Kamis, 30 Oktober 2025

"Anugerah" Yang Membutakan Kita

Ignorance is a bliss” (Ketidaktahuan itu anugerah) yang dicetuskan pertama kali oleh Thomas Gray, sastrawan Abad Pertengahan, dalam puisinya, “Ode on a Distant Prospect of Eton College”, sering dikutip sebagai pembenaran untuk sikap menolak tahu.

Frasa dari era 1742 ini sempat sering muncul di sejumlah media sosial dalam satu tahun terakhir. Mengingat situasi global saat ini, saya tak mempersalahkan para pengutipnya. Walaupun konteks utuh frasa tersebut lebih melankolis, yaitu tentang nostalgia masa kanak-kanak yang menurut Gray lebih bahagia dibandingkan masa dewasa.

Uniknya, sejarah Inggris diwarnai perang-perang konyol yang mencerminkan perilaku di atas dan jarang dibicarakan orang di masa sekarang. Salah satunya terjadi pada 1859 di Kepulauan San Juan, saat seorang petani Amerika menembak seekor babi milik orang Inggris yang menerobos masuk ke ladangnya. Kerajaan Inggris sudah siap menerjunkan pasukan guna menanggapi insiden ‘berdarah’ tersebut, demikian pula Amerika Serikat yang saat itu belum lama merdeka.

Walaupun perang akhirnya dapat dicegah, tetapi “The Pig War (Perang Babi)” tetap tercatat dalam sejarah kedua belah pihak. Perang dalam bentuk adu argumen dan provokasi ini pun tidak menelan korban jiwa (selain si babi itu sendiri) dan masuk dalam daftar 10 Perang Terkonyol di Dunia

Ilustrasi: pexel.com

Sengaja tidak tahu berakibat fatal

Kisah di atas merupakan contoh bagaimana ketidaktahuan, dalam hal ini ketidaktahuan tentang cara memelihara hubungan dengan sesama, dapat menyulut gesekan antar individu maupun kelompok dalam masyarakat. Dewasa ini, gesekan semacam ini bukan barang langka. Seiring dengan kesulitan ekonomi yang semakin menggigit dari hari ke hari, kehendak untuk menjadi pemenang di situasi remeh temeh dianggap sebagai pelipur lara dari pahitnya kehidupan.

Amerika Serikat dan Inggris pun tak luput dari perilaku semacam ini. Track record sebagai negara pemenang Perang Dunia II meninggalkan kebanggaan yang mendalam hingga bertahun-tahun kemudian. Rasa bangga memang baik sebagai motivasi untuk membangun negara ke arah kemajuan demi kemakmuran bersama. Kekonyolan Perang Babi, sialnya, ikut bertahan karena mereka tidak tahu bahwa kemalangan yang mereka timbulkan bagi negara atau pihak lain demi mempertahankan kejayaan mereka setiap saat bisa menjadi boomerang.

Sebagai contoh, sekitar 10 sampai 20 tahun lalu propaganda tentang Amerika Serikat sebagai negara demokrasi yang maju dan makmur ditampilkan melalui media elektronik, film, musik, seni, dll. Karena sudah maju dan kaya, sejumlah tokoh, misalnya, Bill Gates, digambarkan sebagai sosok dermawan yang suka membantu sesama di negara-negara terbelakang secara ekonomi. Amerika Serikat juga membentuk badan penyalur dana kemanusiaan , yaitu USAID, yang menyalurkan dana bantuan ke berbagai LSM di seluruh dunia.

Ketika Donald Trump terpilih sebagai presiden AS, memutus anggaran untuk USAID adalah salah satu di antara sekian kebijakan penghematan anggaran di masa pemerintahannya. LSM-LSM yang sudah terbiasa menerima ‘makan siang gratis’ dari USAID selama bertahun-tahun pun kelimpungan tatkala Trump mengumumkan pemerintah AS hanya akan memberikan bantuan untuk dua negara, yaitu Mesir dan Pakistan.

Berbagai pihak yang murka dengan keputusan Trump pun melancarkan serangan balik guna mendiskreditkan AS dan kebijakan-kebijakannya. “Survival of the fittest” (ikuti arus atau mati) adalah jargon yang digembar-gemborkan para buzzer Amerika guna menangkis serangan itu. AS, yang lagi-lagi lupa bahwa beradaptasi dengan situasi agar bisa terus menyerang juga termasuk bentuk survival, menjadi pihak yang gelagapan menghadapi respons di luar perkiraannya.

Menolak berjalan dalam lingkaran

Bagi mereka yang meyakininya, agama bukanlah candu. Mereka benar. Ketidaktahuan juga candu jika terus diulang dan dipertahankan menembus batas ruang dan waktu. Penyebabnya, bagi sebagian orang menjadi tahu itu menyakitkan, seperti kata Thomas Gray di awal tulisan ini. Pengetahuan akan membuat manusia berpikir lebih panjang, dan ini sangat rumit bagi sebagian orang karena butuh waktu, tenaga, dan banyak uang. Sementara mereka merasa berhak untuk bahagia dengan cara apa pun.

Itulah mengapa kesulitan ekonomi global yang kita alami saat ini terasa panjang dan lama, seperti samsara yang terus berputar tanpa henti hingga akhir dunia. Kita berpikir dan bertindak sekadar mencari aman, baik bagi diri sendiri maupun kelompok. Kita kecanduan mempertahankan sikap bahwa kesusahan di pihak lain adalah kemenangan di pihak kita, karena merasa menang itu memang sungguh luar biasa nikmat.

