Sabtu, 13 Desember 2025

Ilmu Kuno, Salah Satu Cara Selamat Dari Bencana Alam

Siapakah yang patut disalahkan ketika terjadi bencana banjir yang menghanyutkan korban jiwa maupun harta benda: apakah hujan deras, cuaca ekstrem, perubahan iklim, deteksi dini bencana yang tidak berfungsi, atau kelalaian manusia?  Peradaban manusia tengah mengalami suatu masa genting yang menguji seberapa mampu mereka menghadapi dinamika hidup yang digerakkan oleh kekuatan alam.

Kita memiliki ambisi untuk selalu lebih sempurna daripada generasi sebelum kita dalam berbagai hal dengan cara mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi hingga mencapai level yang belum pernah dicapai sebelumnya. Tujuan kita memelihara kehidupan dan mengangkatnya ke level tertinggi demi kesejahteraan bersama umat manusia adalah yang menggerakkan langkah dan pencapaian kita di hari ini.


Ilustrasi: koleksi pribadi


Peradaban manusia telah mengantarkan mereka berpetualang di luar angkasa, tetapi ada satu hal yang belum bisa mereka taklukkan sepenuhnya. Yaitu, cuaca. Dalam beberapa tahun terakhir, bencana alam yang disebabkan cuaca buruk kian meningkat sebagai akibat dari terjadinya perubahan iklim. Ketika para aktivis lingkungan hidup melemparkan tuduhan pada perusahaan minyak dan gas sebagai penyebab utama perubahan iklim, mereka lupa mengedukasi masyarakat tentang cara bertahan hidup dan menyelamatkan diri di tengah berbagai peristiwa alam yang diduga kuat terjadi akibat perubahan iklim, antara lain, banjir, tanah longsor, badai, dan kekeringan.

Akibatnya, korban terus berjatuhan sebagai dampak peristiwa bencana alam di atas yang sebenarnya bukan hal baru dan sudah pernah terjadi ratusan atau ribuan tahun lalu sejak dunia ini ada. Generasi lampau manusia mampu menyadari bahwa fenomena alam tidak dapat mereka ubah atau pengaruhi, sehingga mereka mengembangkan pengetahuan kuno untuk bertahan hidup di tengah situasi jagat raya yang terus berubah. Salah satunya adalah pengetahuan kuno tentang membaca tanda-tanda cuaca.

Berawal dari kepercayaan kuno

Pengetahuan kuno sebagai bagian dari budaya suatu masyarakat terbentuk dari perpaduan antara kondisi sekitar dan kesadaran spiritual dalam bentuk kepercayaan asli (native faith). Pemuliaan terhadap alam dan fenomena yang menyertainya menumbuhkan keingintahuan peradaban muda manusia untuk lebih mengenal karakternya, sebagai suatu langkah awal untuk bertahan hidup di tengah ketidakpastian dunia seisinya.

Jutaan masyarakat kuno penghayat kepercayaan asli di seluruh dunia mengembangkan pengetahuan alam mereka berangkat dari rasa hormat mereka terhadap unsur-unsur alam, termasuk masyarakat kuno Slavia Timur. Mereka bukan hanya mengembangkan ilmu tentang pemeliharaan alam sekitarnya melalui penyakralan unsur-unsur alam menurut Kepercayaan Asli Slavia, tetapi juga pengetahuan yang berkaitan dengan menafsirkan tanda-tanda alam sebelum terjadinya peristiwa besar yang bisa mengancam keselamatan mereka.

Di Polandia, di mana minat masyarakat terhadap kepercayaan asli sedang menguat belakangan ini, dibentuk pendekatan modern untuk memahami perilaku unsur-unsur alam (bulan, matahari, langit/ udara, air, tanah, hewan, tumbuhan, dll.) sebelum terjadinya peristiwa tertentu. Pendekatan modern ini berakar dari pengetahuan kuno dari para leluhur yang tekun mengamati alam dan mengingat, lalu meneruskannya secara lisan ke generasi di bawahnya.

Di era modern, kita bisa mengandalkan aplikasi cuaca atau badan meteorologi setempat sebagai penyedia informasi cuaca tepercaya. Di masa lalu, prediksi cuaca berikut intensitasnya merupakan hasil penafsiran lebih dari satu pertanda. Sebagai contoh, perilaku tumbuhan atau hewan tertentu bisa menjadi pertanda hujan akan segera turun. Bila malam sebelumnya terjadi bulan purnama disertai halo di sekelilingnya, ini pertanda bahwa ada peristiwa besar yang datang bersama hujan (banjir, badai) dalam waktu dekat.

Saling membutuhkan, saling menghancurkan

Kepercayaan asli tidak menjanjikan pahala karena berpedoman pada kewawasan diri tentang sebab dan akibat. Memuliakan (yang bersinonim dengan ‘memuja’) alam dalam bentuk sesaji merupakan bentuk pengakuan si pelaku terhadap keberadaan alam, sehingga ia pun akan menahan diri dari melakukan tindakan pengabaian terhadap eksistensi alam itu sendiri. Mengabaikan alam dalam bentuk eksploitasi berlebihan akan berujung pengabaian alam terhadap eksistensi kita. Sesederhana itu.

Hukum ini masih tidak berubah hingga saat ini, walaupun baik alam maupun peradaban manusia sudah mengalami perubahan besar. Karena berbagai faktor, keduanya tetap saling membutuhkan dan saling menghancurkan di saat yang sama. Namun, seharusnya kita tidak perlu cemas apabila sudah mengetahui dan menyadari sedikit dan banyak campur tangan kita sebagai penyebabnya. (dswas)

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...