Penderita demensia cenderung tidak ingat akan banyak hal – nama tempat, nama orang, jalan pulang ke rumah, nama hari, bahkan nama mereka sendiri. Namun, ada satu hal yang masih segar dalam ingatan mereka: lagu-lagu populer dalam suatu fase kehidupan mereka, terutama saat mereka berusia 10 sampai 24 tahun.
Entah itu lagu folk dari era 50-an, blues 60-an, rock &
roll 70-an, atau slow rock 80-an, mendengarkan lagu-lagu jadul memberikan efek
menenangkan. Detak jantung tidak lagi kencang, hormon dopamine mendadak muncul
meredakan kecemasan, bersamaan dengan rasa bahagia mengenang masa muda yang
penuh canda dan tawa.
Dalam sejumlah kasus, para pasien demensia yang sudah tak
mampu bergerak atau berbicara akan tersenyum, bersenandung, menggerakkan tubuh
mereka mengikuti irama lagu yang tersohor di jamannya. Para anggota keluarga
mereka pun lega melihat kehidupan telah ‘kembali’ kepada para ayah, ibu, kakek,
atau nenek mereka yang pikun, meski untuk sementara.
Faktanya, mendengarkan lagu-lagu lama memang membawa efek
menenangkan bagi siapa saja, meski mereka bukan penderita demensia. Penyebabnya
tentu bukan karena para musisi jaman kekinian tidak lagi mampu mencipta lagu
yang enak didengar akibat pengaruh Kecerdasan Buatan (AI). Melainkan lebih
disebabkan oleh faktor psikologis, tentang kerinduan pada sebuah periode di
mana segalanya lebih tidak mengecewakan.
Namun, toh pada kenyataannya kehidupan kita tidak bisa
diputar ulang setiap saat seperti lagu kesayangan kita. Ada hal-hal yang harus
tetap tinggal di masa lalu, salah satu penyebabnya karena tidak berkontribusi
pada keberlanjutan kesejahteraan alam sekitar. Bukankah kesejahteraan manusia
sangat tergantung pada kesejahteraan alam seisinya, bukan hanya sumber daya
alam tetapi juga segala makhluk yang eksis di dalamnya?
Alam itu menyembuhkan
Mayoritas dunia mengenal Abkhazia sebagai wilayah dengan
bentang alam yang unik, pegunungan bersalju di satu sisi dan tepi Laut Hitam di
sisi lain. Kondisi geografis menjadi salah satu faktor di balik berdirinya
Kepercayaan Asli Abkhaz ribuan tahun lalu, yang kabarnya mengalami kebangunan
kembali di zaman now. Kebijaksanaan lokal leluhur masyarakat Abkhaz ‘menemukan’
bahwa alam sekitar mereka ternyata menyimpan lebih dari sekadar keindahan.
Ketika seorang penganut kepercayaan asli ini sakit, ia
disarankan untuk berjalan masuk mengitari hutan tanpa menoleh ke belakang. Tata
cara simbolis ini dilakukan dengan maksud meninggalkan penyakit atau hal apapun
yang membuat tubuhnya merasa tidak baik-baik saja. Berjalan kaki selalu baik
untuk kesehatan, apalagi di bawah rindangnya pepohonan yang melepaskan udara
bersih. Dalam sejumlah budaya, menoleh ke belakang merupakan metafora dari
mengingat masa lalu yang tidak seluruhnya tentang kenangan manis.
Menyadari berkah tersembunyi ini, Abkhazia menerapkan
sejumlah peraturan yang cukup ketat guna melindungi area hutan mereka. Walaupun turis diizinkan berkunjung dan
pariwisata berkembang baik di wilayah ini, beberapa titik sengaja tidak
dilengkapi akses jalan. Bahkan dikenakan tarif masuk yang cukup mahal di spot
krusial, misalnya di Danau Ritsa yang dianggap sakral oleh para penganut
Kepercayaan Asli Abkhaz. Bukan lantaran ada makhluk halus di danau itu yang bisa
membantu mereka cepat kaya (pesugihan). Melainkan karena fungsi air memang ‘sakral’
bagi kehidupan manusia sebagaimana yang telah sering saya bahas di banyak
artikel di blog ini.
Jangan tersesat di permukaan
Cara-cara lama identik dengan anti modernitas dan kental
feodalisme yang menolak kemajuan. Itulah yang sering saya dengar saat masih
kuliah. Akan tetapi, kualitas kehidupan manusia belakangan ini tidak semakin baik,
walaupun peradaban masa kini sudah jauh lebih modern dibandingkan 10-20 tahun
lalu. Ironisnya, eksploitasi alam secara besar-besaran ternyata tidak
serta-merta mampu membebaskan manusia dari rasa cemas tentang keuangan dan masa
depan.
Kesadaran masyarakat yang terwujud dalam upaya-upaya pelestarian lingkungan melalui kepercayaan tradisional masing-masing seharusnya mendapat dukungan dan ditanggapi dengan pikiran terbuka. Kita tersesat di permukaan apabila kita memilih menghakimi mereka dengan menyematkan label-label negatif, ketika cakrawala pemikiran modern kita telah gagal menyelamatkan alam sekitar dari degradasi dan kehancuran. (dswas).
