Minggu, 18 Oktober 2026

Masalah Ekonomi Singkirkan Kesepian – Benarkah?

Kesepian seorang diri tanpa ada yang menyayangi dan peduli .. Saya jamin kamu tak akan merasakannya kalau bersedia tinggal di Indonesia, terutama di daerah pinggiran atau pedesaan, di pulau atau kota mana pun.

Penyebabnya bukan karena orang Indonesia ramah-ramah dan baik hati, bukan. Bukan karena kami senang menolong orang lain atau tetangga yang sedang kesusahan. Bukan juga karena kami punya kebiasaan bergotong royong menyelesaikan suatu pekerjaan untuk kepentingan umum. Karena kami menganggap semua orang punya derajat yang sama, baik kaya maupun miskin? Ah, bukan itu juga ‘kali.

Sebagaimana pemberitaan media, nama Indonesia mendadak “mendunia” akibat kebakaran hutan di sejumlah wilayah yang memengaruhi keberlangsungan hidup manusia, hewan, dan tumbuhan di area terdampak.

Tidak berarti area yang tidak terdampak kebakaran hutan tidak bebas masalah. Bila bukan banjir, masyarakat harus membiasakan diri dengan cuaca panas, siang dan malam, yang berujung kekeringan dan krisis air. Selain itu, mereka juga perlu membiasakan diri dengan stagflasi global yang berakibat kenaikan seluruh harga dan minimnya lapangan kerja.

Tumpukan masalah yang berpangkal dari masalah ekonomi memaksa mereka untuk lebih fokus, baik dalam bekerja ataupun membelanjakan pendapatan. Yang masih single fokus bertahan hidup, sementara yang sudah berkeluarga fokus mempertahankan hidup keluarganya.

Bagi sebagian besar warga di situasi demikian, waktu berjalan terlalu cepat. Pagi terlalu singkat berubah jadi malam, sementara uang yang dihasilkan belum cukup untuk keperluan mereka.  Bagi mereka, tiada waktu untuk merasa kesepian.  


Ilustrasi: Panorama Gunung Arjuno di Sumber Kalimangun, Randuagung, Malang. 


Warisan kesedihan

Dalam sudut pandang Kepercayaan Asli Siberia, kesepian bukan saja timbul akibat kebutuhan akan kasih sayang yang kurang atau tidak terpenuhi. Bagi mereka, bermigrasi ke tempat dengan cuaca dan temperatur yang lebih bersahabat tidak serta-merta menjadi solusi untuk cita-cita hidup yang lebih baik dan lebih beradab.

Ada rasa kehilangan dalam benak para pendahulu ketika mereka terpaksa patuh pada larangan menjalankan aktivitas ritual kepercayaan asli di tempat yang baru. Mereka tidak kuasa untuk menolak peraturan baru bukan karena tidak berani melawan. Orang-orang dekat mereka (tetangga, kerabat, saudara/i) telah lebih dulu yakin bahwa kepercayaan asli adalah sesuatu yang harus ditinggalkan, dengan sederet alasan.

Para tetua komunitas Asli Siberia menyembunyikan homesickness mereka rapat-rapat, sebagai bentuk dukungan untuk generasi di bawah mereka yang menginginkan masa depan lebih cerah. Akan tetapi, beban emosional ini memengaruhi tindak-tanduk mereka sehari-hari, termasuk cara mereka berinteraksi dengan anak dan cucu mereka.   

Dari sinilah rasa kesepian, melankoli yang tak dapat dijelaskan itu diwariskan ke beberapa generasi berikutnya. Lebih dari sekadar identitas yang hilang ketika suatu kelompok masyarakat memutuskan untuk “terlahir kembali” dengan meninggalkan kepercayaan lama mereka.

 

Bebas dari kesepian

Pengakuan pemerintah Rusia atas keberadaan suku-suku tradisional Siberia merupakan salah satu faktor yang menggugah mereka untuk membangun jati diri kembali; untuk mencari jalan pulang menuju kebijaksanaan leluhur yang telah lama ditinggalkan.

