Minggu, 07 Desember 2025

Mengapa Air Kehidupan Berubah Jadi Air Kematian?

Aqua vitae, air kehidupan, diyakini dapat menyembuhkan demam, sakit kepala, mematikan kuman-kuman dalam daging atau sayur-sayuran, mencegah masuk angin, melancarkan pencernaan, mencegah penyakit ginjal dan liver, membuat tidur lebih nyenyak, dan meningkatkan nafsu makan. Selain itu, air kehidupan juga dipercaya dapat meningkatkan daya ingat seseorang sekaligus menumbuhkan keberanian.

Di Abad Pertengahan atau jaman Renaissance, air penyelamat hidup ini diciptakan dari proses penyulingan beberapa jenis bahan seperti beras, gandum, dan, tentu saja, anggur. Anggur? Ya. Di abad 12, minuman beralkohol alias minuman keras bukanlah minuman bagi mereka yang ingin melupakan segala masalah dengan mabuk-mabukan, melainkan sebagai obat untuk berbagai jenis penyakit. Sesuai namanya: air yang membangkitkan kembali gairah hidup dalam tubuh manusia.

Menurut sejarahnya, teknologi awal penciptaan minuman keras berasal dari teknik penyulingan yang ditemukan para kimiawan Yunani dan Persia. Teknologi ini dikembangkan untuk tujuan mengubah logam mentah menjadi logam mulia dan air kehidupan yang membuat manusia hidup abadi. Ketika Arab menaklukkan Alexandria dan Persia, teknologi ini mereka pelajari lalu dikembangkan lebih jauh oleh para ilmuwan Arab untuk memproduksi minuman keras.

Di abad 12 teknologi ini pun kemudian menyebar ke Eropa, tepatnya di Eropa Selatan, di mana dua universitas masing-masing di Salermo (Italia) dan Montpeiller (Prancis) menjadi pusat penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan penyulingan minuman beralkohol. Namun, minuman keras yang diproduksi di dua kampus ini ditujukan untuk keperluan medis dan bukan minuman untuk dikonsumsi. Sebagaimana tujuan awal penciptaan alkohol, yaitu sebagai pembasmi kuman (disinfektan).

 

Ilustrasi: koleksi pribadi

Kerusakan lingkungan tanda masalah spiritual

Era baru di beberapa negara Eropa Timur yang dimulai awal 90-an membuka jalan bagi kebangiktan sejumlah agama/kepercayaan asli di wilayah itu. Meski dikenal memiliki sosok pemimpin yang dikenal keras hati dan sering didemo warganya, yaitu Perdana Menteri Viktor Orban, tetapi iklim Hungaria cukup kondusif bagi beberapa aliran kepercayaan asli Hungaria beserta para penghayatnya. Mereka tidak dilarang menyebarkan ajaran kepercayaan mereka, tidak juga harus berkompromi dengan masyarakat yang tidak toleran.  

Sebagaimana sebagian besar aliran kepercayaan asli di berbagai penjuru dunia, para penghayat Kepercayaan Asli Hungaria yakin bahwa alam bukanlah benda mati yang bisa dieksploitasi sekehendak hati. Air, misalnya, merupakan unsur penting dalam sejumlah upacara adat, terutama yang berkaitan dengan penyembuhan. Apabila air tercemar, maka mereka tak bisa lagi memanfaatkan air untuk membantu menstimulasi sel-sel dalam tubuh agar dapat tumbuh dan tubuh sehat kembali.

Menurut perspektif Kepercayaan Asli Hungaria, menjaga keseimbangan energi antara dunia manusia dan alam diwujudkan bukan hanya dengan memberikan sesaji, tetapi juga dalam bentuk memelihara kelestariannya. Hal ini hanya bisa dilakukan jika sebuah komunitas memiliki kesadaran spiritual yang bukan hanya sebatas tata cara beribadah, tetapi lebih kepada kesadaran tentang keterkaitan mereka dengan apa yang ada di sekelilingnya, termasuk air, udara, bumi, pepohonan, dan api.

Melakukan tindakan yang memicu ketidakseimbangan antara dunia manusia dan alam sekitar dianggap sebagai tindakan merugikan diri sendiri, apa pun tujuan yang melatarbelakanginya. Mereka yang melakukannya dianggap tersesat secara spritiual karena tidak menyadari posisinya di tengah alam sekitar. Sehingga tidak berlebihan bila para penghayat Kepercayaan Asli Hungaria menganggap kerusakan lingkungan menandakan ada yang tidak beres dalam spiritualitas individu maupun kelompok yang bersangkutan.

Keselamatan bisa diusahakan

Salah satu kekeliruan terbesar yang sering dilakukan masyarakat religius adalah pandangan memasrahkan keselamatan diri mereka pada nasib, yang didasari asumsi bahwa mereka akan selamat karena sudah berperilaku baik sesuai peraturan dalam agama dan kepercayaan masing-masing. Sikap pasrah pada level tertentu bisa berbahaya, karena dunia dan seisinya tidak berperilaku berdasarkan keinginan para makhluk yang tinggal di dalamnya.

Keselamatan bukanlah hal yang muncul sekonyong-konyong, melainkan suatu hasil dari rentetan tindakan yang sudah dilakukan sebelumnya dengan tujuan mempertahankan keberlanjutan hidup. Memang memelihara kehidupan itu rumit dan berbelit, karena menikmati hidup sepuas-puasnya selalu lebih mudah dan lebih menyenangkan.

