Olahraga tak bisa dipisahkan dari politik … dan kesenangan. Di balik gemerlap pesta olahraga dunia, seperti Olimpiade dan Piala Dunia FIFA, kisah-kisah kelam yang sama sekali tak ada hubungannya dengan olahraga menjadi penentu berlangsungnya turnamen. Saya tak membicarakan tentang sanksi olahraga akibat perang, melainkan proses panjang, berliku, dan ‘abu-abu’ terpilihnya suatu negara sebagai tuan rumah event olahraga internasional.
Tom Welch (seorang pengacara) dan David Johnson (ekonom)
merupakan dua tokoh pejabat publik di pucuk pimpinan Salt Lake Bid Committee
(Panitia Olimpiade Salt Lake), sebuah organisasi yang dibentuk untuk menangani
pengajuan diri kota tersebut sebagai tuan rumah Olimpiade
Musim Dingin 2002. Komite ini sudah ‘berjuang’ mengajukan diri sebagai tuan
rumah Olimpiade sejak 1986, tetapi berulang kali ditolak karena status sebagai
kota besar di negara maju (Amerika Serikat) ternyata bukan jaminan memenangi
hak sebagai tuan rumah turnamen besar.
Setelah Salt Lake kembali gagal menjadi tuan rumah Olimpiade
Musim Dingin di tahun 1998, Welch gusar karena hak penyelenggara jatuh ke kota
Nagano, Jepang (di mana Jepang adalah negara taklukkan Amerika Serikat di
Perang Dunia II). Dibanding Piala Dunia FIFA, menjadi tuan rumah Olimpiade
tidak selalu berarti peluang penghasilan dari kunjungan para suporter. Meski
demikian, ada prestise dan kebanggaan yang akan dikenang masyarakat hingga
bertahun-tahun setelahnya sebagai sebuah kota yang pernah mempersatukan
berbagai negara sedunia dalam satu event olahraga.
Melalui koneksinya, Welch dan jaringannya berhasil mendapat
bocoran bahwa Komite Olimpiade Nagano telah menghabiskan puluhan juta dolar
untuk “acara selamat datang” bagi 62 anggota IOC (Komite Olimpiade
Internasional) dari berbagai negara. Komite itu diduga telah menghabiskan
sekitar 14 juta dolar untuk mengadakan acara makan malam sushi berkualitas
terbaik, mandi air panas, dan para geisha.
Berdasarkan informasi ini, Komite Olimpiade Salt Lake
menambah anggaran “pra-Olimpiade” mereka menjadi 16 juta dolar. Dana sebesar
itu mereka gunakan untuk memberikan “hadiah’ bagi 20 orang anggota IOC dalam
bentuk uang tunai, bingkisan, tiket pesawat dan akomodasi, bahkan biaya kuliah
anak-anak mereka.
Salt Lake memang berhasil memenangi hak sebagai tuan rumah
Olimpiade Musim Dingin 2002. Akan tetapi, skandal keuangan ini terungkap
beberapa bulan kemudian melalui investigasi yang dilakukan IOC dan Departemen
Kehakiman AS. Hasilnya, Welch dan rekan-rekannya dibebaskan dari segala
tuduhan, sementara 20 anggota IOC yang terlibat diberhentikan dari jabatan
mereka. Tidak ada sanksi hukum yang dijatuhkan karena pemberian hadiah (dan
menerimanya) dianggap tidak melanggar peraturan apa pun.
Pelestarian berawal dari memuliakan
Mengungkapkan rasa terima kasih bisa dilakukan dengan banyak
cara, dan yang terpenting adalah melalui perbuatan. Mencermati contoh di atas,
adalah naif apabila kita tidak merasakan keharusan untuk membalas segala hal
yang menyenangkan dengan tindakan setara. Mudah sekali untuk membalas sebuah perbuatan
baik apabila si pelaku perbuatan tersebut adalah manusia. Melanggar hukum atau
tidak, itu tergantung peraturan di negara masing-masing.
