Jumat, 24 November 2023

Masa Lalu Rumit Mengganggu Hak Untuk Hidup Sejahtera: Sejarah Gua Machpela

Gua Machpela memiliki dua nama lain, dan Anda dapat memilih salah satunya sesuai agama yang Anda yakini. Bagi masyarakat Kristen Ortodoks, Kristen, dan Katolik, Gua Machpela disebut Cave of The Patriarch (Gua Para Leluhur). Bagi umat Yahudi, gua ini disebut Me'arat HaMachpela. Sedangkan bagi umat Islam, mereka menyebut gua tersebut sebagai Masjid Ibrahimi.

Dalam artikel ini, saya menggunakan "Gua Machpela" untuk menyebut Cave of The Patriarch, mengikuti penyebutan nama Wikipedia bagi para pembaca asal Indonesia (Gua Makhpela dalam bahasa Indonesia).

Cave of The Patriarch terdaftar sebagai salah satu destinasi wisata dan bagian dari Wisata Tepi Barat bagi para wisatawan di seluruh dunia. Berdasarkan ulasan dari para pengunjung di Tripadvisor, Anda akan ditanya apakah Anda Muslim, Yahudi, atau Kristen saat mengunjungi situs ini sebagai ketentuan seberapa jauh Anda bisa berziarah di sini.

Itu benar, Gua Machpela terbagi menjadi bagian Yahudi dan Muslim, serta terdapat dua pintu masuk untuk tiap penganut agama yang juga dikelola oleh komunitas masing-masing.

Sedangkan bagi kelompok non-Muslim dan non-Yahudi, mereka hanya bisa melihat bagian luarnya saja. Sebelumnya, umat Nasrani dapat memasuki lokasi tersebut dari semua gerbang, tetapi seorang pengunjung di Tripadvisor mengatakan bahwa peraturan tersebut telah diubah. Masih belum diketahui apakah ada peraturan baru mengingat dinamika saat ini.

"Di kuburan leluhur kita beradu"

Dan itu benar-benar terjadi. Beberapa waktu lalu, ramai dibicarakan tentang penembakan massal di Gua Para Leluhur pada 1994 dan peristiwa yang mengikutinya. Sebenarnya, peristiwa ini bukanlah aksi kekerasan pertama di lokasi suci bagi tiga agama tersebut.

Gua Para Leluhur merupakan sebuah gua kecil di mana para Leluhur (Adam, Abraham, Ishak, dan Yakub) dan pasangan mereka dimakamkan. Dahulu kala, gua tersebut merupakan pemakaman biasa sampai Raja Herodes memutuskan untuk membangun dinding pelindung di sekitarnya.

Sumber gambar: YouTube/allaboutJerusalem

Gereja dan masjid sempat dibangun di sekitar kuburan suci dan silih berganti dihancurkan oleh mereka yang berhasil menaklukkan Yerusalem sebelum dan selama Perang Salib. Sedangkan kaum Yahudi sempat dilarang memasuki area kuburan suci selama beberapa waktu.

Saat artikel ini dibuat, ada dua pintu masuk terpisah bagi umat Yahudi dan Muslim. Umat Yahudi hanya bisa masuk lokasi ini dari sisi barat daya, sedangkan umat Islam diperbolehkan masuk dari barat laut setelah melalui masjid.

Kedua kelompok agama tersebut tidak boleh masuk lewat sisi yang lain. Artinya, pengunjung dari kalangan Yahudi tidak boleh masuk lewat pintu gerbang untuk Muslim, begitu pula sebaliknya.

Karena senotap (semacam tugu peringatan) Abraham/Ibrahim dan Sarah/Siti Sarah berada di sisi barat daya (sedangkan senotap Yakub dan Lea/Laya berada di sisi barat laut), umat Yahudi tidak dapat memberikan penghormatan kepada nenek moyangnya dalam jarak dekat (apalagi umat Kristen) selain di hari-hari besar agama Yahudi.

Mengapa hal ini penting? Karena Abraham merupakan leluhur Ibrani pertama dan termasuk tokoh suci dalam agama Kristen dan Islam.

Mencari cahaya

Saya terlahir sebagai seorang Muslim dari orang tua yang beragama Islam, dan mengenyam pendidikan pertama di TK Kristen Protestan dan SD Katolik. Saat itu bukan masalah besar bila seorang Muslim di kota saya untuk mengenyam pendidikan di sekolah Protestan atau Katolik.

Saya membaca doa Protestan dan Katolik, masuk dan duduk di gereja saat acara sekolah di tahun-tahun awal kehidupan saya, dan masih menjadi seorang Muslim hingga saat ini.

