Rabu, 17 Desember 2025

Menakar Ungkapan Terima Kasih Yang Aman

Olahraga tak bisa dipisahkan dari politik … dan kesenangan. Di balik gemerlap pesta olahraga dunia, seperti Olimpiade dan Piala Dunia FIFA, kisah-kisah kelam yang sama sekali tak ada hubungannya dengan olahraga menjadi penentu berlangsungnya turnamen. Saya tak membicarakan tentang sanksi olahraga akibat perang, melainkan proses panjang, berliku, dan ‘abu-abu’ terpilihnya suatu negara sebagai tuan rumah event olahraga internasional.

Tom Welch (seorang pengacara) dan David Johnson (ekonom) merupakan dua tokoh pejabat publik di pucuk pimpinan Salt Lake Bid Committee (Panitia Olimpiade Salt Lake), sebuah organisasi yang dibentuk untuk menangani pengajuan diri kota tersebut sebagai tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 2002. Komite ini sudah ‘berjuang’ mengajukan diri sebagai tuan rumah Olimpiade sejak 1986, tetapi berulang kali ditolak karena status sebagai kota besar di negara maju (Amerika Serikat) ternyata bukan jaminan memenangi hak sebagai tuan rumah turnamen besar.

Setelah Salt Lake kembali gagal menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin di tahun 1998, Welch gusar karena hak penyelenggara jatuh ke kota Nagano, Jepang (di mana Jepang adalah negara taklukkan Amerika Serikat di Perang Dunia II). Dibanding Piala Dunia FIFA, menjadi tuan rumah Olimpiade tidak selalu berarti peluang penghasilan dari kunjungan para suporter. Meski demikian, ada prestise dan kebanggaan yang akan dikenang masyarakat hingga bertahun-tahun setelahnya sebagai sebuah kota yang pernah mempersatukan berbagai negara sedunia dalam satu event olahraga.

Melalui koneksinya, Welch dan jaringannya berhasil mendapat bocoran bahwa Komite Olimpiade Nagano telah menghabiskan puluhan juta dolar untuk “acara selamat datang” bagi 62 anggota IOC (Komite Olimpiade Internasional) dari berbagai negara. Komite itu diduga telah menghabiskan sekitar 14 juta dolar untuk mengadakan acara makan malam sushi berkualitas terbaik, mandi air panas, dan para geisha.

Berdasarkan informasi ini, Komite Olimpiade Salt Lake menambah anggaran “pra-Olimpiade” mereka menjadi 16 juta dolar. Dana sebesar itu mereka gunakan untuk memberikan “hadiah’ bagi 20 orang anggota IOC dalam bentuk uang tunai, bingkisan, tiket pesawat dan akomodasi, bahkan biaya kuliah anak-anak mereka.

Salt Lake memang berhasil memenangi hak sebagai tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 2002. Akan tetapi, skandal keuangan ini terungkap beberapa bulan kemudian melalui investigasi yang dilakukan IOC dan Departemen Kehakiman AS. Hasilnya, Welch dan rekan-rekannya dibebaskan dari segala tuduhan, sementara 20 anggota IOC yang terlibat diberhentikan dari jabatan mereka. Tidak ada sanksi hukum yang dijatuhkan karena pemberian hadiah (dan menerimanya) dianggap tidak melanggar peraturan apa pun.

Pelestarian berawal dari memuliakan

Mengungkapkan rasa terima kasih bisa dilakukan dengan banyak cara, dan yang terpenting adalah melalui perbuatan. Mencermati contoh di atas, adalah naif apabila kita tidak merasakan keharusan untuk membalas segala hal yang menyenangkan dengan tindakan setara. Mudah sekali untuk membalas sebuah perbuatan baik apabila si pelaku perbuatan tersebut adalah manusia. Melanggar hukum atau tidak, itu tergantung peraturan di negara masing-masing. 


Ilustrasi: koleksi pribadi 

Persembahan (atau disebut juga sesaji) adalah tindakan yang dilakukan para penghayat Kepercayaan Asli Lithuania (Romuva) sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada alam seisinya atas hal-hal yang mereka ambil dari alam. Ini mencakup udara, air, kayu, hewan, tumbuhan, bahkan sumber daya alam seperti minyak dan gas. Dalam perspektif Romuva, rasa terima kasih perlu dirupakan sebagai cara menanamkan rasa rendah hati, komitmen, dan kesadaran untuk senantiasa menjaga kelestarian alam dan lingkungan.

Berawal dari rasa muak yang ditunjukkan peradaban modern belakangan ini, Romuva tumbuh menjadi organisasi berskala regional yang diakui pemerintah Lithuania. Berkat sudut pandang para penghayatnya yang terbuka, mereka menemukan banyak kemiripan dalam Hindu, terutama dalam hal pemuliaan terhadap leluhur dan alam sekitar. Keduanya juga sama-sama memaknai api sebagai sarana untuk menyempurnakan sesaji yang mereka haturkan sebagai ungkapan rasa terima kasih pada alam sekitar.

Melemparkan makanan (biji-bijian atau mentega) ke dalam api artinya kita “membuang” sesuatu yang sudah kita dapatkan dengan susah payah (bekerja, bertani, memasak, dll.) untuk dikembalikan pada alam. Dalam perspektif modern, ini adalah perbuatan sia-sia karena kita membuang-buang sesuatu yang seharusnya bisa kita nikmati bersama keluarga, apalagi di tengah situasi ekonomi sulit di mana kita harus berhemat agar bisa bertahan hidup.

