Sabtu, 31 Oktober 2026

Cara Move On di Tengah Kebuntuan Stagflasi

DPR Inggris (UK House of Commons) terpana tak percaya ketika politisi Partai Konservatif dan mantan Chancellor of the Exchequer (Menteri Keuangan Inggris) Iain Macleod mengemukakan pendapatnya tentang stagflasi di depan majelis sidang 17 November 1965. Sektor finansial Inggris saat itu juga menolak pemikiran Macleod, karena mereka tak percaya inflasi dan stagnasi ekonomi bisa terjadi di waktu yang sama.  

“Saat ini kita tengah mengalami dua hal terburuk dari masing-masing sektor – bukan hanya inflasi di satu sisi atau stagnasi di sisi lain. Keduanya terjadi bersamaan,” ujarnya saat itu.

Pemerintah dan Menkeu Inggris kala itu, James Callaghan, membantah pandangan Macleod karena ilmu ekonomi era 1960-1970-an yakin pengangguran dan stagnasi tidak mungkin bisa terhadi bersamaan. Macleod dianggap sedang berilusi. Para ekonom Inggris di masa itu yakin ekonomi mampu menyeimbangkan dirinya sendiri apabila pemerintah mampu mengelola harga dan pendapatan.

Masalahnya, para ekonom Inggris di era 1960-1970-an lupa memperhitungkan satu faktor krusial, yaitu hawa nafsu manusia. Secara teori, semua manusia dan seluruh pemerintahan dapat melewati masa inflasi dengan aman hingga akhirnya tercapailah kestabilan ekonomi. Dengan satu syarat: mereka bersedia menyambut ‘kenormalan baru’ dengan tulus dan ikhlas.

Menurunkan standar hidup yang sudah terlanjur tinggi dengan mengurangi pengeluaran, itulah kenormalan baru yang saya maksud. Rakyat biasa mungkin tidak akan menemui kesulitan berarti untuk memulainya. Namun, bagaimana dengan para pejabat dan anggota Kerajaan Inggris? Mampukah mereka menurunkan standar hidup dari makan tiga kali sehari menjadi dua kali sehari, misalnya?


Ilustrasi: Candi Srigading, Lawang, Malang. 


‘Pergi dan jangan kembali’

Masyarakat penganut kepercayaan tradisional di seluruh belahan dunia menjalankan tata cara yang sekilas aneh di mata kita, orang-orang modern. Asal tahu saja, ada satu prinsip yang mereka pegang teguh, bahkan hingga saat ini: seseorang yang sudah meninggal tidak akan mungkin bangkit lagi.

Masyarakat penganut Kepercayaan Asli Siberia memakamkan jenazah di puncak gunung atau di tengah hutan lebat. Beberapa suku Siberia yang hidup nomaden bahkan berpindah tempat ketika ada anggota mereka yang meninggal. Jenazah mereka tinggalkan jauh-jauh menyiratkan kesediaan mereka untuk melepaskan kepergian si orang yang sudah meninggal, dan mereka tak ingin mendiang mencari mereka.

Masyarakat yang kita anggap terbelakang ini tampaknya sudah mengerti bahwa jenazah yang mengalami proses dekomposisi akan menghasilkan cairan dan bakteri berbahaya untuk kesehatan. Tanah dan air tanah bisa tercemar jika jenazah atau area pemakaman tidak ditempatkan dalam jarak aman.

Maka cukup beralasan bila sejumlah sumber menyebut masyarakat Kepercayaan Asli Siberia menganggap pemakaman sebagai wilayah terlarang. Tidak boleh ada aktivitas di area tersebut, sehingga tidak ada tempat sakral atau tempat ibadah yang mereka dirikan di pemakaman. Apalagi rumah untuk tempat tinggal. Dan penyebabnya ternyata bukan karena mereka takut sama hantu kuburan. 


Bangkit dari ‘koma’

Bagi cukup banyak orang, stagflasi itu keadaan koma, dalam arti yang sesungguhnya. Bayangkan saja, peluang mendapat penghasilan semakin menyempit ketika biaya hidup melejit ke angkasa dan entah kapan akan mendarat lagi. Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk keluar dari situ, stuck. Hanya rasa lapar dan haus yang bisa memaksa kita untuk terus bernafas dan bergerak.

