Rabu, 12 November 2025

Mengapa “Cahaya” Mahal Harganya?

“Happy Diwali” mendadak menjadi trending topic di Amerika Serikat Oktober lalu karena (lagi-lagi) Sang Presiden membuat kejutan. Kali ini dengan perayaan resmi kenegaraan di Gedung Putih untuk hari raya umat Hindu, Jain, dan Sikh India Oktober lalu (21/10). Para ekspatriat India yang menduduki jabatan penting dalam pemerintahan Donald Trump tampak menghadiri acara tersebut. Di antaranya, Direktur FBI Kash Patel, yang merupakan anggota loyal Partai Republik.

Di sela-sela acara itu, Trump juga menyampaikan ucapan Selamat Hari Raya Diwali kepada Perdana Menteri India Narendra Modi, sosok pemimpin yang berulang kali disebutnya sebagai “pemimpin hebat”, “luar biasa”, “teman baik”, dst. Menariknya, beberapa bulan sebelum itu Trump baru saja menjatuhkan tarif 50% atas produk-produk India yang diekspor ke Amerika Serikat.

Trump mengatakan, India layak dikenai kenaikan tarif karena telah menjadi negara importer terbesar produk minyak Rusia dari kawasan Asia. Tarif 50% itu membuat PM Modi mendapat kecaman keras dari publik India. Mereka mengecam Modi karena lobi-lobi intensif yang dilakukannya dengan “sowan” ke Amerika awal tahun ini guna menghindarkan India dari dampak kenaikan tarif ternyata berakhir zonk, tak menghasilkan apa-apa. 

Ilustrasi: pexels.com

India juga merasakan dampak akibat pemblokiran terhadap intan mentah asal Rusia. Pemblokiran tersebut berakibat ketiadaan bahan mentah bagi industri pemotongan dan pemolesan intan di Surat, India, yang merupakan industri padat karya dan banyak menyerap tenaga kerja. Bukan itu saja, tercatat beberapa entitas dan firma teknologi asal India yang masuk blacklist EU dan Amerika Utara akibat hubungan India dengan Rusia.

Maka wajar bila seluruh dunia, termasuk saya, gempar dengan perayaan Diwali di Gedung Putih beberapa waktu lalu.

Apakah ini pertanda bahwa Donald Trump benar-benar telah menemukan “cahaya” (sebagaimana makna Diwali itu sendiri) yang akan menunjukkan jalan menuju cita-cita “Make America Great Again”?

Beragam tidak menguntungkan

Kita hidup di zaman di mana nilai seseorang diukur dari kelebihan yang tampak pada dirinya, entah itu prestasi atau kekayaan, pujian orang lain, tampilan fisik, dan hal-hal superfisial lainnya. Rasanya mustahil kebiasaan semacam ini sudah dimiliki dan dikembangkan para pendahulu berbagai bangsa. Karena bila ya, kita dan banyak bangsa lainnya akan cenderung memiliki budaya yang seragam, mengikuti satu jalur yang sama sesuai ketentuan suara tersuperior di atas semuanya.

Berdasarkan pantauan saya, sangat sedikit postingan internet dari entitas di luar India yang menampilkan negara ini sebagai negara maju di Asia berkat budaya Hindu India yang mengakar kuat sejak ribuan tahun silam (walaupun dasar negara India tetap demokrasi dan bukan undang-undang Hindu). Kalaupun ada, postingan tersebut biasanya dibuat oleh orang-orang India sendiri yang tak kenal lelah menciptakan reputasi yang lebih positif tapi realisitis tentang bangsa mereka.

Hindu merupakan agama atau sistem kepercayaan yang sangat cair, mudah menyesuaikan diri dengan situasi di mana ia mendarat. Ia tak membutuhkan satu lembaga induk besar untuk menentukan kapan umatnya harus merayakan hari-hari yang dianggap penting sebagai bagian dari keberagamaan umat Hindu. Ini berpangkal dari pemahaman mendalam bahwa umat Hindu di wilayah mana pun lebih tahu hari-hari bermakna bagi mereka sendiri dan mengapa hari-hari itu penting bagi mereka.

Kebebasan untuk beragam dalam berhari raya ini dipandang tidak menguntungkan oleh sebagian entitas yang berusaha mencari cuan dari perayaan hari besar keagamaan. Penyebabnya, tidak akan ada umat Hindu yang secara serentak memenuhi pusat perbelanjaan, atau ramai-ramai memesan baju di situs lokapasar menjelang hari raya mereka dalam kurun waktu yang sama. Bukankah semua orang butuh uang cash di zaman ini?

Meski sering mendapat stigma negatif secara regional maupun global akibat agama populernya, India tetap merupakan negara yang mudah menjalin kerja sama dengan berbagai negara, termasuk yang saling berseberangan.

Sebagai contoh, India memiliki hubungan baik dengan Israel dan Palestina. India juga termasuk salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. India menjalin hubungan baik dengan Rusia sejak zaman Uni Soviet (yang menyebabkan India juga punya hubungan baik dengan Ukraina).

India juga memiliki relasi yang baik dengan Afghanistan, yang dikenal berhalauan Islam radikal di mana terdapat pegunungan bernama ‘Hindu Kush’ di Afghanistan yang bermakna literal ‘pembunuh Hindu’.   