Agama dianggap dan dipandang setara dalam hukum dan ideologi Indonesia, meskipun beberapa orang khawatir bahwa keharmonisan ini mulai terkikis karena beberapa kelompok kecil umat beragama percaya Tuhan akan menghukum mereka karena tidak menjalankan ajaran-Nya dengan benar dan bergaul terlalu dekat dengan kalangan yang berbeda agama.

Dari kisah Gua Leluhur, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Yudaisme adalah agama pertama yang didirikan di wilayah tersebut (Palestina-Israel), disusul oleh Kristen dan Islam. Pemahaman dan pengakuan terhadap fakta Alkitab ini juga berperan dalam membentuk pendapat umum tentang konflik.

Konflik yang terus berlanjut juga menentukan dalam membentuk cara pandang terhadap orang lain. Pengalaman emosional kita berkontribusi dalam proses membenarkan cara berpikir tentang sesuatu, dan bukan keadaan sebenarnya mengenai hal itu. Sebuah perilaku yang membawa kita pada prasangka dan kebencian yang menghalangi kita untuk meresapi dan mencari cara memelihara perdamaian.

Di masa lampau, agama berdampingan dengan sistem politik sebagai alat untuk mengatur rakyat dan menjamin kehidupan sehari-hari yang harmonis serta teratur di kalangan masyarakat. Mereka yang tidak tahan menghadapi kebebasan yang kelewat batas akan memilih agama sebagai sarana agar rakyat patuh guna menciptakan stabilitas. Dan stabilitas (seharusnya) merupakan akibat langsung dari mengamalkan agama apa pun dengan sepenuh hati.

Sebagai penutup, tidak ada kata terlambat untuk bertanya pada diri sendiri apakah nilai-nilai agama masih bermanfaat, tidak hanya demi keselamatan dan keamanan, melainkan juga kewarasan individu yang penting untuk membangun masa depan lebih baik bagi generasi kini dan masa depan.

Rabu, 08 November 2023

Cara Aman Peduli Pada Sesama

Bencana alam, perang, dan berbagai peristiwa memilukan datang mengejutkan kita, entah kita siap atau tidak. Duka dan lara yang dialami para korban dipertontonkan di media setiap saat, sehingga kita iba pada penderitaan mereka.

Reaksi yang biasanya muncul adalah kita berusaha membantu dengan cara ikut memikirkan solusi, atau menyalahkan pihak-pihak yang menjadi penyebab penderitaan para korban (misalnya terkait perang atau kerusuhan).

Biasanya, seseorang yang tengah mengalami kesulitan hidup, entah itu karena masalah ekonomi, pertengkaran dalam keluarga, patah hati, kehilangan pekerjaan, banyak utang, dll., berusaha mencari “obat” guna meredakan rasa sakitnya. Dan terkadang “obat” itu adalah dengan cara menaruh empati kepada mereka yang bernasib lebih buruk dari kita.

Berempati pada penderitaan sesama itu baik, inilah kewajiban kita sebagai makhluk sosial yang hidup di tengah masyarakat. Namun, empati seharusnya muncul spontan dan ikhlas: tidak mengharap imbalan atau keinginan “mengobati” penderitaan kita sendiri, agar kebaikan yang Anda lakukan dapat diteruskan oleh seseorang atau pihak yang menerima kebaikan hati Anda.

Empati juga tidak semestinya menjadi bumerang bagi kita sendiri, ketika orang yang kita tolong ternyata hanya sekadar memanfaatkan ketulusan hati kita demi kepentingannya sendiri. Ketika si penerima amal Anda terus mengharap pemberian Anda sebagai cara mengakhiri situasi sulit yang dihadapinya.

Lantas, apakah ini artinya kita harus berhenti berempati pada penderitaan sesama? Tidak juga. Cukup renungkan dulu poin-poin berikut ini sebelum Anda memutuskan untuk memberi pertolongan pada seseorang:

Melihat situasi seperti apa adanya

Ada berlapis-lapis kisah mengapa seseorang bisa terjerembab dan membutuhkan bantuan orang lain untuk bangkit. Kisah-kisah itu bisa sangat mengejutkan, karena kita tidak pernah mengalaminya. Sebagaimana siang berganti malam dengan sendirinya, apapun bisa terjadi di dunia ini.

Pastikan angan-angan Anda tidak berkelana, menebak-nebak, atau melebih-lebihkan sebuah situasi yang sedang Anda lihat atau dengar. Biasakan untuk tetap fokus pada apa yang ada di depan Anda, bukan pada apa yang ada di dalam benak Anda.

