“Don’t Know What You Got Till It’s Gone” oleh Cinderella pasti dikenal para remaja 80-90-an yang rambutnya sudah mulai memutih saat ini. Para kritikus musik rock Inggris di era itu menyebut lagu rock ballad ini sebagai bukan lagu rock, melainkan slogan sebuah merek soft drink terkenal.
Sementara kritikus Britania Raya lainnya menyindir sang
vokalis sekaligus penciptanya, Tom Keifer, menyanyi dengan suara husky (serak-serak basah) karena
kecapaian dan butuh istirahat.
Saya memprediksi lagu ini akan kembali menjadi favorit dalam
waktu dekat, mengiringi tersadarnya kita tentang berbagai hal yang telah atau
akan segera hilang. Hal-hal yang sebelumnya ada, lazim, dan bukan sesuatu yang
istimewa, sampai mereka benar-benar lenyap dari kehidupan kita sehari-hari. Misalnya,
air, sinar matahari, dsb.
Beberapa waktu lalu, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengumumkan
fenomena El NiƱo yang berkarakter suhu panas dan kering disertai angin kencang
masih akan berlangsung di sebagian besar Asia Tenggara hingga awal 2027. Sementara
dalam kurun waktu sama, benua Amerika mengalami curah hujan tinggi yang
berpotensi banjir bandang.
Hujan, atau panas, yang biasa kita persalahkan karena sering
datang tanpa diundang saat kita tengah beraktivitas, mendadak hilang untuk
waktu yang lama tergantung di mana Anda tinggal saat ini. Ilmu pengetahuan telah
berhasil mengungkap berbagai faktor penyebabnya, tetapi belum berhasil merumuskan
langkah jitu untuk mengakhiri anomali tersebut.
Melatih kewaspadaan
Ketika seorang pedagang mengalami kerugian, ia akan
melakukan apa yang ia bisa guna menutup celah dalam pembukuannya. Akan tetapi,
cuaca tidak berwujud sejelas uang atau benda lainnya. Tingkat keberhasilan
manusia memanipulasi cuaca dengan aktivitas mereka hanya mencapai 10%. 90%
lainnya bergantung pada dinamika alam.
Para penganut Kepercayaan Asli Siberia sudah menyadarinya
sejak lama. Mereka tinggal di tengah alam yang moody, kadang bersahabat dan kadang tidak. Namun, mereka tidak
meninggalkan Siberia yang dingin menusuk tulang, karena para pendahulu mereka
sudah mengajarkan bagaimana bertahan hidup.
Sesajen yang mereka buat sesuai kebiasaan aliran kepercayaan
masing-masing bukan berfungsi sebagai “sogokan” agar suatu kekuatan gaib di
luar sana mau membantu mereka. Bukan demi membujuk sinar matahari mendadak
muncul dan memberikan kehangatan.
Untuk menyiapkan sesajen, si penyedia mengorbankan waktu,
tenaga, dan materi yang seharusnya bisa ia gunakan untuk hal lain. Belum lagi
timbunan sampah yang dihasilkan sebagai sisa dari sesajen yang telah mengering atau
membusuk.
Bukankah tidak rasional menyuguhkan secangkir kopi atau
vodka pada seseorang yang secara fisik tidak terlihat?
Bagi masyarakat penganut Kepercayaan Asli Siberia, kebiasaan
menyuguhkan sesajen saat masuk dalam hutan untuk berburu atau sebelum memancing
di perairan merupakan kerendahan hati yang dimanifestasikan atau diungkapkan.
Mereka yang berangkat ke alam bebas dengan rendah hati punya
peluang lebih besar untuk pulang dengan selamat. Mengapa? Psikis orang yang
rendah hati cenderung datar dan tenang, sehingga tidak timbul kepanikan atau histeria
ketika harus berhadapan dengan hal-hal tak terduga.
Lapang dada
“Bagaimana kalau kita kehabisan air minum?”, “Lari ke mana
kita kalau banjir datang?” dan banyak pertanyaan sejenis mungkin timbul di
benak kita seiring dengan pengumuman resmi WMO di atas. Saya anggap itu wajar,
karena siapa pun tidak akan betah hidup dengan ketidakpastian.
Di sinilah kematangan psikologis akan tampil sebagai penyelamat Anda dan keluarga. Semacam sebuah “kepatuhan” pada sebuah kesimpulan bahwa tidak semua hal dalam dunia nyata berjalan mengikuti kehendak kita. (dswas).