Dewasa ini, tak ada lagi rasa takut di benak mereka untuk menyuguhkan sesajen di tepi hutan atau di bawah pohon. Tak ada rasa khawatir soal pertanyaan tamu yang datang ke rumah tentang sesajen yang dipasang di ruang tamu atau meja makan. Mereka bebas dari buruk sangka masyarakat yang tidak menganut kepercayaan yang sama lantaran meninggalkan sesajen di tempat umum.

Mereka juga tak khawatir terhadap hukuman dalam bentuk apa pun di hari akhir nanti. Sesajen yang mereka haturkan bukanlah bentuk perlawanan atau ingkar terhadap Sang Pencipta jagat raya, mengapa harus takut?   (dswas). 

Minggu, 27 September 2026

Agar Tetap Aman dan Selamat Saat El Niño Melanda

Secara literal, El Niño bermakna ‘si bocah’. Orang mengira Fernando Torres menjadi satu-satunya pesepakbola yang dianggap paling layak menyandang julukan ini dalam sejarah sepak bola berkat kepiawaiannya di lapangan. Satu hal yang mengantarkannya menjadi satu-satunya jendral lapangan di usia 19 tahun bersama Atlético Madrid pada eranya.

Saat dipromosikan ke klub senior Atlético, Torres masih berumur 16 tahun. Rekan-rekan setimnya awalnya meragukan kemampuannya karena raut mukanya yang lugu seperti anak-anak. Mereka tak menganggap namanya penting, sehingga semua memanggilnya ‘si bocah’.

Dipandang sebelah mata tak membuat Torres muda gentar. Ia bahkan tak meninggalkan klub di mana ia mengenal sepak bola di usia 11 tahun, saat Atlético Madrid terdegradasi ke divisi dua pada Mei 2000.

Musibah besar itu didahului oleh krisis kepemimpinan di tubuh klub pemenang gelar ganda La Liga dan Copa del Rey 1996, yang berakibat hengkangnya para pemain top dan senior. Penurunan status berakibat hilangnya kepercayaan sponsor, sehingga klub tak mampu membeli dan membayar pemain berkelas.

Inilah mengapa Torres ditunjuk menyandang ban kapten dan berhak memimpin para pemain yang berusia lebih tua darinya. Keterbatasan finansial telah memposisikan dirinya sebagai kapten tim, karena klub hanya bisa mengandalkan para pemain lulusan akademi sepak bola mereka.

Nama Torres mencuat berkat kemampuannya yang dianggap di atas rata-rata rekan-rekan sekelasnya saat itu.  Ia menjadi satu-satunya lulusan akademi Atlético yang dinobatkan menjadi FIFA Player of the Year (2008) dan menempati peringkat tiga Ballon d’Or di tahun yang sama. 


Ilustrasi: Bulan purnama di Mulyoagung, Dau, Malang. 


‘Berkah’ ketidakseimbangan alam

Mencermati kisah Torres di atas, cukup manusiawi jika kita berandai-andai El Niño Samudra Pasifik yang diramalkan akan berlanjut hingga awal 2027 juga akan berakhir dengan happy ending pada saatnya nanti.

Sebagai fenomena cuaca, El Niño merupakan sebutan bagi peningkatan suhu air laut secara tiba-tiba yang memengaruhi siklus cuaca di berbagai wilayah di sekitarnya. Sedangkan peningkatan suhu air laut itu sendiri, menurut para ilmuwan, dapat disebabkan berbagai faktor. Terutama aktivitas manusia dalam memanfaatkan sumber daya alam.

Kota yang saya tinggali sejak kecil bersama keluarga termasuk salah satu wilayah yang terdampak cukup keras fenomena El Niño. Tak jauh dari rumah kami, areal persawahan mengering dan sumur-sumur penduduk mulai kehilangan air. Siang hari terasa sangat panas, dan cukup banyak warga yang mulai jatuh sakit.

Sejumlah orang yang saya temui tidak terkejut dengan situasi ini. Eksploitasi alam di kota kami memang terus meningkat sejak beberapa tahun terakhir. Konsekuensi menjadi tak terelakkan, cepat atau lambat. Dalam diam mereka telah punya bayangan tentang apa yang dapat menimpa kota mereka jika rem eksploitasi blong.

