujud pengakuan atas keberadaan alam itu sendiri. Maausk (secara literal bermakna kepercayaan bumi), merupakan salah satu kepercayaan asli masyarakat Estonia yang didirikan dan dijalankan dengan berpedoman pada ketetapan ini. 

Ilustrasi: koleksi pribadi 

Tempat suci mereka adalah alam; hutan, sungai, bukit, pegunungan, bebatuan, yang telah menerima status sebagai tempat sakral dan dilindungi pemerintah sejak era Soviet. Meletakkan sesaji sebagai ungkapan rasa terima kasih atas segala keberlimpahan alam dibarengi dengan aturan bahwa seorang penganut tidak diperkenankan berada dalam kondisi psikologis yang negatif (sedih atau marah) saat mengunjungi tempat suci. Aturan ini pada gilirannya mendidik para penganut Maausk untuk dapat mengontrol diri sendiri di tengah pasang surut kehidupan.

Pada saat-saat tertentu, para penganut Maausk membawa sesajen dalam bentuk makanan yang dimasak sendiri di rumah. Masakan ini dibawa ke tempat sakral, dihaturkan kepada para leluhur sebagai bentuk rasa hormat dan kasih sayang bagi mereka yang sudah membuka tempat di mana kita berada saat ini berikut pondasi nilai dan norma. Setelah itu, masakan dimakan bersama para penganut layaknya piknik keluarga.

Nasib sebagai “pemberian”

Beragam ketidakberuntungan yang datang dalam kehidupan suatu bangsa bukanlah peristiwa sekonyong-konyong, ada proses panjang di baliknya. Apa pun retorika yang sedang mengemuka tentang nasionalisasi perusahaan asing, kemawasan diri kita diperlukan guna mengakui bahwa tindakan tersebut melanggar hukum internasional, apa pun alasan yang mendorong terjadinya peristiwa itu. Karena kita hidup di sebuah dunia yang berjalan berkat peraturan, maka selalu ada konsekuensi akibat pelanggaran peraturan.

Sejarah mencatat sederet negara melakukan nasionalisasi aset-aset satu perusahaan asing atau lebih yang beroperasi di negara mereka, mereka yang di belakang hari menyesali “pemberian” hidup berupa hukuman maupun penyesalan. Peraturan bukan satu-satunya petunjuk tentang mengapa kita sebaiknya tidak melanggar kesepakatan yang sudah kita buat dengan pihak lain. Kerugian materi akibat tindakan unilateral kita akan mendorong pihak yang kita rugikan untuk mencari kompensasi dengan berbagai cara, termasuk cara yang merugikan kita dalam jangka panjang hingga entah kapan.

Menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan kepercayaan asli merupakan salah satu cara yang dapat kita pelajari guna meningkatkan kesadaran atas alur pikiran dan kondisi psikologis diri sendiri. Inilah pijakan yang kita butuhkan sebelum melangkah ke tahap selanjutnya dalam rangka menghindarkan diri dari penyesalan akibat keputusan dan tindakan kita. (dswas)

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...