Tunda reaksi

Hindari bereaksi seketika itu juga pada segala hal dan dalam segala situasi. Berikan waktu pada diri sendiri untuk menelaah suatu peristiwa yang sedang dibeberkan ke hadapan Anda. Bersikap skeptis adalah hak kita, jangan biarkan siapapun merebut hak ini dari tangan kita.

Orang-orang fear of missing out, bagi mereka ketinggalan sesuatu itu menakutkan. Namun, bereaksi salah terhadap suatu peristiwa itu lebih menakutkan lagi. Ingatkah Anda gelombang sanksi untuk Rusia atas penyerbuannya ke Ukraina? Itu semua berawal dari reaksi kemarahan warga net.

Kaji informasi dari semua sudut pandang

Kita bisa mengetahui apa yang terjadi di belahan dunia lain yang bermil-mil jauhnya melalui media massa. Perlu diingat bahwa media massa tidak selalu netral; mereka membuat berita berdasarkan berbagai faktor, salah satunya pandangan politik media itu sendiri. Media juga membuat berita yang selaras dengan kepentingan pihak-pihak yang mendanainya.

Agar dapat menentukan sikap terhadap suatu peristiwa memilukan (misalnya, konflik), kita perlu mencerna informasi dari berbagai media mengenai peristiwa itu. Masalahnya, seringkali media yang tidak seiring dengan kepentingan nasional akan disisihkan, sehingga sulit bagi masyarakat biasa mendapat informasi yang berimbang.

Membantu semampunya

Nestapa yang dialami orang lain menimbulkan perasaan iba, bahkan ada juga yang merasakan kesedihan ekstrem. Wajar jika kita merasa tergerak untuk membantu orang yang sedang mengalami kesulitan, karena jauh dalam lubuk hati kita juga ingin dibantu bila mengalami situasi yang sama.

Bantuan yang kita berikan jangan sampai mempersulit kita sendiri di belakang hari, karena selalu ada konsekuensi atau risiko dari keputusan apapun yang kita ambil. Di sinilah pengendalian diri menjadi kompas Anda untuk mengukur dan menentukan sejauh atau sebesar apa Anda bisa membantu mereka yang membutuhkan.

Lupakan

Ibarat memberi uang receh pada pengemis, lupakan apa yang sudah pernah Anda lakukan untuk menolong seseorang. Melupakan kebaikan yang Anda lakukan adalah cara untuk menjadi ikhlas, sebesar atau sekecil apapun milik Anda yang Anda lepaskan untuk menjadi milik orang lain.

Pada akhirnya, kita harus kembali ke kehidupan kita sendiri dan tanggung jawab masing-masing. Dan menjalani rutinitas itu tidak mudah, karena problematika hidup setiap saat tidak pernah sama. Kita masih butuh tenaga dan kekuatan hati kita untuk mengemudikan kapal kita agar tidak tenggelam di tengah pasang surut laut kehidupan. Apabila semua Anda berikan untuk orang lain dan tak tersisa apapun, lalu dengan apa Anda akan menjalani hidup ini?

Rabu, 04 Oktober 2023

5 Trik Bahagia Meski Punya Utang

Karena satu dan lain hal, kita berutang pada seseorang, sebuah bank, pinjaman online, atau pihak manapun sebagai pemberi pinjaman. Dengan memburuknya situasi ekonomi global belakangan ini, memiliki utang bisa makin memperparah situasi keuangan pribadi Anda apabila situasi psikologis Anda juga tidak menentu.

Mengenang kembali pandemi COVID-19, virus SARS-CoV-2 yang masuk dalam tubuh seseorang cenderung mengganas manakala pasien itu sudah memiliki penyakit lain di dalam tubuhnya (comorbid). Pasien non-comorbid yang psikologisnya tertekan akibat isolasi, misalnya, juga tidak selamat dan meninggal tidak lama setelah tertular COVID-19.

Sama halnya dengan kondisi keuangan Anda. Perasaan dan emosi negatif yang timbul karena memiliki utang ibarat upaya “bunuh diri mental” yang kita lakukan pada diri sendiri. Orang bilang janji adalah utang, tetapi utang tidak bisa dibayar dengan janji. Begitu pula kecemasan, kekecewaan, rasa malu, dan emosi negatif lainnya; semua  itu tidak bisa membayar utang Anda.