Butuh keberanian untuk mencoba keluar dari samsara kesesatan pola pikir, agar tindakan kita bukan hanya memenangkan diri kita sendiri, tetapi juga “orang-orang kalah” dalam konteks cita-cita kita. Butuh keberanian untuk mengakui manusia pada dasarnya memiliki batas dan kekurangan, bahwa mengalah untuk menang bukanlah jargon kosong dan bisa dibuktikan. (dswas)

Rabu, 24 September 2025

Black September: Ketika Air Susu Dibalas Air Tuba

 “Terima kasih” adalah sebuah frasa sederhana, dan saya yakin seluruh bahasa di muka Bumi ini punya “terima kasih” versi mereka sendiri.

Ketika seseorang bersedia membantu kita untuk melakukan atau mendapatkan sesuatu, ada sesuatu yang ia korbankan. Ini bukan tentang materi, melainkan waktu. Mendengarkan keluh kesah, obrolan, atau curhatan orang lain artinya kita membuang waktu yang seharusnya kita gunakan untuk hal lain. Berinteraksi dengan orang lain berarti kita secara sadar melepaskan sesuatu yang kita miliki, agar interaksi tersebut dapat berlangsung dua arah.

Walaupun berterima kasih, atau bersyukur, sesimpel itu, tidak semua orang dapat atau bersedia meluangkan waktu untuk mengungkapkannya secara lisan, apalagi dalam bentuk tindakan. Mereka yang sudah menerima bantuan kadang ingin lebih, sehingga menganggap sepele pengorbanan waktu yang sudah dilakukan si penolong. Mungkin bagi mereka pengorbanan itu baru ada nilainya kalau berkaitan dengan uang.

Menurut pengamatan saya, sikap tidak tahu terima kasih terepik dalam sejarah tetapi jarang dibicarakan orang adalah Black September. Sebuah nama yang diberikan untuk mengenang satu peristiwa penting suatu periode dalam sejarah Timur Tengah, tatkala terjadi pertikaian antara para pejuang Palestina kontra pemerintah Yordania pada 1970. Konflik ini bukanlah konflik 'biasa', karena bertujuan menggulingkan Raja Hussein bin Talal sebagai pemerintah sah Yordania saat itu.

Pengaruh komunis?

Akibat Perang Enam Hari (5 – 10 Juni 1967) antara Israel melawan tiga negara Arab; Mesir, Suriah, dan Yordania, yang bersatu padu membela Palestina tetapi kemudian kalah, para pejuang (fidayun) Palestina mundur ke wilayah perbatasan Yordania (Karameh).

 Berdasarkan kesepakatan, para pejuang Palestina di bawah organisasi Palestine Liberation Organization (PLO) pimpinan Yasser Arafat akan meluncurkan serangan atas Israel dari Karameh (skenario serupa juga digunakan di era 2000-an dengan menempatkan para petinggi Hamas di Qatar sejak 2012). 

Serangan Israel atas kelompok ini menumbuhkan dukungan mayoritas negara Arab pada kelompok fidayun. Mengapa? Seorang Youtuber Israel berpandangan bahwa situasi yang dihadapi negaranya saat ini berpangkal dari masalah agama. Lantaran Israel adalah satu-satunya negara non Muslim di Timur Tengah, mereka harus menghadapi kenyataan digambarkan sebagai sang penjahat berwatak keji. Namun, ada kalanya persatuan di bawah bendera suatu kelompok melawan kelompok lain ini tidak kekal apabila terjadi benturan kepentingan antara berbagai pihak yang terlibat di dalamnya.

Intensitas serangan Israel ke wilayah Yordania terus meningkat paska Perang Enam Hari, karena IDF (Angkatan Besenjata Israel) bermaksud membasmi PLO yang saat itu bermarkas di Karameh. Walaupun serangan tidak ditujukan kepada rakyat Yordania, tetapi situasi itu sudah pasti menimbulkan kecemasan di hati seorang pemimpin negara, termasuk bagi Raja Hussein yang merupakan keturunan Wangsa Hasyimiyah.

Kelompok sayap kiri dalam PLO diduga mempelajari ajaran-ajaran komunis anti monarki dari berbagai sumber, yang menginspirasi mereka untuk melancarkan serangan atas Kerajaan Yordania dan menggulingkan Raja Hussein (walaupun tidak menutup kemungkinan telah terjadi fusi antara gerakan kiri dan Islam seperti pernah terjadi di Indonesia, misalnya Banten 1926). Peristiwa yang terjadi tepat 1 September 1970 ini cukup jarang dibicarakan orang, bahkan ketika wilayah yang ‘itu-itu lagi’ kembali berkonflik lagi dan lagi, melintas batas waktu dan abad.

Bekas tambang intan di Martapura, Kalimantan Selatan, 2012 (Foto: dokumen pribadi)

Adat istiadat anti kemajuan?

Dengan menyingkirkan faktor emosional dan segala jenis sentimen berlatar belakang apa pun dalam mengamati suatu peristiwa, kita mampu membuat batas antara ‘saya’ dan ‘mereka’. Kesadaran ini kita bangun bukan demi tujuan apa pun, selain sebagai langkah awal membangun wellness bagi diri kita sendiri, terlepas dari segala bentuk pencapaian duniawi (prestasi, materi, jabatan, status, dan sejenisnya). Karena sesuatu akan lebih layak disebut progress apabila tercipta keadaan yang lebih baik daripada sebelumnya, bukan sebaliknya.

Adat istiadat seringkali dianggap anti kemajuan, nostalgia kaum masa lalu yang tidak dapat menerima kenyataan zaman now. Adat istiadat dipandang menghambat langkah kaum progresif yang sudah tak sabar ingin mengusir kegelapan dan mengundang cahaya. Ajaran kebijaksanaan lokal yang berpangkal dari adat istiadat harus ditinggalkan, karena tidak membuat orang cepat kaya. Dan seterusnya.

