Berapa sih uang yang bisa kita dapat dari menjual kayu gelondongan? Dari satu meter kubik kayu gelondongan berkualitas baik, kita bisa membawa pulang uang sekitar Rp 5 sampai 7 juta (untuk jenis kayu jati dan mahoni). Untuk kayu merbau dan kayu keras tropis lainnya bisa lebih tinggi lagi, yaitu sekitar Rp 15 juta per meter kubik. Bila dikonversi ke dolar, nilainya bisa mencapai USD 300-900 per meter kubik, tergantung jenis dan kualitas kayu.
Dengan kata lain, hanya dari 100 meter kubik kayu
gelondongan seseorang bisa mengantongi uang senilai USD 30.000 atau sekitar Rp
500 juta lebih, tanpa berjualan apa pun atau bekerja sampai larut malam. Cukup
datang mengunjungi sebuah hutan lalu membabat habis seluruh pohonnya, lalu kita
dan keluarga kita bisa kaya mendadak.
Kayu dari hutan hujan tropis kuno sepertu hutan Amazon,
Lembah Kongo, Sumatra dan Kalimantan (yang tinggal cerita) sangat diminati dan
bernilai tinggi karena kualitas kayunya lebih
baik daripada kayu hutan tanam industri. Serat kayu tua lebih rapat,
batangnya lebih besar, lebih tahan lama, dan pola inti kayunya pun lebih indah
dibandingkan kayu hutan tanaman industri.
Untuk memperoleh kayu gelondongan dari hutan
tanaman industri, seseorang harus meluangkan waktu untuk membuka lahan,
menanami lahan tersebut, melakukan pemeliharaan. Kayu hutan hujan tropis lebih
praktis karena kita hanya perlu mengambilnya dari hutan dan tak perlu membayar
apa pun, alias gratis. Tinggal ambil dan bawa pulang.
Maka sangat bisa dipahami apabila seseorang memilih
berbisnis di bidang perkayuan daripada bidang lainnya, karena nilai ekonominya
benar-benar menggiurkan dan tak butuh terlalu banyak “pengorbanan”.
Namun, karena bisnis ini sangat tergantung pada jumlah kayu yang tersedia di hutan hujan tropis (bukan hutan tanaman industri), maka para pebisnis di bidang ini perlu berhati-hati ketika luas hutan hujan tropis semakin sedikit. Mereka bisa terancam tak lagi mendapat penghasilan mudah dan cepat apabila seluruh hutan hujan tropis di muka Bumi ini telah lenyap.
‘Produk’ masa lalu
yang berkualitas
Masyarakat Kepercayaan
Asli Tajik menganggap suci pepohonan jenis tertentu, mengaitkannya dengan
fungsi sakral pepohonan sebagai tempat tinggal para leluhur dan pelindung bagi
kelompok yang tinggal di sekitarnya. Aliran kepercayaan yang masih
dipertahankan oleh masyarakat Tajikistan di wilayah tertentu juga melarang
penebangan pohon tua secara sembarangan, sehingga saat ini kita masih dapat
menjumpai pohon murbai dan cemara yang sudah berumur ratusan dan ribuan tahun
di negara eks Soviet tersebut.
Salah satu ritual yang masih dijalankan masyarakat
Tajikistan adalah mengikatkan secarik kain pada pohon yang disucikan sebagai
bentuk simbolis mencari penghiburan dari kesulitan yang tengah dihadapi, entah
itu penyakit, kesedihan, atau ketidakberuntungan lain dalam hidup. Orang-orang
yang tidak memahami kebiasaan orang Tajikistan akan menganggap mereka sesat,
walaupun kita tahu bahwa perspektif kita bukanlah satu-satunya penyebab dunia
ini dapat bertahan.
Ternyata para leluhur Tajikistan sudah sangat memahami fungsi dan manfaat berbagai jenis pohon yang dianggap sakral jauh sebelum peradaban manusia mengenal ilmu botani. Pohon murbai dan cemara, misalnya, memiliki sistem akar yang kuat sehingga membantu mencegah terjadinya tanah longsor dan banjir lumpur di desa-desa yang terletak di pegunungan. Pepohonan jenis ini juga membantu mencegah erosi di area tepian sungai. Akar yang kuat sangat penting bagi pemeliharaan sumber-sumber air untuk keperluan sehari-hari, sehingga pohon murbai ditanam di sekitar aliran air. Pohon murbai juga dikenal membantu menyaring udara dari debu, cocok ditanam di daerah yang kering dan berangin kencang.
Spiritualitas yang membawa kesejahteraan
Kekayaan alam yang tersimpan di sekitar kita sungguh luar
biasa, karena bisa membuat kita tergoda untuk menguasainya demi sejumlah uang.
USD 30 ribu yang bisa kita dapat dari menjual 100 meter kubik kayu hutan hujan
tropis dari Sumatra, misalnya. Akan tetapi, krisis finansial global menunjukkan
kian tipisnya perbedaan antara uang USD 1 dan USD 100, karena kedua nominal itu
sama-sama bisa habis dalam waktu singkat.
Tajikistan bukanlah negara yang sangat maju seperti
negara-negara Eropa Barat, sehingga deforestasi juga menjadi masalah serius di
negara seluas 141 km persegi tersebut. Pemerintah Tajikistan berupaya
melibatkan masyarakat setempat yang masih mempraktikkan Kepercayaan Asli Tajik
dalam sejumlah proyek restorasi
hutan. Peran mereka dianggap penting karena kepercayaan yang mereka jalankan dianggap
mampu menjadi penuntun dan penggugah kesadaran mereka untuk menjaga kelestarian
hutan.
Di tengah himpitan arus modernisasi dan generasi muda yang menolak mempelajari kebijaksanaan leluhur, masyarakat Kepercayaan Asli Tajik terus berusaha menjaga dan melestarikan hutan mereka. Mereka adalah sedikit dari sekian jumlah orang di luar sana yang masih memahami bahwa sejumlah uang yang didapat dari menebang pohon di hutan tak sebanding nilainya dengan kerusakan akibat musnahnya pepohonan. (dswas)






