Minggu, 19 Juli 2026

Kekalahan dan Penghiburan

Tersedia hadiah uang tunai sekitar $9 juta dolar dari FIFA untuk masing-masing tim peserta Piala Dunia 2026 yang hanya finis di babak penyisihan grup. $11 juta dolar bagi tim yang sampai di babak 32 besar, $15 juta bila sampai babak 16 besar, $19 juta perempat final, juara keempat $27 juta, juara ketiga $29 juta, juara dua $33 juta, dan jawara $50 juta. 

Lalu mengapa kita menyaksikan pria-pria dewasa di lapangan bola meneteskan air mata saat terpaksa menerima kenyataan bahwa mereka kalah dan gagal maju ke babak berikutnya? Yang jelas bukan karena mereka menangisi hilangnya hadiah uang tunai. Bukan juga karena kecemasan akan kehilangan pekerjaan (sekitar 20 pemain Piala Dunia mendapat kontrak baru sebelum turnamen tersebut berakhir). Mereka berjuang demi meraih sesuatu yang lebih besar dan berharga daripada uang, tapi tidak mampu mendapatkannya.

Dari sudut pandang saya sebagai pehobi sepak bola, air mata akibat kegagalan itu bukan muncul dari rasa lelah setelah berlarian selama 90 menit nonstop selama beberapa hari tapi hasilnya zonk. Melainkan dari rasa kecewa yang mendalam karena harus mengulang dari nol selama empat tahun berikutnya untuk persiapan, bongkar pasang pemain dan pelatih, lolos kualifikasi, dan seterusnya. 


Ilustrasi: Suatu petang di pelataran Cor Jesu, Malang

 

“Badai pasti berlalu”

Masyarakat penganut kepercayaan asli cenderung menjalani hidup sehari-hari secara sederhana, sehingga mindset yang sama pun diterapkan saat mereka mengalami kekalahan, kerugian, kehilangan, atau berbagai kesialan lainnya. Para penganut Kepercayaan Asli Siberia menganggapnya sebagai sebuah keadaan yang bersifat temporer, alias tidak menetap, sehingga manusia termotivasi untuk keluar dari ketidaknyamanan itu.

Sesajen yang mereka suguhkan saat memulihkan diri dari keterkejutan akibat kegagalan berfungsi sebagai sebuah cara untuk membawa kesadaran mereka kembali ke waktu nyata. Bukan sebagai cara menarik hati para lelembut atau kekuatan tak dikenal untuk mendatangkan mukjizat yang membalikkan keadaan dalam waktu singkat dan sesuai keinginan. Bukankah manusia itu sendiri bukan entitas pasif, karena mereka bebas mengeksploitasi alam untuk banyak tujuan?

Bagi suku-suku Siberia yang biasa hidup di tengah kerasnya alam selama berpuluh bahkan beratus tahun, menghadapi kegagalan atau hal yang tidak diinginkan merupakan bagian yang membentuk spiritualitas mereka. Kegagalan mendapat hewan buruan atau ikan tangkapan tidak lantas diterima sebagai sebuah ‘hukuman’ oleh alam, melainkan sebuah keadaan yang bisa terjadi kapanpun.

Emosi berlebihan sebagai tanggapan atas situasi tersebut bukanlah solusi untuk memperbaiki keadaan, apalagi menghaturkan sesajen dalam suasana hati yang tidak stabil. Lantaran kesesatan spiritual rentan terjadi dalam situasi demikian, mereka wajib menyelesaikan kecamuk dalam hati masing-masing terlebih dahulu sebelum melakukan aktivitas ibadah. Karena selain diri mereka sendiri, tidak ada yang bisa menyembuhkannya.

Penghiburan selalu ada

Dalam sepak bola, dan cabang olahraga lainnya, cara mengobati rasa sedih akibat kekalahan adalah bangkit dan mencoba kembali sampai berhasil. Meski tak sedikit para atlet dan pesepakbola yang mengalah pada keadaan, pensiun akibat faktor usia ketika prestasi yang diincar tak juga terengkuh dalam genggaman. Toh tak sedikit pula dari mereka yang berhasil move on dari kekecewaan dan meraih banyak hal baru yang tak terduga sebelumnya.

