DPR Inggris (UK House of Commons) terpana tak percaya ketika politisi Partai Konservatif dan mantan Chancellor of the Exchequer (Menteri Keuangan Inggris) Iain Macleod mengemukakan pendapatnya tentang stagflasi di depan majelis sidang 17 November 1965. Sektor finansial Inggris saat itu juga menolak pemikiran Macleod, karena mereka tak percaya inflasi dan stagnasi ekonomi bisa terjadi di waktu yang sama.
“Saat ini kita tengah mengalami dua hal terburuk dari
masing-masing sektor – bukan hanya inflasi di satu sisi atau stagnasi di sisi
lain. Keduanya terjadi bersamaan,” ujarnya saat itu.
Pemerintah dan Menkeu Inggris kala itu, James Callaghan,
membantah pandangan Macleod karena ilmu ekonomi era 1960-1970-an yakin
pengangguran dan stagnasi tidak mungkin bisa terhadi bersamaan. Macleod
dianggap sedang berilusi. Para ekonom Inggris di masa itu yakin ekonomi mampu
menyeimbangkan dirinya sendiri apabila pemerintah mampu mengelola harga dan
pendapatan.
Masalahnya, para ekonom Inggris di era 1960-1970-an lupa
memperhitungkan satu faktor krusial, yaitu hawa nafsu manusia. Secara teori,
semua manusia dan seluruh pemerintahan dapat melewati masa inflasi dengan aman
hingga akhirnya tercapailah kestabilan ekonomi. Dengan satu syarat: mereka
bersedia menyambut ‘kenormalan baru’ dengan tulus dan ikhlas.
Menurunkan standar hidup yang sudah terlanjur
tinggi dengan mengurangi pengeluaran, itulah kenormalan baru yang saya maksud.
Rakyat biasa mungkin tidak akan menemui kesulitan berarti untuk memulainya.
Namun, bagaimana dengan para pejabat dan anggota Kerajaan Inggris? Mampukah
mereka menurunkan standar hidup dari makan tiga kali sehari menjadi dua kali
sehari, misalnya?
‘Pergi dan jangan kembali’
Masyarakat penganut kepercayaan tradisional di seluruh
belahan dunia menjalankan tata cara yang sekilas aneh di mata kita, orang-orang
modern. Asal tahu saja, ada satu prinsip yang mereka pegang teguh, bahkan
hingga saat ini: seseorang yang sudah meninggal tidak akan mungkin bangkit
lagi.
Masyarakat penganut Kepercayaan Asli Siberia memakamkan
jenazah di puncak gunung atau di tengah hutan lebat. Beberapa suku Siberia yang
hidup nomaden bahkan berpindah tempat ketika ada anggota mereka yang meninggal.
Jenazah mereka tinggalkan jauh-jauh menyiratkan kesediaan mereka untuk
melepaskan kepergian si orang yang sudah meninggal, dan mereka tak ingin
mendiang mencari mereka.
Masyarakat yang kita anggap terbelakang ini tampaknya sudah
mengerti bahwa jenazah yang mengalami proses dekomposisi akan menghasilkan
cairan dan bakteri berbahaya untuk kesehatan. Tanah dan air tanah bisa tercemar
jika jenazah atau area pemakaman tidak ditempatkan dalam jarak aman.
Maka cukup beralasan bila sejumlah sumber menyebut
masyarakat Kepercayaan Asli Siberia menganggap pemakaman sebagai wilayah
terlarang. Tidak boleh ada aktivitas di area tersebut, sehingga tidak ada
tempat sakral atau tempat ibadah yang mereka dirikan di pemakaman. Apalagi
rumah untuk tempat tinggal. Dan penyebabnya ternyata bukan karena mereka takut
sama hantu kuburan.
Bangkit dari ‘koma’
Bagi cukup banyak orang, stagflasi itu keadaan koma, dalam
arti yang sesungguhnya. Bayangkan saja, peluang mendapat penghasilan semakin
menyempit ketika biaya hidup melejit ke angkasa dan entah kapan akan mendarat
lagi. Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk keluar dari situ, stuck. Hanya rasa lapar dan haus yang
bisa memaksa kita untuk terus bernafas dan bergerak.
Katakanlah stagflasi itu seseorang yang sudah meninggal, maka yang bisa kita lakukan adalah menerima kenyataan. Membohongi diri sendiri bahwa si mendiang akan kembali suatu saat nanti sama artinya dengan berpura-pura situasi ekonomi kita sedang baik-baik saja. (dswas).