Generasi tua pun mengalah. Mereka mundur ke tempat-tempat sepi; pegunungan, hutan, kuburan, guna memberi jalan pada generasi baru mewujudkan tekad mereka membangun bangsa ke arah kemajuan. Ide-ide luhur dari masa lalu disimpan rapat-rapat, atau dibagikan bersama kalangan sendiri yang sama-sama ingin bernostalgia mengenang kejayaan masa silam. 

Mereka menutup mulut dan menahan diri untuk mengungkapkan rahasia bahwa tanpa masa lalu, tak akan tercipta masa kini dan masa depan. Bahwa nilai-nilai yang membahana di masa leluhur bertujuan membentuk situasi guna mendukung situasi berikutnya yang belum dan mungkin akan terjadi, beribu-ribu tahun sebelum PBB mengumandangkan visi Sustainable Development Goals (SDGs). Berpangkal pada kesadaran bahwa dunia adalah hidup, dan selalu ada tunas baru yang menanti untuk tumbuh. 

Akibat darah muda yang senantiasa bergolak, kaum tua memilih tidak mengungkapkan bahwa memperjuangkan keadilan bukan perkara turun ke jalan, atau menandatangani petisi demi sekelompok orang di seberang lautan yang tak pernah kita datangi. 

Memperjuangkan keadilan sesungguhnya bisa diawali dengan satu langkah mudah, yaitu menyadarkan diri sendiri tentang hak generasi berikutnya untuk menikmati keberlimpahan, keindahan, kemurahan hati, dan nilai tinggi sumber daya alam, sebagaimana kita menikmati dan menghabiskannya.  

(dyahswas)

Jumat, 18 April 2025

Antara Mencari Kuat dan Mencari Selamat: Refleksi (Sementara) Perang Dagang

Dalam film ‘Fight Club’ (1999), seorang pria yang sedang menderita bad mood kronis mencoba mencari tantangan dengan mendirikan klub berkelahi (fight club). Sebuah klub di bar remang-remang yang mewadahi lusinan pria lain berjuang mencari jalan keluar dari kemuakan mereka terhadap hidup, yaitu dengan cara saling berkelahi satu sama lain.  

Perjalanan anak manusia menemukan makna hidup dan jati diri merupakan tema universal yang pernah dirasakan siapa pun, pada kisaran usia berapa pun. Maka tak heran bila beberapa orang mengaku menonton film yang dibintangi Brad Pitt dan Edward Norton sampai berulang kali, lantaran plot seputar eksistensi diri merupakan kepelikan abadi di tiap jaman hingga berpuluh tahun dan sampai entah kapan.

Ilustrasi: Pexels

Ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan daftar tarif resiprokal (tarif atau pembatasan perdagangan untuk satu negara sebagai respons terhadap tindakan yang sama oleh negara tersebut) bagi sederetan negara di Asia, Afrika, Eropa, Amerika, dan Australia (termasuk Indonesia) pada 2 April 2025, riak-riak emosi mulai terbit memanaskan suasana. Ini berdasarkan pantauan saya di sejumlah media lokal dan internasional, berikut akun medsos resmi mereka di Bluesky, X, dan Facebook. Narasi mereka rata-rata sama: kesal dan frustrasi.

Menurut ‘Fight Club’, adalah hantaman di wajah atau tendangan di tubuh seseorang yang dijamin mampu menggerakkannya untuk bertindak, antara fight (membalas) atau flight (lari). Rasa sakit akibat diperlakukan dengan cara tertentu telah menyeret orang itu keluar dari zona nyamannya. Tentu saja ada dorongan untuk segera membalas agar pihak tersebut tahu bahwa dipukul itu sakit dan berhenti memukul. Tokoh dalam penceritaan ini berusaha mencari penyelesaian dari segala perasaan negatif yang timbul akibat hantaman atau tendangan kepadanya.

Mencari Kuat

China dan Uni Eropa adalah dua kubu yang terang-terangan menyatakan penolakan atas tarif resiprokal Donald Trump. Bagi mereka, tarif merupakan tindakan sewenang-wenang yang mencoba melestarikan kekolotan imperialisme. Sebuah kebijakan yang sudah tak layak dan seharusnya dihindari di era perdagangan bebas, karena menghambat hak negara lain untuk maju dan unggul di bidang perdagangan.

Saya menilai penolakan China dan Eropa muncul akibat kesadaran mereka terhadap reputasi masing-masing sebagai kelompok negara maju dengan ekonomi terbesar dunia setelah Amerika Serikat. Ibarat dua orang kaya bereputasi terpuji dan dikagumi jagat raya mendadak dipaksa menerima kenyataan bahwa mereka harus tunduk pada seorang Donald Trump, yang secara reputasi tidak terlalu sempurna akibat bisnisnya yang pernah bangkrut dan kasus penggelapan uang.

Sebuah sumber mengatakan sebagian kalangan di China tidak mendukung keputusan retaliasi (pembalasan) yang dilakukan China, tetapi sumber lain menyatakan sebaliknya. Disebutkan bahwa patriotisme kini sedang membara di China, dan rakyat sepenuhnya mendukung keputusan pemerintah untuk menerapkan tarif balasan atas seluruh produk impor dari Amerika Serikat.

Mencari Selamat

Lalu bagaimana tanggapan berbagai negara lain yang juga masuk dalam daftar tarif Donald Trump? Negara tetangga Singapura, misalnya, sejak awal menyatakan tidak akan membalas. Begitu pula India. Bagi Indonesia, tarif 34% yang dibebankan atas seluruh barang impor asal Indonesia dinilai cukup memberatkan walaupun konsumen di Amerika Serikatlah yang akan menanggungnya. Tarif akan membuat produk Indonesia menjadi lebih mahal harganya, dan konsumen bisa berpaling mencari produk lain yang harganya lebih murah.

