Sabtu, 09 Mei 2026

Agar Hasil Tidak Mengkhianati Upaya

“Siapa menabur angin akan menuai badai (what goes around comes around)” terdengar mencekam, walaupun acapkali kita gunakan untuk mengungkapkan kekesalan atas perilaku seseorang atau suatu entitas. Padahal kalau kita berhasil mengenyahkan ‘kera-kera emosi yang berloncatan ke sana kemari’, akan terungkaplah suatu makna mendalam. Sebuah ‘mantra’ yang bisa mengundang kebahagiaan untuk datang ke dalam kemuraman hidup kita.

Menengok ke belakang, pencipta ungkapan itu tampaknya sangat memahami bahwa manusia cenderung lebih cepat bereaksi dan lebih mengingat hal-hal bernuansa negatif daripada yang positif. Jauh sebelum penelitian ilmiah menemukan bahwa trauma dapat diturunkan dari satu ke generasi ke generasi di bawahnya secara naluriah, meski tantangan dan kesulitan hidup lebih cenderung melunak dari waktu ke waktu.

Oleh karena itu, para leluhur berbagai bangsa dan suku menciptakan kisah-kisah seram tentang dampak pelanggaran pantangan dan peraturan adat yang bermaksud agar para penerus mereka mengingat dan merenungkan makna di baliknya. Namun, perjalanan waktu mentakdirkan suatu kaum mengalami berbagai kejadian menyakitkan yang menghipnotis mereka untuk mempermasalahkan legalitas tindak-tanduk orang-orang yang hadir sebelum mereka.   


Ilustrasi: Alun Alun Kota Malang.


Sejahtera karena liyan juga sejahtera

Kepercayaan asli Armenia (Hetanisme) percaya bahwa pohon apricot (prunus armeniaca) adalah pohon kehidupan bukan tanpa alasan. Tidak seperti pepohonan sakral di daerah tropis, akar pohon tidak bersifat menyimpan air. Justru sebaliknya, akarnya akan membusuk bila tanah tempat bertumbuhnya mengandung terlalu banyak air. Walau demikian, pohon apricot dapat bertahan hidup di tengah cuaca panas dan buahnya tetap terasa manis walaupun hanya butuh sedikit air.

Kemampuannya menyerap karbondioksida dalam jumlah besar menjadikannya ‘pahlawan’ di tengah isu perubahan iklim. Pohon apricot juga menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat pedesaan Armenia sebagai komoditas ekspor utama, dengan tujuan utama Rusia dan negara-negara Asia Tengah. Meski asal usulnya menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan, ditemukan bukti bahwa masyarakat Armenia kuno telah mengenalnya sejak 6000 tahun silam.  

Ada satu ‘kelemahan’ pohon kehidupan Armenia ini, yaitu ia tidak dapat tumbuh normal hingga dewasa tanpa kehadiran hutan atau sekelompok tanaman lain di sekelilingnya dalam jarak tertentu. Eksplorasi hutan secara berlebihan merupakan kabar buruk bagi perkebunan apricot, karena tiadanya akar-akar pepohonan lain berarti hilangnya para liyan yang membantu menjaga kadar air tetap ideal di dalam tanah bagi pertumbuhan sempurna kelompok pepohonan apricot.

Para leluhur Armenia menyamarkan makna sejati pohon kehidupan dalam berbagai mitos dan legenda, yang sering kali mengalami mispersepsi terdistorsi oleh apa yang kita ketahui tentang ‘dunia lain’. Ajaran leluhur Armenia dapat ditafsirkan sebagai pengingat bahwa sang pohon kehidupan merupakan bagian dari alam raya, bukan sebaliknya. Manusia, idealnya, bertindak-tanduk berangkat dari pemahaman ini, yaitu menata kondisi yang dibutuhkan suatu potensi agar tumbuh dan berkembang untuk menghasilkan sesuatu yang menyenangkan.

Move on dan lebih baik?

Ya. Move on dan membaik, itulah situasi ideal yang seharusnya bisa kita lihat saat ini. Apabila ajaran leluhur memang sudah tidak relevan, maka situasi kita saat ini seharusnya lebih baik karena kita sudah menjalankan ajaran yang lebih baru dan tentunya lebih relevan. Tidak ada kata terlambat bagi mereka yang benar-benar ingin mengubah keadaan menjadi benar-benar lebih baik, bukan sekadar iklan.

Sebuah langkah layak disebut move on apabila mampu menjauhkan manusia dari logika mistika, bahwa tidak ada yang namanya mukjizat akan datang untuk menyelesaikan segala masalah hidup. Bahwa tindakan yang berdasarkan pengetahuan tentang alam sekitarlah penolong sejati mereka di segala zaman. (dswas).