Di zaman lampau, masyarakat tidak memiliki pikiran semacam ini karena gaya hidup mereka masih sangat sederhana, demikian pula kebutuhan mereka. Mereka tidak khawatir mengorbankan milik mereka demi sesuatu yang “bukan apa-apa”, karena apa yang mereka korbankan sebagai sesaji hari ini akan kembali tumbuh untuk mereka panen sebagai pemenuhan kebutuhan hidup di masa depan. Namun, pola pikir semacam ini dianggap tidak relevan seiring dengan biaya kebutuhan hidup yang kian hari kian mencekik.

Beratnya pengorbanan

Ketika Komite Olimpiade Salt Lake menandatangani persetujuan untuk merogoh 16 juta dolar dari anggaran pemerintah kota demi menyenangkan hati para anggota IOC, ada sesuatu yang ingin mereka dapatkan sehingga mereka rela “bertaruh” sekian puluh juta dolar demi terpilih menjadi tuan rumah Olimpiade. Artinya, “pengorbanan” ini dilakukan hanya dengan setengah hati karena komite tersebut tidak menggunakan uang pribadi masing-masing anggota demi tercapainya suatu status sebagai tuan rumah Olimpiade.

Dalam konteks Romuva, mengungkapkan rasa terima kasih pada alam sekitar bukanlah sesuatu yang sia-sia karena para penghayatnya bisa menyadarkan diri sendiri tentang manfaat tindakan itu sendiri. Sesaji biasanya terdiri dari bahan-bahan yang mudah terdegradasi (bunga, dedaunan, kemenyan, buah-buahan, biji-bijian, dll.) setelah terbakar dalam api. Sisa-sisa pembakaran akan dibuang ke tanah dan bertransformasi menjadi humus seiring waktu, sehingga tanah tetap terjaga kesuburannya walaupun kita terus mengambil darinya. Hasil pengorbanan memerlukan proses dan tidak instan.

Namun, kita merasa berat melakukannya karena “waktu adalah uang” dan menghitung hari pohon tumbuh besar adalah aktivitas yang membuang waktu, dan uang, tentunya …  (dswas)

Sabtu, 13 Desember 2025

Ilmu Kuno, Salah Satu Cara Selamat Dari Bencana Alam

Siapakah yang patut disalahkan ketika terjadi bencana banjir yang menghanyutkan korban jiwa maupun harta benda: apakah hujan deras, cuaca ekstrem, perubahan iklim, deteksi dini bencana yang tidak berfungsi, atau kelalaian manusia?  Peradaban manusia tengah mengalami suatu masa genting yang menguji seberapa mampu mereka menghadapi dinamika hidup yang digerakkan oleh kekuatan alam.

Kita memiliki ambisi untuk selalu lebih sempurna daripada generasi sebelum kita dalam berbagai hal dengan cara mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi hingga mencapai level yang belum pernah dicapai sebelumnya. Tujuan kita memelihara kehidupan dan mengangkatnya ke level tertinggi demi kesejahteraan bersama umat manusia adalah yang menggerakkan langkah dan pencapaian kita di hari ini.


Ilustrasi: koleksi pribadi


Peradaban manusia telah mengantarkan mereka berpetualang di luar angkasa, tetapi ada satu hal yang belum bisa mereka taklukkan sepenuhnya. Yaitu, cuaca. Dalam beberapa tahun terakhir, bencana alam yang disebabkan cuaca buruk kian meningkat sebagai akibat dari terjadinya perubahan iklim. Ketika para aktivis lingkungan hidup melemparkan tuduhan pada perusahaan minyak dan gas sebagai penyebab utama perubahan iklim, mereka lupa mengedukasi masyarakat tentang cara bertahan hidup dan menyelamatkan diri di tengah berbagai peristiwa alam yang diduga kuat terjadi akibat perubahan iklim, antara lain, banjir, tanah longsor, badai, dan kekeringan.

Akibatnya, korban terus berjatuhan sebagai dampak peristiwa bencana alam di atas yang sebenarnya bukan hal baru dan sudah pernah terjadi ratusan atau ribuan tahun lalu sejak dunia ini ada. Generasi lampau manusia mampu menyadari bahwa fenomena alam tidak dapat mereka ubah atau pengaruhi, sehingga mereka mengembangkan pengetahuan kuno untuk bertahan hidup di tengah situasi jagat raya yang terus berubah. Salah satunya adalah pengetahuan kuno tentang membaca tanda-tanda cuaca.

Berawal dari kepercayaan kuno

Pengetahuan kuno sebagai bagian dari budaya suatu masyarakat terbentuk dari perpaduan antara kondisi sekitar dan kesadaran spiritual dalam bentuk kepercayaan asli (native faith). Pemuliaan terhadap alam dan fenomena yang menyertainya menumbuhkan keingintahuan peradaban muda manusia untuk lebih mengenal karakternya, sebagai suatu langkah awal untuk bertahan hidup di tengah ketidakpastian dunia seisinya.

Jutaan masyarakat kuno penghayat kepercayaan asli di seluruh dunia mengembangkan pengetahuan alam mereka berangkat dari rasa hormat mereka terhadap unsur-unsur alam, termasuk masyarakat kuno Slavia Timur. Mereka bukan hanya mengembangkan ilmu tentang pemeliharaan alam sekitarnya melalui penyakralan unsur-unsur alam menurut Kepercayaan Asli Slavia, tetapi juga pengetahuan yang berkaitan dengan menafsirkan tanda-tanda alam sebelum terjadinya peristiwa besar yang bisa mengancam keselamatan mereka.