Persembahan (atau disebut juga sesaji) adalah tindakan yang
dilakukan para penghayat Kepercayaan Asli Lithuania (Romuva) sebagai ungkapan
rasa terima kasih kepada alam seisinya atas hal-hal yang mereka ambil dari
alam. Ini mencakup udara, air, kayu, hewan, tumbuhan, bahkan sumber daya alam
seperti minyak dan gas. Dalam perspektif Romuva, rasa terima kasih perlu
dirupakan sebagai cara menanamkan rasa rendah hati, komitmen, dan kesadaran
untuk senantiasa menjaga kelestarian alam dan lingkungan.
Berawal dari rasa muak yang ditunjukkan peradaban modern
belakangan ini, Romuva tumbuh menjadi organisasi berskala regional yang diakui pemerintah
Lithuania. Berkat sudut pandang para penghayatnya yang terbuka, mereka
menemukan banyak kemiripan dalam Hindu, terutama dalam hal pemuliaan terhadap
leluhur dan alam sekitar. Keduanya juga sama-sama memaknai api sebagai sarana
untuk menyempurnakan sesaji yang mereka haturkan sebagai ungkapan rasa terima
kasih pada alam sekitar.
Melemparkan makanan (biji-bijian atau mentega) ke dalam api
artinya kita “membuang” sesuatu yang sudah kita dapatkan dengan susah payah (bekerja,
bertani, memasak, dll.) untuk dikembalikan pada alam. Dalam perspektif modern,
ini adalah perbuatan sia-sia karena kita membuang-buang sesuatu yang seharusnya
bisa kita nikmati bersama keluarga, apalagi di tengah situasi ekonomi sulit di
mana kita harus berhemat agar bisa bertahan hidup.
Di zaman lampau, masyarakat tidak memiliki pikiran semacam
ini karena gaya hidup mereka masih sangat sederhana, demikian pula kebutuhan
mereka. Mereka tidak khawatir mengorbankan milik mereka demi sesuatu yang “bukan
apa-apa”, karena apa yang mereka korbankan sebagai sesaji hari ini akan kembali
tumbuh untuk mereka panen sebagai pemenuhan kebutuhan hidup di masa depan. Namun,
pola pikir semacam ini dianggap tidak relevan seiring dengan biaya kebutuhan
hidup yang kian hari kian mencekik.
Beratnya pengorbanan
Ketika Komite Olimpiade Salt Lake menandatangani persetujuan
untuk merogoh 16 juta dolar dari anggaran pemerintah kota demi menyenangkan
hati para anggota IOC, ada sesuatu yang ingin mereka dapatkan sehingga mereka
rela “bertaruh” sekian puluh juta dolar demi terpilih menjadi tuan rumah
Olimpiade. Artinya, “pengorbanan” ini dilakukan hanya dengan setengah hati
karena komite tersebut tidak menggunakan uang pribadi masing-masing anggota
demi tercapainya suatu status sebagai tuan rumah Olimpiade.
Dalam konteks Romuva, mengungkapkan rasa terima kasih pada
alam sekitar bukanlah sesuatu yang sia-sia karena para penghayatnya bisa
menyadarkan diri sendiri tentang manfaat tindakan itu sendiri. Sesaji biasanya
terdiri dari bahan-bahan yang mudah terdegradasi (bunga, dedaunan, kemenyan,
buah-buahan, biji-bijian, dll.) setelah terbakar dalam api. Sisa-sisa
pembakaran akan dibuang ke tanah dan bertransformasi menjadi humus seiring
waktu, sehingga tanah tetap terjaga kesuburannya walaupun kita terus mengambil
darinya. Hasil pengorbanan memerlukan proses dan tidak instan.
Namun, kita merasa berat melakukannya karena “waktu adalah uang” dan menghitung hari pohon tumbuh besar adalah aktivitas yang membuang waktu, dan uang, tentunya … (dswas)