Minggu, 03 Mei 2026

Memulihkan Cedera Perusak Masa Depan

Cedera ACL (anterior cruciate ligament) merupakan cedera yang paling ditakuti para pemain sepak bola sedunia. Meski ‘hanya’ menyerang kaki, tetapi dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih tanpa sekali pun ‘merumput’ guna mempertahankan reputasi agar dilirik untuk masuk timnas dan ikut ‘perang’ dalam kompetisi besar (Piala Dunia, Liga Champions, dll.). Tak sedikit pemain yang sinarnya meredup gara-gara cedera ini, bahkan berhenti sama sekali dari dunia yang membesarkan nama mereka.

Tak hanya atlet yang bisa cedera, orang biasa (termasuk mereka yang jarang olahraga) pasti pernah mengalaminya. Entah karena kecelakaan kecil di masa kanak-kanak, kecelakaan sepeda motor, atau salah posisi tidur, otot dan saraf yang berkelindan dalam tubuh kita tidak selalu berada di jalur yang benar atas kehendak mereka sendiri. Dengan penanganan medis modern maupun tradisional, mereka akan kembali ke jalurnya, plus disertai kehati-hatian dalam bergerak guna mencegah terjadinya ‘insiden’ serupa.

Percaya atau tidak, sebuah keseleo yang tampaknya sepele bisa berkontribusi pada timbulnya berbagai gangguan kesehatan yang lebih parah, atau bahkan menyebabkan kematian. Logikanya, keseleo terjadi akibat urat yang mendadak dipaksa melenceng; tidak berada di tempat atau bekerja secara semestinya. Mungkin tidak akan terjadi apa-apa pada tubuh kita bila keseleo dibiarkan 1-2 hari. Namun, pembiaran selama bertahun-tahun dapat berujung pada masalah kesehatan serius yang bisa mengganggu aktivitas dan bahkan wellbeing kejiwaan kita.


Ilustrasi: Sumber Gentong, Tirtomoyo, Pakis, Malang.


Memulihkan cedera alam

Dalam sudut pandang Kepercayaan Asli Azerbaijan, alam dan manusia tidak terpisahkan. Manusia mengambil segalanya dari alam, mulai dari udara, air, pohon, bahkan tanah, demi mempertahankan hidup. Oleh karena itu, kepercayaan tradisional Azerbaijan mengajarkan agar manusia memanusiakan alam, khususnya pepohonan.

Di zaman dahulu, manusia bergantung pada pepohonan sebagai bahan baku pendirian rumah, pakaian, bahkan bahan makanan dan obat-obatan. Para leluhur Azerbaijan menyadari bahwa pepohonan itu hidup, sehingga mereka dianggap punya derajat yang sama dengan manusia. Mereka yakin pepohonan menangis ketika mereka memotong dahannya, demikian pula tetumbuhan yang dicabut dari tanah hingga akar-akarnya. Jauh sebelum manusia mampu mengoreksi ‘kekeliruan’ alam, ada suatu masa di mana mereka menganggap pepohonan adalah para nyonya baik hati yang selalu memenuhi apa yang dibutuhkan manusia dari mereka.

Berdasarkan pandangan ini, para penganut Kepercayaan Asli Azerbaijan memberikan penghormatan kepada alam dan seisinya setiap kali mereka hendak memanfaatkan atau mengambil sesuatu dari alam, baik dalam jumlah besar maupun kecil. Sebuah upacara yang dilakukan sebagai permohonan izin untuk memotong dahan pohon, atau menebang sebatang atau beberapa pepohonan, telah menjadi kebiasaan yang diwariskan secara turun temurun.

Akibat berbagai faktor, kebiasaan ini pun ditinggalkan. Aneh bin ajaib, pepohonan lambat laun mulai menghilang dari Azerbaijan. Sejumlah kalangan menuding aktivitas masyarakat yang menjadi biang habisnya pepohonan dari rimba Azerbaijan yang dulu mereka banggakan. Akan tetapi, konsumsi kayu oleh masyarakat untuk pemanas ruangan atau bahan baku rumah tidaklah semasif konsumsi kayu untuk keperluan industri.

Apa pun alasan dan siapa pun pelakunya, masyarakat modern Azerbaijan harus bersiap menghadapi konsekuensi dari ‘tangisan’ para pepohonan yang akan datang sewaktu-waktu menghampiri mereka dalam bentuk banjir, tanah longsor, atau kekeringan. Namun, belum terlambat untuk bertindak sebelum mereka benar-benar menangis bersama alam yang cedera.

Sebuah ‘berkah’

Di masa ketika sekumpulan orang berharap keajaiban datang memperbaiki nasib mereka, ‘berkah’ terbaik adalah berhasil menemukan cedera lama di tubuh kita dan segera mencari tindakan medis untuk memulihkannya. Saya menganggapnya berkah karena tidak semua cedera lama bisa ditemukan. Tidak semua orang bisa membatalkan atau mengenyahkan berbagai penyakit serius yang menjangkiti tubuh sebagai dampak ikutan pembiaran cedera, baik secara sengaja atau tidak.