Ajakan untuk bersatu membalas Donald Trump cukup santer disuarakan di sejumlah platform daring belakangan ini. Cibiran sejumlah warga net terhadap keputusan pemerintah Indonesia yang memilih berkompromi dengan Amerika Serikat cukup membuat jengah dan telinga memerah. Namun, apabila benar-benar ditelaah dengan mengesampingkan emosi, suara-suara tersebut cenderung mengarahkan audiens untuk membela pihak tertentu.

Saran saya, anggaplah mereka suara kodok yang terus berbunyi karena Sang Maha Pencipta menciptakan mereka dengan kemampuan tersebut. Keputusan untuk meningkatkan produk impor dari Amerika Serikat sudah tepat. Sebagai negara penerima dana bantuan pemerintah AS melalui USAID untuk berbagai sektor, seperti kesehatan, pendidikan, dan penanggulangan bencana, sudah sepatutnya Indonesia membalas budi baik AS dengan membantu menyelesaikan masalah yang tengah dihadapi negara adidaya ini, yaitu defisit perdagangan. Jangan sampai dunia mengenal Indonesia sebagai bangsa yang tidak tahu terima kasih.  

Senin, 10 Maret 2025

Ke Mana BRICS Akan Melangkah di Era Donald Trump?

Ketika Presiden Brasil mengumumkan Indonesia sebagai anggota resmi BRICS pada 7 Januari 2025, berbagai lapisan khalayak menganggapnya sebagai secerah harapan bagi perekonomian dalam negeri. Seperti banyak negara lain, perdagangan luar negeri menjadi sumber pendapatan yang signifikan, sehingga keanggotaan BRICS diharapkan dapat memperluas pasar bagi komoditas ekspor Indonesia.

Menurut para pengamat, BRICS yang didominasi China sebagai negara dengan PDB terbesar di antara ke-4 anggota lainnya berupaya berfungsi layaknya kelompok negara G7 di Eropa. Hal ini tersirat dalam misi utama BRICS yang bertujuan mereformasi lembaga keuangan guna memperbaiki situasi ekonomi global.

Secara lebih spesifik, negara-negara BRIC menganggap penting adanya mata uang global baru yang lebih stabil, dengan pergerakan nilai tukar yang tidak terlalu bikin deg-degan. Walaupun pernyataan resmi yang dicetuskan pada 2009 tidak terang-terangan membeberkan tujuan menggeser dominasi dolar AS, nilai tukarnya sempat turun tajam saat itu. 


Foto: Ilustrasi

Ambisi berakhir rugi

Indonesia dan China sudah menerapkan penggunaan mata uang lokal (Local Currency Settlement/LCS) dalam perdagangan bilateral sejak beberapa tahun terakhir. Dalam siaran pers Kemendag RI 5 Agustus 2021, dipaparkan bahwa mekanisme ini bertujuan meningkatkan daya saing ekspor Indonesia di kancah perdagangan internasional dan mengurangi ketergantungan terhadap mata uang dolar. 

Dolar Amerika Serikat mengalir dalam jumlah besar ke Timur Tengah sebagai setelmen pembayaran komoditas minyak, atau yang disebut petrodolar. Nilai tukarnya dipengaruhi oleh dinamika pasar, sehingga tak seorang pun dapat memengaruhi nilai tukar dolar agar lebih tinggi atau lebih rendah daripada mata uang nasional.

Penggunaan mata uang lokal sempat digadang-gadang sebagai solusi, karena nilai tukar mata uang lokal lebih dapat diprediksi, tidak terlalu volatile, dan dapat diintervensi oleh pemerintah masing-masing. Cara ini juga dipandang lebih aman, lebih efisien, dan win-win solution karena dipengaruhi situasi ekonomi di negara asal mata uang lokal tersebut.

Namun, optimisme yang menyertai mekanisme ini perlahan meredup setelah kepemimpinan baru Amerika Serikat di bawah Donald Trump mengancam akan memberlakukan kenaikan tarif sebesar 100% pada semua negara BRICS yang coba-coba menggeser dominasi dolar Amerika.

Amerika Serikat sekutu baru Rusia?  

Sejak masa kampanye hingga terpilih kembali sebagai presiden Amerika Serikat, Donald Trump jarang mengeluarkan pernyataan yang bernada serangan atau ancaman terhadap Rusia di depan publik. Tiap kali membicarakan perang di Ukraina, Trump cenderung berpihak pada Rusia dan mengkritik keras Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky yang menurutnya telah menggelapkan dana bantuan $500 miliar dari Amerika Serikat.

Pertemuan antara delegasi Amerika Serikat yang dipimpin Menlu Marco Rubio dan delegasi Rusia di bawah Menlu Sergey Lavrov di Arab Saudi pertengahan Februari 2025 merupakan yang pertama digelar sejak perang di Ukraina. Dilansir dari AP Press, pertemuan itu membahas apa yang sebaiknya dilakukan guna mengakhiri perang Ukraina dan memulihkan jumlah staf yang bekerja di masing-masing kedutaan.

Perkembangan selanjutnya di luar dugaan, karena Amerika Serikat semakin mendekat dengan Rusia sejak saat itu. Situasi ini membuat kubu Uni Eropa dan Inggris kebakaran jenggot. Apalagi setelah Menlu Rubio mengkritik pedas Eropa yang menurutnya tidak lagi menjalankan prinsip-prinsip demokrasi, seraya menyoroti kasus pembatalan hasil pemilu Rumania dan pemberlakukan sensor konten media sosial di beberapa negara Eropa.