Ingat! Menjaga kewarasan adalah senjata utama agar Anda bisa membayar utang, dan ini bisa dilakukan dengan memelihara rasa bahagia di dalam benak Anda. Begini caranya:

Disiplin

Disiplin adalah kunci sukses, bukan hanya dalam karir tetapi juga dalam menavigasi langkah Anda di tengah situasi sulit. Jangan abaikan tenggat waktu pembayaran utang dalam situasi apapun, karena menundanya hanya akan memperberat beban yang harus dibayar.

Ini tentu tidak sulit apabila Anda seseorang yang disiplin dalam kehidupan sehari-hari, di mana saja Anda berada. Terbiasa bangun dan tidur, makan, bekerja, dsb. di jam yang sama sedikit banyak akan berkontribusi pada pembentukan sikap kita terhadap tanggung jawab dan, pada akhirnya, melonggarkan kesemrawutan hidup.

Maaf

Punya utang yang belum terbayar bisa menjadi sumber kerisauan kita setiap hari, mungkin karena kita tidak senang penghasilan kita terpotong untuk membayarnya. Ini pola pikir yang salah. Sadarilah bahwa setiap keputusan mengandung konsekuensi, demikian juga saat Anda memutuskan untuk meminjam uang.

Atasilah rasa yang tidak nyaman ini dengan sering memaafkan, baik orang lain maupun diri sendiri, atas segala kesalahan sebesar dan sekecil apapun. Apabila Anda tidak kesulitan menerapkan memberi dan menerima permaafan, maka seharusnya tidak akan lagi timbul “perlawanan” untuk tidak membayar ketika utang sudah jatuh tempo, baik pinjaman pokok atau bunganya.

Berterima kasih

Mengucapkan terima kasih tidak menyita separuh dari waktu Anda sepanjang hari, tetapi seringkali kita lupa melakukannya. Sibuk memikirkan situasi kita sendiri membuat kita abai pada orang lain di sekeliling kita, entah itu anggota keluarga, rekan kerja, tetangga, dan banyak orang lain yang tidak kita kenal. Hei, bukan Anda saja yang punya masalah di dunia ini lho. You'll never walk alone.

Mengucapkan terima kasih adalah cara sederhana menghargai kehadiran orang lain, juga suatu bentuk kerendahan hati kita sebagai manusia biasa. Ucapkanlah terima kasih kepada alam sekitar atas cuaca yang baik atau udara yang bersih. Dan jangan lupa juga mengucapkan terima kasih kepada diri sendiri yang sudah bersedia bangun pagi dan bekerja keras tiap hari.

Menjaga penampilan

Meski harus menghadapi sesuatu yang belum terselesaikan, bukan berarti kita berhenti menghargai diri sendiri. Anda tidak harus berpenampilan “wah” setiap hari, tetapi setidaknya kebersihan diri terjaga dan tidak mengenakan pakaian lusuh, sobek, atau yang sudah memudar warnanya saat menghadiri acara penting.

Para penagih utang mungkin (dan akan) mengucapkan kata-kata kasar dan merendahkan yang melukai harga diri Anda. Kita maklumi saja karena mereka sedang melakukan tugas, dan, seperti Anda dan kita semua, apapun akan mereka lakukan untuk mencapai target. Namun, jangan biarkan “teror” sesaat membuat Anda yakin diri Anda tidak layak lagi dihargai.

Mawas diri

Utang besar dan kecil yang Anda punya saat ini bukanlah Anda, sehingga Anda tidak harus memikirkannya setiap saat. Kesulitan ekonomi memang menjadi penyebab utama depresi di banyak tempat di dunia ini. Akan tetapi, sadarilah bahwa utang kita tidak akan lenyap tanpa bekas dengan protes atau kemarahan kita.

Modal utama Anda untuk melunasi semua utang bukanlah pekerjaan bergaji besar, atau sekarung uang yang jatuh dari langit. Uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Andalah satu-satunya yang Anda punya di dunia ini untuk membayar semua utang. Maka, jagalah diri Anda baik-baik dengan tetap mawas diri dan memelihara rasa bahagia, sesulit apapun keadaan Anda saat ini.

Senin, 25 September 2023

Kita atau Mereka: Ketika Agama Tidak Mempersatukan

Dalam sebuah survei tentang religiusitas terungkap bahwa Indonesia adalah negara di mana 96% penduduknya percaya kepada Tuhan, sehingga bisa disimpulkan bahwa Indonesia adalah negara paling religius di dunia. Temuan ini ditanggapi biasa saja bagi sebagian orang, karena pada kenyataannya nilai-nilai agama hanya sebatas rutinitas dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, religius bukan berarti bebas korupsi (misalnya).