Di Polandia, di mana minat masyarakat terhadap kepercayaan asli sedang menguat belakangan ini, dibentuk pendekatan modern untuk memahami perilaku unsur-unsur alam (bulan, matahari, langit/ udara, air, tanah, hewan, tumbuhan, dll.) sebelum terjadinya peristiwa tertentu. Pendekatan modern ini berakar dari pengetahuan kuno dari para leluhur yang tekun mengamati alam dan mengingat, lalu meneruskannya secara lisan ke generasi di bawahnya.

Di era modern, kita bisa mengandalkan aplikasi cuaca atau badan meteorologi setempat sebagai penyedia informasi cuaca tepercaya. Di masa lalu, prediksi cuaca berikut intensitasnya merupakan hasil penafsiran lebih dari satu pertanda. Sebagai contoh, perilaku tumbuhan atau hewan tertentu bisa menjadi pertanda hujan akan segera turun. Bila malam sebelumnya terjadi bulan purnama disertai halo di sekelilingnya, ini pertanda bahwa ada peristiwa besar yang datang bersama hujan (banjir, badai) dalam waktu dekat.

Saling membutuhkan, saling menghancurkan

Kepercayaan asli tidak menjanjikan pahala karena berpedoman pada kewawasan diri tentang sebab dan akibat. Memuliakan (yang bersinonim dengan ‘memuja’) alam dalam bentuk sesaji merupakan bentuk pengakuan si pelaku terhadap keberadaan alam, sehingga ia pun akan menahan diri dari melakukan tindakan pengabaian terhadap eksistensi alam itu sendiri. Mengabaikan alam dalam bentuk eksploitasi berlebihan akan berujung pengabaian alam terhadap eksistensi kita. Sesederhana itu.

Hukum ini masih tidak berubah hingga saat ini, walaupun baik alam maupun peradaban manusia sudah mengalami perubahan besar. Karena berbagai faktor, keduanya tetap saling membutuhkan dan saling menghancurkan di saat yang sama. Namun, seharusnya kita tidak perlu cemas apabila sudah mengetahui dan menyadari sedikit dan banyak campur tangan kita sebagai penyebabnya. (dswas)

Rabu, 10 Desember 2025

Berharap Tuah Pohon Tua Yang Muda Selamanya

Piala Dunia 2026 merupakan momen selamat tinggal bagi sederet bintang lapangan, antara lain Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Luka Modric, Antoine Griezmann, Manuel Neuer, Robert Lewandowski, Kevin de Bruyne, Virgil van Dijk, Mohamed Salah, dan Neymar Jr (jika ia dipanggil masuk timnas). Beberapa dari mereka sudah mengumumkan secara resmi akhir tugas internasional sebagai pemain timnas, sedangkan sebagian lainnya merupakan spekulasi media mengingat faktor usia yang sudah menginjak paruh 30-an tahun.

Menariknya, para bintang baru yang sedang berebut tahta Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi adalah para penggemar dua GOAT tersebut. Erling Haaland dan Alejandro Garnacho, misalnya, adalah fans Ronaldo sejak mereka kecil sampai saat ini. Para penggemar Liga Inggris pasti dapat membaca tindak-tanduk Haaland yang sangat terinpirasi gaya Ronaldo: percaya diri di lapangan dan sedikit arogan. Garnacho bahkan menirukan gaya selebrasi CR7, termasuk kebiasaan mencibir suporter tim lawan.

Lionel Messi cukup beruntung diidolakan dua bintang muda Jerman dan Spanyol yang sedang jadi sorotan media, Jamal Musiala dan Lamine Yamal. Musiala menunjukkan karakter Messi di masa mudanya, rendah hati sembari tak henti memamerkan kelincahan dan kepiawaian di lapangan. Sementara itu, Yamal yang saat ini membela mantan klub Messi sedang menghadapi media dan para pengguna media sosial akibat perilakunya yang dianggap sama sekali bertolak belakang dari Messi, si low-profile.

Ilustrasi: koleksi pribadi

Sakral karena karakter

Dalam Kepercayaan Asli Slavia (Slavic Native Faith), pohon pinus dianggap sakral karena karakternya menjadi pedoman tentang ketegaran hati di segala kondisi. Pohon pinus termasuk jenis pohon evergreen, yaitu pohon yang tetap berdaun hijau di segala musim, baik musim semi, musim panas, musim gugur, bahkan musim dingin. Pohon pinus dewasa akan lebih kuat di tengah cuaca ekstrem dibanding pinus muda, sehingga para penghayat kepercayaan ini pun menganggap pohon pinus sebagai perlambang bagi harapan ketika hidup tidak sedang baik-baik saja.

Namun, bukan hanya sisi filosofi saja yang membuat sekelompok komunitas penghayat Kepercayaan Asli Slavia di Baikal, Rusia, menyakralkan sebuah hutan pinus di wilayah itu. Hutan pinus berperan penting dalam keberlanjutan ekologi berkat kemampuannya menyerap karbon, apalagi pohon pinus tua dikenal dapat menyerap lebih banyak karbon dan melepaskan lebih banyak oksigen. Salju yang bertengger di ujung daun pohon pinus akan mencair perlahan di musim semi, sehingga air yang terbentuk tidak sampai mengalir deras menjadi banjir. Selain akar-akarnya yang mampu mengikat air, buah pinus jenis tertentu hanya dapat beregenerasi saat suhu udara memanas akibat kebakaran hutan.  