Katakanlah stagflasi itu seseorang yang sudah meninggal, maka yang bisa kita lakukan adalah menerima kenyataan. Membohongi diri sendiri bahwa si mendiang akan kembali suatu saat nanti sama artinya dengan berpura-pura situasi ekonomi kita sedang baik-baik saja. (dswas).

Sabtu, 24 Oktober 2026

Cara Menghadapi ‘Hari Kiamat’

Riuh rendah dari sektor ekonomi dan finansial tak kunjung usai, sementara alam menunjukkan taringnya dengan beragam fenomena kebencanaan. Mulai dari wabah, gempa bumi, banjir bandang, kekeringan, hingga kebakaran. Klop sudah.

Saking lengkapnya tantangan hidup yang harus dihadapi manusia sepanjang 2026, segelintir orang pun bertanya-tanya, “Apakah kiamat memang sudah dekat?”. “Apakah ini kiamat?” tanya segelintir lainnya.

Bila ya, saya memprediksi tak sedikit orang yang akan menyambutnya dengan suka cita. Ya, Anda tidak salah membaca. Siapa saja yang termasuk golongan ini, kita tidak akan pernah tahu. Jangan-jangan orang terdekat kita sendiri; sanak saudara, teman kerja, tetangga, atau mungkin orang asing yang duduk di sebelah kita dalam komuter.

Jutaan manusia di Bumi geleng-geleng kepala menonton sepak terjang para tokoh terkemuka, ketika mereka dibombardir deretan kabar buruk terkait situasi alam di berbagai penjuru dunia. Seorang kenalan saya menjelaskan, situasi saat ini sudah terlalu parah untuk diperbaiki.

Andaikata ada niat untuk itu pun, para inisiatornya mungkin akan bingung mulai dari mana. Antara membenahi mindset manusia atau memperbaiki alam sekitar, mana yang harus didahulukan. Dua-duanya sudah mengalami kerusakan parah, sehingga menghancurkannya hingga rata dengan tanah adalah solusi satu-satunya. Benarkah demikian?


Ilustrasi: Situs Sumur Windu Kendedes, Polowijen, Malang. 


Kiamat terus berputar

Sebagaimana para penganut aliran kepercayaan pada umumnya, masyarakat Kepercayaan Asli Siberia tidak mengakui adanya Hari Kiamat. Waktu terus berputar, demikian juga penghidupan. Keduanya tidak bergerak dalam garis lurus untuk mencapai titik akhir, melainkan siklus yang terus berputar.

Layaknya sesajen yang mereka suguhkan di tepi sungai atau hutan, dalam satu sampai dua hari masih tampak segar. Hari berikutnya, sesajen dalam bentuk makanan atau bunga akan mengalami pembusukan hingga akhirnya kembali ke tanah. Namun, sesajen itu sendiri bukanlah yang terakhir. 

Bencana dan sederet kesulitan hidup yang hadir sebagai hasil ketidakharmonisan diterima dengan tulus. Bukan karena mereka malas berusaha atau pasrah dan suicidal (ingin lekas mati).

Memang, ada sebuah periode gelap ketika kasus bunuh diri mengalami peningkatan di kalangan komunitas adat Siberia. Masa memilukan ini terjadi tak lama setelah mereka berinteraksi dengan paham-paham dari luar wilayah. Saya menganggapnya sebagai semacam gegar budaya.

Pengaruh luar tidak dapat dihindari walaupun telah berusaha keras mengisolasi diri. Maka jalan satu-satunya adalah membangun ‘sel-sel’ baru yang cukup kuat untuk menyeimbangkan diri dengan pengaruh luar. Bukan sesuatu yang mudah, memang. Apalagi kapasitas individu komunitas itu sendiri juga bervariasi.