Platform media sosial berhasil menjadi lapangan pekerjaan baru bagi sederet nama yang melegenda dalam sepak bola 90an sampai awal 2000an. Uniknya, mereka yang dulu bermusuhan di lapangan bola malah jadi sahabat di masa tua, sama-sama laris manis berkat podcast yang membahas dan menertawakan kekonyolan diri mereka sendiri di masa muda. (dswas)

Minggu, 12 Juli 2026

Trik Jitu Memadamkan Konflik

Dari dua batu yang saling bergesekan bisa terpercik api-api kecil. Sama halnya sebuah pertentangan bisa membesar akibat dua kepala batu yang sama-sama bersikukuh dengan pendirian masing-masing. Tidak perlu terlalu jauh memandang, contoh situasi semacam ini sangat mudah ditemukan di sekitar kita. Walaupun kabar terkini dari medan perang mana pun bisa diakses setiap saat melalui layar ponsel kita 24/7.

Inflasi global yang belum terlihat ujungnya hingga kini membuat banyak orang di dunia merasa kalah, merasa menjadi pecundang akibat hilangnya kenyamanan hidup yang sudah sekian lama mereka nikmati. Pergeseran gaya hidup dari komunal ke individual membuat banyak orang merasa seorang diri di tengah kecemasan – yang sangat tidak nyaman dan menyiksa.

Tidak sedikit yang berusaha mencari penawar dengan berusaha memenangi ‘pertempuran’ di medan laga yang lebih kecil dan sedikit lebih ringan. Bukan didasari keyakinan bahwa mereka dilahirkan sebagai pejuang untuk menang di medan perang, melainkan sekadar ingin cepat-cepat memenangi sebuah situasi guna menutup ‘kerugian’ akibat kekalahan di situasi lain (yang kadang tidak saling berhubungan).

Inilah mengapa gesekan kecil (dan besar) dalam masyarakat bisa sangat sulit dipadamkan. Selalu ada saja ‘orang-orang kalah’ kembali mengipasi api konflik yang sudah mengecil agar kembali merajalela. Kita tidak dapat menyembuhkan orang-orang semacam ini, tetapi kita bisa meminimalisir timbulnya dampak ikutan yang muncul akibat kecenderungan mereka mencari kemenangan di tengah situasi dan kondisi apa pun.


Ilustrasi: Suatu senja di Singosari, Malang.

 

Menyingkirkan ambisi pribadi tidak mudah

Dewasa ini, menjadi bagian dari masyarakat komunal dipandang sama dengan kehilangan kebebasan untuk berperilaku. Banyak dorongan hawa nafsu yang harus kita tekan sebagai upaya memelihara keseimbangan antara alam sekitar dan masyarakat, antara suatu masyarakat dan masyarakat lainnya. Justru satu hal yang kita seharusnya bebaskan adalah kemampuan mengatur diri sendiri dan kelompok, meski tanpa kehadiran tokoh sentral yang memiliki otoritas lebih tinggi dibanding warga lainnya dalam masyarakat.

Dalam sudut pandang para penganut Kepercayaan Asli Tuva di Siberia Selatan, kebahagiaan bukanlah pengejaran cita-cita pribadi, melainkan lebih sebagai hasil dari segala upaya yang dilakukan untuk memelihara keharmonisan dan keseimbangan dalam masyarakat itu sendiri. Menyediakan sesajen sebagai cara ‘memanusiakan’ pepohonan, pegunungan, laut, dan binatang, adalah metode yang ditemukan para leluhur mereka agar generasi penerus berhati-hati dalam menjaga kelestarian alam dan lingkungan.

Tokoh pemimpin dalam komunitas Tuva hanya akan turun tangan apabila terjadi masalah dalam masyarakat. Bila tidak dimintai bantuan, maka dia akan cenderung diam dan mengamati. Terlalu banyak ikut campur membuat masyarakat tidak punya inisiatif untuk membuat keputusan dan menata diri mereka sendiri agar selaras satu sama lain, baik sesama mau pun alam sekitar.  Ia tidak tampil di muka publik demi harta maupun ketenaran, karena tujuan tersembunyi semacam itu suatu saat akan terkuak ketika masyarakat yang dia pimpin gagal mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan.