Kedatangan El Niño kami pandang sebagai pengingat untuk lebih berhati-hati dalam memperlakukan alam, untuk kembali memberikan pengakuan pada pepohonan, mata air, dan tempat-tempat tertentu yang pernah dianggap suci.

Pengakuan yang diwujudkan dalam bentuk menghaturkan sesajen sesuai tata cara di lokasi tersebut. Sebuah aktivitas yang menyimbolkan kerendahan hati dan permohonan maaf pada alam raya karena tindakan sewenang-wenang yang pernah kami lakukan terhadapnya.

Memang, jumlah warga yang berpikiran seperti ini tidak banyak. Akan tetapi, mendadak tersadar dari kekeliruan adalah sebuah ‘berkah’ yang akan menyelamatkan diri kita sendiri di kemudian hari.

Kita tidak dapat membatalkan dampak sebuah kesalahan dalam mengambil keputusan, atau meminta Sang Pencipta untuk melenyapkan kesalahan itu hingga seolah tak pernah terjadi. (dswas).

Sabtu, 19 September 2026

Trik Jitu Hilangkan Rasa Benci Pada Leluhur

26 Desember 1991, sekitar 30 juta warga etnis Rusia mendadak menemukan diri mereka menjadi warga negara asing, sepersekian detik setelah bendera Uni Soviet diturunkan untuk selamanya. Sebuah kesepakatan politik telah mencabut privilese mereka sebagai warga “negara ibu kota”, bukan perang atau huru-hara.

30 juta orang Rusia tinggal di Kazakhstan, Ukraina, dan negara-negara Baltik saat penurunan bendera palu arit Soviet disiarkan di layar televisi. Mereka tinggal di negara-negara yang kini menyandang predikat sebagai eks Uni Soviet, suatu wilayah yang sebelumnya harus meminggirkan identitas lokal masing-masing untuk dipersatukan oleh satu identitas resmi.

Konflik di sejumlah wilayah Eropa Timur hari ini sebagian besar merupakan buah dari api-api kecil menahun di antara warga diaspora Rusia dengan warga lokal wilayah eks Uni Soviet. Warga lokal merasakan trauma mendalam akibat berbagai kebijakan negara yang pernah membiayai mereka dan sudah bubar. Di sisi lain, warga imigran Rusia menganggap situasi mereka merupakan akibat kebijakan orang-orang yang seharusnya mengayomi mereka.

Warga Estonia, Latvia, Lithuania, Moldova, Armenia, Azerbaijan, dan tentu saja, Ukraina, sampai dengan saat ini masih berjuang guna menemukan kembali identitas mereka yang pernah hilang. Sementara warga diaspora Rusia yang tinggal di negara-negara itu juga sedang berjuang untuk beradaptasi dengan upaya pemerintah setempat menanggalkan bayang-bayang Soviet. Di antaranya, tidak lagi menggunakan Bahasa Rusia sebagai bahasa resmi.


Ilustrasi: Pohon randu di Situs Tejosari, Singosari, Malang. 


Akhir adalah awal  

Orang tua, kakek nenek, buyut, pendahulu, leluhur … Semua kata ini punya satu makna literal yang secara konteks hampir sama, yaitu mereka yang telah ada atau lahir sebelum kita, mereka yang secara kebetulan merupakan pihak yang menjadi penyebab Anda hari ini ada di sini membaca blog saya.

Berhubung mereka adalah manusia biasa seperti kita, terkadang kita dibuat bingung oleh berbagai tindakan dan atau keputusan yang mereka ambil. Hal ini terjadi karena kita dan mereka hidup di dua era yang berlainan, tantangan dan situasi yang melatarbelakangi keduanya juga tidak sama.

Komunitas Asli Siberia menganggap berakhirnya era Uni Soviet sebagai momen ‘kembali ke settingan pabrik’, momen untuk membangun ulang. Pengetahuan peninggalan nenek moyang kembali dipelajari oleh generasi kekinian Siberia, generasi yang mulai mengenal jagat modernitas setelah pemerintah Soviet membangun sekolah-sekolah di Siberia di masa kejayaannya.