Namun, masyarakat Kepercayaan Asli Siberia menganggap inilah satu-satunya cara mereka menghadapi kiamat, yang dalam konteks ini bermakna peristiwa buruk maha dahsyat. Satu peristiwa buruk yang telah usai akan disusul peristiwa buruk lagi dan lagi. Akan selalu ada peristiwa buruk yang lebih buruk dari situasi sebelumnya. Mereka tidak menuntut jawaban untuk pertanyaan “mengapa kiamat terjadi?”, karena yang mereka butuhkan adalah tindakan nyata.  

 

Hidup itu ‘indah’  

Memang terdengar klise, tetapi benar ‘kan? Bersiap menyongsong Hari Akhir itu memang perlu, karena kita dianjurkan untuk selalu siap terhadap berbagai kemungkinan. Kita memilih bersiap untuk kemungkinan terburuk, karena terlalu sering berharap dan kecewa. Akibatnya, kita cenderung takut menghadapi Hari Kiamat, Hari Akhir, Akhir Zaman, Hari Penghabisan, dsb.

Orang bijak berkata, masa depan akan terbentuk sesuai mindset kita. Apabila kita membiarkan diri kita dikuasai rasa takut akan hari depan, jangan heran memandang sekeliling di mana kita berada dewasa ini. (dswas)

Minggu, 18 Oktober 2026

Masalah Ekonomi Singkirkan Kesepian – Benarkah?

Kesepian seorang diri tanpa ada yang menyayangi dan peduli .. Saya jamin kamu tak akan merasakannya kalau bersedia tinggal di Indonesia, terutama di daerah pinggiran atau pedesaan, di pulau atau kota mana pun.

Penyebabnya bukan karena orang Indonesia ramah-ramah dan baik hati, bukan. Bukan karena kami senang menolong orang lain atau tetangga yang sedang kesusahan. Bukan juga karena kami punya kebiasaan bergotong royong menyelesaikan suatu pekerjaan untuk kepentingan umum. Karena kami menganggap semua orang punya derajat yang sama, baik kaya maupun miskin? Ah, bukan itu juga ‘kali.

Sebagaimana pemberitaan media, nama Indonesia mendadak “mendunia” akibat kebakaran hutan di sejumlah wilayah yang memengaruhi keberlangsungan hidup manusia, hewan, dan tumbuhan di area terdampak.

Tidak berarti area yang tidak terdampak kebakaran hutan tidak bebas masalah. Bila bukan banjir, masyarakat harus membiasakan diri dengan cuaca panas, siang dan malam, yang berujung kekeringan dan krisis air. Selain itu, mereka juga perlu membiasakan diri dengan stagflasi global yang berakibat kenaikan seluruh harga dan minimnya lapangan kerja.

Tumpukan masalah yang berpangkal dari masalah ekonomi memaksa mereka untuk lebih fokus, baik dalam bekerja ataupun membelanjakan pendapatan. Yang masih single fokus bertahan hidup, sementara yang sudah berkeluarga fokus mempertahankan hidup keluarganya.

Bagi sebagian besar warga di situasi demikian, waktu berjalan terlalu cepat. Pagi terlalu singkat berubah jadi malam, sementara uang yang dihasilkan belum cukup untuk keperluan mereka.  Bagi mereka, tiada waktu untuk merasa kesepian.  


Ilustrasi: Panorama Gunung Arjuno di Sumber Kalimangun, Randuagung, Malang. 


Warisan kesedihan

Dalam sudut pandang Kepercayaan Asli Siberia, kesepian bukan saja timbul akibat kebutuhan akan kasih sayang yang kurang atau tidak terpenuhi. Bagi mereka, bermigrasi ke tempat dengan cuaca dan temperatur yang lebih bersahabat tidak serta-merta menjadi solusi untuk cita-cita hidup yang lebih baik dan lebih beradab.

Ada rasa kehilangan dalam benak para pendahulu ketika mereka terpaksa patuh pada larangan menjalankan aktivitas ritual kepercayaan asli di tempat yang baru. Mereka tidak kuasa untuk menolak peraturan baru bukan karena tidak berani melawan. Orang-orang dekat mereka (tetangga, kerabat, saudara/i) telah lebih dulu yakin bahwa kepercayaan asli adalah sesuatu yang harus ditinggalkan, dengan sederet alasan.