Demikian pula halnya dengan kewawasan diri untuk kembali memanusiakan alam dan pepohonan. Saya juga menyebutnya sebuah ‘berkah’, karena tidak semua orang berhasil menemukan cedera dalam diri masing-masing yang membuat mereka berpaling dari petunjuk hidup harmonis dan bahagia bersama alam. (dswas).

Minggu, 26 April 2026

Obat Kesepian Paling Mujarab

“Ada gula, ada semut.” Sudah menjadi suratan takdir bahwa makhluk hidup akan mendekati suatu entitas yang dirasa menguntungkan bagi kehidupannya. Sebelum mendirikan pemukiman, normalnya, manusia akan terlebih dulu mencari satu zat penting: air. Air yang ‘manis’ dimanfaatkan sedemikian rupa demi agar manusia tidak merasa kekurangan. Ia ibarat idola sepanjang masa bagi siapa saja, tua dan muda, besar dan kecil, di segala dekade dan tren yang senantiasa silih berganti. Dan manusia tetaplah ‘semut’ yang akan pergi begitu saja ketika gula sudah habis, atau rasanya berubah menjadi pahit.

Negara yang dianugerahi keberlimpahan sumber daya alam juga ibarat gula incaran para semut-semut korporasi multinasional atau sesama negara berdaulat. Potensinya menjadi daya tarik bagi siapa saja untuk mengenalnya, walaupun perkenalan tidak selalu berujung hubungan pertemanan atau bahkan pernikahan. Karena ‘gula’ dalam konteks ini dijalankan sekelompok manusia, ia punya keleluasaan untuk menentukan sikap agar hanya ‘ semut-semut’ baik hati yang akan mengelilinginya. Menutup diri atau isolasi mandiri nyaris mustahil diterapkan, karena ‘semut-semut’ telah dikodratkan untuk selalu bisa menemukan ‘gula’ hingga ke liang tersempit dan gelap sekalipun.

Entitas yang berperan sebagai sang ‘gula’ di setiap kisah kadang tak dapat menghindar dari rasa kesepian. Ia tahu mengapa banyak orang tiba-tiba berebut mengirim permintaan pertemanan, ia juga tahu hubungan pertemanan yang dijalinnya tidak akan abadi. Air sebening kaca pujaan umat manusia akan menjadi bahan olok-olok ketika warnanya berubah coklat akibat aktivitas manusia. Si negara super kaya nan dermawan akan ditinggalkan para semut segera setelah ia tidak lagi bagi-bagi angpao. Segala pujian dan kata-kata manis akan berubah menjadi caci maki dan ejekan ketika roda nasib berubah arah bagi ‘gula’ yang telah kehilangan rasa manisnya. 


Ilustrasi: Goa Tetes, Lumajang


‘Gula’ yang selalu manis

Bagi masyarakat Turkmenistan, ‘gula’ yang dimaksud adalah para orang tua, tetua, sesepuh. Dalam budaya yang telah mengakar bersama kepercayaan tradisional Turkmen, “emas dan perak tak pernah menua, tapi ayah dan ibu tak ternilai harganya.” Ada serangkaian aturan tak tertulis yang musti dipatuhi dan terus dipertahankan hingga saat ini dalam hal tindak-tanduk masyarakat terhadap para sesepuh. Mereka harus bersikap sopan, tidak boleh membantah, apalagi berbicara dengan suara keras kepada para orang tua dan sesepuh.

Para orang tua dan sesepuh punya kedudukan tinggi dalam hirarki tak tertulis masyarakat Turkmen, terutama di pedesaan, walaupun tidak sembarang orang berusia lanjut dapat ditunjuk (atau menawarkan diri secara sukarela) untuk mengisi posisi itu. Mereka adalah tempat di mana masyarakat Turkmen meminta nasihat dan saran dalam berbagai hal dan situasi, sehingga tokoh yang dipercaya untuk posisi ini adalah orang-orang kaya pengalaman hidup dan tahu bagaimana menempatkan diri. Maka tidak heran bila sesepuh komunitas lebih didengar daripada tokoh-tokoh lain, misalnya para mullah.

Privilese semacam ini mungkin tak bisa kita temui di negara selain Turkmenistan, yang bisa dibilang sangat ‘aman’ dari sorotan media sosial dan para influencer wisata hingga saat ini.  Hal ini tak terlepas dari kebijakan pemerintah Turkmenistan yang sangat selektif dalam memberikan visa untuk warga negara asing. Meskipun cukup gencar di internet dalam hal mempromosikan pariwisata Turkmenistan yang kaya dengan situs sejarah dan panorama yang membius jiwa, ada kesan uang bukanlah segalanya bagi mereka. Ini, tentu saja, tak terlepas dari saran dan nasihat para sesepuh Turkmen yang dirumuskan melalui proses panjang dalam mengamati suatu persoalan dari berbagai sudut pandang. 

Tak pernah kesepian

Saya akan maklum jika Anda memandang Turkmenistan sebelah mata, karena negara ini memang tidaklah selevel banyak negara maju dan bernama besar. Namun, para lansia Turkmenistan tidak mengalami kesepian akut karena kehadiran mereka selalu dibutuhkan orang lain. Ketika fisik sudah tak lagi perkasa untuk bekerja mencari nafkah, para lansia tidak terpinggirkan dari pergaulan masyarakat. Apalagi dianggap beban hidup orang-orang yang lebih muda.