Tanpa bansos pemerintah Uni Soviet yang biasa mereka dapat selama 1950an sampai 1980an, masyarakat asli Siberia sempat mengalami kesulitan ekonomi yang berujung depresi, bahkan peningkatan kasus bunuh diri.

Republik Federasi Rusia yang terbentuk mengikuti pembubaran Uni Soviet kemudian memberlakukan Undang-undang Republik sejak musim semi 1992, yang menjadi dasar pendirian beberapa republik independen. Republik Sakha (Yakutia) termasuk salah satunya. Republik baru inilah yang selanjutnya menaungi sejumlah suku masyarakat asli Siberia hingga saat ini.

Inilah momen yang menjadi titik restart bagi sebagian besar masyarakat asli Siberia untuk membangun kembali kebijaksanaan lokal dan nilai-nilai peninggalan leluhur yang telah lama mereka tinggalkan.

Sesuatu untuk dipegang

Dengan tetap menjalankan kebiasaan tradisional, seperti meletakkan sesajen di hutan, sungai, atau tepi laut, masyarakat Kepercayaan Asli Siberia memelihara keterkaitan mereka dengan cikal bakal. Dengan sebuah titik yang menjadi awal keberadaan mereka.

Dinamika politik dan ekonomi memang menjadi ‘kejutan’ bagi mereka, bagi segala kelompok etnis di mana pun di dunia ini. Oleh karena itu, kita semua membutuhkan sesuatu untuk dipegang agar tidak terjatuh saat guncangan keras melanda. Seandainya jatuh tidak dapat dihindari, paling-paling kita hanya memar sedikit dan tidak terluka parah.  (dswas)

Sabtu, 12 September 2026

Buang Sampah Sembarangan = Mental Tidak Sehat, Mengapa?

Saya tidak akan meminta maaf bila judul di atas terdengar terlalu kasar bagi Anda, karena inilah kenyataan.

Entah karena minimnya tempat pembuangan sampah, atau tidak mampu membayar iuran kebersihan, sungai, mata air, dan tanah lapang dijadikan tempat sampah terbuka bagi segolongan orang. Kabar buruknya, jumlah golongan ini lumayan banyak.

Seandainya saja benda-benda yang kita gunakan setiap hari juga terbuat dari bahan-bahan yang mudah terurai, sampah mungkin tidak akan menjadi masalah besar. Longsoran sampah yang mengakibatkan korban jiwa di sebuah tempat pembuangan sampah akhir di Indonesia beberapa waktu lalu terdengar surreal.  

Di sisi lain, sejumlah orang mencoba mengatasi masalah bertumpuknya sampah dengan cara dibakar. Sebuah keputusan yang ujung-ujungnya berpotensi mengundang bahaya kebakaran dan gangguan pernapasan.

Saya yakin sebagian besar dari kita sudah tahu dan mendapat bekal informasi tentang masalah sampah. Namun, desakan dari dalam hati untuk secepat mungkin menyingkirkan hal tidak menyenangkan bernama sampah rupanya terlalu kuat.

Sejumlah situasi yang disebutkan di atas menunjukkan kecenderungan kita mencari jalan termudah, walaupun cara itu tidak disarankan dan sering dikampanyekan sebagai tindakan merugikan. Lalu ke mana hilangnya semua pengetahuan itu ketika dihadapkan pada situasi memiliki sampah yang harus enyah agar kenyamanan kita tidak terganggu? 


Ilustrasi: Panorama Gunung Arjuna, Dau, Malang. 


Jiwa yang hilang

Dari sini saya rasa Anda sudah sedikit memahami mengapa saya menyebut perilaku buang sampah sembarangan, atau memusnahkan sampah dengan cara mudah tapi berbahaya, merupakan gejala ringan ada yang tidak beres dalam diri kita.

Bersikukuh melakukan tindakan yang bertentangan dengan pengetahuan kita menunjukkan adanya perang jangka panjang dalam diri kita. Pertentangan dari dalam yang tidak dapat kita selesaikan, tetapi mewujud dalam tingkah laku sehari-hari.

