“Tak seorang pun dapat mengubah masa lalu, tetapi kita dapat berniat untuk mengambil pelajaran dari itu,” tegas Raja Charles pada Konferensi Negara-negara Persemakmuran yang digelar di Samoa, Oktober 2024.
Pernyataaan di atas ditafsirkan beberapa media sebagai
pandangan Raja Inggris terhadap sepak terjang negaranya di masa imperialisme/
kolonialisme, yang sarat dengan darah dan air mata. Niat baik Raja Charles
tidak disambut hangat sejumlah kalangan saat berkata,
“Di mana terjadi ketidaksetaraan .. kita harus mencari cara
dan tutur kata yang tepat untuk menyampaikannya. Dengan melihat dunia dan
mempertimbangkan secara mendalam berbagai tantangan yang mengkhawatirkan, maka
kami memilih penyampaian dan penghormatan bagi komunitas dan menolak penyampaian
yang mendatangkan perpecahan dalam keluarga Persemakmuran.”
Pernyataan tersebut seolah merupakan tanggapan langsung atas
ketidakhadiran India dan Afrika Selatan, yang termasuk pendiri sekaligus
anggota Persemakmuran, dalam konferensi tersebut. Keduanya memilih hadir di
Konferensi BRICS (singkatan dari Brazil, Rusia, India, China, Afrika Selatan)
yang digelar sehari sebelumnya.
Mengingat konflik geopolitik dan rivalitas antara Rusia dan kubu
Barat (di mana Inggris termasuk di antaranya), ketidakhadiran India dan Afrika
Selatan rupanya dianggap Raja Inggris sebagai sikap yang kurang bersahabat dan negatif
bagi kebersamaan Negara-negara Persemakmuran.
Terlepas dari bagaimana Inggris memperlakukan India dan
Afrika Selatan di masa pendudukan, wajar bila Raja Inggris melontarkan
kekecewaannya mengingat bantuan yang sudah diberikan Inggris kepada
negara-negara anggota Persemakmuran. Walaupun detail mengenai bantuan tersebut
tidak dipaparkan secara terang-terangan.
“Aku ra popo (Aku baik-baik saja)"
Menurut sebuah sumber, menjelang akhir 2024 Ukraina tercatat
sebagai negara dengan tingkat depresi tertinggi di dunia. Tidak mengherankan
mengingat situasi geopolitik yang dialami negara ini.
Yang justru mencengangkan, posisi ke-2 dan ke-3
masing-masing dihuni Amerika Serikat dan Australia. Artinya, jumlah penderita
depresi di dua negara yang juga dikenal sebagai negara maju hampir sama banyak
dengan penderita depresi di negara yang sedang berperang.
Data ini mencengangkan sekaligus mengkhawatirkan karena depresi dan berbagai masalah kesehatan mental lainnya ternyata bisa mencengkeram negara mana pun, bahkan yang dikenal berkat kesejahteraan dan stabilitasnya.
Penyebab utamanya tentu saja bukan karena negara-negara itu tidak
memiliki fasilitas rumah sakit jiwa yang memadai, atau kekurangan tenaga
spesialis di bidang kesehatan mental. Sering kali ketidaktahuan penderita bahwa
sesuatu sedang tidak baik-baik saja dalam dirinya berkontribusi dalam tingkat
keparahan penyakit yang dideritanya.
Penggambaran tentang masalah kesehatan mental sebagaimana
diekspos influencer, media sosial,
atau plot film-film serial streaming berlangganan terkadang ditafsirkan sebagai
suatu kebenaran. Lantaran tayangan-tayangan tersebut meninggalkan impresi yang tidak
nyaman dan gloomy, batin kita menolak
untuk membayangkan atau curious
tentang kemungkinan bersarangnya penyakit ini dalam jiwa kita. Sepanjang kita
tidak ingin bunuh diri atau berhalusinasi mendengar suara dari langit, itu
artinya mental kita baik-baik saja, bukan?
Silent killer
GERD (gastroesphageal influx disease)
merupakan suatu kondisi di mana penderitanya mendadak mengalami rasa panas di
dada atau sesak napas yang diakibatkan naiknya asam dari lambung ke
kerongkongan. Meski tidak menyebabkan kematian, GERD bisa memicu kondisi lain
yang membahayakan jiwa, di antaranya peningkatan risiko kanker.
Ironisnya, penyakit yang kerap disamakan dengan maag ini
merupakan salah satu penyakit lazim di kalangan masyarakat dunia, baik tua
muda, pria wanita. Lantaran salah satu pemicunya juga tak kalah lazim, yaitu stress.
Stress, satu kata ini kian lazim seiring meningkatnya jumlah orang yang wajib atau merasa wajib tampil kokoh dan tegar di hadapan publik maupun dalam kehidupan sehari-hari, baik karena tuntutan pekerjaan atau peran dalam keluarga, di saat situasi benak mereka adalah sebaliknya. Ibaratnya, bukan manusia modern kalau tidak pernah stress dalam hidup ini.
Apakah gara-gara hidup itu singkat maka kurang bermakna tanpa stress?
Berkaca dari ‘sabda’ Raja Charles di atas, rasa tertekan
bukan hanya dialami mereka yang pernah dijajah tetapi juga kubu yang menjajah. Kaum
imperialis merasa menemukan rumah kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya saat
mereka ‘menemukan’ tanah jajahan yang kaya sinar matahari dan banyak hal lain
yang tidak ada di kampung halamannya. Adalah wajar bila mereka merasakan
kehilangan yang cukup dalam ketika terpaksa angkat kaki dari rumah idaman untuk
selamanya.
Lantaran tidak diungkapkan dan hanya dipendam selama
berabad-abad, rasa kehilangan tersebut mendistorsi perspektif, reaksi,
tindakan, dan kebijaksanaan kolektif suatu bangsa yang diwariskan dari generasi
ke generasi. Memengaruhi pola pikir manusia saat mengalami peristiwa demi peristiwa yang semakin ruwet dari waktu ke waktu.
Segala hal yang terjadi di muka Bumi dewasa ini merupakan rangkaian sebab dan akibat yang tiada putus dan merembet ke mana-mana bagaikan kanker ganas yang dipicu GERD kronis. Segala kompleksitas yang terjadi di tengah dinamika masyarakat sebagai komunitas global ternyata bermuara dari satu atau beberapa permasalahan di masa lalu yang diabaikan.



