Siapakah yang patut disalahkan ketika terjadi bencana banjir yang menghanyutkan korban jiwa maupun harta benda: apakah hujan deras, cuaca ekstrem, perubahan iklim, deteksi dini bencana yang tidak berfungsi, atau kelalaian manusia? Peradaban manusia tengah mengalami suatu masa genting yang menguji seberapa mampu mereka menghadapi dinamika hidup yang digerakkan oleh kekuatan alam.
Kita memiliki ambisi untuk selalu lebih sempurna daripada
generasi sebelum kita dalam berbagai hal dengan cara mengembangkan ilmu
pengetahuan dan teknologi hingga mencapai level yang belum pernah dicapai
sebelumnya. Tujuan kita memelihara kehidupan dan mengangkatnya ke level
tertinggi demi kesejahteraan bersama umat manusia adalah yang menggerakkan
langkah dan pencapaian kita di hari ini.
Peradaban manusia telah mengantarkan mereka berpetualang di
luar angkasa, tetapi ada satu hal yang belum bisa mereka taklukkan sepenuhnya.
Yaitu, cuaca. Dalam beberapa tahun terakhir, bencana alam yang disebabkan cuaca
buruk kian meningkat sebagai akibat dari terjadinya perubahan iklim. Ketika
para aktivis lingkungan hidup melemparkan tuduhan pada perusahaan minyak dan
gas sebagai penyebab utama perubahan iklim, mereka lupa mengedukasi masyarakat
tentang cara bertahan hidup dan menyelamatkan diri di tengah berbagai peristiwa
alam yang diduga kuat terjadi akibat perubahan iklim, antara lain, banjir,
tanah longsor, badai, dan kekeringan.
Akibatnya, korban terus berjatuhan sebagai dampak peristiwa
bencana alam di atas yang sebenarnya bukan hal baru dan sudah pernah terjadi
ratusan atau ribuan tahun lalu sejak dunia ini ada. Generasi lampau manusia
mampu menyadari bahwa fenomena alam tidak dapat mereka ubah atau pengaruhi,
sehingga mereka mengembangkan pengetahuan kuno untuk bertahan hidup di tengah situasi
jagat raya yang terus berubah. Salah satunya adalah pengetahuan kuno tentang
membaca tanda-tanda cuaca.
Berawal dari kepercayaan kuno
Pengetahuan kuno sebagai bagian dari budaya suatu masyarakat
terbentuk dari perpaduan antara kondisi sekitar dan kesadaran spiritual dalam
bentuk kepercayaan asli (native faith).
Pemuliaan terhadap alam dan fenomena yang menyertainya menumbuhkan
keingintahuan peradaban muda manusia untuk lebih mengenal karakternya, sebagai
suatu langkah awal untuk bertahan hidup di tengah ketidakpastian dunia
seisinya.
Jutaan masyarakat kuno penghayat kepercayaan asli di seluruh
dunia mengembangkan pengetahuan alam mereka berangkat dari rasa hormat mereka
terhadap unsur-unsur alam, termasuk masyarakat kuno Slavia Timur. Mereka bukan
hanya mengembangkan ilmu tentang pemeliharaan alam sekitarnya melalui
penyakralan unsur-unsur alam menurut Kepercayaan Asli Slavia, tetapi juga
pengetahuan yang berkaitan dengan menafsirkan tanda-tanda alam sebelum terjadinya
peristiwa besar yang bisa mengancam keselamatan mereka.
Di Polandia, di mana minat masyarakat terhadap kepercayaan
asli sedang menguat
belakangan ini, dibentuk pendekatan modern untuk memahami perilaku unsur-unsur
alam (bulan, matahari, langit/ udara, air, tanah, hewan, tumbuhan, dll.)
sebelum terjadinya peristiwa tertentu. Pendekatan modern ini berakar dari
pengetahuan kuno dari para leluhur yang tekun mengamati alam dan mengingat,
lalu meneruskannya secara lisan ke generasi di bawahnya.
Di era modern, kita bisa mengandalkan aplikasi cuaca atau
badan meteorologi setempat sebagai penyedia informasi cuaca tepercaya. Di masa
lalu, prediksi cuaca berikut intensitasnya merupakan hasil penafsiran lebih
dari satu pertanda. Sebagai contoh, perilaku
tumbuhan atau hewan tertentu bisa menjadi pertanda hujan akan segera turun.
Bila malam sebelumnya terjadi bulan
purnama disertai halo di sekelilingnya, ini pertanda bahwa ada peristiwa
besar yang datang bersama hujan (banjir, badai) dalam waktu dekat.
Saling membutuhkan, saling menghancurkan
Kepercayaan asli tidak menjanjikan pahala karena berpedoman
pada kewawasan diri tentang sebab dan akibat. Memuliakan (yang bersinonim
dengan ‘memuja’) alam dalam bentuk sesaji merupakan bentuk pengakuan si pelaku
terhadap keberadaan alam, sehingga ia pun akan menahan diri dari melakukan
tindakan pengabaian terhadap eksistensi alam itu sendiri. Mengabaikan alam
dalam bentuk eksploitasi berlebihan akan berujung pengabaian alam terhadap
eksistensi kita. Sesederhana itu.
Hukum ini masih tidak berubah hingga saat ini, walaupun baik alam maupun peradaban manusia sudah mengalami perubahan besar. Karena berbagai faktor, keduanya tetap saling membutuhkan dan saling menghancurkan di saat yang sama. Namun, seharusnya kita tidak perlu cemas apabila sudah mengetahui dan menyadari sedikit dan banyak campur tangan kita sebagai penyebabnya. (dswas)