Mengubah negatif menjadi positif

Entah bagaimana, Donald Trump yakin tarif 50% untuk India telah berhasil menekan PM Modi untuk mengurangi pembelian minyak Rusia. Oleh karena itu, dirinya memuji Modi atas perubahan sikapnya dan berniat mempertimbangkan kembali kebijakan tarifnya. India enggan berkomentar banyak mengenai masalah minyak Rusia, walaupun media Rusia mempublikasikan artikel bahwa hubungan dua negara itu baik-baik saja dengan adanya tarif Trump atas India.

Yang jelas, perayaan Diwali di Gedung Putih bukan hanya menimbulkan pujian bagi Trump, tetapi juga ketidakpuasan dari komunitas yang tidak merayakan Diwali. Misinformasi di kalangan netizen membuat mereka menyangka Diwali adalah hari special bagi umat Hindu saja, sehingga ada yang melihatnya sebagai momen tepat untuk melancarkan ‘serangan’.  Bahkan hingga merambah ranah privet Wakil Presiden AS JD Vance dan istrinya, Usha, yang merupakan pasangan beda agama.  

Tentu saja, tidak menutup kemungkinan bahwa para haters Donald Trump-lah yang berada di balik kampanye negatif itu. Karena, sama seperti banyak pemimpin lain di dunia ini, selalu ada saja orang yang tidak sejalan dengan kebijakannya, siapa pun mereka. Bagi orang-orang seperti ini, selalu ada saja topik yang diada-adakan sebagai pondasi membangun serangan.

Namun, situasi di atas tidak selamanya berhasil menimbulkan rasa rendah diri dan tersakiti. Jargon ‘survival of the fittest’ (siapa terkuat dia bertahan hidup) bisa menjadi pegangan bagi umat Hindu yang merasa disalahpahami oleh mereka yang non-Hindu. Terutama oleh umat Hindu di luar India, di berbagai lokasi di mana banyak dari mereka menjadi minoritas. (dswas)

Minggu, 09 November 2025

Buah Pemberontakan Terhadap Masa Lalu

Di saat sebagian besar negara baru saja mengalami demam AI, salah satu orang hebat di industri tersebut malah melirik air sebagai sumber inspirasi berikutnya. Bill Gates beberapa waktu lalu menyatakan organisasi amal di bawah namanya dan mantan istrinya, Bill & Melissa Gates Foundation, tengah meluncurkan inisiatif yang bertujuan memaksimalkan penggunaan air sebagai sarana kebersihan dan kesehatan masyarakat di berbagai belahan dunia.

Boss Microsoft itu juga meluncurkan teknologi baru yang disebut Omniprocessor. Ketika kita sibuk menganalisa perang chip antara Amerika Serikat dan China, pengguna chip terbesar di dunia malah fokus pada penciptaan mesin yang mengolah air kotor menjadi air bersih layak minum dan energi uap yang menggerakkan mesin tersebut.

Ironisnya, di beberapa tempat kekeringan melanda sebagai akibat fenomena alam dalam bentuk berkurangnya curah hujan dan alih fungsi lahan resapan air menjadi pemukiman. Inilah yang juga terjadi di kampung halaman saya, Singosari, Malang, Indonesia. Pertambahan jumlah penduduk yang diikuti dengan berkurangnya lahan resapan air turut berperan dalam memampatkan beberapa sumber air hingga tak lagi mengalirkan air.

Tadinya saya dan banyak warga lokal berharap basis religius kota kami dan nilai-nilai agama akan membantu mengingatkan masyarakat untuk memuliakan air sebagai sumber kehidupan. Namun, itu tidak terjadi.

Budaya lokal yang berakar dari sistem kepercayaan pemuliaan terhadap para leluhur dan bersinkretis dengan ajaran Hindu dicap sebagai aliran sesat, karena menandai pohon dan hutan agar tidak ditebang dengan dupa dan bunga disebut bukan perilaku orang beragama.

Vandalisme = ‘pemberontakan’

Sementara itu, ribuan mil dari kota kecil saya, sebuah situs bersejarah berubah bentuk untuk selamanya akibat aksi vandalism oleh sekelompok aktivis lingkungan hidup yang menamakan diri mereka Just Stop Oil. Peristiwa miris ini terjadi beberapa waktu lalu, tetapi menjadi viral setelah dibahas kembali oleh Ian Miles Cheong melalui cuitannya di X.

Cuitan itu menyoroti tentang keputusan sebuah pengadilan Inggris yang membebaskan dua aktivis Just Stop Oil dari tanggung jawab atas perbuatan mereka. Awalnya, mereka diadili akibat tindakan yang menyebabkan kerusakan permanen pada Stonehenge, sebuah situs prasejarah di Salisbury, Wiltshire, Inggris. Menurut pengadilan tersebut, para aktivis berhak melakukan protes atas terjadinya perubahan iklim bahkan dengan melakukan perbuatan yang menyulut kemarahan publik, karena itulah tujuan aksi itu.

Ilustrasi: getimage

Sama halnya reruntuhan candi-candi Hindu di tempat asal saya, Stonehenge adalah seonggok batu. Meski demikian, ada saja orang-orang yang menganggap tumpukan batu bata ini bernilai dengan menjadikannya sebagai latar belakang selfie. Atau spot menonton fenomena alam memukau, seperti matahari terbenam atau gerhana matahari.

Kerusakan permanen pada Stonehenge akan menghalangi generasi berikutnya untuk berusaha memahami karakter para pendahulu mereka dengan lebih baik melalui bentuk batu yang digunakan, misalnya, atau melalui kajian tentang bagaimana batu-batu Stonehenge didirikan.

