Ya, mungkinkah itu, atau sekadar utopia? Ketika sebuah kasus pelecehan terhadap sesajen merebak di Jawa Timur beberapa waktu lalu, kecaman keras datang dari banyak penjuru, termasuk kalangan internasional, mengingat tindakan itu termasuk bentuk pelanggaran terhadap kebebasan beragama.
Persembahan, atau sesajen, bukan hanya bagian tak terpisahkan dari agama Hindu tetapi juga kalangan para penganut "agama lama" dan kepercayaan terhadap Tuhan YME di berbagai penjuru dunia.
Walaupun genre religi ini umumnya bertujuan membangun kesadaran manusia agar dapat hidup selaras dengan alam sekitarnya, tidak sedikit yang melabeli mereka sebagai kaum sesat, kafir, pemuja berhala, dll. karena berbagai faktor.
Akan tetapi, tudingan negatif ini dapat dimaklumi lantaran para pencetusnya kalangan beberapa agama tertentu yang memandang sebuah fenomena religi menggunakan ukuran religiusitasnya masing-masing.
Ada kalanya sesuatu yang benar di satu tempat dianggap salah di tempat lain; itulah kebhinekaan.
Memahami swatantra (liberty)
Kemenangan Javier Milei, seorang ekonom yang mendeklarasikan dirinya sebagai anarko kapitalis, sebagai presiden Argentina menghidupkan kembali diskursus mengenai libertarianisme yang diusungnya.
Kritikan pedas datang dari segala arah mengiringi kemenangannya akibat rencana dolarisasi Milei dianggap bertentangan dengan arus multipolarisme yang sedang digencarkan beberapa negara, terutama China.
Menurut Milei, otoritas kiri Argentina terlalu banyak membuang uang dan membatasi kebebasan masyarakat. Negara sebaiknya mengurangi peranan mereka dalam kehidupan bernegara, menyerahkan mekanisme pasar pada pihak swasta, dan memberikan ruang gerak lebih leluasa untuk warga negara untuk berusaha dan meningkatkan taraf hidup mereka.
Perlu diingat bahwasanya libertarianisme yang berakar dari kata liberty (swatantra) punya perbedaan tipis dengan kebebasan (freedom). Ketika kebebasan cenderung memberi porsi lebih pada keleluasaan berkat berbagai faktor luar, swatantra merupakan pandangan dan sikap hidup seseorang yang terbentuk oleh kualitas moralnya.
Dalam swatantra kita mempertimbangkan sejauh mana tindakan kebebasan kita tidak melanggar kebebasan orang lain demi terciptanya kehidupan masyarakat yang sejahtera, bukan hanya dalam hal materi tetapi juga kepuasan batin.
Apabila menuntut kebebasan itu mudah, apakah menuntut kebebasan bagi pihak lain itu juga mudah untuk kita lakukan? Saya yakin pertanyaan ini sudah dijawab video di atas.
Berkat berbagai ajaran mengenai moralitas, manusia mampu membedakan antara mana yang benar dan mana yang salah, serta membuat batasan antara dua wilayah itu. Otoritas dan atau pemerintah adalah pihak yang mengawasi dan memberi tindakan manakala warga melanggar batasan itu.
Paham anarkisme cenderung menolak campur tangan otoritas yang berlebihan dalam kehidupan masyarakat bukan karena paham ini menghendaki chaos bekepanjangan. Sebaliknya, kaum anarkis bertujuan meringankan beban pekerjaan otoritas dengan menumbuhkan sikap swatantra yang bukan hanya tahu menuntut kebebasan.
Setidaknya, begitulah teorinya.
Kebebasan mahal harganya
Dunia dilanda konflik selama dua tahun berturut-turut adalah dampak langsung dari tiadanya kebebasan selama dua tahun sebelumnya selama pandemi COVID-19. Kebijakan kuncitara, jaga jarak, wajib vaksin menimbulkan kekecewaan yang kemudian dilampiaskan tanpa kendali setelah virus SARS-CoV-2 sirna.
Di Eropa, kekecewaan itu rupanya masih mencengkeram erat dalam mindset sejumlah pemimpinnya, sebagaimana terlihat dalam pertemuan Organization for Security and Cooperation in Europe (OSCE) pada 1 Desember 2023 di Macedonia Utara.
Diundangnya Rusia ke pertemuan itu tadinya menerbitkan harapan bahwa perdamaian terkait konflik Ukraina sudah dekat.
Apa mau dikata, beberapa negara kunci di forum itu masih belum mengubah sikap mereka terhadap Rusia. Bagi mereka, Rusia tetaplah terdakwa yang perlu dihukum seberat-beratnya tanpa diberi kesempatan untuk mengajukan pembelaan.
Kecenderungan yang sama juga terlihat nyata di kancah konflik Palestina-Israel. Sorotan negatif pada Israel seolah tak dapat dihentikan media manapun, meski berpegang teguh pada Kode Etik Jurnalistik adalah suatu keharusan.
Berbagai peristiwa dalam dua tahun terakhir merupakan cerminan betapa mahalnya kebebasan. Semua manusia bergerak bebas mengejar impian masing-masing tetapi tidak mampu membebaskan diri dari belenggu idealisme tentang menjadi benar dalam benak dan batin mereka.
Sekat-sekat antara pola pikir beragam kelas manusia terus dibangun tinggi demi menghindari tercemarnya nilai-nilai kebenaran yang dijunjung tinggi suatu golongan. Nampaknya, masa depan yang lebih baik masih impian belaka.