Rabu, 29 Mei 2024

Gampang-Gampang Susah Melindungi Komunitas dari Sisi Negatif Individualisme

Tidaklah rumit memulai komunitas di mana pun Anda berinteraksi dengan sejumlah orang yang membicarakan topik dan/atau minat yang sama. Dan bukanlah hal yang sulit untuk memulai komunitas yang dibangun berdasarkan kesamaan identitas, kewarganegaraan, atau tempat tinggal karena ada satu hal yang menyatukan mereka.

Namun, memulai sebuah komunitas tidak sesulit membuat para anggotanya merasa menjadi bagiannya. Mengapa harus repot-repot bergabung dengan suatu komunitas ketika Anda tidak merasa enjoy di situ? 

Pada akhirnya, komunitas tersebut akan terhenti di tengah perjalanan karena gagal memaknai alasan keberadaannya; sesuatu yang memerlukan keputusan terkonsolidasi, bukan visi pribadi seseorang (yaitu pemimpinnya). 

Individualisme itu berat

Budaya individualistis menghargai pencapaian pribadi, kemampuan mengarahkan diri sendiri, dan kebebasan individu. Di tengah situasi sulit, budaya tersebut berharap masyarakat dapat menyelesaikan masalah mereka sendiri, mandiri, dan tidak menyusahkan orang lain dengan kesulitan mereka.

Budaya ini bagus karena siapa pun akan belajar cara tumbuh dan mengembangkan potensinya untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka, Namun, ada juga kekurangannya.

Mengingat budaya individualistis menghargai otonomi dan identitas pribadi, masyarakat cenderung mengutamakan kenyamanan diri masing-masing di atas kebaikan bersama. Seseorang yang dibesarkan dalam budaya individualistis akan cenderung meremehkan pengaruh keputusannya terhadap orang lain, karena mereka menganggap orang lain akan melakukan hal yang sama. 

Ilustrasi: lalesh aldarwish

Akibatnya, mereka rentan stres karena merasa kesepian dan kurangnya dukungan. Belum lagi sikap anti sosial yang berdampak buruk bagi komunitas. Sikap "pokoknya harus seperti ini" itu tidak manusiawi karena tidak memandang anggota masyarakat sebagai pria atau wanita dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Keterputusan seorang pekerja dari timnya dapat memicu turunnya rasa kegotongroyongan, karena tidak ada pihak yang bersedia menurunkan egonya dan saling menjangkau satu sama lain.

Sebuah eksperimen

Apabila Anda pernah atau sedang merasakan apa yang saya beberkan di atas, tenanglah. Anggap saja hal ini sebagai tantangan yang menunggu jawaban Anda, bukan menganggap individualisme sebagai pertanda buruk bagi masyarakat. Ada tingkat baru yang dicapai saat Anda dan komunitas berhasil mengatasi tantangan tersebut. Namun, pertanyaannya masih 'bagaimana'.

Kebanyakan orang yang berada di posisi manajerial biasanya memberikan ruang kepada individu, agar mereka dapat mengembangkan potensi tanpa mengorbankan privasi. Suatu langkah yang sekaligus membuat mereka menjauh dari tujuan kolektif pada tingkat tertentu.

Bagaimana kalau kita coba pendekatan lain?

Alih-alih menempatkan para individualis di mana mereka ingin berada, mari kita dorong mereka keluar dari zona nyaman itu. Limpahkan peran khusus untuk para individualis yang mengharuskan mereka mengajar orang lain untuk melakukan sesuatu. Peran ini akan menempatkan mereka di situasi tertentu di mana mereka akan lebih sering berinteraksi dengan orang lain dan mengemban bertanggung jawab untuk memberdayakan mereka. Dengan demikian, tebalnya pola pikir individualistis dapat ditipiskan.

Anda jelas akan berhadapan dengan penolakan saat memaksa mereka mengikuti cara ini. Namun, kita sudah terbiasa menghadapi situasi ekstrim di sekitar kita akibat kesulitan ekonomi dsb. Sedikit komplain tidak akan mengganggu hari Anda, jika kebaikan bersama jadi yang utama.

Oleh karena itu, komunikasi senantiasa diperlukan untuk membangun pemahaman tentang mengapa mereka harus bertahan dari rasa ketidaknyamanan tersebut. Apalagi jika kita berbicara tentang komunitas online yang dimensinya berbeda dibandingkan komunitas pada umumnya.

Emosi menjadikan kita manusia, sekaligus hal yang mendasari beberapa orang lebih memilih mendelegasikan tugas pekerja pada AI. Sesuatu yang membuat kita merasa hidup telah dikambinghitamkan sebagai pemicu pengangguran di sejumlah negara. Namun demikian, gagasan dan semangat manusialah yang menyelesaikan tiap masalah yang mereka hadapi dalam masyarakat masing-masing. Jimat yang akan membuat kita bahagia dan menemukan makna hidup.

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...