Mereka mendapat kepercayaan dari orang-orang di sekitar mereka untuk memegang sebuah peranan penting dalam masyarakat, menjadi para kakek dan nenek yang selalu dirindukan para cucu. Kebijaksanaan yang berakar dari pemuliaan terhadap para leluhur ini berhasil menciptakan keseimbangan, yang pada gilirannya juga berhasil memeratakan kebahagiaan di kalangan anggota komunitas Turkmenistan.

Berkat para generasi muda yang memercayai mereka sebagai penasihat, para sesepuh menemukan tujuan ketika waktu memakan segalanya. Sebuah tujuan yang membuat sisa hidup mereka kembali bermakna. (dswas).

Minggu, 19 April 2026

Rahasia ‘Menaklukkan’ Alam

Tragedi jatuhnya beberapa pendaki di Gunung Rinjani, yang juga menewaskan pendaki asal Brasil beberapa waktu lalu, merupakan tamparan keras bagi lokasi tersebut. Masyarakat yang tinggal di sekitarnya sebagai pelaku wisata kecil-kecilan, baik sebagai pemandu, porter, penyedia toilet, penjual makanan, toko kelontong, warung mie instan, dll. Mereka merasakan dampak cukup besar setelah Gunung Rinjani mendapat label negatif sebagai lokasi wisata tidak aman dan mematikan.

Terlepas dari apa yang terungkap kemudian (bahwa kemudian berita kematian sang pendaki sengaja di-blow up demi memuluskan rencana membangun eskalator di Gunung Rinjani), peristiwa menyedihkan ini membuka mata khalayak bahwa selalu ada risiko mengancam di balik sebuah keindahan. Bahwa mencari hiburan demi menyenangkan hati diri sendiri seyogyanya dilaksanakan secara penuh pertimbangan, persiapan, kerendahan, dan ketulusan hati, agar kita sebagai sekelompok orang yang mendatangi sebuah tempat fantastis bukan sekadar menghabiskan uang untuk bepergian ke sana. 


Ilustrasi: Gunung Kelud, Blitar.

Akibat inflasi global, nyaris seluruh masyarakat di Bumi ini menurunkan standar hidup mereka; berhemat dengan memangkas pos anggaran yang dirasa tidak terlalu penting demi agar bisa menghemat uang untuk banyak keperluan hidup lainnya. Anggaran hiburan seringkali menjadi korban pertama, karena dianggap tidak terlalu penting di masa sulit. Padahal, justru di era kegelapan seperti sekarang manusia membutuhkan hiburan untuk membantu mereka menemukan dan menekuni apa pun yang merupakan kehendak diri mereka sendiri. Atau yang disebut juga passion.

Di jam kerja kita menyerahkan kehendak kita pada peraturan, target, tujuan, dan serangkaian hal yang tak terlepas dari profesi masing-masing. Sudah menjadi bagian dari hak asasi manusia untuk mendapatkan hiburan dan merasakan kegembiraan, ketenangan, serta kebahagiaan. Namun, ketakutan kita terhadap kemelaratan dan kesulitan finansial membuat kita mengidentikkan hiburan sebagai salah satu cara mendapatkan pengakuan dari masyarakat bahwa kita horang kaya.

‘Win-win solution’

Para penganut aliran kepercayaan Zoroastrianism di Uzbekistan merayakan pergantian dari musim dingin ke musim semi dengan menggelar ritual Navruz (= hari baru dalam Bahasa Persia). Ritual ini tercatat dalam Warisan Budaya Tak Benda UNESCO dan diakui PBB sebagai hari libur internasional, karena juga dirayakan di berbagai negara lain (Kazakhstan, Azerbaijan, Afghanistan, Iran, Pakistan, India Utara). Hari raya yang merupakan manifestasi keramahtamahan dan kemanusiaan menyedot perhatian wisatawan internasional, dan selalu menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat yang merayakannya.

Di balik sajian kuliner khas, nyanyian, dan tarian, tersembunyi sebuah tujuan untuk menyenangkan hati ‘para penjaga alam’ agar senantiasa bermurah dan berbaik hati. Agar mereka yang sudah bekerja keras mengolah ladang dan kebun mendapatkan hasil yang setimpal. Ini bukanlah semacam sogokan pada alam agar bersedia mengikuti keinginan manusia, walaupun dalam pelaksanaannya dilantunkan resital yang antara lain berisi tentang permohonan agar hujan tidak turun di musim semi (karena bisa merusak tanaman di ladang).

