Aqua vitae, air kehidupan, diyakini dapat menyembuhkan demam, sakit kepala, mematikan kuman-kuman dalam daging atau sayur-sayuran, mencegah masuk angin, melancarkan pencernaan, mencegah penyakit ginjal dan liver, membuat tidur lebih nyenyak, dan meningkatkan nafsu makan. Selain itu, air kehidupan juga dipercaya dapat meningkatkan daya ingat seseorang sekaligus menumbuhkan keberanian.
Di Abad Pertengahan atau jaman Renaissance, air penyelamat
hidup ini diciptakan dari proses penyulingan beberapa jenis bahan seperti
beras, gandum, dan, tentu saja, anggur. Anggur? Ya. Di abad 12, minuman
beralkohol alias minuman keras bukanlah minuman bagi mereka yang ingin melupakan
segala masalah dengan mabuk-mabukan, melainkan sebagai obat untuk berbagai
jenis penyakit. Sesuai namanya: air yang membangkitkan kembali gairah hidup
dalam tubuh manusia.
Menurut sejarahnya,
teknologi awal penciptaan minuman keras berasal dari teknik penyulingan yang
ditemukan para kimiawan Yunani dan Persia. Teknologi ini dikembangkan untuk
tujuan mengubah logam mentah menjadi logam mulia dan air kehidupan yang membuat
manusia hidup abadi. Ketika Arab menaklukkan Alexandria dan Persia, teknologi
ini mereka pelajari lalu dikembangkan lebih jauh oleh para ilmuwan Arab untuk
memproduksi minuman keras.
Di abad 12 teknologi ini pun kemudian menyebar ke Eropa,
tepatnya di Eropa Selatan, di mana dua universitas masing-masing di Salermo
(Italia) dan Montpeiller (Prancis) menjadi pusat penelitian dan pengembangan
ilmu pengetahuan penyulingan minuman beralkohol. Namun, minuman keras yang
diproduksi di dua kampus ini ditujukan untuk keperluan medis dan bukan minuman
untuk dikonsumsi. Sebagaimana tujuan awal penciptaan alkohol, yaitu sebagai
pembasmi kuman (disinfektan).
Kerusakan lingkungan tanda masalah spiritual
Era baru di beberapa negara Eropa Timur yang dimulai awal
90-an membuka jalan bagi kebangiktan sejumlah agama/kepercayaan asli di wilayah
itu. Meski dikenal memiliki sosok pemimpin yang dikenal keras hati dan sering
didemo warganya, yaitu Perdana Menteri Viktor Orban, tetapi iklim Hungaria
cukup kondusif bagi beberapa aliran kepercayaan asli Hungaria beserta para
penghayatnya. Mereka tidak dilarang menyebarkan ajaran kepercayaan mereka, tidak
juga harus berkompromi dengan masyarakat yang tidak toleran.
Sebagaimana sebagian besar aliran kepercayaan asli di
berbagai penjuru dunia, para penghayat Kepercayaan Asli Hungaria yakin bahwa
alam bukanlah benda mati yang bisa dieksploitasi sekehendak hati. Air,
misalnya, merupakan unsur penting dalam sejumlah upacara adat, terutama yang
berkaitan dengan penyembuhan. Apabila air tercemar, maka mereka tak bisa lagi
memanfaatkan air untuk membantu menstimulasi sel-sel dalam tubuh agar dapat
tumbuh dan tubuh sehat kembali.
Menurut perspektif Kepercayaan Asli Hungaria, menjaga keseimbangan
energi antara dunia manusia dan alam diwujudkan bukan hanya dengan memberikan
sesaji, tetapi juga dalam bentuk memelihara kelestariannya. Hal ini hanya bisa
dilakukan jika sebuah komunitas memiliki kesadaran spiritual yang bukan hanya
sebatas tata cara beribadah, tetapi lebih kepada kesadaran tentang keterkaitan
mereka dengan apa yang ada di sekelilingnya, termasuk air, udara, bumi,
pepohonan, dan api.
Melakukan tindakan yang memicu ketidakseimbangan antara dunia manusia dan alam sekitar dianggap sebagai tindakan merugikan diri sendiri, apa pun tujuan yang melatarbelakanginya. Mereka yang melakukannya dianggap tersesat secara spritiual karena tidak menyadari posisinya di tengah alam sekitar. Sehingga tidak berlebihan bila para penghayat Kepercayaan Asli Hungaria menganggap kerusakan lingkungan menandakan ada yang tidak beres dalam spiritualitas individu maupun kelompok yang bersangkutan.
Keselamatan bisa diusahakan
Salah satu kekeliruan terbesar yang sering dilakukan
masyarakat religius adalah pandangan memasrahkan keselamatan diri mereka pada
nasib, yang didasari asumsi bahwa mereka akan selamat karena sudah berperilaku
baik sesuai peraturan dalam agama dan kepercayaan masing-masing. Sikap pasrah
pada level tertentu bisa berbahaya, karena dunia dan seisinya tidak berperilaku
berdasarkan keinginan para makhluk yang tinggal di dalamnya.
Keselamatan bukanlah hal yang muncul sekonyong-konyong,
melainkan suatu hasil dari rentetan tindakan yang sudah dilakukan sebelumnya
dengan tujuan mempertahankan keberlanjutan hidup. Memang memelihara kehidupan
itu rumit dan berbelit, karena menikmati hidup sepuas-puasnya selalu lebih
mudah dan lebih menyenangkan.
Sebagai contoh, minum alkohol sampai K.O selalu lebih mudah daripada memikirkan takaran yang tepat agar alkohol bermanfaat bagi kesehatan pencernaan. Saya tidak bermaksud menceramahi. Namun, sebagai seseorang yang pernah mengalami dua kali kecelakaan sepeda motor dan satu perkelahian di bawah pengaruh alkohol di usia 20-an, saya berharap yang terbaik bagi siapa pun yang sedang menghadapi situasi problematik tersebut. (dswas)