Di masa pemerintahan Suharto (1968-1998), gesekan antar umat beragama tidak pernah terjadi berkat adanya peraturan tegas yang mengatur bidang sensitif ini. Kebijakan Suharto cenderung memperlakukan semua agama secara sama, bahkan menekan ‘kebebasan beribadah’ (menurut anggapan beberapa orang), guna mencegah munculnya dominasi suatu kelompok. Kebijakan yang sama juga diterapkan Lee Kuan Yew, salah satu pemimpin Asia Tenggara yang cukup disegani sampai saat ini.

Akibat kekeruhan politik di sekitarnya, apa yang diterapkan Suharto ditinggalkan jauh-jauh oleh para penerusnya, kecuali Presiden Indonesia ke-4, Abdurrahman Wahid, yang masa jabatan sangat singkat. Setelah beberapa pergantian kepemimpinan, ada satu pertanyaan penting yang kian nyata menghantui kehidupan bangsa paling religius di dunia. Manakah yang lebih wajib dipatuhi, peraturan agama atau peraturan negara?

Perang dan agama

Pertanyaan itu tidak akan sulit dijawab apabila suatu negara berideologi hukum agama, misalnya Iran dan Arab Saudi. Berabad silam, dorongan kehendak menegakkan hukum agama menjadi salah satu penyebab utama Perang Salib yang berlangsung selama dua abad (abad 15-abad 17) bagi kubu Islam. Sementara di kubu Katolik dan Kristen, mencari ampunan Tuhan dan laku tobat adalah motivasi utama mereka berjuang di medan pertempuran suci itu.

Membicarakan peristiwa ini mungkin mengungkit kembali luka lama yang ingin kita lupakan, tetapi dampaknya terus menghantui hingga saat ini. Sebagai pihak pemenang dalam Perang Salib, Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman Empire) merampas wilayah Byzantium yang sebelumnya menjadi Pusat Kristen Ortodoks Timur. Para pemimpin Turki dan para penerusnya memang memberikan perlindungan pada umat Kristen dan Yahudi di wilayah itu di bawah aturan tersendiri.

Sebuah perang dahsyat (Great Turkish War) mengubah semuanya. Pertama, karena Utsmaniyah menderita kekalahan dalam perang melawan Liga Suci (Kekaisaran Romawi Suci, Polandia-Lithuania, Hongaria, Kekaisaran Rusia, Venesia). Kedua, keterlibatan Utsmaniyah dalam perang itu berawal dari penandatanganan kesepakatan antara seorang pemimpin Kazaki (Cossack) Kristen Ortodoks, Petro Dorosenko, dengan Kesultanan Utsmaniyah sebagai upaya mempertahankan diri dari serangan Polandia.

Bagaimana perasaan seseorang yang kalah dalam pertempuran? Kata apapun yang menjadi jawaban pertanyaan ini, itulah penyebab Kesultanan Utsmaniyah mengubah sikap terhadap kaum non-Muslim yang selama ini mereka lindungi. Kekalahan dari Liga Suci diduga kuat sebagai penyebab menguatnya nasionalisme Turki yang mendorong tumbuhnya sentimen anti non-Muslim dan anti orang asing.

Orang-orang Kristen Ortodoks Armenia menjadi korban pertama gerakan ultranasionalisme di Turki pasca perang, meski para sejarawan hingga saat ini masih memperdebatkan detail jalannya peristiwa itu dan jumlah korbannya. Selama berlangsungnya Perang Dunia II orang-orang Kristen Ortodoks Serbia menghadapi tragedi terburuk sebelum era Perang Balkan yang jarang dibahas, mungkin lantaran alasan miris yang melatarbelakanginya diam-diam disesalkan beberapa kalangan. Di abad 21, Gereja Kristen Ortodoks Ukraina (Ukrainian Orthodox Church) dibubarkan pemerintah Ukraina karena menolak fusi dengan OCU (Orthodox Church of Ukraine) dan salah satu biara mereka ditutup.

Lalu, harus bagaimana?

Religiositas itu besar maknanya dalam membentuk persepsi manusia tentang kehidupannya sendiri dan sekelilingnya, tanpa mengecilkan berbagai faktor lain yang juga berperan besar dalam hal ini. Masing-masing agama besar di dunia saat ini terbentuk dan eksis berkat proses panjang berabad-abad yang membentuk perspektif masing-masing agama itu sendiri tentang banyak hal lain di luar diri mereka.

