Tak terasa pandemi COVID 19 sudah meninggalkan kita sekitar empat tahun silam, walaupun sisa-sisa krisis kesehatan terbesar di era modern masih terasa hingga saat ini. Kerinduan akan work from home, misalnya, kembali meruyak setelah Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengemukakan ide kembali ke ‘bekerja dari rumah’ sebagai salah satu cara menekan pengeluaran sehari-hari sebagai dampak kian mahalnya harga bahan bakar kendaraan bermotor.
Ketika beberapa dari kita bisa menghemat biaya transportasi,
uang makan, dan biaya make-up berkat trik berhemat ini, sekelompok orang
menjerit karena kehilangan pemasukan, di antaranya adalah bisnis pariwisata dan
siapa pun yang mengais penghasilan di sektor ini. ‘Mimpi buruk’ ini kembali
membayangi para pelaku usaha pariwisata di sejumlah wilayah beberapa waktu
terakhir, bukan saja akibat krisis geopolitik melainkan melemahnya daya beli
masyarakat.
Tentu saja, ekonomi sulit tak harus jadi penghalang bagi
siapa pun untuk berbahagia menikmati hidup dengan berwisata. Di kampung kami,
orang-orang berusaha “menyeimbangkan” antara keinginan berwisata dengan situasi
isi dompet. Antara lain, berwisata secara berkelompok, berwisata sambil buat
konten monetisasi, atau mencari spot-spot tersembunyi di sekitar rumah
masing-masing yang bisa dijadikan tempat bersantai sambil menikmati suasana
sekitar secara gratis.
Bukan “bahagia” biasa
Meski menyandang julukan “Pantai Emas” di era pra
kemerdekaan berkat besarnya kandungan emas yang dimilikinya hingga saat ini,
emas bukanlah sumber kebahagiaan sejati bagi masyarakat Ghana yang masih setia pada tradisi mereka. Negara bekas
jajahan Inggris ini dihuni sekitar 37 juta jiwa yang terdiri dari 100 kelompok
suku dan terbagi dalam sembilan kelompok bahasa daerah dan budaya. Kepercayaan
asli mereka dikelompokkan menjadi satu di bawah payung African Traditional Religion (Kepercayaan Asli Afrika), di mana konsep Ubuntu yang bermakna “I am
because you are (saya dan kau sama)” merupakan salah satu local genius yang
berakar darinya.
Kebahagiaan bagi para penganut Kepercayaan Asli Afrika
bukanlah tujuan hidup, melainkan hasil pemeliharaan keharmonisan antara empat tingkatan
pembentuk eksistensi manusia, yaitu intrapersonal (self), interpersonal (orang
lain), transedental (leluhur), dan universal (alam). Menjaga keharmonisan
dengan sesama makhluk tidaklah sulit sepanjang mereka terlihat. Bagaimana
dengan para leluhur? Mengingat asal muasal antara lain diwujudkan dengan
menuangkan air, madu, susu, atau anggur ke tanah sebagai ungkapan terima kasih
pada para pendahulu. Ini juga merupakan cara para penganut Kepercayaan Asli
Afrika untuk melatih inisiatif bersedia melepaskan sesuatu yang ingin mereka
pegang kuat-kuat.
Sebagai hasilnya, kebahagiaan dalam sudut pandang
Kepercayaan Asli Afrika merupakan ketentraman, tanpa kecemasan menghadapi
situasi apa pun. Hal ini baru bisa dirasakan ketika seseorang berhasil
menemukan pemahaman bahwa “bahagia” tidak selalu dan tidak harus berkaitan
dengan perasaan nikmat, kesenangan sesaat yang timbul tenggelam sesuai kondisi
cuaca. Sebuah ketentraman yang membuat
sekelompok masyarakat merasa cukup, walaupun tidak pernah berpetualang
mengelilingi dunia.
Dari sini kita dapat memahami mengapa kekayaan alam Ghana
dan Afrika sangat melimpah, walaupun mereka mengalami masa pendudukan di zaman
kuno maupun modern selama berabad-abad. Yaitu karena para leluhur Ghana hanya
menggunakan kekayaan alam seperlunya, dengan tujuan agar dapat dinikmati
generasi berikutnya, yang merupakan representasi dari faktor interpersonal
pembentuk eksistentsi manusia.
“Menjual” bahagia di era turbulensi
Para pelaku bisnis pariwisata tidak perlu panik apabila
masyarakat tidak terlalu tertarik berwisata karena mereka sudah menemukan “kebahagiaan”
dari berjalan-jalan di spot cantik dekat rumah. Justru ini dapat menjadi sebuah
peluang untuk berinovasi mengembangkan konsep wisata jenis baru, misalnya, yang
bukan hanya menempatkan wisatawan sebagai objek tetapi subjek aktivitas wisata.
Mereka membutuhkan lebih dari sekadar menghabiskan uang untuk bersenang-senang.
Kita sama-sama telah menyaksikan bahwa kesenangan itu tidak
abadi, karena akan selalu ada kesedihan yang menyertainya. Apa yang sebaiknya
dilakukan para pelaku bisnis pariwisata agar kesenangan wisatawan tidak berubah
menjadi kesedihan saat mereka menyadari mahalnya biaya yang harus ia keluarkan
(misalnya)?
Apa pun itu, memang tidak mudah menjual kebahagiaan di era penuh turbulensi yang bisa datang sewaktu-waktu seperti saat ini. Sudah saatnya para pelaku bisnis pariwisata menjalin kerja sama dengan empat faktor pembentuk eksistensi di atas, agar bisnis tetap berjalan di tengah hujan badai atau banjir bandang sekalipun. (dswas)