Para tetua komunitas Asli Siberia menyembunyikan homesickness mereka rapat-rapat, sebagai bentuk dukungan untuk generasi di bawah mereka yang menginginkan masa depan lebih cerah. Akan tetapi, beban emosional ini memengaruhi tindak-tanduk mereka sehari-hari, termasuk cara mereka berinteraksi dengan anak dan cucu mereka.   

Dari sinilah rasa kesepian, melankoli yang tak dapat dijelaskan itu diwariskan ke beberapa generasi berikutnya. Lebih dari sekadar identitas yang hilang ketika suatu kelompok masyarakat memutuskan untuk “terlahir kembali” dengan meninggalkan kepercayaan lama mereka.

 

Bebas dari kesepian

Pengakuan pemerintah Rusia atas keberadaan suku-suku tradisional Siberia merupakan salah satu faktor yang menggugah mereka untuk membangun jati diri kembali; untuk mencari jalan pulang menuju kebijaksanaan leluhur yang telah lama ditinggalkan.

Dewasa ini, tak ada lagi rasa takut di benak mereka untuk menyuguhkan sesajen di tepi hutan atau di bawah pohon. Tak ada rasa khawatir soal pertanyaan tamu yang datang ke rumah tentang sesajen yang dipasang di ruang tamu atau meja makan. Mereka bebas dari buruk sangka masyarakat yang tidak menganut kepercayaan yang sama lantaran meninggalkan sesajen di tempat umum.

Mereka juga tak khawatir terhadap hukuman dalam bentuk apa pun di hari akhir nanti. Sesajen yang mereka haturkan bukanlah bentuk perlawanan atau ingkar terhadap Sang Pencipta jagat raya, mengapa harus takut?   (dswas). 

Minggu, 27 September 2026

Agar Tetap Aman dan Selamat Saat El Niño Melanda

Secara literal, El Niño bermakna ‘si bocah’. Orang mengira Fernando Torres menjadi satu-satunya pesepakbola yang dianggap paling layak menyandang julukan ini dalam sejarah sepak bola berkat kepiawaiannya di lapangan. Satu hal yang mengantarkannya menjadi satu-satunya jendral lapangan di usia 19 tahun bersama Atlético Madrid pada eranya.

Saat dipromosikan ke klub senior Atlético, Torres masih berumur 16 tahun. Rekan-rekan setimnya awalnya meragukan kemampuannya karena raut mukanya yang lugu seperti anak-anak. Mereka tak menganggap namanya penting, sehingga semua memanggilnya ‘si bocah’.

Dipandang sebelah mata tak membuat Torres muda gentar. Ia bahkan tak meninggalkan klub di mana ia mengenal sepak bola di usia 11 tahun, saat Atlético Madrid terdegradasi ke divisi dua pada Mei 2000.

Musibah besar itu didahului oleh krisis kepemimpinan di tubuh klub pemenang gelar ganda La Liga dan Copa del Rey 1996, yang berakibat hengkangnya para pemain top dan senior. Penurunan status berakibat hilangnya kepercayaan sponsor, sehingga klub tak mampu membeli dan membayar pemain berkelas.

Inilah mengapa Torres ditunjuk menyandang ban kapten dan berhak memimpin para pemain yang berusia lebih tua darinya. Keterbatasan finansial telah memposisikan dirinya sebagai kapten tim, karena klub hanya bisa mengandalkan para pemain lulusan akademi sepak bola mereka.

Nama Torres mencuat berkat kemampuannya yang dianggap di atas rata-rata rekan-rekan sekelasnya saat itu.  Ia menjadi satu-satunya lulusan akademi Atlético yang dinobatkan menjadi FIFA Player of the Year (2008) dan menempati peringkat tiga Ballon d’Or di tahun yang sama. 


Ilustrasi: Bulan purnama di Mulyoagung, Dau, Malang. 


‘Berkah’ ketidakseimbangan alam

Mencermati kisah Torres di atas, cukup manusiawi jika kita berandai-andai El Niño Samudra Pasifik yang diramalkan akan berlanjut hingga awal 2027 juga akan berakhir dengan happy ending pada saatnya nanti.