 

Benar dan sempurna hanya mitos

Siapa pun yang mengatakannya, kita sebaiknya mulai kritis terhadap klaim apa pun yang mengatasnamakan kesempurnaan. Tidak ada yang sempurna di dunia ini, suka atau tidak. Keyakinan tentang kesempurnaan adalah benar hanya jika terbukti membawa manfaat bagi kehidupan dan kebahagiaan suatu masyarakat secara keseluruhan. Rasa rendah diri musnah, meski argumen kita kurang cukup kuat untuk mengklaim bahwa kita merasa bahagia.

Konflik dan api-api kecil yang berpotensi konflik akan reda dengan sendirinya, apabila kita tidak punya ambisi pribadi untuk menunjukkan dan membuktikan kepada siapa pun bahwa argumen kita paling benar. (dswas)

Minggu, 05 Juli 2026

Cara Mengatasi Niat Jahat

“The road to hell is paved with good intentions (suatu keadaan sulit dapat bermula dari niat yang baik).” Peribahasa ini juga dapat ditafsirkan secara bebas bahwa seseorang yang berniat jahat dapat menyelubungi maksud sejatinya dengan senyuman, kata-kata manis, pujian, bujuk rayu, keramahtamahan di depan layar, belati di belakang layar. Bukan maksud saya menakut-nakuti Anda, tetapi tidak ada salahnya selalu ingat dan waspada.

Di era krisis multidimensi global seperti saat ini, orang-orang berusaha mengobati kepedihan akibat kesulitan ekonomi dengan memanjakan diri dengan keindahan yang bisa langsung mereka nikmati dengan panca indera. Keindahan artifisial yang terjangkau, walaupun tidak selalu mencerminkan kenyataan. Contoh: kita akan lebih tertarik dengan seseorang yang mahir dalam berkata-kata manis, daripada seorang dingin dalam bersikap. Betul tidak?

Saya yakin kita semua pernah merasakan ‘nikmatnya’ tertipu oleh seseorang yang kita anggap bukan orang lain dalam hidup kita; seorang sahabat, rekan seperjuangan, atau teman curhat. Teman saya bilang, tidak ada yang mengalahkan ‘kenikmatan’ ditusuk dari belakang oleh seseorang yang kita percaya. Membalas perbuatan mereka, atau mendoakan mereka lekas masuk neraka, sama sekali tidak membantu meredakan kekecewaan yang kita rasakan. 


Illustrasi: Mulyoagung, Dau, Malang.


Menjaga kebersihan mental

Kolam renang Kendedes, Singosari, Malang, merupakan tempat di mana saya ‘membesarkan’ anak-anak, mulai dari mereka masih kecil sampai saat ini. Suatu hari, saya melihat ada yang unik di kolam renang yang dikelola oleh koperasi milik Angkatan Udara RI ini.

Ada spanduk yang isinya tentang himbauan menjaga kebersihan membentang di pagar area pelinggih (tempat meletakkan sesajen) di sisi barat kompleks kolam renang yang juga diketahui sedikit orang sebagai situs sejarah. Entah masih terpasang atau tidak saat ini, saya belum berkunjung lagi ke kolam renang di mana tiga sampai empat mata air senantiasa mengalir bahkan di musim kemarau.

Bagi para pemeluk Kepercayaan Asli Siberia, menjaga kebersihan mental sama pentingnya dengan menjaga kebersihan pribadi maupun lingkungan sekitar. Menghadapi kerasnya alam Siberia yang dingin menusuk tulang, bertahan hidup artinya bergantung sepenuhnya pada kerjasama komunitas. Apabila salah satu anggota komunitas punya perasaan negatif, seperti rasa iri, dengki, marah, serakah, dan sederet perasaan negatif lainnya, inilah awal rentetan kesialan bagi komunitas itu sendiri.

Karena urusan kebersihan mental merupakan tanggung jawab masing-masing, para penganut Kepercayaan Asli Siberia wajib aware terhadap situasi perasaan mereka sendiri. Bibit-bibit niat jahat adalah pertanda terjadi pelemahan dalam jiwa seseorang. Pada saat niat jahat mulai muncul dalam diri sendiri, mereka wajib menekan kemunculannya dengan ‘mengorbankan’ sedikit harta yang mereka miliki untuk menyediakan sesajen untuk kemudian dimasukkan ke dalam api.

Sesajen dimaksudkan sebagai pralambang perasaan negatif, yang selanjutnya mereka musnahkan di atas bara api sebelum niat jahat itu membesar. Anak-anak para penganut Kepercayaan Asli Siberia diajarkan untuk memupus niat tidak baik kecil secepat mungkin, karena niat jahat yang timbul terus menerus adalah pertanda jiwa seseorang sedang sakit. Penyakit itu bisa menjangkiti seluruh tubuh, begitu pula mental mereka.