Para pemuka dan penyebar agama membawa persepsi ini di dalam ajaran mereka dan meneruskan pesan mereka pada masyarakat di tempat lain. Maka tidak heran apabila kadang kala kita mendengar seseorang memiliki visi agamis yang tidak sesuai dengan kaidah norma-norma budaya di mana kita berada. Namun, menyerang mereka secara frontal juga tidak disarankan karena itu artinya kita menganggap serius apa yang sedang mereka lakukan.

Situasi beberapa bangsa di muka Bumi ini unik satu sama lain, tetapi keunikan ini sedang terancam di bawah wacana “pembangunan modernitas yang berkelanjutan”. Ajaran yang kita butuhkan untuk menghadapinya harus mampu mengajak kita untuk wawas diri, fokus pada suasana batin kita terlebih dahulu agar tidak mudah syok mendapati kenyataan hidup. Itulah yang sebaiknya kita lakukan sebelum memutuskan untuk “mengobati” dunia.

Selasa, 05 September 2023

5 Tips Menghadapi Kesulitan Ekonomi

Kesulitan ekonomi bukanlah sesuatu yang memalukan, bisa menimpa siapa saja dan di mana saja, mulai dari seorang ibu tunggal di pedesaan sampai pengusaha di kota besar. Tidak ada satu atau serangkaian solusi tunggal yang bisa menyelesaikan masalah ini, karena kesulitan ekonomi adalah hasil dari berbagai faktor yang saling berkelindan, tarik menarik, dan tergantung satu sama lain.

Media cetak, daring, elektronik sudah banyak membahas penyebab kemerosotan ekonomi global saat ini, dan saya tidak akan membahasnya di sini. Apabila saat ini Anda sedang mengalami kesulitan ekonomi, jangan khawatir, Anda tidak sendiri.

Inilah beberapa cara yang bisa Anda terapkan.

       Masalahmu bukanlah dirimu”

Ya, masalah Anda dan diri Anda adalah dua entitas yang berbeda. Anda mungkin seorang anak muda, ayah, ibu, atau lansia yang memiliki nama dan segala hal yang bisa diidentikkan dengan keberadaan Anda sebagai manusia.

Sedangkan masalah Anda punya nama, tetapi dia bukanlah benda hidup. Dia adalah situasi atau sekumpulan situasi yang membuat batin dan pikiran kita terasa berat. Lalu mengapa kita harus takluk pada benda mati?

          Bersih-bersih

Masihkah ingat di masa pandemi lalu saat kita tinggal di rumah saja berhari-hari sampai berbulan-bulan? Kita menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas yang bisa dilakukan di rumah, di antaranya membersihkan rumah dan area di sekitarnya.

Sesulit apapun situasi ekonomi yang harus kita hadapi, jangan korbankan kenyamanan diri kita dan seluruh anggota keluarga. Tempat tidur, kamar mandi, dapur, ruang kerja, bahkan kamar anak-anak Anda harus dalam kondisi rapi agar tidak memperberat benak yang sedang tertekan.

          Menjaga diri sendiri

Sering kita mendengar kisah orang-orang yang tidak mau makan demi menghemat makanan di rumah. Ini kurang tepat karena sama artinya dengan Anda menyakiti diri sendiri. Tubuh perlu makan untuk mendapat energi agar bisa beraktivitas dan berpikir jernih dari waktu ke waktu. Sarapan dan makan siang itu penting, makan malam bisa Anda lewatkan bila ingin berhemat sekaligus mengurangi berat badan.

Menjaga kebersihan diri juga penting. Mandi, gosok gigi, mencuci rambut, bercukur, dll. itu krusial sebagai bentuk penghormatan kita pada tubuh kita yang bekerja keras dan memutar otak tanpa henti mencari solusi mengatasi masalah ekonomi.

          Olahraga

Orang cenderung malas berolah raga karena dipandang tidak mendatangkan uang untuk membayar tagihan atau membeli makanan. Justru kepenatan pikiran dan perasaan kita harus disalurkan dalam bentuk aktivitas fisik, karena energi negatif yang menjadi penyebab stres dan depresi bisa ditipiskan dengan cara berolah raga secara rutin.

Anda tidak harus melakukan olahraga kelas berat jika kondisi fisik tidak memungkinkan, jalan-jalan pagi di sekitar tempat tinggal pun sudah cukup dan akan bermanfaat bila dilakukan teratur. Ingatlah pepatah mens sana in corpore sano, dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat.

         Meditasi

Meditasi bisa diterapkan semua orang apapun agama dan kepercayaannya, apabila mereka bisa menerimanya sebagai penerapan universal oleh umat manusia secara umum. Meditasi adalah sebuah aktivitas di mana kita mengistirahatkan pikiran kita dari berpikir, mendiamkan suara-suara negatif di dalam benak yang cenderung membuat kita justru merasa lebih tertekan di tengah kerumitan apapun.