Sebagai fenomena cuaca, El Niño merupakan sebutan bagi peningkatan suhu air laut secara tiba-tiba yang memengaruhi siklus cuaca di berbagai wilayah di sekitarnya. Sedangkan peningkatan suhu air laut itu sendiri, menurut para ilmuwan, dapat disebabkan berbagai faktor. Terutama aktivitas manusia dalam memanfaatkan sumber daya alam.

Kota yang saya tinggali sejak kecil bersama keluarga termasuk salah satu wilayah yang terdampak cukup keras fenomena El Niño. Tak jauh dari rumah kami, areal persawahan mengering dan sumur-sumur penduduk mulai kehilangan air. Siang hari terasa sangat panas, dan cukup banyak warga yang mulai jatuh sakit.

Sejumlah orang yang saya temui tidak terkejut dengan situasi ini. Eksploitasi alam di kota kami memang terus meningkat sejak beberapa tahun terakhir. Konsekuensi menjadi tak terelakkan, cepat atau lambat. Dalam diam mereka telah punya bayangan tentang apa yang dapat menimpa kota mereka jika rem eksploitasi blong.

Kedatangan El Niño kami pandang sebagai pengingat untuk lebih berhati-hati dalam memperlakukan alam, untuk kembali memberikan pengakuan pada pepohonan, mata air, dan tempat-tempat tertentu yang pernah dianggap suci.

Pengakuan yang diwujudkan dalam bentuk menghaturkan sesajen sesuai tata cara di lokasi tersebut. Sebuah aktivitas yang menyimbolkan kerendahan hati dan permohonan maaf pada alam raya karena tindakan sewenang-wenang yang pernah kami lakukan terhadapnya.

Memang, jumlah warga yang berpikiran seperti ini tidak banyak. Akan tetapi, mendadak tersadar dari kekeliruan adalah sebuah ‘berkah’ yang akan menyelamatkan diri kita sendiri di kemudian hari.

Kita tidak dapat membatalkan dampak sebuah kesalahan dalam mengambil keputusan, atau meminta Sang Pencipta untuk melenyapkan kesalahan itu hingga seolah tak pernah terjadi. (dswas).

Sabtu, 19 September 2026

Trik Jitu Hilangkan Rasa Benci Pada Leluhur

26 Desember 1991, sekitar 30 juta warga etnis Rusia mendadak menemukan diri mereka menjadi warga negara asing, sepersekian detik setelah bendera Uni Soviet diturunkan untuk selamanya. Sebuah kesepakatan politik telah mencabut privilese mereka sebagai warga “negara ibu kota”, bukan perang atau huru-hara.

30 juta orang Rusia tinggal di Kazakhstan, Ukraina, dan negara-negara Baltik saat penurunan bendera palu arit Soviet disiarkan di layar televisi. Mereka tinggal di negara-negara yang kini menyandang predikat sebagai eks Uni Soviet, suatu wilayah yang sebelumnya harus meminggirkan identitas lokal masing-masing untuk dipersatukan oleh satu identitas resmi.

Konflik di sejumlah wilayah Eropa Timur hari ini sebagian besar merupakan buah dari api-api kecil menahun di antara warga diaspora Rusia dengan warga lokal wilayah eks Uni Soviet. Warga lokal merasakan trauma mendalam akibat berbagai kebijakan negara yang pernah membiayai mereka dan sudah bubar. Di sisi lain, warga imigran Rusia menganggap situasi mereka merupakan akibat kebijakan orang-orang yang seharusnya mengayomi mereka.

Warga Estonia, Latvia, Lithuania, Moldova, Armenia, Azerbaijan, dan tentu saja, Ukraina, sampai dengan saat ini masih berjuang guna menemukan kembali identitas mereka yang pernah hilang. Sementara warga diaspora Rusia yang tinggal di negara-negara itu juga sedang berjuang untuk beradaptasi dengan upaya pemerintah setempat menanggalkan bayang-bayang Soviet. Di antaranya, tidak lagi menggunakan Bahasa Rusia sebagai bahasa resmi.