Niat jahat itu ‘normal’

Manusia mana pun di muka Bumi ini pasti pernah memiliki niat jahat, termasuk saya sendiri. Walaupun lingkup niat jahat kita hanya kaleng-kaleng, misalnya berniat terlambat masuk sekolah, terlambat masuk kerja, atau pura-pura lupa mengembalikan buku pinjaman yang sangat kita suka isinya.

Tidak semua orang cukup kuat menghadapi krisis global jaman now dengan kerja keras dan ketabahan hati. Tidak sedikit orang yang memilih jalan singkat guna mewujudkan keinginan dan ambisi pribadi masing-masing, karena mereka tidak percaya bahwa komunitas mampu membantu meredakan rasa sakit yang mereka rasakan.

Maka dari itu, sebaiknya kita jangan terlalu shock ketika menangkap basah niat buruk seorang teman. Telah terjadi ketidakseimbangan dalam jiwa orang-orang semacam ini, sehingga hanya mereka sendiri yang mampu memperbaiki diri dengan cara mengubah kecenderungan negatif itu sebelum menjadi boomerang.

Satu saran saya: sakit hati akibat perilaku orang-orang seperti ini merupakan tindakan buang-buang waktu, sedangkan kita hanya punya waktu 24 jam dalam 1 hari. (dswas).

Minggu, 28 Juni 2026

Menghindari Kesia-siaan Terbesar Dalam Hidup

“Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit (many a little makes a mickle)” adalah prinsip hidup orang-orang sukses macam Oprah Winfrey dan George Soros. Mereka hidup di masa ketika dunia sedang susah-susahnya dan tempat yang berbahaya untuk tumbuh dan berkembang. Kesuksesan mereka dan orang-orang seperti mereka bukan hanya menginspirasi banyak orang. Namun, juga menumbuhkan rasa iri dalam benak tidak sedikit orang, yang karena berbagai faktor tidak mempunyai privilese untuk bisa sesukses orang-orang kaya sejagat raya.   

Kita boleh saja menghakimi orang-orang semacam ini dengan berbagai sebutan, toh hidup mati seseorang urusan masing-masing. Tidak ada kaitan antara kehidupan orang lain dan kehidupan kita beserta keluarga, sehingga apa yang mereka rasakan terhadap perbuatan kita kepada mereka juga bukan tanggung jawab kita. Ya atau tidak, mana jawaban yang paling berasal dari lubuk hati terdalam?

Saya menilai sikap semacam ini sebagai sebuah kesia-siaan, pemborosan terbesar dalam hidup. Mengapa? Tidak selalu perasaan senang hati yang timbul dari pilihan untuk bersikap seperti ini. Sampah-sampah hati yang bernama rasa sedih, kesal, marah, benci, malu, dan sederet perasaan negatif lainnya lebih sering muncul sebagai hasilnya.

Di sisi lain, sampah adalah masalah terbesar yang harus diatasi manusia saat ini. Alih-alih mengirim bom nuklir, sebuah negara dapat menghancurkan peradaban negara lain dengan mengirim sampah. Bukan saja sampah dalam pengertian sesuatu yang kotor dan berbau, melainkan juga ‘sampah’ dalam bentuk hasil turunan suatu produk. Misalnya, plastik yang merupakan bentuk turunan ke sekian daripada minyak dan gas bumi. 


Ilustrasi: Punden Mojorejo, Dau, Malang. 


‘Kuras’ sampai habis

Masyarakat penganut Kepercayaan Asli Ket, yang tinggal di Siberia, Rusia, menggantungkan kehidupan mereka pada alam dalam segala hal; hutan sebagai penghasil bahan bangunan untuk mendirikan rumah, laut dan danau sebagai penghasil ikan untuk santapan keluarga. Mengambil dari alam bukanlah sesuatu yang dilarang, tetapi penuh perhitungan agar bisa menyambut masa depan dengan kebahagiaan dan bukan kecemasan.

Selain melakukan upacara permohonan izin sebelum berbuat sesuatu di alam, tebang pilih dan selektif dalam berburu, ada satu prinsip krusial yang tidak mereka tinggalkan. Yaitu, memanfaatkan segala sesuatu yang mereka ambil dari alam semaksimal mungkin hingga tak bersisa agar tidak menimbulkan timbunan sampah.

