Seseorang merasa malu
hidup di tengah masyarakat lantaran merasa memiliki kekurangan yang membuatnya
berasumsi dirinya kurang layak sejajar dengan lainnya. Maka wajar bila orang akan merasa
malu bila para tetangga di lingkungannya tahu kehidupan keluarga mereka di
bawah standar, karena siapa pun kita pasti akan merasa diri kita baik bila memiliki sesuatu yang dapat kita banggakan. Di antaranya, kemakmuran dan hidup yang mapan.
Lantaran kita hidup di zaman di mana pencitraan lebih menentukan nilai seseorang dibandingkan kualitasnya yang sebenarnya, sebagian besar orang rela melakukan apa pun demi menyita perhatian khalayak, berapa pun biayanya. Kalau tidak ada biaya, kini ada jalan pintas: utang. Bukan utang ke tetangga, tentunya, melainkan ke bank, aplikasi pinjaman online, dan berbagai lembaga penyalur kredit lainnya.
Sejumlah kalangan mengklaim bisnis pinjam meminjam uang
sudah muncul berabad silam Sebelum Masehi, diawali ketika para petani kala itu
meminjam uang pada rentenir di saat masa panen belum tiba demi memenuhi
kebutuhan hidupnya.
Walaupun pemberlakuan bunga pinjaman dikecam keras oleh
Aristoteles sebagai praktik tidak terhormat, dikutuk sebagai dosa oleh kalangan
Kristen dan Islam Abad Pertengahan, lama kelamaan peradaban manusia menganggap bisnis pinjam meminjam uang adalah suatu hal biasa.
Menghentikan atau
melampiaskan rasa malu?
Tidak berlebihan bila kita mengibaratkan rasa malu layaknya
siksa api neraka bagi banyak orang, tanpa memandang jenis kelamin, usia, ras,
maupun profesi. Orang yang merasakannya menganggap seluruh dunia sedang menghinanya,
sehingga harga dirinya pun jatuh. Menghina orang lain dan mengganggunya secara massal (bullying/ perundungan)
bukan lagi ilusi, melainkan situasi nyata di kalangan remaja seluruh dunia.
Tren penembakan
massal di Amerika Serikat yang terjadi beberapa tahun belakangan ini,
misalnya, didalangi para pelaku yang sebagian besar adalah korban perundungan di
sekolah.
Rasa malu, terhina, rendah diri yang menyiksa batin mereka
butuh jalan keluar, pelampiasan. Mereka mengira melampiaskan rasa terhina
dengan menembak membabi buta ke segala arah adalah cara terbaik agar semua tahu
apa yang sedang ia rasakan selama ini.
Lain halnya Jepang di mana para korban perundungan cenderung
memilih mengakhiri hidupnya daripada menanggung malu berkepanjangan. Meski
dikabarkan mengalami penurunan, para pelaku bunuh diri bukan hanya siswa
sekolah menengah tetapi juga anak-anak
usia sekolah dasar.
Di masa lalu, tepatnya di era kejayaan para samurai,
mengakhiri hidup dipandang sebagai wujud penyesalan karena majikan mereka kalah
dalam perang atau sebagai cara menghukum diri sendiri yang dikenal dengan istilah seppuku. Seppuku dianggap lebih
terhormat daripada dieksekusi mati, baik oleh musuh atau karena mereka lalai dalam menjalankan tugas.
Walaupun pemerintah Jepang era modern telah melarang
seppuku, mau tidak mau serpihan kultur masa lalu mengilhami para remaja belasan
tahun yang mengira mereka tengah berada di situasi para samurai yang merasa terancam
kehilangan harga diri.
Dua tindakan di atas yang masing-masing bertujuan menggelar
(penembakan massal) dan menggulung (bunuh diri) rasa malu di atas sama-sama
berakhir dengan kematian, juga penderitaan orang lain yang terhubung dengan para pelaku.
Karena rasa malu bersifat naluriah yang dialami setiap
manusia, apakah sebaiknya kita lenyapkan saja kata “malu” dari kamus berbagai
bahasa di dunia agar manusia tidak lagi ingat bagaimana cara mengekspresikan ketakutan
terhadap kehilangan sesuatu yang tak kasat mata di dalam dirinya?
Lebih baik malu sesaat daripada hancur selamanya
Rasa malu bukanlah sesuatu yang buruk. Sepanjang perjalanan hidup manusia, mereka akan menemui banyak situasi di mana rasa malulah yang menjadi pengarah, pengemudi bagi kendaraan tingkah laku mereka. Rasa malu juga yang dijadikan senjata bagi beberapa orang untuk menguasai kelompok lainnya.
Contoh, kembali lagi ke masalah utang, lembaga penagih utang akan menghubungi (dan dalam beberapa kasus debt collector juga menagih) mereka yang terdaftar sebagai kontrak darurat debitur apabila debitur tersebut tidak membayar utangnya dan tidak dapat dihubungi.
Andaikata tidak ada komunikasi transparan antara debitur dan para kontak daruratnya tentang utangnya karena si debitur malu ketahuan punya utang, bukan mustahil perpecahan antar anggota keluarga, kerabat, dan teman terjadi akibat invasi debt collector ke ranah pribadi para debitur (yang mana merupakan praktik lazim di kalangan aplikasi pinjaman online di Indonesia).
Di jaman yang serba kompleks seperti sekarang, sumber rasa malu bukan hanya utang. Perubahan status, jatuh miskin, kekalahan dalam perang atau kompetisi olahraga, kehilangan pekerjaan .. pemicunya berbeda untuk tiap orang sesuai latar belakang dan preferensi mereka. Akan tetapi, apa yang mereka rasakan saat merasa malu ialah sama: resah, gelisah, sesak napas, anti sosial, benci diri sendiri, dll.
Kalau kita pikir-pikir lagi, sebenarnya siapa yang harus disalahkan karena memberikan semua ketidaknyamanan ini pada diri kita? Saya yakin Anda sudah tahu jawabannya. Lalu bagaimana mengatasi rasa malu semacam ini yang dialami suatu bangsa atau kelompok di saat yang bersamaan dan bertahan hingga bertahun-tahun?
Semua pertanyaan ini bisa terjawab dengan melakukan serangkaian langkah mudah. Satu kekeliruan yang sering kali kita lakukan saat merasa terhina atau direndahkan adalah buru-buru mencari cara untuk keluar dari kepedihan ini. Padahal, sebuah pengakuan bahwa kita memang sedang merasa rendah dan terhina dibutuhkan. Oke, kita malu, kita paria. Titik, itu saja.
Ingat, rasa malu ini bukanlah diri Anda. Jangan tergoda untuk cepat-cepat membunuhnya atau melampiaskannya, karena semua hal yang kita lakukan berdasarkan dua tujuan itu tidak akan pernah benar-benar melenyapkan rasa malu dalam diri kita. Malah hanya memberi si rasa malu makanan untuk tumbuh lebih besar dalam diri kita tanpa kita sadari.