Seorang ahli neurologi mengakui manfaat meditasi dalam membantu manusia membugarkan kembali otak yang performanya turun dari tahun ke tahun akibat berpikir tanpa henti. Ibarat gadget yang perlu dimatikan setelah lama digunakan, otak manusia akan segar setelah diistirahatkan untuk beberapa saat melalui meditasi.


Skala keparahan, jenis, dan cakupan kesulitan ekonomi tiap orang berbeda karena manusia tidak sama satu sama lain Tidak ada satu obat yang ampuh menyembuhkan semua halangan ini seketika.

Penjelasan di atas adalah sedikit cara yang bisa Anda terapkan untuk memberikan jarak/ ruang antara Anda sebagai seseorang dan masalah atau situasi Anda saat ini.

Kesulitan ekonomi memang tidak akan hilang setelah Anda bermeditasi dan berolah raga. Namun, jiwa dan raga akan terasa bugar dan cerah sehingga Anda akan bisa melihat jalan keluar yang sudah Anda cari-cari selama ini.

Minggu, 30 Juli 2023

Ilusi Kesempurnaan

Sempurna itu indah, lebih unggul dari lainnya. Merasa memiliki kesempurnaan adalah apa yang dibutuhkan mayoritas orang untuk bangga dan puas dengan hidup mereka agar terhindar jadi bahan olokan di muka umum. Entah itu kesempurnaan yang datang dari hasil kerja keras mereka, atau didapatkan sebagai warisan.

Mereka yang berhasil mengeklaim kesempurnaan setelah melalui jatuh bangun dalam usaha mereka akan cenderung menjaga “prestasi” ini baik-baik agar tidak lepas begitu saja, karena mempertahankan sesuatu lebih sulit daripada meraihnya.

Ketika Perang Ukraina meletus 24 Februari 2022, negara-negara yang enggan memilih kubu menyatakan diri sebagai pihak netral. Beberapa dari mereka menunjukkan itikad baik sebagai mediator, entah karena sangat terganggu konflik Eropa Timur itu atau memang berniat jadi penengah; sikap yang menurut beberapa kultur dan ajaran agama sebaiknya dikedepankan ketika kita terjebak di tengah kemelut perseteruan. Salah satu di antara kelompok netral ini adalah Turki.

Selain mengajukan diri sebagai mediator antara pihak Rusia dan Ukraina, pada Juni 2022 Turki bersedia mefasilitasi ekspor biji-bijian Ukraina dan Rusia ke negara-negara yang membutuhkan.

Turki juga menampung lima orang tahanan perang dari pihak Ukraina dari Batalyon Azov setelah kekalahan dari pasukan Rusia dalam pertempuran panjang di pabrik baja Azovstal 2022 lalu melalui perjanjian resmi antar pemerintah Turki-Rusia.

Entah mengapa Turki sekonyong-konyong mengubah sikap. Presiden Recep Erdogan mengundang Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky secara pribadi untuk berkunjung ke negaranya dan membawa pulang lima tahanan perang yang seharusnya tidak menghirup udara bebas sampai operasi militer Rusia di Ukraina berakhir. Pihak Rusia, tentu saja, menyesalkan pelanggaran kesepakatan yang dilakukan Turki di awal musim panas 2023.

“Iman”

Iman (faith) adalah kesediaan untuk percaya dengan penuh keyakinan tanpa keraguan dan penolakan terhadap sesuatu (atau seseorang) yang pada gilirannya memengaruhi falsafah, pandangan hidup, tingkah laku, sikap, dan perbuatan sehari-hari. Iman bukan hanya menyangkut-paut dunia rohani atau sebagai pernyataan keadaan religiusitas seseorang, meskipun istilah ini nyaris jarang meninggalkan dua wilayah itu.

Menurut riwayatnya, faith (iman) dikenal sejak abad 13 sebagai sebuah kata yang bermakna “keyakinan pada kepercayaan atau janji; kesetiaan pada seseorang.” Kata ini merupakan bentukan dari kata Prancis Kuno feid yang berarti “kepercayaan, percaya, keyakinan, ikrar” dari sebuah kata Latin fides dengan makna “percaya, iman, keyakinan, kepercayaan, kredo, anutan.”