Para peneliti Rusia menemukan bahwa salah satu pohon pinus di Pulau Olkhon, Baikal, sudah berumur 400 tahun. Pohon pinus setinggi 20 meter dengan dengan batangnya masih segar, dan 90% cabang-cabangnya masih beregeneras,i berdiri di tengah hutan yang dianggap sakral oleh para leluhur wilayah itu. Ketika hutan sakral itu beralih fungsi menjadi pemukiman dan pabrik pengolahan ikan, pohon pinus tua ini dipertahankan dan dinobatkan sebagai monumen oleh LSM, akademisi, dan Departemen Kehutanan Rusia.

Muda selamanya

Berkaca dari kisah pohon pinus sakral di Pulau Olkhon di atas, sesuatu yang kita sayangi, hargai, dan pelihara dengan baik akan hidup lebih tahan lama guna membayar kembali apa yang sudah kita lakukan untuknya. Pohon sakral ini terus bertahan menunjukkan apa yang ia bisa di usia yang tak lagi muda, memberikan manfaat bagi kelestarian alam sekitar dan kehidupan manusia di sekitarnya, hingga ia dianugerahi status sebagai monumen.  

Entah apa yang sedang berkecamuk di hati Ronaldo dan Messi belakangan ini menjelang turnamen internasional terakhir mereka sebagai pemain tim kebanggaan negara masing-masing. Keduanya mungkin masih akan bermain beberapa tahun di level klub, walaupun tak segemerlap era rivalitas El Clasico. Akan tetapi, ada eks pesepakbola top yang justru menuai sukses di bidang baru mereka di luar dunia sepak bola.

Michael Owen, pemain muda MU di era 90-an, meraih sukses di bidang peternakan kuda pacuan. George Weah, yang lebih berprestasi bersama klub AC Milan dibanding timnas di masa mudanya (juga di era 90-an), terpilih menjadi Presiden Liberia setelah ia terjun ke dunia politik di masa pensiunnya. Sementara itu, Hidetoshi Nakata, salah satu generasi pertama pemain Asia di klub elit Eropa, pensiun dini di usia 29 tahun dan meraih sukses di panggung catwalk.

Karena banyak faktor, jumlah eks pesepakbola top bernasib sama seperti mereka tidak banyak. Apa tepatnya yang menggerakkan mereka untuk terus bergerak bagaikan pohon pinus tua yang terus menumbuhkan cabang-cabang baru, itulah yang perlu kita selidiki lebih lanjut. (dswas)

Minggu, 07 Desember 2025

Mengapa Air Kehidupan Berubah Jadi Air Kematian?

Aqua vitae, air kehidupan, diyakini dapat menyembuhkan demam, sakit kepala, mematikan kuman-kuman dalam daging atau sayur-sayuran, mencegah masuk angin, melancarkan pencernaan, mencegah penyakit ginjal dan liver, membuat tidur lebih nyenyak, dan meningkatkan nafsu makan. Selain itu, air kehidupan juga dipercaya dapat meningkatkan daya ingat seseorang sekaligus menumbuhkan keberanian.

Di Abad Pertengahan atau jaman Renaissance, air penyelamat hidup ini diciptakan dari proses penyulingan beberapa jenis bahan seperti beras, gandum, dan, tentu saja, anggur. Anggur? Ya. Di abad 12, minuman beralkohol alias minuman keras bukanlah minuman bagi mereka yang ingin melupakan segala masalah dengan mabuk-mabukan, melainkan sebagai obat untuk berbagai jenis penyakit. Sesuai namanya: air yang membangkitkan kembali gairah hidup dalam tubuh manusia.

Menurut sejarahnya, teknologi awal penciptaan minuman keras berasal dari teknik penyulingan yang ditemukan para kimiawan Yunani dan Persia. Teknologi ini dikembangkan untuk tujuan mengubah logam mentah menjadi logam mulia dan air kehidupan yang membuat manusia hidup abadi. Ketika Arab menaklukkan Alexandria dan Persia, teknologi ini mereka pelajari lalu dikembangkan lebih jauh oleh para ilmuwan Arab untuk memproduksi minuman keras.

Di abad 12 teknologi ini pun kemudian menyebar ke Eropa, tepatnya di Eropa Selatan, di mana dua universitas masing-masing di Salermo (Italia) dan Montpeiller (Prancis) menjadi pusat penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan penyulingan minuman beralkohol. Namun, minuman keras yang diproduksi di dua kampus ini ditujukan untuk keperluan medis dan bukan minuman untuk dikonsumsi. Sebagaimana tujuan awal penciptaan alkohol, yaitu sebagai pembasmi kuman (disinfektan).

 

Ilustrasi: koleksi pribadi

Kerusakan lingkungan tanda masalah spiritual

Era baru di beberapa negara Eropa Timur yang dimulai awal 90-an membuka jalan bagi kebangiktan sejumlah agama/kepercayaan asli di wilayah itu. Meski dikenal memiliki sosok pemimpin yang dikenal keras hati dan sering didemo warganya, yaitu Perdana Menteri Viktor Orban, tetapi iklim Hungaria cukup kondusif bagi beberapa aliran kepercayaan asli Hungaria beserta para penghayatnya. Mereka tidak dilarang menyebarkan ajaran kepercayaan mereka, tidak juga harus berkompromi dengan masyarakat yang tidak toleran.  