Masyarakat adat Uzbek memadukan antara kebutuhan akan hiburan dan pemuliaan terhadap alam dan leluhur melalui resital seperti ini. Recital yang bukan hanya menimbulkan rasa senang di hati mereka yang mendengarnya, tetapi juga mereka yang melantunkannya. Selama perayaan Navruz, masyarakat Uzbek tidak bekerja. Setelah perayaan berakhir, seluruh komunitas akan kembali ke pekerjaan masing-masing dengan membawa rasa senang dan tentram karena yakin alam akan bersedia ‘bekerja sama’ dengan mereka hingga musim panen tiba.

Bukan sekadar mencari kesenangan

Sebagai seseorang yang sudah cukup kenyang dalam berburu pemuas nafsu duniawi, saya bisa mengatakan bahwa kesenangan itu tiada batasnya. Semakin dikejar, semakin menjauh. Semakin kita berusaha keras melakukan segala hal demi melegakan dahaga akan kesenangan, semakin tak terpadamkan hasrat kita.

Melalui ritual Navruz, masyarakat adat Uzbek mengajarkan kepada kita bagaimana menyelaraskan antara kebutuhan akan rekreasi dengan keberadaan alam sekitar. Pergantian musim dipandang sebagai pertanda bahwa alam itu hidup, karena cuaca dan musim tidaklah stagnan. Masyarakat modern menganggapnya suatu fenomena biasa yang bisa dijelaskan ilmu pengetahuan, sehingga terbitlah kepongahan mereka saat menghadapi alam sekitar.

Dalam perayaan Navruz, kuliner Sumalak yang dimasak bersama oleh ibu-ibu komunitas setempat sambil melantunkan nyanyian merupakan cara orang Uzbek menumbuhkan optimisme menyambut musim baru. Sementara ritual Sust xotin (= Poor Woman) bertujuan memelihara rasa kasih sayang terhadap leluhur yang direpresentasikan boneka terbuat dari dahan pohon. Dalam ritual ini, boneka itu dimandikan dengan air secara bergiliran oleh para peserta ritual (semuanya perempuan juga) sembari melantunkan nyanyian tentang harapan mereka.

Alih-alih merasa cemas terhadap ketidakpastian di sepanjang fase baru dalam hidup mereka, ibu-ibu masyarakat adat Uzbek berusaha menipiskan kegelisahan mereka dengan berkumpul dan melakukan aktivitas bersama. Mereka ‘mengorbankan’ bahan makanan yang seharusnya mereka simpan untuk diri mereka sendiri dan keluarga masing-masing sebagai sesaji untuk leluhur, yang kemudian disantap bersama komunitas sebagai perwujudan kebahagiaan karena berhasil melewati bekunya musim dingin. (dswas). 

Minggu, 12 April 2026

Mimpi Buruk: Ketika Takhayul dan Mitos Menjadi Kenyataan

Logika mistika (takhayul) yang muncul mengiringi kepercayaan asli masyarakat adalah penyebab utama mengapa sebuah bangsa tidak bisa maju. Itulah yang pernah dikatakan seorang tokoh sejarah bangsa kami. Setelah menelusuri riwayat hidupnya, ternyata sang tokoh pernah belajar di suatu negara Eropa pada saat negara kami bahkan belum lahir.

Namun, saya tak hendak membicarakan identitas beliau dalam tulisan ini. Atau apa motif beliau. Atau teori konspirasi. Dalam konteks yang saya beberkan di bawah ini, mitos-mitos memancing rasa penasaran khalayak sehingga sering menjadi sumber inspirasi ribuan film seram. Lebih dari itu, mitos mencerminkan kekhawatiran masyarakat pemilik mitos terhadap sesuatu hal yang ingin mereka cegah agar tak menjadi kenyataan.

Ketika masyarakat modern mengenal lele raksasa Sungai Mekong (pangasiandon gigas) sebagai ikan air tawar terbesar dunia yang ramai diekspos sejak berhasil ditangkap di Thailand pada 2005, masyarakat penganut Aliran Kepercayaan yang tinggal di sekitar sungai tersebut (Thailand, Laos, Kamboja) menyucikannya dan menganggapnya sebagai hewan keramat. Ketika seorang sutradara Thailand memenangi penghargaan Palm d’Or berkat sebuah film indie “Uncle Boonme Who Can Recall His Past Lives” (2010) yang terinspirasi eksistensi lele raksasa tersebut, para manusia gua Thailand sudah terlebih dulu mengabadikannya dalam lukisan di sebuah dinding gua 3000 tahun lalu.

Sungai Mekong mempersatukan berbagai komunitas yang tinggal di sekitarnya berkat kepedulian dan rasa terima kasih mereka pada air dan alam seisinya. Mereka menganggap lele raksasa adalah perwujudan roh penjaga sungai yang wajib dihormati dan dilarang untuk ditangkap. Selain sebagai bentuk terima kasih pada mata air, sesajen juga dipersembahkan pada para lele raksasa Mekong sebagai wujud terima kasih atas kesediaan mereka menjaga sungai. Tak lupa diciptakanlah mitos-mitos agar anak cucu mereka tidak berani menangkap sang ikan suci, termasuk kisah tentang malapetaka atas siapa pun yang melanggar pantangan ini.