Fakta bahwa tulang belulang manusia yang terdiri dari orang dewasa dan anak-anak dikubur di lokasi yang sama bisa menjadi petunjuk tentang apa peristiwa yang terjadi di wilayah itu ribuan, atau bahkan jutaan tahun yang lalu. Bagaimana peristiwa itu membentuk karakter masyarakat, dan seterusnya.

Akan tetapi, masa lalu berbagai bangsa nyaris selalu mempunyai lembaran kelam yang membayangi masa kini dari waktu ke waktu. Sebagian orang menganggap cara cepat dan mudah untuk membebaskan diri dari samsara ini adalah ‘memberontak’: menghancurkan, merusak, atau mengabaikan segala bentuk yang menyimbolkan atau merupakan representasi masa lalu.

‘Pemberontakan’ semacam ini mulai menjadi kenormalan baru, seiring dengan perkembangan situasi yang membuat manusia merasa kehilangan kebebasan untuk menikmati kebahagiaan.

Orang-orang di kampung halaman saya tidak merasa bersalah melakukan tindakan yang merusak kelestarian mata air, karena bagi mereka masih ada air tanah (yang menurut penelitian terbaru sudah tidak layak dikonsumsi akibat pencemaran oleh pabrik-pabrik di sekitarnya). Peradaban Hindu bagi mereka adalah simbolisasi masa lampau penuh dosa. Peradaban ‘kegelapan’ yang memberdayakan potensi di sekitarnya, antara lain sejumlah mata air yang masih tersisa dan masih mereka gunakan sepuasnya sampai detik ini.  (dswas)

Kamis, 06 November 2025

Ketika Diam Benar-Benar Emas

Silence is golden” dapat diterjemahkan sebagai diam dapat menghasilkan emas. Penafsiran ini tidak sebaiknya disalahkan, karena diam benar-benar menghasilkan emas, setidaknya di abad 18. Diam yang sudah menjadi niat, bahkan dipandang sebagai salah satu cara kaum elit menikmati luang di zaman itu.

Bangsa Sumeria di Mesopotamia sudah mengenal “tanaman pembawa bahagia” alias opium sejak 3400 SM. Mengingat letak geografisnya, bukan kebetulan jika kemudian para pedagang Arab yang memperkenalkan zat pembawa kebahagiaan ini pada orang-orang China Daratan. Walaupun opium telah dicatat dalam naskah kuno China dari zaman Dinasti Tang (617-907) untuk keperluan medis.

Para pedagang Inggris di masa itu yang sedang memutar otak, mencari cara memperluas pasar. Di saat yang sama, Tentara Kerajaan Inggris baru saja menaklukkan Dinasti Mughal di India. Mereka secara tidak sengaja mendapati bahwa dinasti itu telah mengenal opium dan bahkan membudidayakan serta mengolahnya untuk dikonsumsi golongan tertentu, di antaranya para bangsawan.

Inggris telah menjalin hubungan dagang dengan China sejak 1635, walaupun dalam prosesnya perdagangan tidak dilakukan dengan tatap muka langsung antara pihak Inggris sebagai pembeli dan pedagang China. Dengan sistem makelar yang diberlakukan oleh Dinasti Qing sebagai penguasa China saat itu, hanya orang-orang tertentu yang diperbolehkan berinteraksi dengan para pedagang asing.

Ilustrasi: britannica.com

Para pedagang Inggris menjual opium pada makelar resmi yang ditunjuk otoritas China, di mana uang yang dihasilkan dari transaksi ini akan mereka gunakan untuk membeli komoditas perak dari China sebagai bahan baku mata uang logam. Para pedagang China diam-diam melakukan barter antara perak dan opium dengan para pedagang Inggris, lantaran sistem makelar oleh otoritas China dianggap penghalang mengumpulkan cuan.

‘Diam’ sebagai komoditas

Mereka yang getol mengampanyekan legalisasi zat adiktif jenis tertentu sering mengatakan “Tanaman ganja ciptaan Tuhan, dan Tuhan menciptakan seisi dunia untuk manusia. Mengapa kita dilarang menikmati ciptaan Tuhan?”  

Saya pengguna narkoba aktif beberapa tahun yang lalu, karena begitulah perjalanan hidup saya. Narkoba yang paling sering saya konsumsi ada dua, ganja dan pil leksotan (atau kadang-kadang triheksifenidil). Narkoba jenis lain yang sudah saya coba adalah sabu-sabu dan putauw.

Selain itu, saya juga pernah menjadi alkoholik selama sekitar 1,5 tahun. Total waktu saya menikmati halusinasi adalah sekitar 7 tahun, walaupun tidak berturut-turut. Ada beberapa jeda sejak saya pertama kali mengenal narkoba pada 1999, dan resmi putus darinya pada 2018 setelah mengenal yoga dan meditasi.

Alasan saya mencoba narkoba, mungkin sama dengan banyak pecandu dan pemakai narkoba lainnya di luar sana, yaitu ingin lari dari kenyataan hidup yang menyakitkan. Karena cinta yang dikhianati seorang lelaki. Karena sebuah drama percintaan yang tidak happy ending, karena kekasih yang berselingkuh.

Bukan sejarah yang membanggakan.  

Ada sesuatu dalam tanaman opium, ganja, dan sejenisnya, yang membantu manusia mendiamkan suara-suara gelisah, sedih, marah di dalam dirinya. Berbeda dengan minuman beralkohol yang cenderung memperlihatkan watak asli manusia dan menyingkap rahasia yang tak terucap, narkoba cenderung memengaruhi penggunanya untuk ‘diam’. Bagi beberapa pengguna kelas berat, ‘diam’ yang mereka butuhkan adalah ‘diam’ yang produktif mencari dan mengkaji berbagai kemungkinan untuk bisa diwujudkan dalam bentuk apa pun.