Sebagai contoh, minum alkohol sampai K.O selalu lebih mudah daripada memikirkan takaran yang tepat agar alkohol bermanfaat bagi kesehatan pencernaan. Saya tidak bermaksud menceramahi. Namun, sebagai seseorang yang pernah mengalami dua kali kecelakaan sepeda motor dan satu perkelahian di bawah pengaruh alkohol di usia 20-an, saya berharap yang terbaik bagi siapa pun yang sedang menghadapi situasi problematik tersebut. (dswas)



Selasa, 02 Desember 2025

Menghindari “Jeratan” Kekayaan Alam

Berapa sih uang yang bisa kita dapat dari menjual kayu gelondongan? Dari satu meter kubik kayu gelondongan berkualitas baik, kita bisa membawa pulang uang sekitar Rp 5 sampai 7 juta (untuk jenis kayu jati dan mahoni). Untuk kayu merbau dan kayu keras tropis lainnya bisa lebih tinggi lagi, yaitu sekitar Rp 15 juta per meter kubik. Bila dikonversi ke dolar, nilainya bisa mencapai USD 300-900 per meter kubik, tergantung jenis dan kualitas kayu.

Dengan kata lain, hanya dari 100 meter kubik kayu gelondongan seseorang bisa mengantongi uang senilai USD 30.000 atau sekitar Rp 500 juta lebih, tanpa berjualan apa pun atau bekerja sampai larut malam. Cukup datang mengunjungi sebuah hutan lalu membabat habis seluruh pohonnya, lalu kita dan keluarga kita bisa kaya mendadak.

Kayu dari hutan hujan tropis kuno sepertu hutan Amazon, Lembah Kongo, Sumatra dan Kalimantan (yang tinggal cerita) sangat diminati dan bernilai tinggi karena kualitas kayunya lebih baik daripada kayu hutan tanam industri. Serat kayu tua lebih rapat, batangnya lebih besar, lebih tahan lama, dan pola inti kayunya pun lebih indah dibandingkan kayu hutan tanaman industri.

Untuk memperoleh kayu gelondongan dari hutan tanaman industri, seseorang harus meluangkan waktu untuk membuka lahan, menanami lahan tersebut, melakukan pemeliharaan. Kayu hutan hujan tropis lebih praktis karena kita hanya perlu mengambilnya dari hutan dan tak perlu membayar apa pun, alias gratis. Tinggal ambil dan bawa pulang.

Maka sangat bisa dipahami apabila seseorang memilih berbisnis di bidang perkayuan daripada bidang lainnya, karena nilai ekonominya benar-benar menggiurkan dan tak butuh terlalu banyak “pengorbanan”.

Namun, karena bisnis ini sangat tergantung pada jumlah kayu yang tersedia di hutan hujan tropis (bukan hutan tanaman industri), maka para pebisnis di bidang ini perlu berhati-hati ketika luas hutan hujan tropis semakin sedikit. Mereka bisa terancam tak lagi mendapat penghasilan mudah dan cepat apabila seluruh hutan hujan tropis di muka Bumi ini telah lenyap.


Ilustrasi: koleksi pribadi 


‘Produk’ masa lalu yang berkualitas  

Masyarakat Kepercayaan Asli Tajik menganggap suci pepohonan jenis tertentu, mengaitkannya dengan fungsi sakral pepohonan sebagai tempat tinggal para leluhur dan pelindung bagi kelompok yang tinggal di sekitarnya. Aliran kepercayaan yang masih dipertahankan oleh masyarakat Tajikistan di wilayah tertentu juga melarang penebangan pohon tua secara sembarangan, sehingga saat ini kita masih dapat menjumpai pohon murbai dan cemara yang sudah berumur ratusan dan ribuan tahun di negara eks Soviet tersebut.

Salah satu ritual yang masih dijalankan masyarakat Tajikistan adalah mengikatkan secarik kain pada pohon yang disucikan sebagai bentuk simbolis mencari penghiburan dari kesulitan yang tengah dihadapi, entah itu penyakit, kesedihan, atau ketidakberuntungan lain dalam hidup. Orang-orang yang tidak memahami kebiasaan orang Tajikistan akan menganggap mereka sesat, walaupun kita tahu bahwa perspektif kita bukanlah satu-satunya penyebab dunia ini dapat bertahan.

Ternyata para leluhur Tajikistan sudah sangat memahami fungsi dan manfaat berbagai jenis pohon yang dianggap sakral jauh sebelum peradaban manusia mengenal ilmu botani. Pohon murbai dan cemara, misalnya, memiliki sistem akar yang kuat sehingga membantu mencegah terjadinya tanah longsor dan banjir lumpur di desa-desa yang terletak di pegunungan. Pepohonan jenis ini juga membantu mencegah erosi di area tepian sungai. Akar yang kuat sangat penting bagi pemeliharaan sumber-sumber air untuk keperluan sehari-hari, sehingga pohon murbai ditanam di sekitar aliran air. Pohon murbai juga dikenal membantu menyaring udara dari debu, cocok ditanam di daerah yang kering dan berangin kencang.  