Sebagaimana sebagian besar aliran kepercayaan asli di berbagai penjuru dunia, para penghayat Kepercayaan Asli Hungaria yakin bahwa alam bukanlah benda mati yang bisa dieksploitasi sekehendak hati. Air, misalnya, merupakan unsur penting dalam sejumlah upacara adat, terutama yang berkaitan dengan penyembuhan. Apabila air tercemar, maka mereka tak bisa lagi memanfaatkan air untuk membantu menstimulasi sel-sel dalam tubuh agar dapat tumbuh dan tubuh sehat kembali.

Menurut perspektif Kepercayaan Asli Hungaria, menjaga keseimbangan energi antara dunia manusia dan alam diwujudkan bukan hanya dengan memberikan sesaji, tetapi juga dalam bentuk memelihara kelestariannya. Hal ini hanya bisa dilakukan jika sebuah komunitas memiliki kesadaran spiritual yang bukan hanya sebatas tata cara beribadah, tetapi lebih kepada kesadaran tentang keterkaitan mereka dengan apa yang ada di sekelilingnya, termasuk air, udara, bumi, pepohonan, dan api.

Melakukan tindakan yang memicu ketidakseimbangan antara dunia manusia dan alam sekitar dianggap sebagai tindakan merugikan diri sendiri, apa pun tujuan yang melatarbelakanginya. Mereka yang melakukannya dianggap tersesat secara spritiual karena tidak menyadari posisinya di tengah alam sekitar. Sehingga tidak berlebihan bila para penghayat Kepercayaan Asli Hungaria menganggap kerusakan lingkungan menandakan ada yang tidak beres dalam spiritualitas individu maupun kelompok yang bersangkutan.

Keselamatan bisa diusahakan

Salah satu kekeliruan terbesar yang sering dilakukan masyarakat religius adalah pandangan memasrahkan keselamatan diri mereka pada nasib, yang didasari asumsi bahwa mereka akan selamat karena sudah berperilaku baik sesuai peraturan dalam agama dan kepercayaan masing-masing. Sikap pasrah pada level tertentu bisa berbahaya, karena dunia dan seisinya tidak berperilaku berdasarkan keinginan para makhluk yang tinggal di dalamnya.

Keselamatan bukanlah hal yang muncul sekonyong-konyong, melainkan suatu hasil dari rentetan tindakan yang sudah dilakukan sebelumnya dengan tujuan mempertahankan keberlanjutan hidup. Memang memelihara kehidupan itu rumit dan berbelit, karena menikmati hidup sepuas-puasnya selalu lebih mudah dan lebih menyenangkan.

Sebagai contoh, minum alkohol sampai K.O selalu lebih mudah daripada memikirkan takaran yang tepat agar alkohol bermanfaat bagi kesehatan pencernaan. Saya tidak bermaksud menceramahi. Namun, sebagai seseorang yang pernah mengalami dua kali kecelakaan sepeda motor dan satu perkelahian di bawah pengaruh alkohol di usia 20-an, saya berharap yang terbaik bagi siapa pun yang sedang menghadapi situasi problematik tersebut. (dswas)



Selasa, 02 Desember 2025

Menghindari “Jeratan” Kekayaan Alam

Berapa sih uang yang bisa kita dapat dari menjual kayu gelondongan? Dari satu meter kubik kayu gelondongan berkualitas baik, kita bisa membawa pulang uang sekitar Rp 5 sampai 7 juta (untuk jenis kayu jati dan mahoni). Untuk kayu merbau dan kayu keras tropis lainnya bisa lebih tinggi lagi, yaitu sekitar Rp 15 juta per meter kubik. Bila dikonversi ke dolar, nilainya bisa mencapai USD 300-900 per meter kubik, tergantung jenis dan kualitas kayu.

Dengan kata lain, hanya dari 100 meter kubik kayu gelondongan seseorang bisa mengantongi uang senilai USD 30.000 atau sekitar Rp 500 juta lebih, tanpa berjualan apa pun atau bekerja sampai larut malam. Cukup datang mengunjungi sebuah hutan lalu membabat habis seluruh pohonnya, lalu kita dan keluarga kita bisa kaya mendadak.

Kayu dari hutan hujan tropis kuno sepertu hutan Amazon, Lembah Kongo, Sumatra dan Kalimantan (yang tinggal cerita) sangat diminati dan bernilai tinggi karena kualitas kayunya lebih baik daripada kayu hutan tanam industri. Serat kayu tua lebih rapat, batangnya lebih besar, lebih tahan lama, dan pola inti kayunya pun lebih indah dibandingkan kayu hutan tanaman industri.

Untuk memperoleh kayu gelondongan dari hutan tanaman industri, seseorang harus meluangkan waktu untuk membuka lahan, menanami lahan tersebut, melakukan pemeliharaan. Kayu hutan hujan tropis lebih praktis karena kita hanya perlu mengambilnya dari hutan dan tak perlu membayar apa pun, alias gratis. Tinggal ambil dan bawa pulang.

Maka sangat bisa dipahami apabila seseorang memilih berbisnis di bidang perkayuan daripada bidang lainnya, karena nilai ekonominya benar-benar menggiurkan dan tak butuh terlalu banyak “pengorbanan”.