Itulah mengapa para pedagang narkoba menjual produk mereka. Karena akan selalu ada orang-orang yang tak dapat mengontrol pelampiasan emosi dengan saksama agar tidak berbalik arah, lalu berpaling ke narkoba untuk menenangkan diri. Untuk membekukan tubuh dan otak agar diam terpaku, sembari halusinasi terbang tinggi ke awang-awang.

Namun, ini bukanlah pakem yang berlaku di dunia narkoba. Karena narkoba jenis tertentu juga digunakan untuk membantu penggunanya agar lebih kuat dalam bekerja, terutama untuk bidang pekerjaan yang membutuhkan kekuatan fisik.

Salah siapa?

Era kecanduan opium massal di China digambarkan dalam beberapa film kungfu berlatar belakang sejarah China yang diproduksi sekitar akhir 90-an, salah satunya adalah sequel Once Upon A Time in China (saya lupa ke berapa) yang dibintangi oleh Jet Lee dan Rosamund Kwan. Film-film ini diproduksi di Hongkong, di era sebelum kembalinya negara pulau itu dari tangan Inggris ke China, sehingga dapat dipahami bila pesan anti Barat sangat terasa dalam film-film dari genre yang sama.

Dengan umpan-umpan yang saling berkelindan seperti timeline laman medsos kita, akan sangat mudah mempersalahkan Inggris telah dengan sengaja menyebabkan rakyat China kecanduan opium guna memperlemah mereka dari dalam. Perang Candu I sebagai peristiwa yang menjadi hasil dari meningkatnya ketergantungan pada opium di kalangan rakyat China memang dimenangi oleh Inggris.

Yang jarang diketahui orang adalah, di akhir abad 18 telah terjadi ketidakseimbangan penghasilan antara para pedagang Inggris dan China, karena para pedagang China lebih banyak menjual produk mereka pada para pedagang Inggris daripada membeli barang dagangan yang ditawarkan para pedagang Inggris (mungkin ini mengingatkan Anda pada sesuatu?).

Sebagaimana pebisnis pada umumnya, para pedagang Inggris bisa tahu bahwa opium banyak dikonsumsi di China. Mereka menjual produk pembawa kebahagiaan itu karena itulah satu-satunya produk yang dibeli para pedagang China dari para pedagang asing. Penyebabnya, Dinasti Qing telah melarang perdagangan opium, akibatnya opium menjadi barang yang langka dan otomatis harganya juga naik. Para pedagang China tentu saja tak menyia-nyiakan peluang emas ini. (dswas)

Senin, 03 November 2025

“Tidak Pernah Ada ‘Tangan Tuhan’”

Hari itu 22 Juni 1986. Argentina bertemu Inggris di laga perempat final Piala Dunia 1986, di Stadion Azteca, Meksiko. Babak pertama berlalu dengan skor kacamata, alias 0-0. Setelah turun minum, masing-masing kubu berusaha keras meningkatkan serangan segera setelah peluit panjang kembali berbunyi.

Babak kedua baru berjalan enam menit ketika Maradona mengoper bola ke Jorge Valdano dari luar kotak penalti. Valdano berusaha mencari peluang dengan melewati beberapa bek Inggris, tetapi bolanya mendarat di kaki gelandang Inggris, Steve Hodge, yang berusaha melakukan aksi penyelamatan dengan menendang bola ke arah kiper Inggris, Peter Shilton.

Maradona maju, berusaha memotong arah bola. Shilton melihat gelagat itu, ia berusaha menyelamatkan gawangnya dengan melompat dan menangkis bola dengan tangan kanannya. Maradona yang berada tepat di depan Shilton ikut melompat dan menyundul bola yang mengenai tangan kirinya. Bola mendarat di gawang Inggris, disambut gegap gempita para suporter Argentina.

Wasit asal Tunisia, Ali Ben Nasser, mengesahkan gol tersebut walau diprotes para pemain Inggris yang melihat dengan jelas tangan Maradona menyentuh bola.

Pertandingan yang akhirnya dimenangi Argentina dikenang para fans sebagai gol paling kontroversial dalam sejarah sepak bola. Ketika ditanya wartawan tentang peristiwa itu, Maradona berkilah bahwa gol bersejarah itu tercipta berkat sundulan kepalanya dan ‘tangan Tuhan’, setidaknya sampai beberapa tahun silam.

Tuhan sebagai kambing hitam?

Tahun 1986 merupakan empat tahun sejak terjadinya Perang Falkland pada 1982. Di tahun tersebut, Argentina menginvasi Kepulauan Falkland yang secara geografis masuk dalam wilayah maritim Argentina (hanya sekitar 500 km dari pesisir Patagonia yang merupakan perbatasan antara Argentina dan Chile). Kepulauan ini masih berstatus wilayah koloni Inggris, yang dipertahankan sejak era kolonial.

    Ilustrasi: pexel.com

Sekitar hampir 700 serdadu Argentina tewas dalam pertempuran yang berlangsung 10 pekan. Akibat ketertinggalan dalam hal teknologi persenjataan, Argentina takluk dan tak pernah mengulangi aksi serupa sampai sekarang. Akan tetapi, dendam masih membara di hati rakyat Argentina.