Ilustrasi: Pohon randu di Situs Tejosari, Singosari, Malang. 


Akhir adalah awal  

Orang tua, kakek nenek, buyut, pendahulu, leluhur … Semua kata ini punya satu makna literal yang secara konteks hampir sama, yaitu mereka yang telah ada atau lahir sebelum kita, mereka yang secara kebetulan merupakan pihak yang menjadi penyebab Anda hari ini ada di sini membaca blog saya.

Berhubung mereka adalah manusia biasa seperti kita, terkadang kita dibuat bingung oleh berbagai tindakan dan atau keputusan yang mereka ambil. Hal ini terjadi karena kita dan mereka hidup di dua era yang berlainan, tantangan dan situasi yang melatarbelakangi keduanya juga tidak sama.

Komunitas Asli Siberia menganggap berakhirnya era Uni Soviet sebagai momen ‘kembali ke settingan pabrik’, momen untuk membangun ulang. Pengetahuan peninggalan nenek moyang kembali dipelajari oleh generasi kekinian Siberia, generasi yang mulai mengenal jagat modernitas setelah pemerintah Soviet membangun sekolah-sekolah di Siberia di masa kejayaannya.

Tanpa bansos pemerintah Uni Soviet yang biasa mereka dapat selama 1950an sampai 1980an, masyarakat asli Siberia sempat mengalami kesulitan ekonomi yang berujung depresi, bahkan peningkatan kasus bunuh diri.

Republik Federasi Rusia yang terbentuk mengikuti pembubaran Uni Soviet kemudian memberlakukan Undang-undang Republik sejak musim semi 1992, yang menjadi dasar pendirian beberapa republik independen. Republik Sakha (Yakutia) termasuk salah satunya. Republik baru inilah yang selanjutnya menaungi sejumlah suku masyarakat asli Siberia hingga saat ini.

Inilah momen yang menjadi titik restart bagi sebagian besar masyarakat asli Siberia untuk membangun kembali kebijaksanaan lokal dan nilai-nilai peninggalan leluhur yang telah lama mereka tinggalkan.

Sesuatu untuk dipegang

Dengan tetap menjalankan kebiasaan tradisional, seperti meletakkan sesajen di hutan, sungai, atau tepi laut, masyarakat Kepercayaan Asli Siberia memelihara keterkaitan mereka dengan cikal bakal. Dengan sebuah titik yang menjadi awal keberadaan mereka.

Dinamika politik dan ekonomi memang menjadi ‘kejutan’ bagi mereka, bagi segala kelompok etnis di mana pun di dunia ini. Oleh karena itu, kita semua membutuhkan sesuatu untuk dipegang agar tidak terjatuh saat guncangan keras melanda. Seandainya jatuh tidak dapat dihindari, paling-paling kita hanya memar sedikit dan tidak terluka parah.  (dswas)

Sabtu, 12 September 2026

Buang Sampah Sembarangan = Mental Tidak Sehat, Mengapa?

Saya tidak akan meminta maaf bila judul di atas terdengar terlalu kasar bagi Anda, karena inilah kenyataan.

Entah karena minimnya tempat pembuangan sampah, atau tidak mampu membayar iuran kebersihan, sungai, mata air, dan tanah lapang dijadikan tempat sampah terbuka bagi segolongan orang. Kabar buruknya, jumlah golongan ini lumayan banyak.

Seandainya saja benda-benda yang kita gunakan setiap hari juga terbuat dari bahan-bahan yang mudah terurai, sampah mungkin tidak akan menjadi masalah besar. Longsoran sampah yang mengakibatkan korban jiwa di sebuah tempat pembuangan sampah akhir di Indonesia beberapa waktu lalu terdengar surreal.  

Di sisi lain, sejumlah orang mencoba mengatasi masalah bertumpuknya sampah dengan cara dibakar. Sebuah keputusan yang ujung-ujungnya berpotensi mengundang bahaya kebakaran dan gangguan pernapasan.