Peluang untuk BRICS

Di antara negara-negara BRICS selain Rusia, hanya India yang terlihat pro aktif dalam melobi Donald Trump. Perdana Menteri India Narendra Modi sudah beberapa kali berkunjung ke Washington sejak Trump terpilih. Modi tidak memandang remeh rencana kenaikan tarif barang impor yang dicetuskan Trump, apalagi mengingat nilai ekspor India ke Amerika Serikat cukup fantastis, yaitu 87,4 triliun dolar selama 2024 lalu.

Lalu bagaimana Indonesia? Kita tentunya berharap Presiden RI Prabowo Subianto segera merespon perkembangan ini dengan lobi-lobi intensif ke Washington, karena Indonesia merupakan negara yang secara historis memiliki hubungan baik dengan Amerika Serikat. Indonesia juga cukup terbantu dengan adanya aliran dana bantuan dari Amerika Serikat yang disalurkan melalui USAID.

Skema bantuan yang ditujukan bagi perbaikan sektor pendidikan dan kesehatan di Indonesia saat ini memang tengah dibekukan, dan cukup banyak pihak yang terdampak keputusan ini. Walaupun demikian, belum terlambat bagi pemerintah Indonesia untuk berbincang dalam suasana bersahabat dengan Amerika Serikat guna kebaikan bangsa, jangka pendek maupun jangka panjang.

Senin, 06 Januari 2025

Refleksi 2024: Ketika Kemenangan Bukan Akhir Segalanya

Saat itu 1098, kurang lebih setahun sejak koalisi pasukan Salib berupaya merebut kembali Kota Suci Yerusalem yang diinvasi Pasukan Turki. Pasukan Salib yang tengah berada di dalam kota Antiokhia menghadapi kepungan Pasukan Turki dan blokade Pasukan Suriah. Akibatnya, Pasukan Salib kekurangan bahan makanan. Ratusan prajurit mereka tewas karena kelaparan, sementara yang lain berusaha bertahan hidup dengan menghisap darah dari urat halus kuda-kuda mereka.

Di tengah keputusasaan yang menyeruak di antara para prajurit Salib, seorang pendeta yang ikut bersama mereka mengklaim dirinya telah diberkahi dengan penglihatan bahwa Kristus menjanjikan bala bantuan. Klaim itu diperkuat klaim lain dari prajurit Salib bernama Peter Bartolomeus bahwa Tombak Kudus, tombak yang digunakan untuk menusuk lambung Yesus Kristus di kayu salib, terkubur di sebuah gereja di kota itu.

Tanpa pikir panjang dan lupa bahwa Tombak Kudus yang asli tersimpan jauh di Konstantinopel, beberapa orang melakukan penggalian di gereja tersebut. Mereka benar-benar menemukan sebuah mata tombak, yang kemudian disambut dengan prosesi doa ucapan syukur. Setelah prosesi itu dilangsungkan, para pemimpin Pasukan Salib menyadari pilihan mereka hanyalah menerobos blokade pasukan Turki dan Suriah. Atau bertahan di dalam kota dan mati kelaparan.

Dengan sisa tenaga, prajurit, dan persenjataan yang kalah jumlah dari pasukan Turki, kubu Salib memecah pasukan menjadi beberapa kelompok. Salah satu kelompok meninggalkan Antiokhia di bawah pimpinan Uskup Adhemar dari Le Puy, sedangkan kelompok lain bertahan di dalam kota. Kubu Suriah yang dipimpin Kerbogah tidak menaruh curiga dan membiarkan mereka pergi. Diam-diam kelompok Uskup Adhemar memisahkan diri menjadi dua kelompok yang lebih kecil di luar jarak pandang pasukan Suriah.

Ketika pasukan Turki menyergap pasukan Salib di perbatasan Antiokhia, mereka sama sekali tidak menduga kehadiran kelompok kedua yang dengan sigap membalikkan keadaan. Kabar tentang keunggulan sementara kubu Salib tersebar cepat hingga ke pusat kota, yang kemudian membakar semangat para prajurit Salib di sana untuk memukul mundur pasukan Suriah dan memaksa Kerbogah memimpin pasukannya menyingkir dari Antiokhia.

Dibandingkan pasukan Salib, kubu Turki dan Suriah mampu bertempur sama baiknya dengan mereka. Kualitas persenjataaan mereka pun cukup maju untuk ukuran zaman itu, belum lagi bahan makanan yang jauh berlimpah. Para ahli sejarah yakin perselisihan internal berperan besar sebagai kegagalan kubu Turki di fase Perang Salib di Antiokhia. Kerbogah dan pasukannya saat itu baru bergabung sebagai bala bantuan, tetapi mereka tidak mendapat cukup dukungan dan kepercayaan dari sejumlah pemimpin di kubu Turki.

(Dirangkum dari buku Perang Salib 1097-1444, PT Elex Media Komputindo, 2013, halaman 30-37).

Perjalanan Dua Kekuatan Dunia Baru di 2024

Mengingat sepak terjang mereka yang tengah berupaya menantang kekuatan mainstream dan menciptakan poros baru di kancah ekonomi dunia, tak heran cukup banyak pihak berusaha mencari kelengahan dan titik lemah Rusia dan China. Kabar buruk yang terjadi di dua negara ini adalah kabar baik bagi para musuhnya. Itulah kewajaran di tengah rivalitas global yang menjadi tontonan seru bagi pihak-pihak yang tidak terlibat di dalamnya.