Bagi Maradona, sebagaimana dibeberkannya dalam film dokumenter biografinya, laga Argentina versus Inggris saat itu merupakan peluang untuk membalas dendam. Bukankah wajar bagi bangsa manapun untuk merasa kesal mengetahui kenyataan bahwa mereka tidak berhak atas sebuah tempat yang nyata-nyata berada di wilayah mereka?  

Dendam semacam ini terus bertahan dan tak tergerus roda zaman, bahkan muncul di banyak tempat di seluruh dunia akibat kemunculan banyak peristiwa yang kurang lebih sama. Saking banyaknya, timbul keraguan dalam hati manusia tentang kemampuan mereka mewujudkan apa yang layak mereka dapatkan, akibat harapan tinggi yang tetiba terhempas ke tanah karena tidak sesuai dengan realita.

Dalam kegelapan semacam itulah manusia berusaha mencari pegangan, yang bagi banyak orang disebut agama. Akan tetapi, lentera ini tidak menyala terang di tangan beberapa orang.  Bukan karena lentera yang bermasalah, melainkan kekurangpahaman individu yang bersangkutan untuk memperbaiki sistem pengapian di dalam lentera agar bercahaya lebih terang.

Pembebasan dari tanggung jawab

Bahkan sejak sebelum AI ditemukan untuk mempermudah tugas-tugas kita dalam memenuhi kewajiban, telah muncul pemikiran manusia untuk membebaskan diri dari tanggung jawabnya secara singkat dan cepat. Pemikiran ini muncul didasari oleh pandangan yang menganggap tanggung jawab adalah samsara yang merepotkan dan merupakan halangan bagi manusia untuk menikmati hidup sepuas-puasnya.

“Kami, rakyat Argentina, tidak tahu pasti apa yang sedang dilakukan militer Argentina. Mereka bilang kami menang perang. Tapi kenyataannya, Inggris ibarat menang 20-0 melawan kami. Rasanya menyakitkan. Suasana sebelum pertandingan begitu panas dan heroic, seolah-olah kami akan pergi berperang lagi melawan Inggris,” papar Maradona pada jurnalis yang mewawancarainya dalam film dokumenter Diego Maradona.

“Saya tahu, tangan sayalah yang membuat gol. Saya tidak berniat melakukannya, tapi hakim garis tidak melihat tangan saya menyentuh tangan saya. Wasit memandang saya dan dia bilang ‘Gol’. Rasanya sungguh nikmat, karena ini pembalasan dendam secara simbolis terhadap Inggris.”

Para fans sepak bola mengaitkan sikap Maradona dengan filosofi vivezza criolla, yang secara garis besar  berarti “kelicikan pribumi”. Frasa ini mengacu pada kecenderungan orang-orang pribumi Amerika Selatan untuk menempuh cara apapun demi mencapai tujuan, jika perlu dengan melanggar peraturan yang berlaku.

Handball (pemain selain kiper menyentuh bola dengan tangan) Maradona terjadi di dalam kotak penalti Inggris, maka seharusnya Inggris mendapat hadiah tendangan penalti ke gawang Argentina akibat pelanggaran tersebut. Maradona adalah seorang pesepakbola cerdas yang berlatar belakang religius, sehingga ia membawa Tuhan dalam argumennya tentang gol ‘ilegal’ tersebut.

Akan tetapi, Maradona telah membebaskan dirinya dari samsara yang harus ia tanggung di sepanjang karirnya dengan mengakui kesalahannya. Bahwa bukan ‘tangan Tuhan’, melainkan ‘tangan Diego’-lah yang menciptakan gol.  (dswas)

Kamis, 30 Oktober 2025

"Anugerah" Yang Membutakan Kita

Ignorance is a bliss” (Ketidaktahuan itu anugerah) yang dicetuskan pertama kali oleh Thomas Gray, sastrawan Abad Pertengahan, dalam puisinya, “Ode on a Distant Prospect of Eton College”, sering dikutip sebagai pembenaran untuk sikap menolak tahu.

Frasa dari era 1742 ini sempat sering muncul di sejumlah media sosial dalam satu tahun terakhir. Mengingat situasi global saat ini, saya tak mempersalahkan para pengutipnya. Walaupun konteks utuh frasa tersebut lebih melankolis, yaitu tentang nostalgia masa kanak-kanak yang menurut Gray lebih bahagia dibandingkan masa dewasa.

Uniknya, sejarah Inggris diwarnai perang-perang konyol yang mencerminkan perilaku di atas dan jarang dibicarakan orang di masa sekarang. Salah satunya terjadi pada 1859 di Kepulauan San Juan, saat seorang petani Amerika menembak seekor babi milik orang Inggris yang menerobos masuk ke ladangnya. Kerajaan Inggris sudah siap menerjunkan pasukan guna menanggapi insiden ‘berdarah’ tersebut, demikian pula Amerika Serikat yang saat itu belum lama merdeka.

Walaupun perang akhirnya dapat dicegah, tetapi “The Pig War (Perang Babi)” tetap tercatat dalam sejarah kedua belah pihak. Perang dalam bentuk adu argumen dan provokasi ini pun tidak menelan korban jiwa (selain si babi itu sendiri) dan masuk dalam daftar 10 Perang Terkonyol di Dunia

Ilustrasi: pexel.com

Sengaja tidak tahu berakibat fatal

Kisah di atas merupakan contoh bagaimana ketidaktahuan, dalam hal ini ketidaktahuan tentang cara memelihara hubungan dengan sesama, dapat menyulut gesekan antar individu maupun kelompok dalam masyarakat. Dewasa ini, gesekan semacam ini bukan barang langka. Seiring dengan kesulitan ekonomi yang semakin menggigit dari hari ke hari, kehendak untuk menjadi pemenang di situasi remeh temeh dianggap sebagai pelipur lara dari pahitnya kehidupan.