Karena wilayah tersebut subur dan kaya sumber daya alam, para pendatang dari benua lain tertarik untuk mengeksploitasinya. Sebagai kompensasi, para pendatang ini menawarkan ilmu pengetahuan dan budaya yang menawarkan kebebasan dari belenggu aturan-aturan tak masuk akal. Masyarakat Dataran Sungai Mekong pun berinteraksi dengan ‘kebaruan’ yang ditawarkan para pendatang, lalu sontak tersadar bahwa selama ini para leluhur mereka ternyata mengajarkan kesesatan. 


Ilustrasi: Pura Tirta Empul, Bali.


Ketika roh penjaga sungai berhasil dibasmi

Apa yang awalnya adalah keinginan untuk dikenal dan diakui berubah menjadi bencana, setelah berita tentang tertangkapnya sang ikan suci tersebar ke seluruh dunia. Masyarakat setempat pun berlomba-lomba menangkapnya setelah mendapat pencerahan bahwa ikan suci ini tidaklah sesakti yang digembar-gemborkan para leluhur mereka. Lambat laun, lele raksasa Mekong kian menyusut jumlahnya.

Bersamaan dengan penurunan populasi lele raksasa, masyarakat setempat menyaksikan penurunan populasi berbagai jenis ikan lain, walaupun Sungai Mekong sebenarnya punya kualitas air yang jauh lebih baik dibandingkan banyak kota di Asia Tenggara (termasuk kota saya).

Setelah dilakukan penelitian, terungkaplah bahwa ‘sang hantu herbivora’ ternyata menggunakan kekuatannya untuk membersihkan sungai dengan cara memakan sisa-sisa organisme yang mati dan membusuk di dasar sungai. Dasar Sungai Mekong telah menjadi ‘hutan ganggang’ yang memakan oksigen bagi makhluk hidup lain di sungai, karena lele raksasa yang mengonsumsinya semakin tersingkir dari peradaban modern Sungai Mekong. Penjaga sungai dilenyapkan oleh manusia yang keliru mempersepsikan ‘kesaktian’-nya.

‘Mimpi buruk’ atau kebetulan?

Dahulu kala, di saat habitat Sungai Mekong masih belum terjamah nafsu manusia, lele raksasa akan bermigrasi dari Danau Tonle Sap di Kamboja menuju Sungai Mekong di awal musim hujan. Mereka berenang sejauh 5 km per hari, melewati Phnom Penh dan telaga-telaga dalam menuju perbatasan Thailand dan Laos untuk bertelur. Setelah menetas, larva lele raksasa akan dihanyutkan arus ‘pasang’ Sungai Mekong kembali ke hutan rawa-rawa Kamboja untuk tumbuh besar dan mengulang siklus di atas.

Bersamaan dengan terhentinya siklus tersebut, dunia menyaksikan bagaimana Kamboja mendapat stigma negatif sebagai negara pusat scam terbesar. Tempat di mana ribuan anak muda dari berbagai negara tetangga berangkat mencari nafkah dan beberapa tak pernah kembali. Di saat yang sama, Kamboja dan Thailand bertikai akibat suatu masalah yang diciptakan para pendatang. Laos yang terjebak di tengah-tengah, terpaksa memilih untuk berpihak dan berseberangan dengan Kamboja. Sementara Thailand dihadapkan pada deretan masalah yang timbul akibat overtourism. (dswas) 

 

 

 

 

 

 

Minggu, 05 April 2026

Tetap Sehat dan Semangat Meski Kehilangan Pekerjaan

Stagflasi (suatu masa di mana masyarakat global menghadapi kenaikan biaya hidup di tengah langkanya lapangan pekerjaan) merupakan dampak langsung kebijakan menerbitkan uang baru secara besar-besaran oleh seluruh bank sentral di dunia. Langkah yang dimaksudkan sebagai solusi untuk menghadapi dampak pandemi COVID19 ternyata berbuntut panjang, entah sampai kapan.

Sekitar satu tahun lalu, sejumlah orang berhasil bertahan hidup dengan menurunkan standar hidup mereka dan memotong segala jenis pengeluaran yang dirasa tidak penting. Ini tidak mudah bagi sebagian orang, karena mereka harus cukup kokoh untuk merasakan semacam “kepedihan” akibat harus melepas gaya hidup sebelumnya. Bukan saja karena gengsi, melainkan bayang-bayang kenangan hidup yang lebih nikmat dan membahagiakan waktu masih punya banyak uang. Belum lagi rasa sesal saat teringat perilaku belanja di masa lalu yang terlalu royal, atau kenangan akan uang yang terbuang sia-sia dan tidak jelas larinya ke mana.