Ilustrasi: Pexel.com

Tiga bulan menjelang akhir 2024, sejumlah media Barat membeberkan tentang perlambatan pertumbuhan ekonomi China dari 4,7% tahun ke tahun (yoy) menjadi 4,6%. Selisih 0,1% bukan apa-apa bagi masyarakat kebanyakan, tetapi besar artinya bagi statistik ekonomi suatu negara. Apalagi China cukup dimanjakan media Barat dengan pujian tentang pertumbuhan ekonominya yang mengagumkan, sampai datangnya pandemi global COVID-19. Namun, China bukan satu-satunya yang mengalami situasi macet ekonomi seperti saat ini.

Hari-hari akhir 2024 juga diwarnai kabar mengejutkan dari Suriah. Sekonyong-konyong, rebranding kelompok milisi Jabhat Fatah al-Sham menjadi Hayat Tahrir al-Sham rupanya mendatangkan energi baru. Mereka berhasil merebut ibu kota dari tangan pasukan pemerintah Suriah yang didukung Rusia. Tentu saja para musuh bebuyutan Rusia sangat gembira mendengarnya, karena mereka tidak dapat menaklukkan Rusia di Perang Ukraina. Melalui beberapa publikasi resmi di internet, dapat diasumsikan bahwa Rusia berusaha move on dari kerumitan perkara Suriah. 

Wawas diri 

Berkaca dari penggalan kisah para prajurit Salib di atas, situasi sulit cenderung akan membuka potensi terpendam dalam diri seseorang maupun suatu kelompok dalam hal berkompromi dengan tekanan. Hampir seluruh terobosan dan inovasi terbaik yang pernah ada di sepanjang sejarah manusia tercipta ketika para penemunya tidak dapat berfoya-foya, bersantai, atau healing sambil bekerja. Mereka memutar otak agar kesulitan yang tengah dialaminya tidak perlu terjadi lagi di masa yang akan datang.

Masalahnya, bukan para filsuf Yunani Kuno atau para pemikir Zaman Renaissance saja yang berusaha merealisasikan imajinasi tentang berbagai perangkat untuk memperingan kompleksitas kehidupan manusia sehari-hari. Kecenderungan ini juga menjadi tujuan penciptaan banyak generasi cendekiawan dan penemu dari dekade ke dekade, hingga Abad Akal Imitasi (AI) dewasa ini yang membantu manusia agar tidak perlu susah payah melakukan pekerjaan berpikir. Sungguh proses yang luar biasa, bukan?

Suatu hal baru akan diganti dengan yang lebih baru, lalu hiper baru. Begitu seterusnya. Kepuasan kita dan perasaan menang karena sudah berhasil mencapai sesuatu ternyata bukan akhir segalanya, karena mau tidak mau keadaan sewaktu-waktu dapat berubah tidak sesuai harapan, cita-cita dan keinginan kita. Tidak ada yang abadi di dunia ini.

Sebagaimana para satria Salib yang merasa telah “menemukan” Tombak Kudus dan mengucap syukur kepada Tuhan di saat menghadapi situasi hidup atau mati, penerimaan terhadap situasi yang sedang kita hadapi saat ini, apa pun itu, merupakan langkah awal agar tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. 

Jumat, 06 Desember 2024

(Semoga) Tak Seburuk Nasib Laron

Sekitar 20 tahun lalu, bahkan sampai sekarang, berkunjung atau tinggal di luar negeri merupakan sesuatu yang 'wow' bagi kalangan kami. Bukan hanya mengenal budaya, berinteraksi dengan teman-teman baru, atau sekadar menikmati keindahan suasana, tinggal di luar negeri itu keren karena memerlukan keberanian yang tidak dimiliki semua orang. 

Para ekspat bepergian jauh meninggalkan kampung halaman, semua yang mereka kenal dengan baik sejak kanak-kanak, demi mengejar cita-cita, tuntutan tugas, atau komitmen keluarga. Dengan kata lain, mereka meninggalkan zona nyaman demi satu tujuan besar dalam hidupnya.

Bagi para imigran Timur Tengah di Eropa, tujuan itu adalah menyelamatkan diri dan keluarga mereka dari perang, persekusi terhadap kaum minoritas, atau peraturan ketat yang diberlakukan negara mereka terhadap kaum perempuan. 

Mereka berdatangan ke Benua Biru sejak 2015, setelah Angela Merkel, Kanselir Jerman saat itu, memerintahkan pembukaan perbatasan negaranya bagi para pengungsi yang didominasi warga negara Suriah, Irak, dan Afghanistan. Dengan berjalannya waktu, para pengungsi berdatangan dari wilayah lain, seperti Afrika dan Asia, mendarat di negara Eropa lainnya dengan tujuan yang sedikit berbeda, yaitu guna menyelamatkan diri dari kemiskinan.  


Demi kesejahteraan 

Eropa dikenal seluruh dunia berkat kebijakan murah hatinya yang berkaitan dengan kesejahteraan sosial.  Baik warga negara maupun imigran berhak mendapat uang tunjangan dari pemerintah, semacam uang gratis yang diberikan kepada mereka untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Nominal dan berapa lama seseorang berhak atas tunjangan sosial bergantung pada peraturan negara Eropa di mana ia tinggal. 

Kebijakan uang tunjangan awalnya memang benar-benar berhasil menempatkan deretan negara Eropa Barat sebagai negara termakmur, terbahagia, teraman di dunia, dan banyak lagi. Masalah datang ketika semua keindahan itu menimbulkan perasaan sesal di hati warga negara lain: "seandainya negaraku seperti itu", "kenapa ya negaraku miskin", "kapan negara kita maju:, dll. 