Amerika Serikat dan Inggris pun tak luput dari perilaku semacam ini. Track record sebagai negara pemenang Perang Dunia II meninggalkan kebanggaan yang mendalam hingga bertahun-tahun kemudian. Rasa bangga memang baik sebagai motivasi untuk membangun negara ke arah kemajuan demi kemakmuran bersama. Kekonyolan Perang Babi, sialnya, ikut bertahan karena mereka tidak tahu bahwa kemalangan yang mereka timbulkan bagi negara atau pihak lain demi mempertahankan kejayaan mereka setiap saat bisa menjadi boomerang.

Sebagai contoh, sekitar 10 sampai 20 tahun lalu propaganda tentang Amerika Serikat sebagai negara demokrasi yang maju dan makmur ditampilkan melalui media elektronik, film, musik, seni, dll. Karena sudah maju dan kaya, sejumlah tokoh, misalnya, Bill Gates, digambarkan sebagai sosok dermawan yang suka membantu sesama di negara-negara terbelakang secara ekonomi. Amerika Serikat juga membentuk badan penyalur dana kemanusiaan , yaitu USAID, yang menyalurkan dana bantuan ke berbagai LSM di seluruh dunia.

Ketika Donald Trump terpilih sebagai presiden AS, memutus anggaran untuk USAID adalah salah satu di antara sekian kebijakan penghematan anggaran di masa pemerintahannya. LSM-LSM yang sudah terbiasa menerima ‘makan siang gratis’ dari USAID selama bertahun-tahun pun kelimpungan tatkala Trump mengumumkan pemerintah AS hanya akan memberikan bantuan untuk dua negara, yaitu Mesir dan Pakistan.

Berbagai pihak yang murka dengan keputusan Trump pun melancarkan serangan balik guna mendiskreditkan AS dan kebijakan-kebijakannya. “Survival of the fittest” (ikuti arus atau mati) adalah jargon yang digembar-gemborkan para buzzer Amerika guna menangkis serangan itu. AS, yang lagi-lagi lupa bahwa beradaptasi dengan situasi agar bisa terus menyerang juga termasuk bentuk survival, menjadi pihak yang gelagapan menghadapi respons di luar perkiraannya.

Menolak berjalan dalam lingkaran

Bagi mereka yang meyakininya, agama bukanlah candu. Mereka benar. Ketidaktahuan juga candu jika terus diulang dan dipertahankan menembus batas ruang dan waktu. Penyebabnya, bagi sebagian orang menjadi tahu itu menyakitkan, seperti kata Thomas Gray di awal tulisan ini. Pengetahuan akan membuat manusia berpikir lebih panjang, dan ini sangat rumit bagi sebagian orang karena butuh waktu, tenaga, dan banyak uang. Sementara mereka merasa berhak untuk bahagia dengan cara apa pun.

Itulah mengapa kesulitan ekonomi global yang kita alami saat ini terasa panjang dan lama, seperti samsara yang terus berputar tanpa henti hingga akhir dunia. Kita berpikir dan bertindak sekadar mencari aman, baik bagi diri sendiri maupun kelompok. Kita kecanduan mempertahankan sikap bahwa kesusahan di pihak lain adalah kemenangan di pihak kita, karena merasa menang itu memang sungguh luar biasa nikmat.

Butuh keberanian untuk mencoba keluar dari samsara kesesatan pola pikir, agar tindakan kita bukan hanya memenangkan diri kita sendiri, tetapi juga “orang-orang kalah” dalam konteks cita-cita kita. Butuh keberanian untuk mengakui manusia pada dasarnya memiliki batas dan kekurangan, bahwa mengalah untuk menang bukanlah jargon kosong dan bisa dibuktikan. (dswas)

Rabu, 24 September 2025

Black September: Ketika Air Susu Dibalas Air Tuba

 “Terima kasih” adalah sebuah frasa sederhana, dan saya yakin seluruh bahasa di muka Bumi ini punya “terima kasih” versi mereka sendiri.

Ketika seseorang bersedia membantu kita untuk melakukan atau mendapatkan sesuatu, ada sesuatu yang ia korbankan. Ini bukan tentang materi, melainkan waktu. Mendengarkan keluh kesah, obrolan, atau curhatan orang lain artinya kita membuang waktu yang seharusnya kita gunakan untuk hal lain. Berinteraksi dengan orang lain berarti kita secara sadar melepaskan sesuatu yang kita miliki, agar interaksi tersebut dapat berlangsung dua arah.

Walaupun berterima kasih, atau bersyukur, sesimpel itu, tidak semua orang dapat atau bersedia meluangkan waktu untuk mengungkapkannya secara lisan, apalagi dalam bentuk tindakan. Mereka yang sudah menerima bantuan kadang ingin lebih, sehingga menganggap sepele pengorbanan waktu yang sudah dilakukan si penolong. Mungkin bagi mereka pengorbanan itu baru ada nilainya kalau berkaitan dengan uang.