Dunia medis menyebut kondisi tersebut sebagai depresi, skizofrenia, stress, anxiety, bipolar, dsb. Suatu kondisi kesehatan yang juga tidak asing bagi para pemeluk Kepercayaan Asli Siberia.

Dalam sudut pandang mereka, suatu peristiwa memilukan dan traumatis telah merampas kebahagiaan si penderita untuk selamanya. Si penderita menyadari apa yang ia rasakan, tetapi goncangan terlalu kuat sehingga jiwanya tidak mau kembali.

Pemicu depresi itu sendiri biasanya bermula dari pelanggaran terhadap norma dan aturan tidak tertulis dalam masyarakat, atau eksploitasi alam berlebihan. Melihat sungai yang kotor atau hutan yang terbakar, misalnya, menimbulkan rasa gundah gulana yang pada gilirannya mengikis segala ketenangan dan kedamaian.

Mempersiapkan sesajen untuk dihaturkan kepada para leluhur dianggap sebagai salah satu cara untuk mengatasi perasaan negatif ini. Si penderita akan melatih dirinya untuk kembali bersemangat melalui aktivitas menata suguhan dengan penuh kasih sayang, serta ketulusan.

 

Memutus ‘lingkaran setan’

Apabila sungai kotor menimbulkan rasa tidak nyaman dalam diri kita, lalu mengapa, atau apa yang mendasari keputusan kita untuk membuang sampah ke sungai pertama kalinya dalam hidup kita? Ketika rasa kita menjadi negatif akibat perbuatan seseorang yang diperlihatkan di muka umum, mengapa kita justru ikut melakukannya?

Ini sedikit contoh pertanyaan-pertanyaan yang wajib muncul dalam benak kita, sebelum kerusakan meluas berikut dampaknya.

Sebagai mantan penderita gangguan kesehatan mental, saya yakinkan Anda bahwa obat terbaik berasal dari tekad kita sendiri untuk bangkit. Jalan berliku dan salah jalan memang harus dan akan kita hadapi sebagai konsekuensi berbagai langkah keliru yang kita ambil di fase sebelumnya. (dswas). 

Sabtu, 05 September 2026

Cara Mempersiapkan Diri Untuk Kemarau Sampai 2027

“Don’t Know What You Got Till It’s Gone” oleh Cinderella pasti dikenal para remaja 80-90-an yang rambutnya sudah mulai memutih saat ini. Para kritikus musik rock Inggris di era itu menyebut lagu rock ballad ini sebagai bukan lagu rock, melainkan slogan sebuah merek soft drink terkenal.

Sementara kritikus Britania Raya lainnya menyindir sang vokalis sekaligus penciptanya, Tom Keifer, menyanyi dengan suara husky (serak-serak basah) karena kecapaian dan butuh istirahat.

Saya memprediksi lagu ini akan kembali menjadi favorit dalam waktu dekat, mengiringi tersadarnya kita tentang berbagai hal yang telah atau akan segera hilang. Hal-hal yang sebelumnya ada, lazim, dan bukan sesuatu yang istimewa, sampai mereka benar-benar lenyap dari kehidupan kita sehari-hari. Misalnya, air, sinar matahari, dsb.

Beberapa waktu lalu, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengumumkan fenomena El Niño yang berkarakter suhu panas dan kering disertai angin kencang masih akan berlangsung di sebagian besar Asia Tenggara hingga awal 2027. Sementara dalam kurun waktu sama, benua Amerika mengalami curah hujan tinggi yang berpotensi banjir bandang.

Hujan, atau panas, yang biasa kita persalahkan karena sering datang tanpa diundang saat kita tengah beraktivitas, mendadak hilang untuk waktu yang lama tergantung di mana Anda tinggal saat ini. Ilmu pengetahuan telah berhasil mengungkap berbagai faktor penyebabnya, tetapi belum berhasil merumuskan langkah jitu untuk mengakhiri anomali tersebut. 


Ilustrasi: Pohon randu raksasa di tengah asap bakaran sampah, Singosari Malang. 