Spiritualitas yang membawa kesejahteraan  

Kekayaan alam yang tersimpan di sekitar kita sungguh luar biasa, karena bisa membuat kita tergoda untuk menguasainya demi sejumlah uang. USD 30 ribu yang bisa kita dapat dari menjual 100 meter kubik kayu hutan hujan tropis dari Sumatra, misalnya. Akan tetapi, krisis finansial global menunjukkan kian tipisnya perbedaan antara uang USD 1 dan USD 100, karena kedua nominal itu sama-sama bisa habis dalam waktu singkat.

Tajikistan bukanlah negara yang sangat maju seperti negara-negara Eropa Barat, sehingga deforestasi juga menjadi masalah serius di negara seluas 141 km persegi tersebut. Pemerintah Tajikistan berupaya melibatkan masyarakat setempat yang masih mempraktikkan Kepercayaan Asli Tajik dalam sejumlah proyek restorasi hutan. Peran mereka dianggap penting karena kepercayaan yang mereka jalankan dianggap mampu menjadi penuntun dan penggugah kesadaran mereka untuk menjaga kelestarian hutan.

Di tengah himpitan arus modernisasi dan generasi muda yang menolak mempelajari kebijaksanaan leluhur, masyarakat Kepercayaan Asli Tajik terus berusaha menjaga dan melestarikan hutan mereka. Mereka adalah sedikit dari sekian jumlah orang di luar sana yang masih memahami bahwa sejumlah uang yang didapat dari menebang pohon di hutan tak sebanding nilainya dengan kerusakan akibat musnahnya pepohonan. (dswas)

Jumat, 28 November 2025

Kekayaan Yang Sebenarnya: Mengubah Bencana Jadi Anugerah

Kabar gembira. Jumlah orang kaya secara global saat ini mengalami peningkatan, yaitu 3000 miliuner berdasarkan data Maret 2025. Dari jumlah tersebut, Amerika Serikat memimpin dalam hal jumlah milyuner terbanyak, yaitu 902 orang, yang terkonsentrasi di industri teknologi informasi. Sementara itu, China dan India menempati peringkat kedua dan ketiga dengan jumlah masing-masing 512 dan 205 miliuner.

Para ekonom dan ahli keuangan menyambut gembira perkembangan ini, mengingat pertambahan jumlah orang kaya di beberapa negara merupakan tanda-tanda awal bahwa ekonomi dunia tengah membaik dibandingkan era pandemi COVID 2020. Para miliuner ini adalah orang-orang yang telah membanting tulang di sepanjang hidupnya, menyebar aset-asetnya dalam bentuk saham dan obligasi, sehingga tibalah saat ketika mereka dapat menikmati segala upaya yang telah dilakukan bertahun-tahun silam.

Ya, menjadi orang kaya memang luar biasa nikmat: banyak uang, barang-barang mewah, rumah besar, mobil lux, liburan ke luar negeri, dst. Seperti apa situasi para miliuner ini sebenarnya sebelum mereka jadi super kaya, seberapa keras mereka harus bekerja, apa yang mereka korbankan agar mencapai puncak karir dan akhirnya sukses, kita tidak pernah tahu pasti. Sama seperti gunung yang tampak indah dari kejauhan, setelah didekati ternyata jauh berbeda.

Selain terjal dan berbatu, “raut muka” gunung dari dekat tidaklah serata dan secantik apa yang dipamerkan di foto-foto medsos tentang spot wisata Instagrammable. Percaya atau tidak, apa yang paling bernilai dari sebuah gunung adalah hutan dan vegetasi alam di sekitarnya. Selain rasa bangga sudah mencapai sebuah puncak gunung, nyaris tidak ada hal lain yang bisa membuat kita betah berlama-lama di situ.

 

Ilustrasi: koleksi pribadi

Memuliakan alam bukan sesat

Sayangnya, suka atau tidak suka, peradaban perkotaan sering kali berada dalam situasi di mana pepohonan menjadi pembawa bencana. Kejadian pohon tumbang yang menelan korban jiwa dan materi bukan hal baru, di negara mana pun. Bermula dari cuaca buruk, badai atau hujan deras (atau gabungan keduanya), si pelindung tua di tengah cuaca panas berubah menjadi sumber bencana karena batangnya yang besar roboh, lalu menghancurkan kendaraan atau gedung dan rumah-rumah penduduk.

Kepercayaan Rakyat Armenia (Armenian Folk Beliefs) menganggap pepohonan itu suci, sama sucinya dengan mata air. Masyarakat pemeluk kepercayaan ini meyakini bahwa dengan menandai pohon tertentu dengan secarik kain mereka telah memberitahu sesamanya tentang keberadaan pohon “sakti” tersebut. Ketika semakin banyak orang yang mengikatkan kain di pohon itu, orang-orang lain dari luar komunitas mereka akan berpikir dua kali untuk menebangnya.

Dalam sudut pandang teologi monoteistik, kebiasaan ini dianggap sesat karena menyamakan kebesaran Sang Maha Pencipta dengan benda-benda duniawi, misalnya pohon (Kepercayaan Rakyat Armenia juga menganggap suci mata air, seperti dalam Hindu). Pepohonan bisa tumbang dan tak ada dari mereka yang membela diri mendemonstrasikan kedigdayaan saat para manusia orcs membabat habis hutan.