Namun, karena bisnis ini sangat tergantung pada jumlah kayu yang tersedia di hutan hujan tropis (bukan hutan tanaman industri), maka para pebisnis di bidang ini perlu berhati-hati ketika luas hutan hujan tropis semakin sedikit. Mereka bisa terancam tak lagi mendapat penghasilan mudah dan cepat apabila seluruh hutan hujan tropis di muka Bumi ini telah lenyap.


Ilustrasi: koleksi pribadi 


‘Produk’ masa lalu yang berkualitas  

Masyarakat Kepercayaan Asli Tajik menganggap suci pepohonan jenis tertentu, mengaitkannya dengan fungsi sakral pepohonan sebagai tempat tinggal para leluhur dan pelindung bagi kelompok yang tinggal di sekitarnya. Aliran kepercayaan yang masih dipertahankan oleh masyarakat Tajikistan di wilayah tertentu juga melarang penebangan pohon tua secara sembarangan, sehingga saat ini kita masih dapat menjumpai pohon murbai dan cemara yang sudah berumur ratusan dan ribuan tahun di negara eks Soviet tersebut.

Salah satu ritual yang masih dijalankan masyarakat Tajikistan adalah mengikatkan secarik kain pada pohon yang disucikan sebagai bentuk simbolis mencari penghiburan dari kesulitan yang tengah dihadapi, entah itu penyakit, kesedihan, atau ketidakberuntungan lain dalam hidup. Orang-orang yang tidak memahami kebiasaan orang Tajikistan akan menganggap mereka sesat, walaupun kita tahu bahwa perspektif kita bukanlah satu-satunya penyebab dunia ini dapat bertahan.

Ternyata para leluhur Tajikistan sudah sangat memahami fungsi dan manfaat berbagai jenis pohon yang dianggap sakral jauh sebelum peradaban manusia mengenal ilmu botani. Pohon murbai dan cemara, misalnya, memiliki sistem akar yang kuat sehingga membantu mencegah terjadinya tanah longsor dan banjir lumpur di desa-desa yang terletak di pegunungan. Pepohonan jenis ini juga membantu mencegah erosi di area tepian sungai. Akar yang kuat sangat penting bagi pemeliharaan sumber-sumber air untuk keperluan sehari-hari, sehingga pohon murbai ditanam di sekitar aliran air. Pohon murbai juga dikenal membantu menyaring udara dari debu, cocok ditanam di daerah yang kering dan berangin kencang.  

Spiritualitas yang membawa kesejahteraan  

Kekayaan alam yang tersimpan di sekitar kita sungguh luar biasa, karena bisa membuat kita tergoda untuk menguasainya demi sejumlah uang. USD 30 ribu yang bisa kita dapat dari menjual 100 meter kubik kayu hutan hujan tropis dari Sumatra, misalnya. Akan tetapi, krisis finansial global menunjukkan kian tipisnya perbedaan antara uang USD 1 dan USD 100, karena kedua nominal itu sama-sama bisa habis dalam waktu singkat.

Tajikistan bukanlah negara yang sangat maju seperti negara-negara Eropa Barat, sehingga deforestasi juga menjadi masalah serius di negara seluas 141 km persegi tersebut. Pemerintah Tajikistan berupaya melibatkan masyarakat setempat yang masih mempraktikkan Kepercayaan Asli Tajik dalam sejumlah proyek restorasi hutan. Peran mereka dianggap penting karena kepercayaan yang mereka jalankan dianggap mampu menjadi penuntun dan penggugah kesadaran mereka untuk menjaga kelestarian hutan.

Di tengah himpitan arus modernisasi dan generasi muda yang menolak mempelajari kebijaksanaan leluhur, masyarakat Kepercayaan Asli Tajik terus berusaha menjaga dan melestarikan hutan mereka. Mereka adalah sedikit dari sekian jumlah orang di luar sana yang masih memahami bahwa sejumlah uang yang didapat dari menebang pohon di hutan tak sebanding nilainya dengan kerusakan akibat musnahnya pepohonan. (dswas)

Jumat, 28 November 2025

Kekayaan Yang Sebenarnya: Mengubah Bencana Jadi Anugerah

Kabar gembira. Jumlah orang kaya secara global saat ini mengalami peningkatan, yaitu 3000 miliuner berdasarkan data Maret 2025. Dari jumlah tersebut, Amerika Serikat memimpin dalam hal jumlah milyuner terbanyak, yaitu 902 orang, yang terkonsentrasi di industri teknologi informasi. Sementara itu, China dan India menempati peringkat kedua dan ketiga dengan jumlah masing-masing 512 dan 205 miliuner.

Para ekonom dan ahli keuangan menyambut gembira perkembangan ini, mengingat pertambahan jumlah orang kaya di beberapa negara merupakan tanda-tanda awal bahwa ekonomi dunia tengah membaik dibandingkan era pandemi COVID 2020. Para miliuner ini adalah orang-orang yang telah membanting tulang di sepanjang hidupnya, menyebar aset-asetnya dalam bentuk saham dan obligasi, sehingga tibalah saat ketika mereka dapat menikmati segala upaya yang telah dilakukan bertahun-tahun silam.