Saya yakin sebagian besar dari kita sudah tahu dan mendapat bekal informasi tentang masalah sampah. Namun, desakan dari dalam hati untuk secepat mungkin menyingkirkan hal tidak menyenangkan bernama sampah rupanya terlalu kuat.

Sejumlah situasi yang disebutkan di atas menunjukkan kecenderungan kita mencari jalan termudah, walaupun cara itu tidak disarankan dan sering dikampanyekan sebagai tindakan merugikan. Lalu ke mana hilangnya semua pengetahuan itu ketika dihadapkan pada situasi memiliki sampah yang harus enyah agar kenyamanan kita tidak terganggu? 


Ilustrasi: Panorama Gunung Arjuna, Dau, Malang. 


Jiwa yang hilang

Dari sini saya rasa Anda sudah sedikit memahami mengapa saya menyebut perilaku buang sampah sembarangan, atau memusnahkan sampah dengan cara mudah tapi berbahaya, merupakan gejala ringan ada yang tidak beres dalam diri kita.

Bersikukuh melakukan tindakan yang bertentangan dengan pengetahuan kita menunjukkan adanya perang jangka panjang dalam diri kita. Pertentangan dari dalam yang tidak dapat kita selesaikan, tetapi mewujud dalam tingkah laku sehari-hari.

Dunia medis menyebut kondisi tersebut sebagai depresi, skizofrenia, stress, anxiety, bipolar, dsb. Suatu kondisi kesehatan yang juga tidak asing bagi para pemeluk Kepercayaan Asli Siberia.

Dalam sudut pandang mereka, suatu peristiwa memilukan dan traumatis telah merampas kebahagiaan si penderita untuk selamanya. Si penderita menyadari apa yang ia rasakan, tetapi goncangan terlalu kuat sehingga jiwanya tidak mau kembali.

Pemicu depresi itu sendiri biasanya bermula dari pelanggaran terhadap norma dan aturan tidak tertulis dalam masyarakat, atau eksploitasi alam berlebihan. Melihat sungai yang kotor atau hutan yang terbakar, misalnya, menimbulkan rasa gundah gulana yang pada gilirannya mengikis segala ketenangan dan kedamaian.

Mempersiapkan sesajen untuk dihaturkan kepada para leluhur dianggap sebagai salah satu cara untuk mengatasi perasaan negatif ini. Si penderita akan melatih dirinya untuk kembali bersemangat melalui aktivitas menata suguhan dengan penuh kasih sayang, serta ketulusan.

 

Memutus ‘lingkaran setan’

Apabila sungai kotor menimbulkan rasa tidak nyaman dalam diri kita, lalu mengapa, atau apa yang mendasari keputusan kita untuk membuang sampah ke sungai pertama kalinya dalam hidup kita? Ketika rasa kita menjadi negatif akibat perbuatan seseorang yang diperlihatkan di muka umum, mengapa kita justru ikut melakukannya?

Ini sedikit contoh pertanyaan-pertanyaan yang wajib muncul dalam benak kita, sebelum kerusakan meluas berikut dampaknya.

Sebagai mantan penderita gangguan kesehatan mental, saya yakinkan Anda bahwa obat terbaik berasal dari tekad kita sendiri untuk bangkit. Jalan berliku dan salah jalan memang harus dan akan kita hadapi sebagai konsekuensi berbagai langkah keliru yang kita ambil di fase sebelumnya. (dswas). 

Sabtu, 05 September 2026

Cara Mempersiapkan Diri Untuk Kemarau Sampai 2027

“Don’t Know What You Got Till It’s Gone” oleh Cinderella pasti dikenal para remaja 80-90-an yang rambutnya sudah mulai memutih saat ini. Para kritikus musik rock Inggris di era itu menyebut lagu rock ballad ini sebagai bukan lagu rock, melainkan slogan sebuah merek soft drink terkenal.

Sementara kritikus Britania Raya lainnya menyindir sang vokalis sekaligus penciptanya, Tom Keifer, menyanyi dengan suara husky (serak-serak basah) karena kecapaian dan butuh istirahat.