Dan ini terbukti di saat Armenia mengalami krisis sosial dan ekonomi pasca pembubaran Uni Soviet di akhir 1991. Tanpa kepastian tentang dukungan suplai gas murah yang dahulu mereka dapatkan dari pemerintah Soviet, orang-orang Armenia di masa itu membakar furnitur mereka untuk menghangatkan rumah di tengah kejamnya musim dingin. Ketika semua furnitur habis terbakar, mereka mencari pertolongan ke hutan dan mulai menebangi pohon-pohonnya untuk dijadikan kayu bakar.

Akibatnya sudah bisa ditebak, karena apa yang ditinggalkan deforestasi di belakang selalu sama di mana pun di dunia ini. Banjir dan tanah longsor hanyalah sepenggal kisah yang tersisa dari hilangnya hutan suci. Korban jiwa dan harta benda adalah dampak berikutnya yang menyisakan duka berkepanjangan. 

Penyesalan tidak cukup

Walaupun relatif masih muda sebagai suatu negara, warga Armenia lekas menyadari kekeliruan yang terjadi di masa lalu. Reforestasi dan reboisasi kini gencar dilakukan di negara anggota CSTO (NATO versi Eropa Timur dan Tengah) itu, baik oleh LSM maupun para diaspora yang telah menimba ilmu di luar negeri. Masyarakat Armenia menyadari “kebenaran” di balik petuah para leluhur mereka yang memuliakan rimba belantara.

Memulihkan hutan tidak saja dipandang sebagai upaya penyelamatan lingkungan hidup, tetapi juga melestarikan warisan budaya Armenia sebagai jiwa bangsa dan jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dalam perspektif masyarakat Armenia, pemulihan hutan bukan soal mencari peluang cuan dari industri pariwisata. Memulihkan hutan berarti memulihkan situs-situs alami nan sakral sebagai upaya membangun kembali spiritualitas dan keterkaitan dengan alam, inilah yang signifikan bagi mereka.

Walaupun masalah deforestasi dan dampaknya belum dapat dihilangkan sama sekali dari Armenia, kesadaran tentang keberadaan tempat-tempat sakral adalah langkah awal menuju tujuan bermakna. Semua ini tak akan pernah terlaksana apabila masyarakat Armenia terus terjebak dalam penyesalan berlarut-larut tentang kesalahan di masa lalu.  (dswas)

Rabu, 26 November 2025

Kompleksitas Rasa ‘Terima Kasih’

Beberapa pengamat yakin saat ini Perang Ukraina sedang menjelang babak injury time. Amerika Serikat selaku salah satu pendonor utama Ukraina dalam hal persenjataan dan bantuan kemanusiaan telah menyampaikan proposal perdamaian kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, yang menurut para pengamat politik beberapa bagiannya menguntungkan Rusia. Donald Trump telah mengultimatum Zelensky agar menerima proposalnya, atau negaranya tidak akan menerima bantuan lagi dari AS.

Mulai Januari 2022 (satu bulan sebelum Perang Ukraina) hingga pertengahan 2025, Uni Eropa telah memberikan bantuan senilai 167 miliar euro kepada Ukraina sebagai respons atas operasi militer Rusia di Ukraina yang dimulai pada 24 Februari 2022. Sementara Amerika Serikat telah menyalurkan bantuan senilai 1154 miliar euro selama periode yang sama. Bantuan, baik dari UE dan AS, tidak seluruhnya berupa uang tunai, melainkan bantuan militer dan keuangan. Menurut data auditor AS, Amerika Serikat telah mengalokasikan sekitar 175 miliar dolar untuk Ukraina yang sebagian disalurkan guna membiayai kehadiran para awak militer AS di negara itu. 

Nilai aktual dana yang diterima Ukraina dari kedua pihak ini masih simpang siur, apalagi karena di Ukraina sendiri tengah diguncang kasus korupsi yang melibatkan inner circle (orang-orang dalam) Presiden Zelensky. Di saat yang sama, ratusan ribu pengungsi Ukraina di berbagai negara di Eropa dan Amerika Serikat diisukan akan dipulangkan ke negara mereka. Sebagian dari mereka dikabarkan mengalami pengurangan bantuan keuangan dari negara-negara yang menampung mereka, akibat krisis ekonomi global membuat beban keuangan masing-masing negara penampung bertambah.

Rasa terima kasih tidak pernah usang  

Dalam bahasa Rusia, спасибо (spasibo) berarti “terima kasih”. Secara etimologis, bentuk modern spasibo berasal dari kata spasi bog, yang bermakna “Semoga dewa menyelamatkanmu.”  Ini karena kata spasibog terdiri dari kata spasi yang artinya menyelamatkan, dan bog adalah kata benda yang bermakna dewa.  Sejatinya spasibog adalah sebuah frasa yang diambil dari kalimat doa Kepercayaan Asli Slavia yang kemudian digunakan dalam percakapan sehari-hari.  

Ilustrasi: koleksi pribadi 

Dari makna spasibog tersirat sebuah upaya untuk mengembalikan sesuatu yang diterima seseorang dengan sangat baik dan bermanfaat. Rasa bahagia yang dirasakan si penerima pemberian tersebut diungkapkan dalam harapan semoga hal-hal yang baik juga terjadi dalam hidup atau dialami oleh si pemberi. Seiring dengan dinamika ideologi di Rusia, spasibo pun mengalami perubahan fungsi dari sebuah doa menjadi frasa kesopanan.