Melatih kewaspadaan  

Ketika seorang pedagang mengalami kerugian, ia akan melakukan apa yang ia bisa guna menutup celah dalam pembukuannya. Akan tetapi, cuaca tidak berwujud sejelas uang atau benda lainnya. Tingkat keberhasilan manusia memanipulasi cuaca dengan aktivitas mereka hanya mencapai 10%. 90% lainnya bergantung pada dinamika alam.

Para penganut Kepercayaan Asli Siberia sudah menyadarinya sejak lama. Mereka tinggal di tengah alam yang moody, kadang bersahabat dan kadang tidak. Namun, mereka tidak meninggalkan Siberia yang dingin menusuk tulang, karena para pendahulu mereka sudah mengajarkan bagaimana bertahan hidup.

Sesajen yang mereka buat sesuai kebiasaan aliran kepercayaan masing-masing bukan berfungsi sebagai “sogokan” agar suatu kekuatan gaib di luar sana mau membantu mereka. Bukan demi membujuk sinar matahari mendadak muncul dan memberikan kehangatan.  

Untuk menyiapkan sesajen, si penyedia mengorbankan waktu, tenaga, dan materi yang seharusnya bisa ia gunakan untuk hal lain. Belum lagi timbunan sampah yang dihasilkan sebagai sisa dari sesajen yang telah mengering atau membusuk.

Bukankah tidak rasional menyuguhkan secangkir kopi atau vodka pada seseorang yang secara fisik tidak terlihat?

Bagi masyarakat penganut Kepercayaan Asli Siberia, kebiasaan menyuguhkan sesajen saat masuk dalam hutan untuk berburu atau sebelum memancing di perairan merupakan kerendahan hati yang dimanifestasikan atau diungkapkan.

Mereka yang berangkat ke alam bebas dengan rendah hati punya peluang lebih besar untuk pulang dengan selamat. Mengapa? Psikis orang yang rendah hati cenderung datar dan tenang, sehingga tidak timbul kepanikan atau histeria ketika harus berhadapan dengan hal-hal tak terduga.    

 

Lapang dada

“Bagaimana kalau kita kehabisan air minum?”, “Lari ke mana kita kalau banjir datang?” dan banyak pertanyaan sejenis mungkin timbul di benak kita seiring dengan pengumuman resmi WMO di atas. Saya anggap itu wajar, karena siapa pun tidak akan betah hidup dengan ketidakpastian.

Di sinilah kematangan psikologis akan tampil sebagai penyelamat Anda dan keluarga. Semacam sebuah “kepatuhan” pada sebuah kesimpulan bahwa tidak semua hal dalam dunia nyata berjalan mengikuti kehendak kita.  (dswas). 

Sabtu, 29 Agustus 2026

Cara Menghadapi Eksploitasi Alam Berlebihan

Sebagai seorang keras kepala yang pernah terlibat dalam begitu banyak kesalahan berujung penyesalan, saya mengakui sifat ini kadang tidak membawa berkah. Mereka yang keras kepala dalam mencari kebenararan atas tindakan mengancam apalagi menghilangkan nyawa banyak orang adalah bukan kelompok manusia yang “baik-baik saja”.

Air bah di Pegunungan Himalaya perbatasan Nepal-Tibet menambah deretan bencana yang terjadi sepanjang 2026. Ribuan warga lokal dan wisatawan masih dinyatakan hilang hingga saat ini.  Di antara mereka terdapat ribuan pekerja konstruksi PLTA yang berjumlah sekitar 27 unit dan terdampak bencana seluruhnya, meski skala kerusakannya mungkin bervariasi.

Dengan luas wilayah sekitar kurang dari 150 ribu kilometer persegi dan 30 juta jiwa penduduk, 27 PLTA dan pembangkit listrik tenaga lainnya mampu menyuplai energi listrik yang lebih dari cukup. Maka tidak heran apabila Nepal mampu mengekspor energi listrik yang mereka hasilkan ke negara-negara tetangga, seperti India, Bangladesh, dan Tibet.

Detil tentang 27 PLTA nahas ini pun masih simpang siur, tentang investor dan apa kebangsaan para pekerja yang masih terperangkap, hilang, atau tewas. Yang jelas, bencana di akhir Agustus 2026 ini mau tak mau menimbulkan kekhawatiran sejumlah kalangan yang masih peduli tentang keberlanjutan alam di sekitar proyek-proyek pembangkit listrik bertenaga air dan panas bumi di beberapa tempat.