Saya memprediksi lagu ini akan kembali menjadi favorit dalam waktu dekat, mengiringi tersadarnya kita tentang berbagai hal yang telah atau akan segera hilang. Hal-hal yang sebelumnya ada, lazim, dan bukan sesuatu yang istimewa, sampai mereka benar-benar lenyap dari kehidupan kita sehari-hari. Misalnya, air, sinar matahari, dsb.

Beberapa waktu lalu, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengumumkan fenomena El Niño yang berkarakter suhu panas dan kering disertai angin kencang masih akan berlangsung di sebagian besar Asia Tenggara hingga awal 2027. Sementara dalam kurun waktu sama, benua Amerika mengalami curah hujan tinggi yang berpotensi banjir bandang.

Hujan, atau panas, yang biasa kita persalahkan karena sering datang tanpa diundang saat kita tengah beraktivitas, mendadak hilang untuk waktu yang lama tergantung di mana Anda tinggal saat ini. Ilmu pengetahuan telah berhasil mengungkap berbagai faktor penyebabnya, tetapi belum berhasil merumuskan langkah jitu untuk mengakhiri anomali tersebut. 


Ilustrasi: Pohon randu raksasa di tengah asap bakaran sampah, Singosari Malang. 


Melatih kewaspadaan  

Ketika seorang pedagang mengalami kerugian, ia akan melakukan apa yang ia bisa guna menutup celah dalam pembukuannya. Akan tetapi, cuaca tidak berwujud sejelas uang atau benda lainnya. Tingkat keberhasilan manusia memanipulasi cuaca dengan aktivitas mereka hanya mencapai 10%. 90% lainnya bergantung pada dinamika alam.

Para penganut Kepercayaan Asli Siberia sudah menyadarinya sejak lama. Mereka tinggal di tengah alam yang moody, kadang bersahabat dan kadang tidak. Namun, mereka tidak meninggalkan Siberia yang dingin menusuk tulang, karena para pendahulu mereka sudah mengajarkan bagaimana bertahan hidup.

Sesajen yang mereka buat sesuai kebiasaan aliran kepercayaan masing-masing bukan berfungsi sebagai “sogokan” agar suatu kekuatan gaib di luar sana mau membantu mereka. Bukan demi membujuk sinar matahari mendadak muncul dan memberikan kehangatan.  

Untuk menyiapkan sesajen, si penyedia mengorbankan waktu, tenaga, dan materi yang seharusnya bisa ia gunakan untuk hal lain. Belum lagi timbunan sampah yang dihasilkan sebagai sisa dari sesajen yang telah mengering atau membusuk.

Bukankah tidak rasional menyuguhkan secangkir kopi atau vodka pada seseorang yang secara fisik tidak terlihat?

Bagi masyarakat penganut Kepercayaan Asli Siberia, kebiasaan menyuguhkan sesajen saat masuk dalam hutan untuk berburu atau sebelum memancing di perairan merupakan kerendahan hati yang dimanifestasikan atau diungkapkan.

Mereka yang berangkat ke alam bebas dengan rendah hati punya peluang lebih besar untuk pulang dengan selamat. Mengapa? Psikis orang yang rendah hati cenderung datar dan tenang, sehingga tidak timbul kepanikan atau histeria ketika harus berhadapan dengan hal-hal tak terduga.    

 

Lapang dada

“Bagaimana kalau kita kehabisan air minum?”, “Lari ke mana kita kalau banjir datang?” dan banyak pertanyaan sejenis mungkin timbul di benak kita seiring dengan pengumuman resmi WMO di atas. Saya anggap itu wajar, karena siapa pun tidak akan betah hidup dengan ketidakpastian.

Di sinilah kematangan psikologis akan tampil sebagai penyelamat Anda dan keluarga. Semacam sebuah “kepatuhan” pada sebuah kesimpulan bahwa tidak semua hal dalam dunia nyata berjalan mengikuti kehendak kita.  (dswas). 

Cara Move On di Tengah Kebuntuan Stagflasi

DPR Inggris (UK House of Commons) terpana tak percaya ketika politisi Partai Konservatif dan mantan Chancellor of the Exchequer (Menteri Keu...