Dalam sudut pandang para penganut Kepercayaan Asli Ket, binatang dan tumbuhan yang mereka santap atau manfaatkan adalah anugerah dari alam. Menyia-nyiakan sisa-sisanya sama artinya dengan tidak menghargai jerih payah mereka sendiri, apalagi bila sampai membuang sisa-sisa jeroan binatang, atau ikan yang sudah membusuk ke sungai atau danau. Bahkan kulit dan tulang beruang atau rusa bisa mereka ubah jadi bahan tenda. pakaian, atau gagang pisau.

Jauh sebelum orang-orang di desa saya sibuk mengumpulkan sampah plastik untuk ditukar uang receh di bank sampah, masyarakat penganut Kepercayaan Asli Ket sudah menemukan cara untuk hidup minimal tanpa sampah. Karena bagi mereka ‘nyampah’ adalah perbuatan yang sangat dibenci para leluhur. Ironisnya, kita baru memahami alasan di balik prinsip kepercayaan ini setelah lautan sampah menjadi bukit dan menciptakan longsor yang menelan korban jiwa.

Sampah yang paling mudah didaur ulang

Jadi sudah paham ‘kan mengapa sampah hati adalah sampah yang paling mudah kita daur ulang? Kesulitan ekonomi membuat jutaan orang di dunia ini sangat rentan mengalami perasaan tertekan. Ada 90% kemungkinan kita akan bertemu salah satu dari mereka dalam kehidupan sehari, entah di jalan, di sekolah, tempat kerja, pasar, dll. Walaupun kita tidak bertanggung jawab atas apa yang dirasakan orang lain, karena seluruh manusia itu lahir dan mati dalam keadaan sendiri dan tidak mengajak siapa pun. (dswas). 

Sabtu, 20 Juni 2026

‘Mental Bantuan’ Awal Kehancuran Segalanya

Ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump membubarkan USAID (US Agency for International Development) segera setelah ia dilantik 2025 lalu, mayoritas dunia menyambutnya dengan desah nafas panjang. Betapa tidak,  lembaga itu sudah menyalurkan bantuan untuk 130+ negara di seluruh dunia sebagai dukungan pada berbagai sektor, khususnya pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, pemeliharaan demokrasi, dll. sejak didirikan pada 1961.   

Keputusan Trump membubarkan lembaga ini sebenarnya sangat masuk akal, antara lain karena AS harus menanggung utang yang sangat besar akibat fokus pemerintahan berbagai era sebelumnya terhadap perkembangan di berbagai negara di dunia. Saat didirikan, beberapa negara penerima bantuan sedang mengalami kondisi sulit akibat berbagai hal, misalnya, bencana alam atau konflik politik, sehingga kehidupan rakyat mereka terbengkalai.

Namun, beberapa negara penerima bantuan USAID lainnya sebenarnya ‘baik-baik saja’ saat lembaga tersebut mulai mencairkan dana. Mereka tidak kaya raya, tetapi tidak mengalami bencana kelaparan atau perang besar. Sebut saja negara-negara Asia seperti Indonesia, India, China, Bangladesh, Filipina, dll., seperti yang terlihat di bagan ini. Mirisnya, taraf kehidupan di negara-negara penerima bantuan juga masih ‘gitu-gitu aja’ sejak saat bantuan pertama kali ditransfer oleh USAID hingga saat dihentikan.

Kalau Anda mengklik tautan yang saya berikan di atas, akan terlihat peta dunia berikut nama negara beserta jumlah bantuan yang mereka terima dari Amerika Serikat. Semakin gelap warna biru suatu negara, semakin besar bantuan yang diterima negara itu. Saya belum tahu bagaimana pihak Amerika Serikat mengontrol dan memeriksa sejauh mana efektivitas bantuan yang mereka salurkan bagi negara penerima. Apakah negara penerima sudah bisa memperbaiki kehidupan mereka: sudah lebih maju, sehat, terdidik, dan lebih demokratis setelah mereka menerima bantuan dari Amerika Serikat?