Ilustrasi: Mata Air Pakis Suceng, Singosari, Malang. 


Membangun “benteng”

Dalam sudut pandang para penganut kepercayaan asli di berbagai belahan dunia, gesekan dengan alam dalam bentuk bencana besar bisa dicegah apabila manusia menerapkan perspektif gaya hidup mengambil dan memanfaatkan seperlunya.

Akan tetapi, kepercayaan mereka dianggap sebagai non agama dan seringkali mendapat stigma aliran sesat. Penyebabnya satu: karena nilai dan aturan dalam kepercayaan mereka menghalangi niat sejumlah orang yang ingin mengeksploitasi ruang hidup mereka. Baik itu hutan, sungai, laut, gunung … Nyaris tidak ada ruang hidup masyarakat penganut kepercayaan asli yang tidak terjamah eksploitasi.

Masyarakat penganut Kepercayaan Asli Siberia sudah biasa menghadapi alam yang tak bersahabat sejak turun temurun. Mereka sudah biasa menerima kenyataan bahwa tak semua manusia punya niat baik. Mereka juga sudah biasa menghadapi dampak yang timbul akibat niat tidak baik seseorang.

Kebiasaan dalam aliran kepercayaan mereka, yaitu meletakkan sesajen di tempat-tempat di mana mereka hendak melakukan sesuatu (di hutan sebelum berburu, atau di sungai dan laut sebelum memancing), sedikit banyak telah membantu mereka untuk siap menghadapi berbagai kemungkinan, termasuk yang terburuk.

Meletakkan sesajen merupakan perwujudan rasa hormat seseorang terhadap semua yang ada di sekelilingnya, pengakuan eksplisit yang dibuatnya secara sadar pada dirinya sendiri bahwa ia tahu ia tidak sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari, attitude ini sangat membantu untuk mencegah diri kita dari mengalami kepanikan ekstrim, histeris, atau amarah berlebihan saat mengalami berbagai hal di luar dugaan.  Reaksi negatif saat menghadapi kondisi negatif kadang lebih berbahaya daripada peristiwa aktual pemicu kondisi tersebut.

Jalan keluar selalu terlihat  

Bencana alam yang terjadi akibat eksploitasi alam tanpa manajemen bukan kali ini saja terjadi. Peristiwa sejenis selalu berulang setiap tahun dan bisa terjadi di mana pun. Semua ini berada di luar kendali kita, karena mungkin mereka yang melakukannya sedang sangat membutuhkan uang.

Berangkat dari pemahaman dan pengertian tentang hal ini, kita akan mampu membentengi diri sendiri dari mengalami emosi negatif saat merespons perbuatan orang-orang seperti mereka. Tanpa emosi negatif dan dengan benak yang senantiasa jernih, tak akan pernah lagi jalan buntu mampir dalam hidup kita. (dswas).

Sabtu, 22 Agustus 2026

Agar Jalan Tidak Pernah Buntu

Perhelatan tahunan akbar turnamen esports Dota 2, The International (TI), digelar di Shanghai, China, 20-23 Agustus tahun ini. Di luar dugaan, tim-tim esport China yang berjaya sekitar 10 – 14 tahun lalu tampil sangat buruk bahkan tidak lolos fase penyisihan grup turnamen yang diikuti tim dari berbagai negara.  

Sejumlah pengamat esport menilai, tim-tim China diperkuat para pemain yang sama persis seperti era 2012 – 2016 saat mereka jadi juara. Usia mereka sudah tidak muda lagi (sekitar 30-an tahun) sehingga semangat juang mereka menurun drastis.

Uniknya, tim-tim Eropa Timur yang didominasi para pemain dari Rusia dan Ukraina justru sedang on fire. Untuk pertama kali dalam sejarah TI, babak final tahun ini mempertemukan dua tim Eropa Timur, yaitu Team Vision dan Team Yandex yang sama-sama diperkuat pemain Rusia – Ukraina.