Ada dinamika dalam makna orisinil faith selama abad 14 ketika kata ini digunakan untuk mendefinisikan persetujuan akal pikiran pada kebenaran pernyataan yang buktinya tidak lengkap, khususnya dalam hal keyakinan pada hal-hal religius. Awalnya, faith digunakan untuk merujuk referensi yang berkaitan dengan agama apapun, lebih jauh lagi, referensi tentang persuasi agama. Makna faith kembali meluas di akhir abad yang sama sebagai “keyakinan pada seseorang atau sesuatu yang merujuk pada keadaan yang sebenarnya dan dapat dipercaya.”

Karena mengejar kesempurnaan tidak selamanya baik, orang tua dan para pendahulu menasehati kita untuk lebih fokus pada menjaga kualitas kepribadian atau karakter sebagai manusia melalui laku sederhana yang tidak sundul langit. Di antaranya, dengan menepati janji.

Manusia membuat janji hampir setiap hari pada siapapun; keluarga, kolega, pasangan, atasan, penagih utang … Himpitan kesulitan hidup yang makin berat akibat berbagai hal mendorong manusia untuk buru-buru melepaskan diri dari tekanan dengan membuat janji tanpa memperhitungkan kemampuan diri untuk memenuhi janji tersebut.

Berlandaskan penjabaran asal dan makna kata faith secara luas di luar konteks agama di atas, tidak salah bila ditafsirkan bahwa seseorang murtad (apostate) saat ia melanggar janji yang telah diikrarkannya sendiri, di mana kemurtadan adalah apokalips; sebuah tonggak penanda akhir dan awal suatu fase akibat tersingkapnya sebuah kasunyatan yang menimbulkan penolakan kelompok atau kalangan tertentu. Ketika dunia ibarat runtuh bagi mereka yang kita khianati, di saat yang sama dunia mekar bersemi bagi mereka yang mendapat profit sebagai hasil pengingkaran janji tersebut.

“Tertuduh” yang setia

Memercayai sesuatu adalah bagian dari hak dasar manusia yang dilindungi hukum internasional, termasuk kebebasan untuk memutuskan berganti keyakinan atau mengalihkan kepercayaan dari satu entitas ke entitas lainnya. Peradaban manusia akan tetap ada selama Bumi masih ada, dan senantiasa mengubah diri demi bertahan untuk tetap ada.

Sama halnya keyakinan manusia bisa luntur dan pergi ke tempat lain (hijrah) ketika ia merasa dirinya tak lagi mampu bertahan untuk tetap ada akibat memegang keyakinan lamanya. Perpindahan ini diputuskan di bawah dorongan keyakinan yang timbul setelah menerima persuasi bahwa tempat baru lebih baik.

Pada cuplikan salah satu skena Perang Ukraina di atas, Turki yakin sudah bertindak benar dengan melepaskan lima tahanan perang Ukraina supaya mereka bisa kembali membela negaranya. Demi bertindak di jalan kebenaran, Turki mengkianati kepercayaan sahabatnya, Rusia, dan mengorbankan hubungan baik yang sudah berjalan puluhan tahun. Meskipun ajaran berbagai agama besar menganjurkannya, menegakkan kebenaran tidak selalu berdampak manis bagi semua pihak -- selalu akan ada yang merasa dikecewakan.

Menyadari bahwa dirinya bukan “orang baik-baik”, seseorang akan cenderung mengalihkan rasa sakit itu ke hal-hal lain yang diharapkan dapat meredakannya. Mungkin ia akan rajin beribadah atau terlibat aktivitas amal untuk membuang uang jutaan dolar demi menebus “dosa-dosanya”. Apakah semua itu akan membuat Tuhan tergerak untuk mengampuni kita? Kita tidak pernah tahu, kecuali kita meninggalkan dunia ini dan bisa kembali ke rumah untuk bercerita tentang pengalaman kita.

Oleh karena itu, mengejar kesempurnaan adalah ikhtiar yang sia-sia karena tidak ada yang sempurna di dunia ini. Dibutuhkan kerja keras secara fisik maupun mental untuk bersedia menerima tanpa penolakan tentang kenyataan itu, sembari tetap melakukan yang terbaik sesuai bidang kita masing-masing.   

Selasa, 16 Mei 2023

Сансара (Samsara) by Basta and Friends (video)


Beberapa dari kita berusaha membuat perubahan, tetapi apa yang diinginkan tidak tercapai juga. Dibutuhkan kerelaan dan keikhlasan menerima semua itu, bagaikan peninggalan bersejarah di berbagai negara yang tetap sama di tengah perubahan. 

Gagasan ini kami visualisasikan melalui video tidak resmi untuk tembang Сансара (Samsara) dari Basta, seorang biduan dari Rusia. Video dipublikasikan di channel YouTube anak lanangku.

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...