Rabu, 08 November 2023

Cara Aman Peduli Pada Sesama

Bencana alam, perang, dan berbagai peristiwa memilukan datang mengejutkan kita, entah kita siap atau tidak. Duka dan lara yang dialami para korban dipertontonkan di media setiap saat, sehingga kita iba pada penderitaan mereka.

Reaksi yang biasanya muncul adalah kita berusaha membantu dengan cara ikut memikirkan solusi, atau menyalahkan pihak-pihak yang menjadi penyebab penderitaan para korban (misalnya terkait perang atau kerusuhan).

Biasanya, seseorang yang tengah mengalami kesulitan hidup, entah itu karena masalah ekonomi, pertengkaran dalam keluarga, patah hati, kehilangan pekerjaan, banyak utang, dll., berusaha mencari “obat” guna meredakan rasa sakitnya. Dan terkadang “obat” itu adalah dengan cara menaruh empati kepada mereka yang bernasib lebih buruk dari kita.

Berempati pada penderitaan sesama itu baik, inilah kewajiban kita sebagai makhluk sosial yang hidup di tengah masyarakat. Namun, empati seharusnya muncul spontan dan ikhlas: tidak mengharap imbalan atau keinginan “mengobati” penderitaan kita sendiri, agar kebaikan yang Anda lakukan dapat diteruskan oleh seseorang atau pihak yang menerima kebaikan hati Anda.

Empati juga tidak semestinya menjadi bumerang bagi kita sendiri, ketika orang yang kita tolong ternyata hanya sekadar memanfaatkan ketulusan hati kita demi kepentingannya sendiri. Ketika si penerima amal Anda terus mengharap pemberian Anda sebagai cara mengakhiri situasi sulit yang dihadapinya.

Lantas, apakah ini artinya kita harus berhenti berempati pada penderitaan sesama? Tidak juga. Cukup renungkan dulu poin-poin berikut ini sebelum Anda memutuskan untuk memberi pertolongan pada seseorang:

Melihat situasi seperti apa adanya

Ada berlapis-lapis kisah mengapa seseorang bisa terjerembab dan membutuhkan bantuan orang lain untuk bangkit. Kisah-kisah itu bisa sangat mengejutkan, karena kita tidak pernah mengalaminya. Sebagaimana siang berganti malam dengan sendirinya, apapun bisa terjadi di dunia ini.

Pastikan angan-angan Anda tidak berkelana, menebak-nebak, atau melebih-lebihkan sebuah situasi yang sedang Anda lihat atau dengar. Biasakan untuk tetap fokus pada apa yang ada di depan Anda, bukan pada apa yang ada di dalam benak Anda.

Tunda reaksi

Hindari bereaksi seketika itu juga pada segala hal dan dalam segala situasi. Berikan waktu pada diri sendiri untuk menelaah suatu peristiwa yang sedang dibeberkan ke hadapan Anda. Bersikap skeptis adalah hak kita, jangan biarkan siapapun merebut hak ini dari tangan kita.

Orang-orang fear of missing out, bagi mereka ketinggalan sesuatu itu menakutkan. Namun, bereaksi salah terhadap suatu peristiwa itu lebih menakutkan lagi. Ingatkah Anda gelombang sanksi untuk Rusia atas penyerbuannya ke Ukraina? Itu semua berawal dari reaksi kemarahan warga net.

Kaji informasi dari semua sudut pandang

Kita bisa mengetahui apa yang terjadi di belahan dunia lain yang bermil-mil jauhnya melalui media massa. Perlu diingat bahwa media massa tidak selalu netral; mereka membuat berita berdasarkan berbagai faktor, salah satunya pandangan politik media itu sendiri. Media juga membuat berita yang selaras dengan kepentingan pihak-pihak yang mendanainya.

Agar dapat menentukan sikap terhadap suatu peristiwa memilukan (misalnya, konflik), kita perlu mencerna informasi dari berbagai media mengenai peristiwa itu. Masalahnya, seringkali media yang tidak seiring dengan kepentingan nasional akan disisihkan, sehingga sulit bagi masyarakat biasa mendapat informasi yang berimbang.

Membantu semampunya

Nestapa yang dialami orang lain menimbulkan perasaan iba, bahkan ada juga yang merasakan kesedihan ekstrem. Wajar jika kita merasa tergerak untuk membantu orang yang sedang mengalami kesulitan, karena jauh dalam lubuk hati kita juga ingin dibantu bila mengalami situasi yang sama.

Bantuan yang kita berikan jangan sampai mempersulit kita sendiri di belakang hari, karena selalu ada konsekuensi atau risiko dari keputusan apapun yang kita ambil. Di sinilah pengendalian diri menjadi kompas Anda untuk mengukur dan menentukan sejauh atau sebesar apa Anda bisa membantu mereka yang membutuhkan.

Lupakan

Ibarat memberi uang receh pada pengemis, lupakan apa yang sudah pernah Anda lakukan untuk menolong seseorang. Melupakan kebaikan yang Anda lakukan adalah cara untuk menjadi ikhlas, sebesar atau sekecil apapun milik Anda yang Anda lepaskan untuk menjadi milik orang lain.

Pada akhirnya, kita harus kembali ke kehidupan kita sendiri dan tanggung jawab masing-masing. Dan menjalani rutinitas itu tidak mudah, karena problematika hidup setiap saat tidak pernah sama. Kita masih butuh tenaga dan kekuatan hati kita untuk mengemudikan kapal kita agar tidak tenggelam di tengah pasang surut laut kehidupan. Apabila semua Anda berikan untuk orang lain dan tak tersisa apapun, lalu dengan apa Anda akan menjalani hidup ini?

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...