Saat itu 1098, kurang lebih setahun sejak koalisi pasukan Salib berupaya merebut kembali Kota Suci Yerusalem yang diinvasi Pasukan Turki. Pasukan Salib yang tengah berada di dalam kota Antiokhia menghadapi kepungan Pasukan Turki dan blokade Pasukan Suriah. Akibatnya, Pasukan Salib kekurangan bahan makanan. Ratusan prajurit mereka tewas karena kelaparan, sementara yang lain berusaha bertahan hidup dengan menghisap darah dari urat halus kuda-kuda mereka.
Di tengah keputusasaan yang menyeruak di antara para prajurit Salib, seorang
pendeta yang ikut bersama mereka mengklaim dirinya telah diberkahi dengan penglihatan
bahwa Kristus menjanjikan bala bantuan. Klaim itu diperkuat klaim lain dari
prajurit Salib bernama Peter Bartolomeus bahwa Tombak Kudus, tombak yang
digunakan untuk menusuk lambung Yesus Kristus di kayu salib, terkubur di sebuah
gereja di kota itu.
Tanpa pikir panjang dan lupa bahwa Tombak Kudus yang asli tersimpan jauh di
Konstantinopel, beberapa orang melakukan penggalian di gereja tersebut. Mereka
benar-benar menemukan sebuah mata tombak, yang kemudian disambut dengan prosesi
doa ucapan syukur. Setelah prosesi itu dilangsungkan, para pemimpin Pasukan
Salib menyadari pilihan mereka hanyalah menerobos blokade pasukan Turki dan
Suriah. Atau bertahan di dalam kota dan mati kelaparan.
Dengan sisa tenaga, prajurit, dan persenjataan yang kalah
jumlah dari pasukan Turki, kubu Salib memecah pasukan menjadi beberapa kelompok.
Salah satu kelompok meninggalkan Antiokhia di bawah pimpinan Uskup Adhemar dari
Le Puy, sedangkan kelompok lain bertahan di dalam kota. Kubu Suriah yang
dipimpin Kerbogah tidak menaruh curiga dan membiarkan mereka pergi. Diam-diam
kelompok Uskup Adhemar memisahkan diri menjadi dua kelompok yang lebih kecil di
luar jarak pandang pasukan Suriah.
Ketika pasukan Turki menyergap pasukan Salib di perbatasan Antiokhia, mereka
sama sekali tidak menduga kehadiran kelompok kedua yang dengan sigap
membalikkan keadaan. Kabar tentang keunggulan sementara kubu Salib tersebar
cepat hingga ke pusat kota, yang kemudian membakar semangat para prajurit
Salib di sana untuk memukul mundur pasukan Suriah dan memaksa Kerbogah memimpin
pasukannya menyingkir dari Antiokhia.
Dibandingkan pasukan Salib, kubu Turki dan Suriah mampu bertempur sama baiknya
dengan mereka. Kualitas persenjataaan mereka pun cukup maju untuk ukuran zaman
itu, belum lagi bahan makanan yang jauh berlimpah. Para ahli sejarah yakin perselisihan
internal berperan besar sebagai kegagalan kubu Turki di fase Perang Salib di
Antiokhia. Kerbogah dan pasukannya saat itu baru bergabung sebagai bala
bantuan, tetapi mereka tidak mendapat cukup dukungan dan kepercayaan dari sejumlah
pemimpin di kubu Turki.
(Dirangkum dari buku Perang Salib 1097-1444,
PT Elex Media Komputindo, 2013, halaman 30-37).
Perjalanan Dua Kekuatan Dunia Baru di 2024
Mengingat sepak terjang mereka yang tengah berupaya
menantang kekuatan mainstream dan menciptakan poros baru di kancah ekonomi
dunia, tak heran cukup banyak pihak berusaha mencari kelengahan dan titik lemah
Rusia dan China. Kabar buruk yang terjadi di dua negara ini adalah kabar baik
bagi para musuhnya. Itulah kewajaran di tengah rivalitas global yang menjadi
tontonan seru bagi pihak-pihak yang tidak terlibat di dalamnya.
Ilustrasi: Pexel.com
Tiga bulan menjelang akhir 2024, sejumlah media Barat membeberkan tentang perlambatan pertumbuhan ekonomi China dari
4,7% tahun ke tahun (yoy) menjadi 4,6%. Selisih 0,1% bukan apa-apa bagi
masyarakat kebanyakan, tetapi besar artinya bagi statistik ekonomi suatu
negara. Apalagi China cukup dimanjakan media Barat dengan pujian tentang
pertumbuhan ekonominya yang mengagumkan, sampai datangnya pandemi global
COVID-19. Namun, China bukan satu-satunya yang mengalami situasi macet ekonomi
seperti saat ini.
Hari-hari akhir 2024 juga diwarnai kabar mengejutkan dari Suriah. Sekonyong-konyong, rebranding kelompok milisi Jabhat Fatah al-Sham menjadi Hayat Tahrir al-Sham rupanya mendatangkan energi baru. Mereka berhasil merebut ibu kota dari tangan pasukan pemerintah Suriah yang didukung Rusia. Tentu saja para musuh bebuyutan Rusia sangat gembira mendengarnya, karena mereka tidak dapat menaklukkan Rusia di Perang Ukraina. Melalui beberapa publikasi resmi di internet, dapat diasumsikan bahwa Rusia berusaha move on dari kerumitan perkara Suriah.
Wawas diri
Berkaca dari penggalan kisah para prajurit Salib di atas, situasi sulit cenderung akan membuka potensi terpendam dalam diri seseorang maupun suatu kelompok dalam hal berkompromi dengan tekanan. Hampir seluruh terobosan dan inovasi terbaik yang pernah ada di sepanjang sejarah manusia tercipta ketika para penemunya tidak dapat berfoya-foya, bersantai, atau healing sambil bekerja. Mereka memutar otak agar kesulitan yang tengah dialaminya tidak perlu terjadi lagi di masa yang akan datang.
Masalahnya, bukan para filsuf Yunani Kuno atau para pemikir Zaman
Renaissance saja yang berusaha merealisasikan imajinasi tentang berbagai
perangkat untuk memperingan kompleksitas kehidupan manusia sehari-hari. Kecenderungan
ini juga menjadi tujuan penciptaan banyak generasi cendekiawan dan penemu dari
dekade ke dekade, hingga Abad Akal Imitasi (AI) dewasa ini yang membantu
manusia agar tidak perlu susah payah melakukan pekerjaan berpikir. Sungguh
proses yang luar biasa, bukan?
Suatu hal baru akan diganti dengan yang lebih baru, lalu
hiper baru. Begitu seterusnya. Kepuasan kita dan perasaan menang karena sudah
berhasil mencapai sesuatu ternyata bukan akhir segalanya, karena mau tidak mau
keadaan sewaktu-waktu dapat berubah tidak sesuai harapan, cita-cita dan
keinginan kita. Tidak
ada yang abadi di dunia ini.
Sebagaimana para satria Salib yang merasa telah “menemukan”
Tombak Kudus dan mengucap syukur kepada Tuhan di saat menghadapi situasi hidup atau
mati, penerimaan terhadap situasi yang sedang kita hadapi saat ini, apa pun
itu, merupakan langkah awal agar tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.