Akan tetapi, pandangan masyarakat Slavia tentang terima kasih itu sendiri tidak berubah. Seperti banyak kebijaksanaan lokal lain di seluruh penjuru Bumi, bagi adat Slavia rasa terima kasih tidaklah cukup dengan hanya kata-kata. Rasa terima kasih perlu ditunjukkan melalui perbuatan, termasuk rasa terima kasih pada alam dan para leluhur.   

Salah satu cara berterima kasih pada leluhur yang masih dilakukan beberapa kalangan masyarakat Slavia hingga saat ini adalah menuangkan atau memercikkan sedikit bir atau vodka yang hendak mereka minum, baik di event pribadi maupun komunal. Saya jadi ingat dulu teman-teman sekampus dari Bali juga melakukan “upacara” yang persis sama. Karena keunikan filosofi di baliknya, kebiasaan ini pun segera menular dengan cepat di kalangan teman-teman non Hindu di circle kami saat itu. 

‘Terima kasih’ tidak pernah sesulit ini

Rencana sejumlah negara penampung pengungsi Ukraina untuk memulangkan mereka mau tak mau menimbulkan kecemasan, karena mereka belum yakin keamanan mereka beserta keluarga akan terjamin. Sejak sebelum perang, pemerintah Ukraina sudah memiliki program tunjangan sosial bagi anak-anak, warga penyandang disabilitas, atau kurang mampu secara ekonomi, walaupun sistemnya belum sempurna menurut standar Eropa.

Bayangkan saja bila seluruh dana bantuan kemanusiaan yang diterima pemerintahan Zelensky digunakan sebagai tunjangan sosial bagi warga Ukraina. Taraf hidup mereka mungkin akan menjadi lebih baik, bahkan bisa jauh lebih baik daripada sebelum 2022. Seandainya saja Rusia tidak melakukan operasi militernya di Ukraina pada 24 Februari 2022, mungkin Ukraina tak akan pernah menerima bantuan miliaran dolar atau euro dari berbagai pihak.

Bahwa bencana bisa menjadi berkah bukan lagi imajinasi orang-orang yang tak sanggup menerima kenyataan. Itulah mengapa orang-orang kuno selalu tak lupa meluangkan waktu dan materi yang dimiliki untuk menyampaikan rasa terima kasih kepada alam dan leluhur sebagai representasi seluruh situasi penyebab segala yang kita terima saat ini.  Peradaban modern memilih untuk mengabaikannya, karena mereka tak ingin dianggap ‘hidup di masa lalu’ yang terlalu banyak aturan dan norma-norma.

Keengganan menyadari proses segala sesuatu membuat kita juga enggan menyadari bahwa uang itu bisa bersifat easy come easy go. Uang yang mudah didapat seringkali mudah pula habisnya. Kemudahan mendapatkannya kadang kala membuat orang lupa untuk melakukan pengaturan saksama, agar apa yang didapat dapat berguna untuk waktu mendatang dan bagi banyak orang, sebagaimana tujuan bantuan tersebut diberikan.  (dswas)

Sabtu, 22 November 2025

Menanti Pohon Tumbuh Di Atas Jasad Masa Lalu

Nama Oleg Salenko tidak terlalu dikenal para bola mania sedunia sampai ia mendapat penghargaan Golden Boot Piala Dunia 1994. Di saat Amerika Serikat menjadi tuan rumah Piala Dunia untuk pertama kalinya, dua pesepakbola Eropa Timur dianugerahi penghargaan bergengsi FIFA. Selain Salenko, Hristo Stoichkov (Bulgaria) juga meraih penghargaan Golden Boot dengan jumlah gol yang sama dari penampilan mereka bersama tim masing-masing selama turnamen, yaitu 6 gol.

Lahir dari ayah warga Ukraina dan ibu Rusia, Salenko telah mengawali kiprahnya di turnamen sepak bola internasional bersama timnas Uni Soviet U-20 tahun 1989. Saat itu ia tampil di Piala Dunia U-20 dan berhasil menjadi top skorer dengan raihan 5 gol. Sampai dengan tahun lalu, Salenko merupakan satu-satunya pemain yang menjadi top skorer di turnamen level junior maupun senior. Dirinya juga menjadi satu-satunya pemain peraih Golden Boot dari timnas yang tidak lolos fase grup Piala Dunia.

Salenko hanya tampil di event sepak bola internasional sebanyak sembilan kali. Ia bertanding delapan kali bersama timnas Rusia di Piala Dunia, dengan salah satunya adalah laga Rusia vs Kamerun di mana ia mencetak lima gol sekaligus di pertandingan yang dimenangi Rusia 6-1. Sedangkan satu laga lainnya adalah laga persahabatan bersama timnas Ukraina melawan Hungaria di tahun 1992, di mana Ukraina kalah 1-3 dalam pertandingan perdananya sebagai tim nasional di bawah FIFA. Sayangnya, Salenko harus pensiun dini dari dunia sepak bola di usia 31 tahun akibat cedera.

Akar yang terpisah  

Mengapa Salenko meninggalkan Ukraina untuk bergabung dengan Sbornaya (julukan timnas Rusia)? Seperti para pemain naturalisasi jaman now, Salenko bebas bergabung salah satu dari keduanya karena ia memiliki kewarganegaraan ganda dari orang tuanya. Saat itu, Rusia memiliki infrastruktur sepak bola yang lebih baik dibandingkan negara-negara pecahan Uni Soviet seperti Ukraina. Sehingga wajar jika Salenko menganggap masa depannya sebagai pemain sepak bola bakal lebih cerah bersama Rusia.