Bila tidak, mengapa tidak diterapkan shock therapy bagi negara-negara penerima bantuan agar mereka mau memperbaiki situasi mereka? Dan yang lebih penting mencemaskan lagi adalah, mengapa sebuah negara besar seperti Amerika Serikat tidak memiliki sistem untuk mengevaluasi sejauh mana uang yang mereka habiskan benar-benar bermanfaat bagi negara yang mereka pilih untuk dibantu? 


Ilustrasi: Pantai Ngliyep, Malang Selatan. 


Wajib memberi, wajib menerima  

Sebelum kita tiba di zaman modern di mana manusia mengandalkan dirinya sendiri untuk menyelesaikan segala permasalahan hidup, di masa lampau (dan di masa sekarang) para penganut Kepercayaan Asli Siberia menganggap memohon bantuan adalah sesuatu yang lumrah. Ketika mereka akan berburu di hutan atau memancing di laut, kondisi alam yang kondusif jelas akan sangat membantu mereka agar memperoleh apa yang dicari, yaitu binatang buruan atau ikan untuk disajikan sebagai lauk makan malam keluarga mereka.

Alam mempunyai sifat yang sukar diprediksi. Maka Tengerisme sebagai salah satu percabangan Kepercayaan Asli Siberia menyusun pedoman yang mempersiapkan para penganutnya untuk selalu siap menghadapi segala fenomena alam. Hidup sederhana dan bersedia menjaga kelestarian alam sekitar adalah beberapa hal kecil yang wajib dijalankan, bukan agar mukjizat datang dan mengubah hidup mereka.

Dalam logika sederhana, hidup sederhana artinya lebih sedikit mengonsumsi dan lebih sedikit menghabiskan. Apabila diterapkan sungguh-sungguh, kelangkaan ikan atau binatang buruan bisa dicegah. Misi berburu dan memancing berhasil, keluarga di rumah bisa makan lezat setiap hari.

Tengerisme mengenal sesajen, sama seperti banyak kepercayaan asli lainnya di seluruh dunia. Namun, bagi mereka sesajen lebih bermakna sebagai pengakuan atas keberadaan alam itu sendiri dan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Sesajen tak punya arti apa-apa bila tidak dibarengi tingkah laku sesuai pedoman yang telah disusun nenek moyang mereka.  

Tanpa pamrih hanya mitos

Bahkan sebuah badan amal pun punya sederet peraturan bagi penerima bantuan. Sungguh naif kalau kita percaya 100% pada sebuah entitas yang menyatakan mereka tulus dan ikhlas bersedia memberikan bantuan tanpa mengharap atau keinginan mendapatkan sesuatu. Seandainya bantuan keuangan yang sangat murah hati tidak disertai batasan dan aturan tentang cara pemanfaatannya, jangan bersorak kegirangan.

Setelah sekian puluh tahun hidup susah, Anda mendadak kaya karena bantuan seseorang, lalu mendadak susah lagi karena bantuan itu mendadak hilang. Bersediakaj Anda kembali ke kehidupan lama, kehidupan sebelum menerima bantuan, dengan rela dan tanpa penyesalan, tanpa kegalauan?  (dswas).

Minggu, 14 Juni 2026

Kaitan Antara Kesabaran dan Kesejahteraan

Permainan sepak bola pada dasarnya adalah upaya 10 orang dalam satu tim (minus penjaga gawang) menggiring bola di tanah lapang sepanjang 105 meter untuk memasukkannya ke gawang lawan, yang dilakukan secara terus menerus meski mereka berulang kali gagal. Kabar baiknya, mereka punya waktu selama 90 menit untuk mencoba, yang bisa diperpanjang selama 30 menit. 

Artinya, seorang pesepakbola sudah semestinya merupakan sosok penyabar, karena pemenang bisa saja tidak dapat ditentukan bahkan setelah 120 menit habis untuk berlarian mengejar bola. Kesabaran juga dibutuhkan para suporter yang harus rela menyisihkan uang demi memberikan dukungan semangat  buat tim kesayangan mereka, di mana pun mereka ‘pentas’.

Sementara suporter yang tidak bisa hadir di stadion harus rela bangun di tengah malam, mengorbankan jam tidur mereka demi menyaksikan laga para bintang kesayangan mereka. Oleh karena itu, saya tidak habis pikir mengapa ada pemain maupun penonton yang terlibat adu fisik gara-gara sepak bola.