Namun, itulah sebuah kelaziman dalam hidup kita, karena kesulitan akan menyertai kemudahan. Manusia modern tidak bahagia karena terjebak dalam ilusi tentang gelap dan terang, yang menurut sudut pandang mereka adalah dua hal yang mengada karena kehendak “setan” dan “malaikat”. Bahwa suatu hari kejahatan akan musnah oleh kebajikan, bahwa dosa akan dihapus oleh pahala, dan seterusnya. Padahal demi mempertahankan kesenangan, beberapa orang rela melakukan segalanya, termasuk melakukan hal-hal yang sebelumnya terlarang dan hina bagi nilai-nilai atau standar mereka sendiri. Itulah, antara lain, mengapa kita sulit bahagia. 


Ilustrasi: Candi Rambut Monte, Blitar


Kebal syok

Mereka yang hidup ribuan tahun lalu di muka Bumi tidak membutuhkan ajian kebal peluru, karena memang peluru belum diciptakan di era mereka. Yang mereka butuhkan adalah kemampuan menjaga keharmonisan, keseimbangan antara berbagai unsur, sebagai cara melatih diri mereka sendiri untuk senantiasa seimbang di tengah situasi apa pun.

Oleh karena itu, Kepercayaan Asli Turkik (Turkic Indigenous Faith) yang disebut Tengrisme mengajarkan bahwa dualisme, kegelapan dan cahaya, dapat hidup berdampingan secara harmonis dengan peran serta manusia. Para penganut Tengrisme yang saat ini tersebar di Mongolia dan Kazakhztan mewujudkan peran serta tersebut dengan larangan mencemari sumber air, serta mengikatkan kain di beberapa pohon yang dianggap penting dalam keberlanjutannya.

Agar kematian sebagai salah satu representasi kegelapan dapat diterima sebagai kewajaran dalam hidup, para penganut Tengrisme mengadakan jamuan makan di hari ke-7 dan ke-49 setelah seseorang dalam komunitas mereka meninggal dunia. Menyediakan makanan untuk orang lain (apalagi dalam jumlah besar) dianggap memberatkan keluarga almarhum, itulah pandangan sebagian orang yang belum mempelajari tradisi ini.

Sederhananya, keluarga yang ditinggalkan harus bangkit dari kesedihan agar bisa melanjutkan hidup. Untuk itu, mereka harus merelakan kepergian orang terkasih yang dilambangkan dalam bentuk menyediakan makanan untuk jamuan makan di atas. Namun, karena biasanya masyarakat Tengrisme hidup secara komunal maka mereka akan bergotong royong guna membantu keluarga yang sedang berduka menyediakan makanan guna keperluan rangkaian upacara kematian.

Anti manja

Di beberapa negara, mereka yang mengalami pemutusan hubungan kerja biasanya akan mendapat tunjangan pengangguran dari pemerintah masing-masing. Mereka yang tidak mendapat tunjangan semacam ini tidak perlu merasa iri, bukankah “rejeki orang sudah ada yang mengatur”?  Sama halnya kita tidak perlu merasa iri mendengar kisah-kisah tentang warga negara di luar sana yang hidup sepenuhnya dengan biaya pemerintah tanpa perlu bekerja.

Walau sepintas fasilitas semacam ini dijustifikasi sebagai bentuk kepedulian pemerintah suatu negara terhadap kesejahteraan dan kebahagiaan warga negara mereka, tetapi sejauh mana hal itu memengaruhi mental suatu bangsa sering tidak dibicarakan. Apalagi membicarakan bagaimana efeknya terhadap cara bangsa tersebut berinteraksi dengan dunia luar.

Olahraga kita butuhkan guna menjaga kesehatan fisik. Macam-macam pengorbanan yang dilakukan para leluhur manusia berbagai bangsa, dalam bentuk sesajen dan aturan-aturan, bertujuan untuk melatih mental agar tidak rapuh, mudah patah semangat, syok, kagetan, histeris, pingsan, kehilangan kesadaran, depresi, stress, dll. dalam melanjutkan hidup di tengah cuaca yang mudah berubah. Punya ketahanan mental itu sama pentingnya dengan punya rudal balisitk, drone serang, atau drone kamikaze lho. (dswas)

Minggu, 29 Maret 2026

Mencari Petunjuk Spiritual Tanpa Tersesat, Mungkinkah?

Dalam situasi terjepit akibat berbagai hal (dan terutama sekali faktor ekonomi), sebagian orang berusaha mencari solusi segala permasalahannya dengan melakukan revolusi spiritual. Yaitu dengan lebih menekuni tuntunan agama guna mencari ketenangan batin, untuk menjernihkan kebisingan suara hati agar terlihatlah jalan yang sebaiknya ia pilih menuju penyelesaian segala masalah mereka.

Ada yang bilang ini seperti orang yang ingin melupakan segala kesedihannya dengan cara mengonsumsi obat penenang atau anti depresi. “Tuduhan” yang sekilas terlalu kejam dan tidak adil. Namun, saya yakin sebagian dari kita pernah mengalami situasi seperti ini, atau bahkan sedang mengalaminya saat ini. Mereka yang memilih jalan di atas tak dapat disalahkan, karena toh setidaknya mereka berusaha mencari solusi. Berusaha menolong diri mereka sendiri dari keterpurukan, karena terpuruk dan tak berdaya itu lebih menyakitkan rasanya. Betul tidak?