Jauh sebelum terjadinya kesenjangan dalam hal infrastruktur sepak bola di antara negara-negara eks komunis di akhir 90-an, Rusia, Ukraina, dan beberapa negara Slavia lainnya seperti Bulgaria, Serbia, Macedonia, Ceko, dll. berakar dari satu rumpun budaya Slavia yang sama. Mereka berasal dari leluhur yang tinggal di dataran rendah, hutan, dan lahan basah, dengan mata pencaharian pokok sebagai petani dan penggembala yang lebih sering menghabiskan waktu berjalan di alam bebas. Maka tidak heran bila mereka memiliki fisik kuat, yang diwariskan hingga ke beratus-ratus generasi sesudahnya.  

Ilustrasi: koleksi pribadi


Kekuatan fisik itulah yang membuat leluhur Slavia tidak takut menghadapi pertikaian yang berujung pertumpahan darah dan kematian. Apalagi bila dikaitkan dengan mitologi Slavia tentang asal mula tanaman dan pepohonan, bahwa semak belukar dan bunga-bunga liar tumbuh dari darah atau jasad mereka yang tewas karena keyakinan pada sesuatu, baik prinsip pribadi maupun kepentingan kelompok.

Menurut cerita rakyat Serbia, bunga peoni putih berubah menjadi merah akibat darah prajurit Serbia yang tewas dalam Perang Kosovo. Bunga peoni hitam tumbuh dari darah prajurit keturunan Gipsi, sedangkan peoni biru berasal dari darah prajurit keturunan Turki. Mitos Bulgaria menyebut bahwa bunga lilac juga tumbuh dari darah para prajurit, oleh karena itu bunga ini banyak ditemukan di benteng atau tanah lapang di mana pernah terjadi pertempuran besar.  

Aliran kepercayaan Rusia meyakini bahwa bunga perdu fireweed tumbuh dari darah korban suatu tindakan pelanggaran. Sementara legenda Kuban Cossacks (kelompok sosial militer semi merdeka yang terbentuk dari petani dan tentara pelarian dari Rusia, Ukraina, Polandia, dan Lithuania) menyebut bahwa bunga mawar tumbuh dari tetesan darah seorang gadis yang bunuh diri karena dipisahkan paksa dari kekasihnya.

Masa lalu yang dikubur, lalu tumbuh

Apabila jasad atau darah seseorang yang sudah mati diibaratkan sebagai sesuatu yang sudah tiada, hilang, dan tak mungkin muncul lagi, maka masa lalu adalah sebuah kata yang paling tepat untuk itu. Karena semua orang punya masa lalu, juga suatu kelompok etnis, bangsa, bahkan negara.

Leluhur Slavia bersikap bijak memandang sesuatu yang hilang dan tak akan kembali ini sebagai sesuatu yang “indah” bagaikan bunga berwarna-warni, sebab seperti itulah masa lalu bagi sebagian besar dari kita. Indah sebagai bahan cerita, tetapi kita tidak dapat menyangkal bahwa ada sesuatu yang hilang tiap kali kita mendengar kisah tentang masa lalu. Dalam hal ini, kehilangan tak terhindarkan walaupun masyarakat dalam kisah itu berusaha mempertahankannya.

Nilai-nilai tradisional, kebijaksanaan lokal, adat istiadat, dll. sering kali dianggap sebagai simbolisasi masa lalu yang wajib dilupakan karena bukan bagian dari kehidupan manusia modern dan tak membawa peradaban umat manusia ke arah yang lebih baik.

Meminjam konteks leluhur Slavia, masa lalu memang tak akan kembali, tetapi sesuatu akan tumbuh dari jasad masa lalu yang telah membusuk. Bahwa sesuatu yang tumbuh dari situ bukan saja bunga-bunga perdu, tetapi juga sebatang pohon. Satu batang pohon yang akan disusul oleh dua, tiga, sepuluh, atau seratus pohon, bergantung pada banyaknya “jasad masa lalu” yang terkubur di bawah tanah pertempuran peradaban.  (dswas)

Kamis, 20 November 2025

Konsisten Selalu Menang

“Batu ditempa oleh setetes demi setetes air (kap po kap – kamen prodire)” merupakan peribahasa Balkan yang merupakan hasil observasi masyarakat adat Slavia Selatan (terutama Serbia) tentang daya tersembunyi di balik setetes air. Bahwa setetes air awalnya hanya membasahi batu, selama berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun. Entah pada tetesan air ke berapa terbentuklah sebuah ceruk pada batu itu.

Ada nasihat tentang konsistensi dalam peribahasa yang hingga saat ini sering digunakan masyarakat Slavia Selatan untuk memotivasi anak-anak, menghibur seorang teman yang merasa hidupnya macet, atau untuk memberitakan tentang tujuan yang akhirnya berhasil dicapai setelah sekian lama. 

Ilustrasi: koleksi pribadi

Air (Mokosh) itu sakral bagi masyarakat penganut Kepercayaan Asli Slavia, sebagaimana langit dan bumi, karena ada energi gerak yang terkandung di dalamnya. Sumber/ mata air dan sumur dianggap suci, karena keduanya mengalirkan air yang merupakan representasi dari kemurnian, kesabaran, dan keteguhan hati seseorang.