Mungkin lantaran pemberitaan media tentang gemerlap kehidupan para selebritis sepak bola dan kekayaan mereka berhasil menyembunyikan fakta bahwa betapa besarnya kesabaran yang perlu dimiliki untuk bisa mengantar tim mereka jadi juara. Ironisnya, pemberitaan semacam inilah yang justru laris karena kita menganggapnya lebih enak ‘dimakan’.

Hal ini tidak lain karena manusia membutuhkan tempat pelarian dari getirnya kenyataan hidup, suatu hal yang sah-sah saja sebab tidak melanggar hukum dan undang-undang. Yang kita langgar adalah hak kita sendiri untuk hidup tenang dan terbebas dari penderitaan batin, alias stress. 


Ilustrasi: Bunga wijayakusuma (fishbone cactus) mekar beberapa detik saja di malam hari,
sebelum menguncup kembali dan layu di pagi hari. 


Adaptasi implementasi kesabaran

Sabar tidaklah semudah mengobral kata tentang sabar itu sendiri. Bagaimana kalau kita belajar tentang sabar kepada masyarakat suku tradisional Siberia? Di tengah suhu sekian puluh minus derajat Celcius yang membekukan segalanya, di sebuah tempat di Bumi di mana salju dan es membentang sejauh mata memandang, di sanalah mereka tinggal berabad-abad lamanya.

Akan tetapi, suhu ekstrem tak membekukan kehalusan perasaan, juga akal budi mereka. Ini dibuktikan dengan adanya Kepercayaan Asli Siberia yang salah satu ajarannya adalah tentang sabar mengamati arah gerak alam sekitar, sebelum memutuskan ke arah mana tangan dan kaki bergerak demi tujuan mencapai kesejahteraan hidup di tengah situasi yang menantang akal sehat.

Berbeda dari masyarakat perkotaan, masyarakat asli Siberia tidak setiap saat pergi berburu beruang atau menangkap ikan di sungai. Kesabaran mereka menanti saat yang tepat untuk segala aktivitas eksploitasi alam merupakan bentuk penerapan ilmu manajemen sumber daya alam dalam kehidupan nyata. Faktanya, segala kerusakan yang terjadi dalam kehidupan manusia modern umumnya berpangkal dari ketidaksabaran.

Kesabaran yang diajarkan Kepercayaan Asli Siberia bukanlah soal penantian yang pasif, bukan pasrah mengikuti arah angin bertiup. Melainkan lebih tentang kerelaan untuk senantiasa menyamankan diri dengan perubahan situasi, sembari tidak kehilangan fokus dalam memelihara keharmonisan dengan sesama maupun alam sekitar.  

Sebagai komunitas nomaden, masyarakat asli Siberia bisa saja bermigrasi ke wilayah lain yang lebih hangat, lebih hijau, dengan temperatur yang lebih bersahabat. Namun, bersenjatakan pengetahuan mendalam tentang alam sekitar, para leluhur mereka memilih bertahan di tengah suhu ekstrem Kutub Utara dari generasi ke generasi, dan berhasil survive hingga saat ini.

Dampak jalan pintas

Adalah wajar jika kita ingin mencapai sesuatu yang lebih dalam hidup. Bukankah tanpa ambisi seseorang, tidak mungkin ada internet di antara kita? Namun, internet diciptakan melalui proses panjang selama bertahun-tahun. Sementara manusia modern lebih mengutamakan cara-cara mudah dan cepat untuk bisa memegang uang dalam genggamannya.

Herannya, semakin mudah kita mendapat uang hari ini, semakin berbelit dampak ikutan yang musti kita hadapi di belakang hari.  Semakin mudah dan cepat kita menjual lahan pertanian milik keluarga, mengapa semakin cepat ludes pula uang yang kita dapat? (contoh)

Jalan pintas memang bisa membawa kesejahteraan, walaupun hanya sebentar. 

Minggu, 07 Juni 2026

Memelihara Rejeki Agar Tak Pernah Habis

Karena tiada yang abadi di dunia ini, segalanya pasti akan habis, berakhir, atau mati. Kita sudah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa ini bukan sekadar retorika, melainkan realita. Sebuah dinasti bisa jatuh bangkrut, negara makmur bisa tenggelam akibat utang, sumber daya alam melimpah bisa licin tandas, dan sumber air juga bisa berhenti mengalir. Kita cenderung menanggapi titik akhir dengan kepanikan, padahal kematian adalah suatu hal alamiah yang bisa menimpa siapa saja.