Menurut pengamatan saya, sikap tidak tahu terima kasih terepik dalam sejarah tetapi jarang dibicarakan orang adalah Black September. Sebuah nama yang diberikan untuk mengenang satu peristiwa penting suatu periode dalam sejarah Timur Tengah, tatkala terjadi pertikaian antara para pejuang Palestina kontra pemerintah Yordania pada 1970. Konflik ini bukanlah konflik 'biasa', karena bertujuan menggulingkan Raja Hussein bin Talal sebagai pemerintah sah Yordania saat itu.

Pengaruh komunis?

Akibat Perang Enam Hari (5 – 10 Juni 1967) antara Israel melawan tiga negara Arab; Mesir, Suriah, dan Yordania, yang bersatu padu membela Palestina tetapi kemudian kalah, para pejuang (fidayun) Palestina mundur ke wilayah perbatasan Yordania (Karameh).

 Berdasarkan kesepakatan, para pejuang Palestina di bawah organisasi Palestine Liberation Organization (PLO) pimpinan Yasser Arafat akan meluncurkan serangan atas Israel dari Karameh (skenario serupa juga digunakan di era 2000-an dengan menempatkan para petinggi Hamas di Qatar sejak 2012). 

Serangan Israel atas kelompok ini menumbuhkan dukungan mayoritas negara Arab pada kelompok fidayun. Mengapa? Seorang Youtuber Israel berpandangan bahwa situasi yang dihadapi negaranya saat ini berpangkal dari masalah agama. Lantaran Israel adalah satu-satunya negara non Muslim di Timur Tengah, mereka harus menghadapi kenyataan digambarkan sebagai sang penjahat berwatak keji. Namun, ada kalanya persatuan di bawah bendera suatu kelompok melawan kelompok lain ini tidak kekal apabila terjadi benturan kepentingan antara berbagai pihak yang terlibat di dalamnya.

Intensitas serangan Israel ke wilayah Yordania terus meningkat paska Perang Enam Hari, karena IDF (Angkatan Besenjata Israel) bermaksud membasmi PLO yang saat itu bermarkas di Karameh. Walaupun serangan tidak ditujukan kepada rakyat Yordania, tetapi situasi itu sudah pasti menimbulkan kecemasan di hati seorang pemimpin negara, termasuk bagi Raja Hussein yang merupakan keturunan Wangsa Hasyimiyah.

Kelompok sayap kiri dalam PLO diduga mempelajari ajaran-ajaran komunis anti monarki dari berbagai sumber, yang menginspirasi mereka untuk melancarkan serangan atas Kerajaan Yordania dan menggulingkan Raja Hussein (walaupun tidak menutup kemungkinan telah terjadi fusi antara gerakan kiri dan Islam seperti pernah terjadi di Indonesia, misalnya Banten 1926). Peristiwa yang terjadi tepat 1 September 1970 ini cukup jarang dibicarakan orang, bahkan ketika wilayah yang ‘itu-itu lagi’ kembali berkonflik lagi dan lagi, melintas batas waktu dan abad.

Bekas tambang intan di Martapura, Kalimantan Selatan, 2012 (Foto: dokumen pribadi)

Adat istiadat anti kemajuan?

Dengan menyingkirkan faktor emosional dan segala jenis sentimen berlatar belakang apa pun dalam mengamati suatu peristiwa, kita mampu membuat batas antara ‘saya’ dan ‘mereka’. Kesadaran ini kita bangun bukan demi tujuan apa pun, selain sebagai langkah awal membangun wellness bagi diri kita sendiri, terlepas dari segala bentuk pencapaian duniawi (prestasi, materi, jabatan, status, dan sejenisnya). Karena sesuatu akan lebih layak disebut progress apabila tercipta keadaan yang lebih baik daripada sebelumnya, bukan sebaliknya.

Adat istiadat seringkali dianggap anti kemajuan, nostalgia kaum masa lalu yang tidak dapat menerima kenyataan zaman now. Adat istiadat dipandang menghambat langkah kaum progresif yang sudah tak sabar ingin mengusir kegelapan dan mengundang cahaya. Ajaran kebijaksanaan lokal yang berpangkal dari adat istiadat harus ditinggalkan, karena tidak membuat orang cepat kaya. Dan seterusnya.

Generasi tua pun mengalah. Mereka mundur ke tempat-tempat sepi; pegunungan, hutan, kuburan, guna memberi jalan pada generasi baru mewujudkan tekad mereka membangun bangsa ke arah kemajuan. Ide-ide luhur dari masa lalu disimpan rapat-rapat, atau dibagikan bersama kalangan sendiri yang sama-sama ingin bernostalgia mengenang kejayaan masa silam. 

Mereka menutup mulut dan menahan diri untuk mengungkapkan rahasia bahwa tanpa masa lalu, tak akan tercipta masa kini dan masa depan. Bahwa nilai-nilai yang membahana di masa leluhur bertujuan membentuk situasi guna mendukung situasi berikutnya yang belum dan mungkin akan terjadi, beribu-ribu tahun sebelum PBB mengumandangkan visi Sustainable Development Goals (SDGs). Berpangkal pada kesadaran bahwa dunia adalah hidup, dan selalu ada tunas baru yang menanti untuk tumbuh. 

Akibat darah muda yang senantiasa bergolak, kaum tua memilih tidak mengungkapkan bahwa memperjuangkan keadilan bukan perkara turun ke jalan, atau menandatangani petisi demi sekelompok orang di seberang lautan yang tak pernah kita datangi. 

Memperjuangkan keadilan sesungguhnya bisa diawali dengan satu langkah mudah, yaitu menyadarkan diri sendiri tentang hak generasi berikutnya untuk menikmati keberlimpahan, keindahan, kemurahan hati, dan nilai tinggi sumber daya alam, sebagaimana kita menikmati dan menghabiskannya.  