Perspektif Slavia Selatan terbentuk berkat keawasan mereka mengenali pola-pola dan siklus alam, bahwa kenyataan dibentuk oleh kenyataan-kenyataan lain yang berjalan lambat dan kesabaran kekuatan alam.

Sekokoh pegunungan tempat para leluhur mereka tinggal, peribahasa ini masih lestari dan terus digunakan dalam percakapan atau interaksi sehari-hari masyarakat Slavia Selatan sampai detik ini. Kebijaksanaan leluhur masih mengakar kuat walaupun mereka (Serbia, Bosnia, Kroasia, Montenegro, Makedonia) pernah hidup di bawah komunisme, mengalami konflik antar sesama etnis Balkan, dan, khusus Serbia, diratakan dengan tanah oleh NATO.

Uang selalu ‘berbicara’

Sementara itu, apa yang terjadi pada negara-negara yang bersatu padu menaklukkan Serbia dengan dalih membasmi para penjahat perang dari konflik antar etnis Balkan di era 90-an? Sudahkah mereka menjadi negara-negara termakmur sejahtera di dunia yang membuat warga negara-negara miskin iri hati?

Ada beberapa nama negara yang terlibat dalam operasi Perang Yugoslavia dari sisi NATO. Kita sangat tahu siapa bos besarnya, dan kita sangat tahu apa yang sedang menimpa negara-negara itu saat ini. Inilah negara-negara demokrasi “malaikat” yang saat itu sedang menunaikan tugas membasmi kekuatan “iblis” komunisme dan sosialisme.

Amerika Serikat tumbuh sebagai negara maju dan terdepan dalam berbagai bidang, demikian pula negara-negara NATO lainnya dalam operasi tersebut (Inggris, Prancis, Jerman, Belanda, Belgia, Italia, Kanada, Spanyol, Portugal, Denmark, Norwegia, dan Turki). Bahkan beberapa di antara mereka selalu masuk dalam daftar negara terbahagia di dunia selama beberapa tahun secara berturut-turut.

Namun, karena dinamika sektor ekonomi saling memengaruhi antara satu negara dan negara lainnya, kemunduran dan kemajuan ekonomi di suatu negara dampaknya juga akan terasa di banyak negara lain. Operasi militer NATO di Yugoslavia didanai sebagian besar oleh Amerika Serikat, demikian pula beberapa operasi militer lain sebelum dan sesudah itu.

Tibalah titik di mana AS menyadari bahwa semua uang sudah habis, sehingga mereka membutuhkan suntikan dana dari pihak luar. Baru-baru ini, suntikan dana didapat dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dengan nilai triliunan dolar. Para juru bicara pemerintah boleh saja menjabarkan bahwa dalam hubungan bilateral diperlukan kerja sama bla bla bla … yang intinya adalah: kita harus bekerja sama supaya bisa mendapat uang pinjaman.

Lalu apa manfaat perang di atas? Supaya bisa terus berhutangkah tujuannya?

Cara menghadapi ‘kekuatan yang membingungkan dan menakutkan’

Para ekonom dan pembuat kebijakan ekonomi biasanya akan berkilah bahwa berutang itu wajar saja dalam pembangunan ekonomi negara. Mulai detik ini saya harap kita tak lagi percaya argument seperti ini karena ini adalah suatu fallacy, salah pikir terbesar dalam peradaban manusia.

Kemakmuran dan kesejahteraan stabil memerlukan proses, yang sering kali panjang dan lama. Ini adalah hukum alam yang tak dapat kita hindari, atau kita tolak, karena kita sudah menciptakan teknologi mutakhir. Mempersingkat proses secara permukaan menjadi sesuatu yang kita banggakan sebagai kemajuan zaman, tetapi mengapa situasi kita semakin mundur belakangan ini dan bukan semakin maju? Ingin bukti? Cukup tengok saja situasi alam sekitar, mentalitas masyarakat, balada ekonomi dan politik berbagai negara di dunia …

Berburu investor dan uang pinjaman merupakan upaya mendatangkan uang ke kantong dalam waktu singkat. Setelah uang habis, datanglah masalah tentang cara mengembalikan uang investasi itu kepada pihak yang menginvestasikannya. Artinya ada tekanan pada kita untuk berkompromi dengan kehendak dari luar sebagai bentuk pemenuhan janji, ada keterpaksaaan untuk patuh demi uang yang telah digunakan.

Tekanan yang dirasakan pemerintah suatu negara sebagai debitur akan diteruskan pada masyarakat di bawah naungan mereka, dalam bentuk berbagai kebijakan yang sekonyong-konyong, tidak konsisten dengan kebijakan sebelumnya, dan kadang gagal dimengerti khalayak.

Namun, rakyat jelata berada dalam situasi yang lebih menyenangkan karena mereka bebas memilih cara menanggapi perilaku membingungkan pengayom mereka. Bagi masyarakat Slavia Selatan, kembali memaknai ajaran leluhur adalah salah satu caranya. Agar sesuatu yang membingungkan dan menakutkan tetap menjadi fenomena alam yang lazim terjadi dalam kehidupan sehari-hari.  (dswas)

Minggu, 16 November 2025

Berburu Resep Kuno Untuk Bahagia

Benua terbahagia di dunia dikabarkan sedang galau. Bukan karena masalah ekonomi, melainkan kewalahan menghadapi peningkatan populasi imigran dari Asia, Afrika, dan wilayah lain di Eropa yang ‘menyerbu’ Benua Biru guna memperbaiki taraf hidup atau mencari perlindungan dari konflik politik. Lima besar peringkat negara terbahagia di dunia selalu diduduki negara-negara Eropa, maka siapa yang bisa menyalahkan kedatangan para imigran? Kebahagiaan ibarat gula, yang akan selalu mengundang semut-semut dari berbagai penjuru untuk datang dan mencicipinya.