Bagi mereka yang sudah ditempa pengalaman maupun ilmu institusi pendidikan formal, manajemen adalah kunci untuk mencegah ‘kiamat’ agar tak menjadi kenyataan. Sebagian besar orang cenderung menganggap meskipun berhemat adalah cara memperpanjang persediaan sumber yang kita miliki, baik yang berwujud sumber daya alam maupun sumber keuangan. Tidak sulit dilakukan meski harus ‘berkorban’.

Hingga saat ini, kita belum bisa benar-benar mengimplementasikan langkah-langkah yang bisa memperbanyak debit air suatu mata air, misalnya, atau menemukan sebuah metode untuk menambah cadangan minyak bumi dan gas. Dalam perspektif sebagian besar manusia, alam sekitar hanyalah benda mati untuk dieksploitasi sampai kering kerontang. Belum terbit gagasan dalam benak para cendekiawan sejagat untuk mengganti apa yang sudah mereka ambil, apalagi memelihara suatu sumber daya alam agar terus mengalirkan rejeki untuk manusia.


Ilustrasi: Sumber Waras, Lawang, Malang. 



Disiplin menghargai alam   

Kebiasaan meminta izin pada alam sekitar sebelum mengambil atau mengeksploitasi apa yang ada di dalamnya tidak mudah dilakukan ketika orang-orang di sekitar kita tidak menjalankannya. Apalagi bagi para penganut Kepercayaan Tradisional Dvoieverie, khususnya mereka yang tinggal di perbatasan Ukraina dan Rusia serta menjadi bagian dari angkatan perang masing-masing kubu.

Demi tugas negara, mereka tinggal di rimba belantara hingga berbulan-bulan. Mereka berteman kesunyian dan mau tidak mau mendapat perlindungan dari pepohonan, makanan, minuman, bahkan obat-obatan dari segala yang ada di hutan. Di tengah tekanan itu mereka menyadari kemurahan hati alam sekitar, meski mereka ‘tidak datang dengan damai’ sebagaimana sekelompok pemburu yang berburu kelinci di hutan.

Tanpa aba-aba, perintah, instruksi, maupun komando, para penganut Dvoieverie di kalangan militer Ukraina dan Rusia mempunyai kebiasaan meninggalkan sesajen di tepi hutan atau mata air, sebelum mereka masuk ke dalam hutan, mengambil air, memancing, berburu, atau mengambil apa pun di sana. Selain sebagai simbolisasi permohonan izin dan ucapan terima kasih pada alam sekitar, sesajen juga merupakan bentuk pengorbanan yang hanya dapat terwujud berkat adanya kedisiplinan diri.  

Karena kedua pihak sama-sama membutuhkan rimba sebagai tempat bersembunyi, mereka tidak mengizinkan siapa pun, kecuali kubu tentara swasta, untuk memasuki area hutan di sekitar perbatasan Ukraina dan Rusia. Konflik berkepanjangan menjadi satu-satunya hal yang membuat kawasan ini terhindar dari tangan para korporasi global haus darah.

Berhemat bukan satu-satunya cara

Ya, berhemat bukan satu-satunya jalan yang musti kita tempuh untuk menjaga kontinuitas segala keberlimpahan alam. Alih-alih cara bertahan hidup, berhemat justru akan menjadi sumber kesedihan dan keterpurukan kita ketika kita menjalankannya dengan penuh keterpaksaan. Apalagi bila kita belum dapat menyingkirkan keinginan untuk ‘menikmati hidup yang senikmat dahulu kala’, karena, yah, masa lalu tidak akan pernah kembali.

Sebelum mampu memelihara alam dan menikmati hasil upaya tersebut, kerendahan hati untuk ‘memanusiakan’ alam wajib muncul terlebih dulu. Bila tidak, itu bukan masalah besar. Yang jadi masalah besar adalah ketika suatu saat mata air berhenti mengalirkan air, cuaca panas akibat habisnya kawasan hijau, atau hal-hal sepele lainnya yang mendadak hilang dan tak bisa lagi kita nikmati. (dswas).

Cara Move On di Tengah Kebuntuan Stagflasi

DPR Inggris (UK House of Commons) terpana tak percaya ketika politisi Partai Konservatif dan mantan Chancellor of the Exchequer (Menteri Keu...