Mereka hanya dipameri semua yang bagus dan baik di Eropa Barat dan merasa iri, sampai-sampai mereka tidak keheranan dan mempertanyakan dari mana negara-negara tersebut punya uang untuk dibagikan sebagai uang tunjangan. Apakah dari uang pajak atau hasil perdagangan bilateral? Bisa jadi. 

Eropa dan Amerika Serikat termasuk wilayah yang memberlakukan pajak cukup tinggi bagi warganya. Namun, tingginya pajak diimbangi dengan tata kelola pemerintahan, infrastruktur yang baik, serta berbagai tunjangan yang bisa didapat warga negara dari pemerintah.   

Akan tetapi, pandemi COVID-19 memaksa sejumlah negara memberikan uang tunjangan yang lebih banyak dari biasanya. Perdagangan internasional karut marut akibat kedatangan berbagai produk impor yang harganya luar biasa murah, sehingga penghasilan Eropa Barat dari perdagangan pun berkurang drastis. 

Selain itu, warga asli juga mulai mengeluhkan tingkah laku para imigran yang bertolak belakang dari nilai-nilai adab Eropa Barat. Imigran dianggap mencuri lapangan pekerjaan dari warga lokal karena mereka bersedia dibayar murah untuk pekerjaan apa pun. Belum lagi meningkatnya angka kriminalitas, khususnya kekerasan dan pelecehan terhadap kaum perempuan. 

Sejak beberapa waktu lalu, Eropa Barat sudah memberlakukan peraturan ketat bagi para imigran yang datang tanpa keahlian, tetapi belum mampu menghentikan arus masuk imigran dari berbagai penjuru.  

Anti berhemat

Tidak ada uang gratis di dunia ini memang benar adanya. Uang tunjangan dermawan yang ditawarkan beberapa negara Eropa tak lain dan tak bukan adalah uang pinjaman, yang nantinya dikembalikan oleh warga negara melalui pembayaran beraneka ragam pajak. 

Skema ini sepintas ideal, apabila jumlah warga negara relatif sedikit dan tidak sebanyak negara-negara seperti China, India, Indonesia, bahkan Amerika Serikat. Menjadi tidak ideal karena arus masuk imigran berlangsung terlalu cepat, bahkan tidak terkendali. Di antara mereka yang berhasil mendapat pekerjaan, hanya segelintir saja yang mampu atau bersedia membayar pajak. 

Sejumlah negara Eropa berupaya mengatasi kekurangan anggaran ini dengan uang pinjaman dari Bank Sentral masing-masing. Teknisnya, negara menerbitkan obligasi (surat utang) pemerintah yang kemudian diajukan kepada Bank Sentral. Selanjutnya, Bank Sentral akan mencetak uang baru berdasarkan nilai surat utang tersebut. 

Mengapa langkah ini berisiko? Apa pun yang memiliki persediaan melimpah akan turun harganya, dan ini juga berlaku untuk nilai uang. Kekacauan ekonomi dipastikan akan terjadi bila mata uang nasional suatu negara menurun, dan dampaknya akan merembet ke mana-mana. 

Untuk itu, (mantan) Perdana Menteri Prancis Michel Barnier mengajukan usulan pengurangan anggaran tunjangan sosial sebagai upaya penyelamatan keuangan negara. Langkah ini sebenarnya juga akan efektif mencegah kedatangan imigran, yaitu dengan menawarkan uang tunjangan lebih rendah, atau bahkan tidak sama sekali. 

Sayang, niat baik Barnier malah berbuah pelengseran dirinya dari jabatan melalui mosi tidak percaya Parlemen Prancis dalam sidang awal Desember 2024. Di bawah pimpinan Marine Le Pen, seorang pentolan sayap kanan, kubu kanan dan kiri parlemen sepakat menolak usulan Barnier dan memaksanya berhenti sebagai perdana menteri setelah 3 bulan menjabat. 

Kisruh politik tersebut bukan saja mencerminkan keengganan parlemen Prancis untuk hidup hemat, tetapi juga keengganan menghadapi risiko aksi massa yang bisa saja terjadi setelah putusan diberlakukan. Apalagi Prancis sudah cukup kenyang dengan aksi massa anarkis, yang sebagian besar pelakunya imigran. 

Satu hal yang pasti, Marine Le Pen sedang terlibat kasus hukum penggelapan uang negara di waktu yang sama. Sehingga tidak berlebihan bila kita menganggap Le Pen sedang berusaha menaikkan posisi tawarnya dengan memimpin aksi parlemen pelengseran Barnier. 

Ibarat laron beterbangan mengitari cahaya lampu di malam hari, sudah sifat manusia untuk mudah terpikat pada segala hal yang gemerlap berkilauan guna mencari kebahagiaan. Semoga saja kita tidak bernasib seperti laron yang mati di saat fajar menyingsing lantaran gagal menemukan pasangan. 

Selasa, 12 November 2024

Mewaspadai Kedatangan si Silent Killer di Sekitar Kita

“Tak seorang pun dapat mengubah masa lalu, tetapi kita dapat berniat untuk mengambil pelajaran dari itu,” tegas Raja Charles pada Konferensi Negara-negara Persemakmuran yang digelar di Samoa, Oktober 2024.   

Pernyataaan di atas ditafsirkan beberapa media sebagai pandangan Raja Inggris terhadap sepak terjang negaranya di masa imperialisme/ kolonialisme, yang sarat dengan darah dan air mata. Niat baik Raja Charles tidak disambut hangat sejumlah kalangan saat berkata,

“Di mana terjadi ketidaksetaraan .. kita harus mencari cara dan tutur kata yang tepat untuk menyampaikannya. Dengan melihat dunia dan mempertimbangkan secara mendalam berbagai tantangan yang mengkhawatirkan, maka kami memilih penyampaian dan penghormatan bagi komunitas dan menolak penyampaian yang mendatangkan perpecahan dalam keluarga Persemakmuran.”

