Secara literal, El Niño bermakna ‘si bocah’. Orang mengira Fernando Torres menjadi satu-satunya pesepakbola yang dianggap paling layak menyandang julukan ini dalam sejarah sepak bola berkat kepiawaiannya di lapangan. Satu hal yang mengantarkannya menjadi satu-satunya jendral lapangan di usia 19 tahun bersama Atlético Madrid pada eranya.
Saat dipromosikan ke klub senior Atlético, Torres masih
berumur 16 tahun. Rekan-rekan setimnya awalnya meragukan kemampuannya karena raut
mukanya yang lugu seperti anak-anak. Mereka tak menganggap namanya penting,
sehingga semua memanggilnya ‘si bocah’.
Dipandang sebelah mata tak membuat Torres muda gentar. Ia
bahkan tak meninggalkan klub di mana ia mengenal sepak bola di usia 11 tahun,
saat Atlético Madrid terdegradasi ke divisi dua pada Mei 2000.
Musibah besar itu didahului oleh krisis kepemimpinan di
tubuh klub pemenang gelar ganda La Liga dan Copa del Rey 1996, yang berakibat
hengkangnya para pemain top dan senior. Penurunan status berakibat hilangnya
kepercayaan sponsor, sehingga klub tak mampu membeli dan membayar pemain
berkelas.
Inilah mengapa Torres ditunjuk menyandang ban kapten dan
berhak memimpin para pemain yang berusia lebih tua darinya. Keterbatasan
finansial telah memposisikan dirinya sebagai kapten tim, karena klub hanya bisa
mengandalkan para pemain lulusan akademi sepak bola mereka.
Nama Torres mencuat berkat kemampuannya yang dianggap di
atas rata-rata rekan-rekan sekelasnya saat itu. Ia menjadi satu-satunya lulusan akademi
Atlético yang dinobatkan menjadi FIFA Player of the Year (2008) dan menempati
peringkat tiga Ballon d’Or di tahun yang sama.
‘Berkah’ ketidakseimbangan alam
Mencermati kisah Torres di atas, cukup manusiawi jika kita
berandai-andai El Niño Samudra Pasifik yang diramalkan akan berlanjut hingga
awal 2027 juga akan berakhir dengan happy
ending pada saatnya nanti.
Sebagai fenomena cuaca, El Niño merupakan sebutan bagi
peningkatan suhu air laut secara tiba-tiba yang memengaruhi siklus cuaca di
berbagai wilayah di sekitarnya. Sedangkan peningkatan suhu air laut itu
sendiri, menurut para ilmuwan, dapat disebabkan berbagai faktor. Terutama
aktivitas manusia dalam memanfaatkan sumber daya alam.
Kota yang saya tinggali sejak kecil bersama keluarga
termasuk salah satu wilayah yang terdampak cukup keras fenomena El Niño. Tak
jauh dari rumah kami, areal persawahan mengering dan sumur-sumur penduduk mulai
kehilangan air. Siang hari terasa sangat panas, dan cukup banyak warga yang
mulai jatuh sakit.
Sejumlah orang yang saya temui tidak terkejut dengan situasi
ini. Eksploitasi alam di kota kami memang terus meningkat sejak beberapa tahun
terakhir. Konsekuensi menjadi tak terelakkan, cepat atau lambat. Dalam diam
mereka telah punya bayangan tentang apa yang dapat menimpa kota mereka jika rem
eksploitasi blong.
Kedatangan El Niño kami pandang sebagai pengingat untuk
lebih berhati-hati dalam memperlakukan alam, untuk kembali memberikan pengakuan
pada pepohonan, mata air, dan tempat-tempat tertentu yang pernah dianggap suci.
Pengakuan yang diwujudkan dalam bentuk menghaturkan sesajen
sesuai tata cara di lokasi tersebut. Sebuah aktivitas yang menyimbolkan
kerendahan hati dan permohonan maaf pada alam raya karena tindakan
sewenang-wenang yang pernah kami lakukan terhadapnya.
Memang, jumlah warga yang berpikiran seperti ini tidak
banyak. Akan tetapi, mendadak tersadar dari kekeliruan adalah sebuah ‘berkah’
yang akan menyelamatkan diri kita sendiri di kemudian hari.
Kita tidak dapat membatalkan dampak sebuah kesalahan dalam mengambil keputusan, atau meminta Sang Pencipta untuk melenyapkan kesalahan itu hingga seolah tak pernah terjadi. (dswas).