(dyahswas)

Jumat, 18 April 2025

Antara Mencari Kuat dan Mencari Selamat: Refleksi (Sementara) Perang Dagang

Dalam film ‘Fight Club’ (1999), seorang pria yang sedang menderita bad mood kronis mencoba mencari tantangan dengan mendirikan klub berkelahi (fight club). Sebuah klub di bar remang-remang yang mewadahi lusinan pria lain berjuang mencari jalan keluar dari kemuakan mereka terhadap hidup, yaitu dengan cara saling berkelahi satu sama lain.  

Perjalanan anak manusia menemukan makna hidup dan jati diri merupakan tema universal yang pernah dirasakan siapa pun, pada kisaran usia berapa pun. Maka tak heran bila beberapa orang mengaku menonton film yang dibintangi Brad Pitt dan Edward Norton sampai berulang kali, lantaran plot seputar eksistensi diri merupakan kepelikan abadi di tiap jaman hingga berpuluh tahun dan sampai entah kapan.

Ilustrasi: Pexels

Ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan daftar tarif resiprokal (tarif atau pembatasan perdagangan untuk satu negara sebagai respons terhadap tindakan yang sama oleh negara tersebut) bagi sederetan negara di Asia, Afrika, Eropa, Amerika, dan Australia (termasuk Indonesia) pada 2 April 2025, riak-riak emosi mulai terbit memanaskan suasana. Ini berdasarkan pantauan saya di sejumlah media lokal dan internasional, berikut akun medsos resmi mereka di Bluesky, X, dan Facebook. Narasi mereka rata-rata sama: kesal dan frustrasi.

Menurut ‘Fight Club’, adalah hantaman di wajah atau tendangan di tubuh seseorang yang dijamin mampu menggerakkannya untuk bertindak, antara fight (membalas) atau flight (lari). Rasa sakit akibat diperlakukan dengan cara tertentu telah menyeret orang itu keluar dari zona nyamannya. Tentu saja ada dorongan untuk segera membalas agar pihak tersebut tahu bahwa dipukul itu sakit dan berhenti memukul. Tokoh dalam penceritaan ini berusaha mencari penyelesaian dari segala perasaan negatif yang timbul akibat hantaman atau tendangan kepadanya.

Mencari Kuat

China dan Uni Eropa adalah dua kubu yang terang-terangan menyatakan penolakan atas tarif resiprokal Donald Trump. Bagi mereka, tarif merupakan tindakan sewenang-wenang yang mencoba melestarikan kekolotan imperialisme. Sebuah kebijakan yang sudah tak layak dan seharusnya dihindari di era perdagangan bebas, karena menghambat hak negara lain untuk maju dan unggul di bidang perdagangan.

Saya menilai penolakan China dan Eropa muncul akibat kesadaran mereka terhadap reputasi masing-masing sebagai kelompok negara maju dengan ekonomi terbesar dunia setelah Amerika Serikat. Ibarat dua orang kaya bereputasi terpuji dan dikagumi jagat raya mendadak dipaksa menerima kenyataan bahwa mereka harus tunduk pada seorang Donald Trump, yang secara reputasi tidak terlalu sempurna akibat bisnisnya yang pernah bangkrut dan kasus penggelapan uang.

Sebuah sumber mengatakan sebagian kalangan di China tidak mendukung keputusan retaliasi (pembalasan) yang dilakukan China, tetapi sumber lain menyatakan sebaliknya. Disebutkan bahwa patriotisme kini sedang membara di China, dan rakyat sepenuhnya mendukung keputusan pemerintah untuk menerapkan tarif balasan atas seluruh produk impor dari Amerika Serikat.

Mencari Selamat

Lalu bagaimana tanggapan berbagai negara lain yang juga masuk dalam daftar tarif Donald Trump? Negara tetangga Singapura, misalnya, sejak awal menyatakan tidak akan membalas. Begitu pula India. Bagi Indonesia, tarif 34% yang dibebankan atas seluruh barang impor asal Indonesia dinilai cukup memberatkan walaupun konsumen di Amerika Serikatlah yang akan menanggungnya. Tarif akan membuat produk Indonesia menjadi lebih mahal harganya, dan konsumen bisa berpaling mencari produk lain yang harganya lebih murah.

Ajakan untuk bersatu membalas Donald Trump cukup santer disuarakan di sejumlah platform daring belakangan ini. Cibiran sejumlah warga net terhadap keputusan pemerintah Indonesia yang memilih berkompromi dengan Amerika Serikat cukup membuat jengah dan telinga memerah. Namun, apabila benar-benar ditelaah dengan mengesampingkan emosi, suara-suara tersebut cenderung mengarahkan audiens untuk membela pihak tertentu.

Saran saya, anggaplah mereka suara kodok yang terus berbunyi karena Sang Maha Pencipta menciptakan mereka dengan kemampuan tersebut. Keputusan untuk meningkatkan produk impor dari Amerika Serikat sudah tepat. Sebagai negara penerima dana bantuan pemerintah AS melalui USAID untuk berbagai sektor, seperti kesehatan, pendidikan, dan penanggulangan bencana, sudah sepatutnya Indonesia membalas budi baik AS dengan membantu menyelesaikan masalah yang tengah dihadapi negara adidaya ini, yaitu defisit perdagangan. Jangan sampai dunia mengenal Indonesia sebagai bangsa yang tidak tahu terima kasih.  

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...