Pernyataan tersebut seolah merupakan tanggapan langsung atas ketidakhadiran India dan Afrika Selatan, yang termasuk pendiri sekaligus anggota Persemakmuran, dalam konferensi tersebut. Keduanya memilih hadir di Konferensi BRICS (singkatan dari Brazil, Rusia, India, China, Afrika Selatan) yang digelar sehari sebelumnya.

Mengingat konflik geopolitik dan rivalitas antara Rusia dan kubu Barat (di mana Inggris termasuk di antaranya), ketidakhadiran India dan Afrika Selatan rupanya dianggap Raja Inggris sebagai sikap yang kurang bersahabat dan negatif bagi kebersamaan Negara-negara Persemakmuran. 

Terlepas dari bagaimana Inggris memperlakukan India dan Afrika Selatan di masa pendudukan, wajar bila Raja Inggris melontarkan kekecewaannya mengingat bantuan yang sudah diberikan Inggris kepada negara-negara anggota Persemakmuran. Walaupun detail mengenai bantuan tersebut tidak dipaparkan secara terang-terangan.

“Aku ra popo (Aku baik-baik saja)"

Menurut sebuah sumber, menjelang akhir 2024 Ukraina tercatat sebagai negara dengan tingkat depresi tertinggi di dunia. Tidak mengherankan mengingat situasi geopolitik yang dialami negara ini.

Yang justru mencengangkan, posisi ke-2 dan ke-3 masing-masing dihuni Amerika Serikat dan Australia. Artinya, jumlah penderita depresi di dua negara yang juga dikenal sebagai negara maju hampir sama banyak dengan penderita depresi di negara yang sedang berperang.

Data ini mencengangkan sekaligus mengkhawatirkan karena depresi dan berbagai masalah kesehatan mental lainnya ternyata bisa mencengkeram negara mana pun, bahkan yang dikenal berkat kesejahteraan dan stabilitasnya.

Penyebab utamanya tentu saja bukan karena negara-negara itu tidak memiliki fasilitas rumah sakit jiwa yang memadai, atau kekurangan tenaga spesialis di bidang kesehatan mental. Sering kali ketidaktahuan penderita bahwa sesuatu sedang tidak baik-baik saja dalam dirinya berkontribusi dalam tingkat keparahan penyakit yang dideritanya.

Penggambaran tentang masalah kesehatan mental sebagaimana diekspos influencer, media sosial, atau plot film-film serial streaming berlangganan terkadang ditafsirkan sebagai suatu kebenaran. Lantaran tayangan-tayangan tersebut meninggalkan impresi yang tidak nyaman dan gloomy, batin kita menolak untuk membayangkan atau curious tentang kemungkinan bersarangnya penyakit ini dalam jiwa kita. Sepanjang kita tidak ingin bunuh diri atau berhalusinasi mendengar suara dari langit, itu artinya mental kita baik-baik saja, bukan?

Silent killer

GERD (gastroesphageal influx disease) merupakan suatu kondisi di mana penderitanya mendadak mengalami rasa panas di dada atau sesak napas yang diakibatkan naiknya asam dari lambung ke kerongkongan. Meski tidak menyebabkan kematian, GERD bisa memicu kondisi lain yang membahayakan jiwa, di antaranya peningkatan risiko kanker.

Ironisnya, penyakit yang kerap disamakan dengan maag ini merupakan salah satu penyakit lazim di kalangan masyarakat dunia, baik tua muda, pria wanita. Lantaran salah satu pemicunya juga tak kalah lazim, yaitu stress.

Stress, satu kata ini kian lazim seiring meningkatnya jumlah orang yang wajib atau merasa wajib tampil kokoh dan tegar di hadapan publik maupun dalam kehidupan sehari-hari, baik karena tuntutan pekerjaan atau peran dalam keluarga, di saat situasi benak mereka adalah sebaliknya. Ibaratnya, bukan manusia modern kalau tidak pernah stress dalam hidup ini. 

Apakah gara-gara hidup itu singkat maka kurang bermakna tanpa stress? 

Berkaca dari ‘sabda’ Raja Charles di atas, rasa tertekan bukan hanya dialami mereka yang pernah dijajah tetapi juga kubu yang menjajah. Kaum imperialis merasa menemukan rumah kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya saat mereka ‘menemukan’ tanah jajahan yang kaya sinar matahari dan banyak hal lain yang tidak ada di kampung halamannya. Adalah wajar bila mereka merasakan kehilangan yang cukup dalam ketika terpaksa angkat kaki dari rumah idaman untuk selamanya.

Lantaran tidak diungkapkan dan hanya dipendam selama berabad-abad, rasa kehilangan tersebut mendistorsi perspektif, reaksi, tindakan, dan kebijaksanaan kolektif suatu bangsa yang diwariskan dari generasi ke generasi. Memengaruhi pola pikir manusia saat mengalami peristiwa demi peristiwa yang semakin ruwet dari waktu ke waktu.

Segala hal yang terjadi di muka Bumi dewasa ini merupakan rangkaian sebab dan akibat yang tiada putus dan merembet ke mana-mana bagaikan kanker ganas yang dipicu GERD kronis. Segala kompleksitas yang terjadi di tengah dinamika masyarakat sebagai komunitas global ternyata bermuara dari satu atau beberapa permasalahan di masa lalu yang diabaikan.

Sejahtera Berkat Komunitas – Begini Caranya

“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” terdengar sangat merdu di telinga, karena memang seindah itulah kenyataannya. Sebuah kesebelasan ...