Ya, menjadi orang kaya memang luar biasa nikmat: banyak uang, barang-barang mewah, rumah besar, mobil lux, liburan ke luar negeri, dst. Seperti apa situasi para miliuner ini sebenarnya sebelum mereka jadi super kaya, seberapa keras mereka harus bekerja, apa yang mereka korbankan agar mencapai puncak karir dan akhirnya sukses, kita tidak pernah tahu pasti. Sama seperti gunung yang tampak indah dari kejauhan, setelah didekati ternyata jauh berbeda.

Selain terjal dan berbatu, “raut muka” gunung dari dekat tidaklah serata dan secantik apa yang dipamerkan di foto-foto medsos tentang spot wisata Instagrammable. Percaya atau tidak, apa yang paling bernilai dari sebuah gunung adalah hutan dan vegetasi alam di sekitarnya. Selain rasa bangga sudah mencapai sebuah puncak gunung, nyaris tidak ada hal lain yang bisa membuat kita betah berlama-lama di situ.

 

Ilustrasi: koleksi pribadi

Memuliakan alam bukan sesat

Sayangnya, suka atau tidak suka, peradaban perkotaan sering kali berada dalam situasi di mana pepohonan menjadi pembawa bencana. Kejadian pohon tumbang yang menelan korban jiwa dan materi bukan hal baru, di negara mana pun. Bermula dari cuaca buruk, badai atau hujan deras (atau gabungan keduanya), si pelindung tua di tengah cuaca panas berubah menjadi sumber bencana karena batangnya yang besar roboh, lalu menghancurkan kendaraan atau gedung dan rumah-rumah penduduk.

Kepercayaan Rakyat Armenia (Armenian Folk Beliefs) menganggap pepohonan itu suci, sama sucinya dengan mata air. Masyarakat pemeluk kepercayaan ini meyakini bahwa dengan menandai pohon tertentu dengan secarik kain mereka telah memberitahu sesamanya tentang keberadaan pohon “sakti” tersebut. Ketika semakin banyak orang yang mengikatkan kain di pohon itu, orang-orang lain dari luar komunitas mereka akan berpikir dua kali untuk menebangnya.

Dalam sudut pandang teologi monoteistik, kebiasaan ini dianggap sesat karena menyamakan kebesaran Sang Maha Pencipta dengan benda-benda duniawi, misalnya pohon (Kepercayaan Rakyat Armenia juga menganggap suci mata air, seperti dalam Hindu). Pepohonan bisa tumbang dan tak ada dari mereka yang membela diri mendemonstrasikan kedigdayaan saat para manusia orcs membabat habis hutan.

Dan ini terbukti di saat Armenia mengalami krisis sosial dan ekonomi pasca pembubaran Uni Soviet di akhir 1991. Tanpa kepastian tentang dukungan suplai gas murah yang dahulu mereka dapatkan dari pemerintah Soviet, orang-orang Armenia di masa itu membakar furnitur mereka untuk menghangatkan rumah di tengah kejamnya musim dingin. Ketika semua furnitur habis terbakar, mereka mencari pertolongan ke hutan dan mulai menebangi pohon-pohonnya untuk dijadikan kayu bakar.

Akibatnya sudah bisa ditebak, karena apa yang ditinggalkan deforestasi di belakang selalu sama di mana pun di dunia ini. Banjir dan tanah longsor hanyalah sepenggal kisah yang tersisa dari hilangnya hutan suci. Korban jiwa dan harta benda adalah dampak berikutnya yang menyisakan duka berkepanjangan. 

Penyesalan tidak cukup

Walaupun relatif masih muda sebagai suatu negara, warga Armenia lekas menyadari kekeliruan yang terjadi di masa lalu. Reforestasi dan reboisasi kini gencar dilakukan di negara anggota CSTO (NATO versi Eropa Timur dan Tengah) itu, baik oleh LSM maupun para diaspora yang telah menimba ilmu di luar negeri. Masyarakat Armenia menyadari “kebenaran” di balik petuah para leluhur mereka yang memuliakan rimba belantara.

Memulihkan hutan tidak saja dipandang sebagai upaya penyelamatan lingkungan hidup, tetapi juga melestarikan warisan budaya Armenia sebagai jiwa bangsa dan jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dalam perspektif masyarakat Armenia, pemulihan hutan bukan soal mencari peluang cuan dari industri pariwisata. Memulihkan hutan berarti memulihkan situs-situs alami nan sakral sebagai upaya membangun kembali spiritualitas dan keterkaitan dengan alam, inilah yang signifikan bagi mereka.

Walaupun masalah deforestasi dan dampaknya belum dapat dihilangkan sama sekali dari Armenia, kesadaran tentang keberadaan tempat-tempat sakral adalah langkah awal menuju tujuan bermakna. Semua ini tak akan pernah terlaksana apabila masyarakat Armenia terus terjebak dalam penyesalan berlarut-larut tentang kesalahan di masa lalu.  (dswas)

Rabu, 26 November 2025

Kompleksitas Rasa ‘Terima Kasih’

Beberapa pengamat yakin saat ini Perang Ukraina sedang menjelang babak injury time. Amerika Serikat selaku salah satu pendonor utama Ukraina dalam hal persenjataan dan bantuan kemanusiaan telah menyampaikan proposal perdamaian kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, yang menurut para pengamat politik beberapa bagiannya menguntungkan Rusia. Donald Trump telah mengultimatum Zelensky agar menerima proposalnya, atau negaranya tidak akan menerima bantuan lagi dari AS.