Tujuan yang tadinya terdengar penuh cahaya dan sering dijadikan parameter kematangan mental seseorang bisa berubah menjadi kesesatan. Yaitu tatkala mereka menjadikannya sebagai satu-satunya cara agar tujuannya tercapai, tanpa memperhatikan keseimbangan dan keselarasan segala langkah dan gerakan yang diambilnya. Keputusan tersebut bukanlah sebuah keputusan mandiri yang diambil sebagai hasil sebuah pencarian spiritual melalui latihan dan wawas diri, melainkan sesuatu yang diinjeksikan ke dalam diri mereka sebagai ‘vaksin’.

Vaksin memang bertujuan melatih sel-sel tubuh untuk menjadi kebal dengan mengenali dan memerangi virus dan bakteri. Akan tetapi, vaksin yang efektif terbuat dari sel bakteri atau virus itu sendiri yang telah dilemahkan agar sel tubuh cukup kuat untuk mengenalinya sebagai komponen jahat untuk diperangi. Artinya, vaksin dengan sel bakteri atau virus yang tidak cukup lemah sama adalah sangat berbahaya bila diinjeksikan ke tubuh seseorang. Tujuannya pun sudah jelas, yaitu membuat tubuh sekelompok manusia menjadi sakit. Namun, bagaimana seandainya bukan sakit fisik, melainkan mental, yang jadi sasarannya?


Ilustrasi: Sebuah pemakaman umum di Malang.


Bukan hanya harta

Dewasa ini, kita ‘sakit’ menyaksikan previlese segelintir orang yang seolah tak merasakan kecemasan lantaran anak cucu mereka sulit mencari nafkah atau tak bisa menikmati gaji besar. Nama besar keluarga (tertentu) seakan jadi jaminan bahwa anak cucu mereka akan hidup enak hingga tujuh turunan. Itulah kenyataan di beberapa tempat di dunia masa kini. Asal tahu saja, ratusan hingga ribuan tahun lalu, suatu keluarga tak harus jadi kaya terlebih dulu supaya bisa memastikan dan berperan serta dalam kesejahteraan hidup generasi penerus mereka.  

Orang-orang Serbia yang masih memegang teguh Kepercayaan Asli Slavia (Rodnovery) memandang rumah sebagai “kuil” di mana sosok ayah dan ibu atau kakek dan nenek menjadi wakil para leluhur. Tanpa para leluhur, tidak akan ada kakek nenek, orang tua, apalagi kita. Menghormati orang tua dianggap sama sakralnya dengan memuliakan mata air dan para leluhur yang telah lama tiada. Ini diperkuat pula oleh nama aliran kepercayaan itu sendiri, Rodnovery, yang terbentuk dari kata Rod (garis keturunan, kelahiran, kekerabatan).  

Sebagai timbal balik, generasi senior orang Serbia memberikan dukungan pada generasi muda untuk tujuan mereka membangun komunitas yang lebih baik dan sejahtera. Dukungan dalam bentuk uang atau harta benda memang bernilai, tetapi kehadiran, pemahaman, dan penerimaan oleh generasi senior lebih tak ternilai harganya apabila bertujuan untuk menentramkan dan, pada gilirannya, menumbuhkan rasa aman dalam benak generasi yang lebih muda. Dukungan yang akan selalu hidup dalam ingatan para generasi muda sebagai petunjuk bagi para leluhur masa depan untuk bersikap dan bertindak dengan penuh kewaspadaan sebagai teladan bagi generasi berikutnya.

Sadar setelah tiada

Dalam banyak kasus, generasi baru dan muda akan menyadari dan memahami makna di balik nasihat kaum senior “bawel” bertahun-tahun, atau bahkan berpuluh-puluh tahun, setelah para pendahulu ini meninggal dunia, setelah kedua generasi itu dipisahkan oleh jarak dan takdir. Kerinduan pada sosok pelindung seringkali menjadi penuntun untuk kembali mengingat wejangan dan saran yang seringkali dipandang tidak relevan dengan situasi generasi yang lebih muda pada saat itu.

Berbagai dinamika membuat sekelompok orang memilih petunjuk berdasarkan impresi emosional, bukan berdasarkan faktualitas petunjuk itu sendiri. Situasi seperti ini dapat terjadi karena ada penyesalan mendalam akibat rasa kehilangan sosok penuntun dalam kehidupan pribadi masing-masing. Kesedihan menahun yang tidak dapat (atau belum dapat) diredam dengan penerimaan atas kepergian sosok tersebut dalam kehidupan mereka.

Penyesalan ini membuat mereka tersesat dalam memilih petunjuk dan tuntunan hidup. Keliru dalam memilih petunjuk yang benar-benar mendatangkan hasil berwujud kebahagiaan dari mampu menimbulkan rasa aman dalam batin mereka di tengah kesulitan hidup silih berganti. (dswas) 

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...