Team Yandex juga diperkuat sejumlah pemain dari beberapa negara Eropa Timur lain seperti Kazakhstan dan Makedonia Utara.

Kalangan penggiat esport, dan terutama para fans Dota 2, berdecak kagum atas prestasi tim-tim CIS/EEU  yang tidak diunggulkan alias masih dianggap underdog beberapa tahun lalu.

Natus Vincere (Na’Vi) asal Ukraina memang dinobatkan sebagai pemenang pertama TI pertama yang digelar 2011. Setelah 2013, prestasi tim-tim Eropa Timur di TI menurun drastis dan tergusur oleh dominasi tim-tim China.

Momen pandemi 2020-2021 ketika seluruh siswa sekolah harus belajar di rumah dimanfaatkan oleh para veteran esport Rusia dan Ukraina untuk merekrut dan melatih para darah muda yang saat ini dipuja-puji sebagai generasi baru jawara Dota 2.


Ilustrasi: Sumber Waras, Lawang, Malang. 


Ambisi bukan satu-satunya penentu kesuksesan  

Tak ada yang lebih menyakitkan daripada terlempar jauh dari posisi juara untuk kemudian menjadi pecundang. Tidak seperti narapidana yang tahu kapan ia akan menjadi orang bebas, pecundang tidak akan pernah tahu pasti sampai kapan mereka akan menyandang predikat tersebut, entah dalam jangka pendek atau sampai berpuluh-puluh tahun.

Rasa malu dan merasa terhina seringkali muncul bukan disebabkan komentar publik atau media, melainkan suara-suara dalam benak kita sendiri. Dalam sudut pandang Kepercayaan Asli Siberia, situasi semacam ini terjadi akibat terbukanya sebuah “celah” dalam diri seseorang setelah ia melanggar peraturan adat, tidak menjalankan kebiasaan spiritual, atau telah melakukan kekeliruan terhadap pihak lain.

“Celah” itu membuatnya tidak mampu melihat jalan keluar ketika sedang tertimpa masalah. Bagaikan Bumi yang mengalami gerhana, mendadak semua menjadi gelap di tengah hari yang terang benderang.

Kekalahan dalam sebuah situasi yang seharusnya diterima dengan penuh kerelaan menjadi beban yang harus secepatnya disingkirkan, apapun caranya. Alih-alih berhasil kembali ke zona nyaman, tak sedikit dari mereka yang merasa jadi pecundang malah semakin terjerumus dalam kegelapan suasana hati mereka sendiri.

 

Berubah butuh keberanian

Generasi pertama Eropa Timur (Na’vi dkk.) dikenal karena gaya bermain mereka yang bermodalkan keberanian untuk merangsek jauh ke dalam zona lawan. Akan tetapi, gaya bermain ini menjadi kurang relevan setelah para rival mereka di TI berhasil menemukan titik lemah mereka.

Ya, tak ubahnya pemain sepak bola para pemain Eropa Timur (Rusia) generasi terdahulu (2017- 2019) cenderung emosi saat mereka tertekan.  

Team Spirit merupakan tim esport Eropa Timur pertama yang melibatkan psikolog olahraga untuk membantu menenangkan para pemain seusai sesi permainan intens. Mereka juga merekrut pelatih Airat Gaziev (Silent) yang punya kepribadian tenang dan bisa membuat anak-anak asuhnya patuh tanpa banyak drama.

Lagi-lagi pandemi 2020, di saat seluruh aktivitas di berbagai penjuru dunia terhenti, menjadi titik balik yang mengilhami orang-orang di balik Team Spirit untuk melakukan refleksi. Mereka melihat kembali ke masa sebelumnya, menemukan sebuah kekeliruan fatal, lalu mengakuinya. Setelah itulah mendadak gerhana berakhir, Bumi menjadi terang kembali.  

Hasilnya, tim ini berhasil muncul sebagai juara TI 2021 dan 2023.  (dswas)

Cara Move On di Tengah Kebuntuan Stagflasi

DPR Inggris (UK House of Commons) terpana tak percaya ketika politisi Partai Konservatif dan mantan Chancellor of the Exchequer (Menteri Keu...