Mulai Januari 2022 (satu bulan sebelum Perang Ukraina) hingga pertengahan 2025, Uni Eropa telah memberikan bantuan senilai 167 miliar euro kepada Ukraina sebagai respons atas operasi militer Rusia di Ukraina yang dimulai pada 24 Februari 2022. Sementara Amerika Serikat telah menyalurkan bantuan senilai 1154 miliar euro selama periode yang sama. Bantuan, baik dari UE dan AS, tidak seluruhnya berupa uang tunai, melainkan bantuan militer dan keuangan. Menurut data auditor AS, Amerika Serikat telah mengalokasikan sekitar 175 miliar dolar untuk Ukraina yang sebagian disalurkan guna membiayai kehadiran para awak militer AS di negara itu. 

Nilai aktual dana yang diterima Ukraina dari kedua pihak ini masih simpang siur, apalagi karena di Ukraina sendiri tengah diguncang kasus korupsi yang melibatkan inner circle (orang-orang dalam) Presiden Zelensky. Di saat yang sama, ratusan ribu pengungsi Ukraina di berbagai negara di Eropa dan Amerika Serikat diisukan akan dipulangkan ke negara mereka. Sebagian dari mereka dikabarkan mengalami pengurangan bantuan keuangan dari negara-negara yang menampung mereka, akibat krisis ekonomi global membuat beban keuangan masing-masing negara penampung bertambah.

Rasa terima kasih tidak pernah usang  

Dalam bahasa Rusia, спасибо (spasibo) berarti “terima kasih”. Secara etimologis, bentuk modern spasibo berasal dari kata spasi bog, yang bermakna “Semoga dewa menyelamatkanmu.”  Ini karena kata spasibog terdiri dari kata spasi yang artinya menyelamatkan, dan bog adalah kata benda yang bermakna dewa.  Sejatinya spasibog adalah sebuah frasa yang diambil dari kalimat doa Kepercayaan Asli Slavia yang kemudian digunakan dalam percakapan sehari-hari.  

Ilustrasi: koleksi pribadi 

Dari makna spasibog tersirat sebuah upaya untuk mengembalikan sesuatu yang diterima seseorang dengan sangat baik dan bermanfaat. Rasa bahagia yang dirasakan si penerima pemberian tersebut diungkapkan dalam harapan semoga hal-hal yang baik juga terjadi dalam hidup atau dialami oleh si pemberi. Seiring dengan dinamika ideologi di Rusia, spasibo pun mengalami perubahan fungsi dari sebuah doa menjadi frasa kesopanan.

Akan tetapi, pandangan masyarakat Slavia tentang terima kasih itu sendiri tidak berubah. Seperti banyak kebijaksanaan lokal lain di seluruh penjuru Bumi, bagi adat Slavia rasa terima kasih tidaklah cukup dengan hanya kata-kata. Rasa terima kasih perlu ditunjukkan melalui perbuatan, termasuk rasa terima kasih pada alam dan para leluhur.   

Salah satu cara berterima kasih pada leluhur yang masih dilakukan beberapa kalangan masyarakat Slavia hingga saat ini adalah menuangkan atau memercikkan sedikit bir atau vodka yang hendak mereka minum, baik di event pribadi maupun komunal. Saya jadi ingat dulu teman-teman sekampus dari Bali juga melakukan “upacara” yang persis sama. Karena keunikan filosofi di baliknya, kebiasaan ini pun segera menular dengan cepat di kalangan teman-teman non Hindu di circle kami saat itu. 

‘Terima kasih’ tidak pernah sesulit ini

Rencana sejumlah negara penampung pengungsi Ukraina untuk memulangkan mereka mau tak mau menimbulkan kecemasan, karena mereka belum yakin keamanan mereka beserta keluarga akan terjamin. Sejak sebelum perang, pemerintah Ukraina sudah memiliki program tunjangan sosial bagi anak-anak, warga penyandang disabilitas, atau kurang mampu secara ekonomi, walaupun sistemnya belum sempurna menurut standar Eropa.

Bayangkan saja bila seluruh dana bantuan kemanusiaan yang diterima pemerintahan Zelensky digunakan sebagai tunjangan sosial bagi warga Ukraina. Taraf hidup mereka mungkin akan menjadi lebih baik, bahkan bisa jauh lebih baik daripada sebelum 2022. Seandainya saja Rusia tidak melakukan operasi militernya di Ukraina pada 24 Februari 2022, mungkin Ukraina tak akan pernah menerima bantuan miliaran dolar atau euro dari berbagai pihak.

Bahwa bencana bisa menjadi berkah bukan lagi imajinasi orang-orang yang tak sanggup menerima kenyataan. Itulah mengapa orang-orang kuno selalu tak lupa meluangkan waktu dan materi yang dimiliki untuk menyampaikan rasa terima kasih kepada alam dan leluhur sebagai representasi seluruh situasi penyebab segala yang kita terima saat ini.  Peradaban modern memilih untuk mengabaikannya, karena mereka tak ingin dianggap ‘hidup di masa lalu’ yang terlalu banyak aturan dan norma-norma.

Keengganan menyadari proses segala sesuatu membuat kita juga enggan menyadari bahwa uang itu bisa bersifat easy come easy go. Uang yang mudah didapat seringkali mudah pula habisnya. Kemudahan mendapatkannya kadang kala membuat orang lupa untuk melakukan pengaturan saksama, agar apa yang didapat dapat berguna untuk waktu mendatang dan bagi banyak orang, sebagaimana tujuan bantuan tersebut diberikan.  (dswas)

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...