Memberi lebih baik daripada menerima. Namun, apakah ini berarti kita musti menolak pemberian? Khususnya sebuah pemberian yang kita dapat sebagai hasil dari apa yang sudah kita lakukan di masa lampau.
Sebagai negara yang diberkahi dengan pemberian alam berupa
salah satu cadangan minyak terbesar dunia, Venezuela menjadi negara minyak
terkaya di dunia pada periode 1970-an hingga akhir 1990-an. Sebuah sumber
menyebut Venezuela pernah mencatat penghasilan kotor sebesar 10 triliun dolar
dalam waktu dua tahun (1973-1975) berkat penjualan minyak.
Sebagaimana terjadi di berbagai penjuru dunia, penghasilan
besar seringkali tidak diikuti dengan manajemen uang yang bijak. Mudah untuk
menuding korupsi sebagai biang kemerosotan ekonomi Venezuela saat ini, ataupun
sanksi yang diberlakukan atas minyak Venezuela oleh Amerika Serikat sejak 2019.
Namun, ada baiknya merunut timeline
riwayat negara Amerika Latin ini untuk mendapat gambaran tentang akar segala
masalah yang menimpanya.
Minyak pertama kalinya ditemukan di Venezuela pada 1922,
berkat kerja keras para ahli geologi dari Royal Dutch Shell. Seiring dengan
investasi berbagai perusahaan minyak dari Eropa dan Amerika Serikat sejak
1930-an, Venezuela menempati peringkat ketiga penghasil minyak terbesar dunia
setelah Amerika Serikat dan Uni Soviet.
Melalui Undang-undang Hidrokarbon 1943, otoritas Venezuela
mewajibkan perusahaan-perusahaan minyak asing yang beroperasi di wilayah mereka
untuk mendistribusikan setengah dari keuntungan penjualan minyak untuk kas
negara. Peraturan inilah yang memicu kenaikan pendapatan Venezuela sebagai
negara minyak. Pajak tersebut juga dimanfaatkan sebagai modal pendirian perusahaan
minyak milik negara.
Resesi global di era 80-an merupakan awal dari senjakala
negara minyak termakmur di Amerika Selatan, bermula dari penurunan drastis
harga minyak yang berdampak serius pada penghasilan negara. Keputusan Hugo
Chavez untuk menasionalisasi sejumlah perusahaan minyak asing yang beroperasi
di Venezuela tidak berimbas perbaikan ekonomi, melainkan mendorong negara ini
semakin dalam ke jurang.
Lebih dari sekadar identitas
Sentimen identitas adalah salah satu faktor yang memicu
penguatan nasionalisme di suatu komunitas, yang selanjutnya dapat berujung
dengan nasionalisasi aset-aset perusahaan asing di wilayah tersebut. Identitas
tidak dapat ditolak, karena inilah “pemberian” pertama orang tua dan negara
kepada anak-anak di hari pertama mereka dilahirkan. Identitas yang jelas
memudahkan pengurusan administrasi, tetapi kehidupan nyata kadang berjalan
tidak sejelas identitas sebagian besar manusia di muka Bumi ini.
Walaupun didasari kesadaran tentang eksistensi identitas,
berbagai kepercayaan asli (native faith) di beberapa tempat di dunia lebih
menekankan tentang keterkaitan antara si penganut dan alam sekitar, interaksi
mereka, serta apa yang perlu dilakukan sebagai wujud pengakuan atas keberadaan
alam itu sendiri. Maausk (secara literal bermakna kepercayaan bumi), merupakan
salah satu kepercayaan asli masyarakat Estonia yang didirikan dan dijalankan
dengan berpedoman pada ketetapan ini.
Tempat suci mereka adalah alam; hutan, sungai, bukit,
pegunungan, bebatuan, yang telah menerima status sebagai tempat sakral dan
dilindungi pemerintah sejak era Soviet. Meletakkan sesaji sebagai ungkapan rasa
terima kasih atas segala keberlimpahan alam dibarengi dengan aturan bahwa
seorang penganut tidak diperkenankan berada dalam kondisi psikologis yang negatif
(sedih atau marah) saat mengunjungi tempat suci. Aturan ini pada gilirannya
mendidik para penganut Maausk untuk dapat mengontrol diri sendiri di tengah
pasang surut kehidupan.
Pada saat-saat tertentu, para penganut Maausk membawa
sesajen dalam bentuk makanan yang dimasak sendiri di rumah. Masakan ini dibawa
ke tempat sakral, dihaturkan kepada para leluhur sebagai bentuk rasa hormat dan
kasih sayang bagi mereka yang sudah membuka tempat di mana kita berada saat ini
berikut pondasi nilai dan norma. Setelah itu, masakan dimakan bersama para
penganut layaknya piknik keluarga.
Nasib sebagai “pemberian”
Beragam ketidakberuntungan yang datang dalam kehidupan suatu
bangsa bukanlah peristiwa sekonyong-konyong, ada proses panjang di baliknya.
Apa pun retorika yang sedang mengemuka tentang nasionalisasi perusahaan asing,
kemawasan diri kita diperlukan guna mengakui bahwa tindakan tersebut melanggar
hukum internasional, apa pun alasan yang mendorong terjadinya peristiwa itu. Karena
kita hidup di sebuah dunia yang berjalan berkat peraturan, maka selalu ada
konsekuensi akibat pelanggaran peraturan.
Sejarah mencatat sederet negara melakukan nasionalisasi
aset-aset satu perusahaan asing atau lebih yang beroperasi di negara mereka,
mereka yang di belakang hari menyesali “pemberian” hidup berupa hukuman maupun
penyesalan. Peraturan bukan satu-satunya petunjuk tentang mengapa kita
sebaiknya tidak melanggar kesepakatan yang sudah kita buat dengan pihak lain.
Kerugian materi akibat tindakan unilateral kita akan mendorong pihak yang kita
rugikan untuk mencari kompensasi dengan berbagai cara, termasuk cara yang
merugikan kita dalam jangka panjang hingga entah kapan.
Menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan kepercayaan asli merupakan salah satu cara yang dapat kita pelajari guna meningkatkan kesadaran atas alur pikiran dan kondisi psikologis diri sendiri. Inilah pijakan yang kita butuhkan sebelum melangkah ke tahap selanjutnya dalam rangka menghindarkan diri dari penyesalan akibat keputusan dan tindakan kita. (dswas)