Piala Dunia 2026 merupakan momen selamat tinggal bagi sederet bintang lapangan, antara lain Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Luka Modric, Antoine Griezmann, Manuel Neuer, Robert Lewandowski, Kevin de Bruyne, Virgil van Dijk, Mohamed Salah, dan Neymar Jr (jika ia dipanggil masuk timnas). Beberapa dari mereka sudah mengumumkan secara resmi akhir tugas internasional sebagai pemain timnas, sedangkan sebagian lainnya merupakan spekulasi media mengingat faktor usia yang sudah menginjak paruh 30-an tahun.
Menariknya, para bintang baru yang sedang berebut tahta
Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi adalah para penggemar dua GOAT tersebut.
Erling Haaland dan Alejandro Garnacho, misalnya, adalah fans Ronaldo sejak
mereka kecil sampai saat ini. Para penggemar Liga Inggris pasti dapat membaca
tindak-tanduk Haaland yang sangat terinpirasi gaya Ronaldo: percaya diri di
lapangan dan sedikit arogan. Garnacho bahkan menirukan gaya selebrasi CR7,
termasuk kebiasaan mencibir suporter tim lawan.
Lionel Messi cukup beruntung diidolakan dua bintang
muda Jerman dan Spanyol yang sedang jadi sorotan media, Jamal Musiala dan
Lamine Yamal. Musiala menunjukkan karakter Messi di masa mudanya, rendah hati
sembari tak henti memamerkan kelincahan dan kepiawaian di lapangan. Sementara
itu, Yamal yang saat ini membela mantan klub Messi sedang menghadapi media dan para pengguna media sosial akibat perilakunya yang dianggap sama sekali
bertolak belakang dari Messi, si low-profile.
Sakral karena karakter
Dalam Kepercayaan Asli Slavia (Slavic Native Faith), pohon pinus dianggap sakral karena karakternya menjadi pedoman tentang ketegaran hati
di segala kondisi. Pohon pinus termasuk jenis pohon evergreen, yaitu pohon yang tetap berdaun hijau di segala musim,
baik musim semi, musim panas, musim gugur, bahkan musim dingin. Pohon pinus
dewasa akan lebih kuat di tengah cuaca ekstrem dibanding pinus muda, sehingga
para penghayat kepercayaan ini pun menganggap pohon pinus sebagai perlambang
bagi harapan ketika hidup tidak sedang baik-baik saja.
Namun, bukan hanya sisi filosofi saja yang membuat
sekelompok komunitas penghayat Kepercayaan Asli Slavia di Baikal, Rusia,
menyakralkan sebuah hutan pinus di wilayah itu. Hutan pinus berperan penting
dalam keberlanjutan ekologi berkat kemampuannya menyerap karbon, apalagi pohon
pinus tua dikenal dapat menyerap lebih banyak karbon dan melepaskan lebih
banyak oksigen. Salju yang bertengger di ujung daun pohon pinus akan mencair
perlahan di musim semi, sehingga air yang terbentuk tidak sampai mengalir deras
menjadi banjir. Selain akar-akarnya yang mampu mengikat air, buah pinus jenis
tertentu hanya dapat beregenerasi saat suhu udara memanas akibat kebakaran
hutan.
Para peneliti Rusia menemukan bahwa salah satu pohon pinus di
Pulau Olkhon, Baikal, sudah berumur 400 tahun. Pohon pinus setinggi 20 meter dengan
dengan batangnya masih segar, dan 90% cabang-cabangnya masih beregeneras,i
berdiri di tengah hutan yang dianggap sakral oleh para leluhur wilayah itu. Ketika
hutan sakral itu beralih fungsi menjadi pemukiman dan pabrik pengolahan ikan,
pohon pinus tua ini dipertahankan dan dinobatkan sebagai monumen oleh LSM,
akademisi, dan Departemen Kehutanan Rusia.
Muda selamanya
Berkaca dari kisah pohon pinus sakral di Pulau Olkhon di
atas, sesuatu yang kita sayangi, hargai, dan pelihara dengan baik akan hidup
lebih tahan lama guna membayar kembali apa yang sudah kita lakukan untuknya.
Pohon sakral ini terus bertahan menunjukkan apa yang ia bisa di usia yang tak
lagi muda, memberikan manfaat bagi kelestarian alam sekitar dan kehidupan
manusia di sekitarnya, hingga ia dianugerahi status sebagai monumen.
Entah apa yang sedang berkecamuk di hati Ronaldo dan Messi
belakangan ini menjelang turnamen internasional terakhir mereka sebagai pemain
tim kebanggaan negara masing-masing. Keduanya mungkin masih akan bermain
beberapa tahun di level klub, walaupun tak segemerlap era rivalitas El Clasico.
Akan tetapi, ada eks pesepakbola top yang justru menuai sukses di bidang baru
mereka di luar dunia sepak bola.
Michael Owen, pemain muda MU di era 90-an, meraih sukses di
bidang peternakan kuda pacuan. George Weah, yang lebih berprestasi bersama klub
AC Milan dibanding timnas di masa mudanya (juga di era 90-an), terpilih menjadi
Presiden Liberia setelah ia terjun ke dunia politik di masa pensiunnya.
Sementara itu, Hidetoshi Nakata, salah satu generasi pertama pemain Asia di
klub elit Eropa, pensiun dini di usia 29 tahun dan meraih sukses di panggung
catwalk.
Karena banyak faktor, jumlah eks pesepakbola top bernasib sama seperti mereka tidak banyak. Apa tepatnya yang menggerakkan mereka untuk terus bergerak bagaikan pohon pinus tua yang terus menumbuhkan cabang-cabang baru, itulah yang perlu kita selidiki lebih lanjut. (dswas)