Dari dua batu yang saling bergesekan bisa terpercik api-api kecil. Sama halnya sebuah pertentangan bisa membesar akibat dua kepala batu yang sama-sama bersikukuh dengan pendirian masing-masing. Tidak perlu terlalu jauh memandang, contoh situasi semacam ini sangat mudah ditemukan di sekitar kita. Walaupun kabar terkini dari medan perang mana pun bisa diakses setiap saat melalui layar ponsel kita 24/7.
Inflasi global yang belum terlihat ujungnya hingga kini
membuat banyak orang di dunia merasa kalah, merasa menjadi pecundang akibat
hilangnya kenyamanan hidup yang sudah sekian lama mereka nikmati. Pergeseran
gaya hidup dari komunal ke individual membuat banyak orang merasa seorang diri
di tengah kecemasan – yang sangat tidak nyaman dan menyiksa.
Tidak sedikit yang berusaha mencari penawar dengan berusaha
memenangi ‘pertempuran’ di medan laga yang lebih kecil dan sedikit lebih
ringan. Bukan didasari keyakinan bahwa mereka dilahirkan sebagai pejuang untuk
menang di medan perang, melainkan sekadar ingin cepat-cepat memenangi sebuah
situasi guna menutup ‘kerugian’ akibat kekalahan di situasi lain (yang kadang
tidak saling berhubungan).
Inilah mengapa gesekan kecil (dan besar) dalam masyarakat
bisa sangat sulit dipadamkan. Selalu ada saja ‘orang-orang kalah’ kembali
mengipasi api konflik yang sudah mengecil agar kembali merajalela. Kita tidak
dapat menyembuhkan orang-orang semacam ini, tetapi kita bisa meminimalisir
timbulnya dampak ikutan yang muncul akibat kecenderungan mereka mencari
kemenangan di tengah situasi dan kondisi apa pun.
Menyingkirkan ambisi pribadi tidak mudah
Dewasa ini, menjadi bagian dari masyarakat komunal dipandang
sama dengan kehilangan kebebasan untuk berperilaku. Banyak dorongan hawa nafsu
yang harus kita tekan sebagai upaya memelihara keseimbangan antara alam sekitar
dan masyarakat, antara suatu masyarakat dan masyarakat lainnya. Justru satu hal
yang kita seharusnya bebaskan adalah kemampuan mengatur diri sendiri dan kelompok, meski
tanpa kehadiran tokoh sentral yang memiliki otoritas lebih tinggi dibanding
warga lainnya dalam masyarakat.
Dalam sudut pandang para penganut Kepercayaan Asli Tuva di
Siberia Selatan, kebahagiaan bukanlah pengejaran cita-cita pribadi, melainkan
lebih sebagai hasil dari segala upaya yang dilakukan untuk memelihara
keharmonisan dan keseimbangan dalam masyarakat itu sendiri. Menyediakan sesajen
sebagai cara ‘memanusiakan’ pepohonan, pegunungan, laut, dan binatang, adalah
metode yang ditemukan para leluhur mereka agar generasi penerus berhati-hati
dalam menjaga kelestarian alam dan lingkungan.
Tokoh pemimpin dalam komunitas Tuva hanya akan turun tangan
apabila terjadi masalah dalam masyarakat. Bila tidak dimintai bantuan, maka dia
akan cenderung diam dan mengamati. Terlalu banyak ikut campur membuat
masyarakat tidak punya inisiatif untuk membuat keputusan dan menata diri mereka
sendiri agar selaras satu sama lain, baik sesama mau pun alam sekitar. Ia tidak tampil di muka publik demi harta
maupun ketenaran, karena tujuan tersembunyi semacam itu suatu saat akan terkuak
ketika masyarakat yang dia pimpin gagal mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan.
Benar dan sempurna hanya mitos
Siapa pun yang mengatakannya, kita sebaiknya mulai kritis
terhadap klaim apa pun yang mengatasnamakan kesempurnaan. Tidak ada yang
sempurna di dunia ini, suka atau tidak. Keyakinan tentang kesempurnaan adalah
benar hanya jika terbukti membawa manfaat bagi kehidupan dan kebahagiaan suatu
masyarakat secara keseluruhan. Rasa rendah diri musnah, meski argumen kita kurang
cukup kuat untuk mengklaim bahwa kita merasa bahagia.
Konflik dan api-api kecil yang berpotensi konflik akan reda
dengan sendirinya, apabila kita tidak punya ambisi pribadi untuk menunjukkan
dan membuktikan kepada siapa pun bahwa argumen kita paling benar. (dswas)