Gua Machpela memiliki dua nama lain, dan Anda dapat memilih salah satunya sesuai agama yang Anda yakini. Bagi masyarakat Kristen Ortodoks, Kristen, dan Katolik, Gua Machpela disebut Cave of The Patriarch (Gua Para Leluhur). Bagi umat Yahudi, gua ini disebut Me'arat HaMachpela. Sedangkan bagi umat Islam, mereka menyebut gua tersebut sebagai Masjid Ibrahimi.
Dalam artikel ini, saya menggunakan "Gua Machpela" untuk menyebut Cave of The Patriarch, mengikuti penyebutan nama Wikipedia bagi para pembaca asal Indonesia (Gua Makhpela dalam bahasa Indonesia).
Cave of The Patriarch terdaftar sebagai salah satu destinasi wisata dan bagian dari Wisata Tepi Barat bagi para wisatawan di seluruh dunia. Berdasarkan ulasan dari para pengunjung di Tripadvisor, Anda akan ditanya apakah Anda Muslim, Yahudi, atau Kristen saat mengunjungi situs ini sebagai ketentuan seberapa jauh Anda bisa berziarah di sini.
Itu benar, Gua Machpela terbagi menjadi bagian Yahudi dan Muslim, serta terdapat dua pintu masuk untuk tiap penganut agama yang juga dikelola oleh komunitas masing-masing.
Sedangkan bagi kelompok non-Muslim dan non-Yahudi, mereka hanya bisa melihat bagian luarnya saja. Sebelumnya, umat Nasrani dapat memasuki lokasi tersebut dari semua gerbang, tetapi seorang pengunjung di Tripadvisor mengatakan bahwa peraturan tersebut telah diubah. Masih belum diketahui apakah ada peraturan baru mengingat dinamika saat ini.
"Di kuburan leluhur kita beradu"
Dan itu benar-benar terjadi. Beberapa waktu lalu, ramai dibicarakan tentang penembakan massal di Gua Para Leluhur pada 1994 dan peristiwa yang mengikutinya. Sebenarnya, peristiwa ini bukanlah aksi kekerasan pertama di lokasi suci bagi tiga agama tersebut.
Gua Para Leluhur merupakan sebuah gua kecil di mana para Leluhur (Adam, Abraham, Ishak, dan Yakub) dan pasangan mereka dimakamkan. Dahulu kala, gua tersebut merupakan pemakaman biasa sampai Raja Herodes memutuskan untuk membangun dinding pelindung di sekitarnya.
Sumber gambar: YouTube/allaboutJerusalem
Gereja dan masjid sempat dibangun di sekitar kuburan suci dan silih berganti dihancurkan oleh mereka yang berhasil menaklukkan Yerusalem sebelum dan selama Perang Salib. Sedangkan kaum Yahudi sempat dilarang memasuki area kuburan suci selama beberapa waktu.
Saat artikel ini dibuat, ada dua pintu masuk terpisah bagi umat Yahudi dan Muslim. Umat Yahudi hanya bisa masuk lokasi ini dari sisi barat daya, sedangkan umat Islam diperbolehkan masuk dari barat laut setelah melalui masjid.
Kedua kelompok agama tersebut tidak boleh masuk lewat sisi yang lain. Artinya, pengunjung dari kalangan Yahudi tidak boleh masuk lewat pintu gerbang untuk Muslim, begitu pula sebaliknya.
Karena senotap (semacam tugu peringatan) Abraham/Ibrahim dan Sarah/Siti Sarah berada di sisi barat daya (sedangkan senotap Yakub dan Lea/Laya berada di sisi barat laut), umat Yahudi tidak dapat memberikan penghormatan kepada nenek moyangnya dalam jarak dekat (apalagi umat Kristen) selain di hari-hari besar agama Yahudi.
Mengapa hal ini penting? Karena Abraham merupakan leluhur Ibrani pertama dan termasuk tokoh suci dalam agama Kristen dan Islam.
Mencari cahaya
Saya terlahir sebagai seorang Muslim dari orang tua yang beragama Islam, dan mengenyam pendidikan pertama di TK Kristen Protestan dan SD Katolik. Saat itu bukan masalah besar bila seorang Muslim di kota saya untuk mengenyam pendidikan di sekolah Protestan atau Katolik.
Saya membaca doa Protestan dan Katolik, masuk dan duduk di gereja saat acara sekolah di tahun-tahun awal kehidupan saya, dan masih menjadi seorang Muslim hingga saat ini.
Agama dianggap dan dipandang setara dalam hukum dan ideologi Indonesia, meskipun beberapa orang khawatir bahwa keharmonisan ini mulai terkikis karena beberapa kelompok kecil umat beragama percaya Tuhan akan menghukum mereka karena tidak menjalankan ajaran-Nya dengan benar dan bergaul terlalu dekat dengan kalangan yang berbeda agama.
Dari kisah Gua Leluhur, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Yudaisme adalah agama pertama yang didirikan di wilayah tersebut (Palestina-Israel), disusul oleh Kristen dan Islam. Pemahaman dan pengakuan terhadap fakta Alkitab ini juga berperan dalam membentuk pendapat umum tentang konflik.
Konflik yang terus berlanjut juga menentukan dalam membentuk cara pandang terhadap orang lain. Pengalaman emosional kita berkontribusi dalam proses membenarkan cara berpikir tentang sesuatu, dan bukan keadaan sebenarnya mengenai hal itu. Sebuah perilaku yang membawa kita pada prasangka dan kebencian yang menghalangi kita untuk meresapi dan mencari cara memelihara perdamaian.
Di masa lampau, agama berdampingan dengan sistem politik sebagai alat untuk mengatur rakyat dan menjamin kehidupan sehari-hari yang harmonis serta teratur di kalangan masyarakat. Mereka yang tidak tahan menghadapi kebebasan yang kelewat batas akan memilih agama sebagai sarana agar rakyat patuh guna menciptakan stabilitas. Dan stabilitas (seharusnya) merupakan akibat langsung dari mengamalkan agama apa pun dengan sepenuh hati.
Sebagai penutup, tidak ada kata terlambat untuk bertanya pada diri sendiri apakah nilai-nilai agama masih bermanfaat, tidak hanya demi keselamatan dan keamanan, melainkan juga kewarasan individu yang penting untuk membangun masa depan lebih baik bagi generasi kini dan masa depan.