Berkat kerja keras orang-orang Eropa dari zaman lampau di sektor industri dan pertanian, kekayaan yang tak terhingga nilainya dapat diwariskan pada keturunan mereka hingga beberapa generasi. Didukung pula manajemen keuangan yang sistematis, terencana, dan selalu berorientasi pada masa depan. Guna meningkatkan perputaran uang, mayoritas negara Eropa memberikan stimulus berupa tunjangan sosial bagi warga mereka. Inilah salah satu daya tarik yang menginspirasi para pendatang berusaha masuk ke Eropa.

Beberapa golongan pendatang tidak sepenuhnya bisa merasakan kebahagiaan di tanah air baru mereka yang tampak bagai emas dari kejauhan. Rasa rindu pada kampung halaman membuat mereka memilih berperilaku seolah sedang berada di negara asal, perilaku yang kadang menimbulkan tanda tanya dan gesekan dengan warga pribumi. 

Kehadiran para pendatang menggugah kesadaran sebagian warga asli Eropa tentang jati diri mereka yang menurut mereka nyaris tak berbeda antara satu negara Eropa dengan negara Eropa lainnya. Karena kegelisahan ini membesar dengan berjalannya waktu, maka beberapa kelompok warga lokal Eropa mencoba mencari penawarnya dengan melongok ke masa lalu. 

Ilustrasi: simbol Kepercayaan Asli Slavia, kolovrat

“Istana” terindah

Kesetiaan pada nilai-nilai tradisional adalah salah satu hal yang dibanggakan Presiden Rusia Vladimir Putin tentang bangsanya. Beliau tidak salah, karena di Rusia kepercayaan tradisional diakui dan dianut sekitar 1 juta orang. Bagi mereka, leluhur adalah manifestasi dari Sang Pencipta, demikian pula seluruh entitas alam dalam berbagai bentuk dan fenomena.

Ritual-ritual, upacara, prosesi Kepercayaan Asli Slavia (Slavic Native Faith) merupakan simbolisasi dari ungkapan terima kasih kepada mereka yang hadir jauh sebelum lahirnya generasi saat ini. Mereka yang menemukan tempat di mana anak-anak jaman now tinggal saat ini, menemukan cara-cara bertahan hidup, berkomunikasi, menata suasana sekitar agar lestari dan senantiasa bermanfaat sepanjang waktu. Menurut sejumlah penelitian yang telah digagas sejak era Josef Stalin, aliran kepercayaan ini berakar dari sumber yang sama dengan Hindu.

Sampai dengan saat ini Kepercayaan Asli Slavia mempersatukan warga etnis terkait yang tersebar di Rusia, Ukraina, Polandia, Belarus, Bulgaria, Ceko, Lithuania, dan Estonia. Mereka berpegang pada nilai-nilai tradisional yang identik satu sama lain, sama-sama meyakini bahwa keluarga adalah tempat terbaik bagi siapa pun untuk merasa bahagia. Maka memperlakukan sesama sebagai keluarga adalah salah satu cara yang bisa ditempuh untuk mewujudkannya.

Mispersepsi berkelanjutan

Dibandingkan etnis lainnya di Eropa, etnis Slavia seringkali mendapat stigma negatif karena rekam jejak politik yang terlibat komunisme/ sosialisme. Ketika Eropa Barat didominasi negara-negara bahagia dan maju, negara-negara Eropa Timur dan Tengah di mana etnis Slavia tinggal dilabeli sebagai negara tidak aman, kurang sejahtera, sarang scammers, dll.

Tidak ada yang abadi di dunia ini, termasuk kenyamanan hidup. Ketidaknyamanan yang datang dalam kehidupan kita bisa datang dari persepsi kita sendiri terhadap situasi saat ini. Persepsi yang muncul akibat terlalu lama berada di zona nyaman, dan tak siap untuk menjalani ketidaknyamanan.

Kebangkitan kepercayaan tradisional Eropa, di mana Kepercayaan Asli Slavia merupakan salah satu di antaranya, ditanggapi secara paranoid oleh sebagian kecil pihak sebagai krisis identitas yang menjurus ke arah rasisme dan radikalisme sayap kanan. Seakan-akan kata “Slavia” pada nama kepercayaan ini menjadi petunjuk bagi perspektif para pengamat untuk mengidentikkan kesadaran spiritual ala Slavia dengan waham entitas terbaik sedunia.

Satu hal yang cenderung diabaikan para pengamat adalah kepercayaan lokal ini berangkat dari kerendahatian suku Slavia untuk mengakui bahwa masa lalu tak dapat diubah – selalu ada seseorang, atau sesuatu, yang ada sebelum mereka. Entah itu dari ras yang sama atau bukan, mereka hanya bisa berasumsi dan tidak akan pernah benar-benar tahu tentang faktanya. Mengapa latar belakang Kepercayaan Asli Slavia lebih penting bagi para pengamat daripada tujuan yang hendak dicapai para penganutnya? Hanya para pengamat tersebut yang tahu jawabannya. (dswas)  

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...